Aziya Yunita Wijaya dia terpaksa masuk pesantren karena sikap Aziya yang nakal karena pergaulan dengan teman temannya, apa lagi saat itu Aziya merasa sakit hati karena di tinggal pacarnya menikah.
karena sikap Aziya semakin tak terkendali orang tua nya pun memutuskan memasukan Aziya ke pesantren.
namun apa Aziya bisa berubah saat sudah masuk pesantren? apa lagi banyak hinaan dan cacian pada Aziya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni nurleni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Di kantor polisi, Topan membayar jaminan untuk keempat santri bersama dengan Zia karena dengan ucapan saja tak membuat mereka di keluarkan maka dengan uang jaminan siapa tau saja bisa cepat bebas.
Bahkan sekarang Zia sudah masuk kedalam sel sebagai tahanan dengan berbagai kasus yang menjerat Zia.
Dengan berat hati Topan memberikan jaminan untuk putrinya itu.
"Pak saya hanya ingin membebaskan putri saya dan para santri ini" ucap Topan.
"Tapi pak kalau jalur menyogok kami gak bisa" ucapnya.
"Apa tak ada cara lain untuk membebaskan mereka" tanya Topan.
"Kalau untuk mereka sekarang juga bisa bebas tapi kalau untuk putri anda dia sudah menjadi salah satu tersangka" ucap Polisi itu.
"Tersangka apa" tanya Topan.
"Mengedarkan sabu dan obat obat terlarang" ucapnya.
"Masalah itu lagi, pak saya sudah tegaskan kalau anak saya itu gak salah bahkan dia tak tau apa apa, saat dia mabuk dia berada di kota" ucap Topan marah.
"Sabar pak tapi ini sudah menjadi hukum" ucapnya.
"Baiklah dengan cara apa supaya aku bisa membebaskan putri ku" tanya Topan.
"Uang denda sebesar 15 juta" ucapnya.
Topan mengambil ponselnya, walau pun Topan terbilang orang kampung tapi untuk uang segitu dia punya, walau pun pekerjaan Topan hanya sebagai petani tetapi itu tak membuatnya susah.
Karena pertama dia sering di transfer oleh Rayhan anak sulungnya dan kedua Topan punya sebuah pabrik yang tak anak anaknya ketahui.
"Tuliskan nomor rekeningnya" ucap Topan.
"Saya sudah transfer dan terima kasih" ucap Topan ketus.
Setelah Zia di keluarkan dari sel, Zia dan keempat santri keluar dari kantor polisi itu bersama dengan Nita dan Topan.
"Pak Topan terima kasih sudah membebaskan kami" ucap Raka dari kelas 3 SMA.
"Tak masalah belajarlah yang baik ya" ucap Topan.
"Ya pak maafkan kami karena kami uang bapak habis" ucap Redan.
"Tak apa" ucap Topan.
"Mas ayo pulang naik angkot saja" ucap Nita.
Mereka semua masuk kedalam angkot karena begitulah disana kalau tak ada ojeg maka jalan satu satunya adalah angkot karena tak ada taksi di perkampungan itu.
Zia menatap pada papahnya, entah kenapa Zia merasa bangga pada papahnya apa lagi papahnya itu sudah mengeluarkan uang untuk membayar denda atas apa yang tak Zia perbuat.
Bahkan bukan itu saja, Topan juga seolah membela Zia walau pun saat itu pembelaannya di tentang oleh orang yang berpengaruh.
"This is my Hero" gumam Zia.
"Bagaimana ceritanya" tanya Nita pada para santri laki laki itu.
"Begini Bu, tadi pagi ada pemberitauan kalau pasar akan di tutup sementara karena ada transaksi di area pasar, dan mereka melihat kalau orang nya itu memakai baju pesantren dan sangat alim" ucap Raka menjelaskan.
"Lalu kenapa kalian bisa di bawa" tanya Topan.
"Mereka datang ke pesantren mengecek urin para santri di pesantren, dan kami di nyatakan Positif pengonsumsi minuman" ucap Raka lagi.
"Oh ya lalu Zia, kenapa sampai di masukkan ke dalam sel" tanya Nita.
"Kak Zia membela kami bu, pak" ucap Redan.
"Oh tak apa kalian sudah bebas sekarang, dan ingat ya jangan minum lagi ya fokus belajar menjadi lebih baik" ucap Topan memotifasi.
"Ya pak" serempak.
Sesampainya di pesantren, Mereka semua langsung turun dan menghampiri para santri yang lain.
"Syukurlah kalian pulang" ucap Abah yang sejak tadi di landa gelisah.
"Ya Abah" ucap Topan.
"Apa mereka tak meminta uang pak Topan" tanya Abah.
"Ya begitulah" ucap Topan.
"Maafkan saya karena tak bisa menggantinya, pak Topan semoga amal baik bapak sama ibu bisa Alloh balas dengan surga" ucap Abah.
"Terima kasih Abah" ucap Nita dan Topan.
Karena hari ini pesantren sedang kacau jadi para santri tak belajar dengan efektif, bahkan para santri banyak yang cemas karena takut terjadi apa apa.
Zia memeluk mamahnya itu dengan sangat erat.
"Mamah kehabisan kata kata untuk memarahi kamu Zia" ucap Nita.
"Mamah" ucap Zia.
"Oh ya mamah mau kasih ini" ucap Nita memberikan amplop coklat pada Zia.
"Apa ini" tanya zia.
"Gaji terakhir mu dari kakak mu Rayhan" ucap Nita.
"Aahhh baiknya" ucap Zia.
Zia membuka amplopnya yang berisi dua lembar uang merah dan sepucuk surat.
( Zia hutang mu pada perusahaan belum lunas maka dari itu, kakak menjual semua pakian, tas dan barang kamu yang lain untuk melunasinya ) begitulah isi dari surat itu.
"Kak Ray jahat" gerutu Zia.
"Kakak kamu benar" ucap Nita.
"Ck Kalian sama saja" geram Zia.
"Maaf sayang mamah harus segera pulang ya, ini uang bulanan mu dari mamah" ucap Nita menyodorkan uang sebanyak lima ratus ribu.
"Terima kasih mamah baik" ucap Zia.
Cup
Nita mencium kening putri bungsunya itu, bukan apa apa Nita sangat rindu pada anaknya itu apa lagi sekarang Zia tak di perbolehkan memegang hp.
Setelah Nita dan Topan pulang, Abah dan Umi baru saja akan duduk dan bernafas lega.
Namun datanglah Rima yang masuk ke rumah Abah tanpa permisi.
"abah kata pak Pak Fendi, lihat berita gelombang ***" ucap Rima.
"memangnya ada apa" tanya Abah.
"aku gak tau Abah" ucap Rima.
Abah menyalakan televisinya dan mencari gelombang yang Rima maksudkan, dan benar saja ada berita yang tak mengenakan bagi Abah dan pentren.
( di duga dua orang santri dari yayasan pondok pesantren al Zakaria, telah melakukan transaksi jual beli obat keras seperti sabu, bahkan polisi sudah mengamankan kelima santri yang di duga melakukan transaksi itu )
Ucap seorang reporter yang menayangkan berita ini di layar televisi.
"abah" ucap Umi.
"tenang saja Umi, abah yakin mereka hanya mengada ngada saja" ucap Abah.
"saya permisi Abah" ucap Rima yang langsung pergi dari sana.
"abah, bukan maksud Umi ber kata yang lain lain, tapi entah kenapa di waktu menuju acara penikahan Adam banyak sekali kejadian aneh yang terjadi" ucap Umi.
"Mi ini tuh bukan karena aku mau menikah tapi karena kedatangan Zia yang emang pada dasarnya Zia yang bermasalah, bukan pernikahan aku" sahut Adam.
"bukan maksud Umi tapi emang begini kan kejadiannya" ucap Umi.
"umi ayolah jangan menyangkut pautkan suatu masalah dengan pernikahan aku" ucal Adam menghela nafasnya kasar.
"jika perlu Umi salahkan saja Zia, bukan kah dia yang biang masalah" ucap Adam lagi.
"kalau Umi percaya pada Zia, kamu kenapa" tanya Umi pada Adam.
"makannya Umi gaul itu boleh tapi jangan terlalu dekat, begini kan jadinya Umi jadi membela Zia, karena setiap harinya Zia mengkontaminasi Umi supaya percaya padanya" ucap Adam.
"Adam, Zia memang seperti itu tapi dia mau membantu Umi membawa barang belanjaan, bahkan Zia pun mau mencuci piring kotor kita, adakah yang di lakukan Ning Marwah buat kita Adam, pernah kah Ning Marwah mencucikan piring kotor kita hah, pernah kah Ning Marwah membawakan barang belanjaan kita hah" ucap Umi yang sekarang sudah marah.
"Umi, Zia itu hanya bohong, Umi sadar gak, Zia itu orang kota dia membantu Umi karena ada maunya" ucap Adam.
"diam, sudah kalian anak dan Ibu sama saja, sudah jangan berbeda pendapat begini, ayolah malu di dengar para santri, turunkan ego kalian" bentak Abah.
umi tak menjawab dia hanya diam dan pergi dari sana, sedangkan Adam dia langsung masuk kedalam kamarnya.
Di luar rumah Abah, ada Zia yang sejak tadi mendengarkan perdebatan itu, Zia meneteskan air matanya.
"ya Alloh kenapa aku menjadi masalah bagi orang lain" gumam Zia.
Bersambung...
ngeriah kalo ngidam gitu
mudan cepat terbongkar si rosa itu geregetan aku loh thor
aku juga jurusan bhs inggris
dan aku sekarang mengikuti pengajian tasaup jadi aku rasa thor juga sama dengan ku
kalo gk salah tebak 🥰
aku juga pernah mengalami itu jika dengan tidak ada cobaan kita tidak tau seberapa kuatnya kita menghadapi masalah
tuhan tidak tidur saro