elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Panggilan Pertama dari HRD
Surat panggilan dari HRD tiba di ponsel Nan Shin saat ia sedang melepaskan brosur tempat les dari pintu kulkas.
Mohon hadir untuk pembahasan penyesuaian tenaga kerja, pukul 10.00.
Tidak ada nama program. Tidak ada penjelasan apakah ia boleh membawa dokumen. Hanya nomor ruangan dan permintaan hadir tepat waktu.
Nan Shin memotret pesan itu, lalu menyimpannya dalam folder yang sama dengan foto buku biru.
Ibu Kho masuk ke dapur dan melihat brosur sudah tidak berada di tempatnya.
“Kenapa dilepas?”
“Belum ada yang setuju mendaftar.”
“Tempatnya bisa penuh.”
“Pekerjaanku juga belum jelas.”
Ibu Kho melirik layar ponselnya. “Itu dari rumah sakit?”
“HRD memanggil saya.”
“Nah, sekalian tanya kapan selesainya. Supaya kita bisa atur jadwal anak.”
Nan Shin memasukkan ponsel ke tas. Bahkan panggilan yang membuat perutnya menegang diterjemahkan Ibu Kho sebagai kesempatan memastikan jadwal rumah.
Ruang HRD berada di gedung administrasi, jauh dari bau antiseptik dan suara monitor. Pendingin ruangannya terlalu dingin. Di dinding tergantung poster tentang budaya kerja yang sehat dan penghargaan terhadap sumber daya manusia.
Seorang supervisor HRD mempersilakannya duduk.
“Terima kasih sudah datang, Ibu Nan Shin.”
Nan Shin meletakkan map kontrak di pangkuan. “Apakah saya masuk daftar pegawai terdampak?”
“Belum ada keputusan akhir. Pertemuan ini bagian dari pemetaan awal.”
Supervisor itu membuka berkas. Di halaman pertama tercetak nama, unit, umur, masa kerja, dan status kontrak. Di bawahnya ada ringkasan evaluasi tiga tahun terakhir.
“Catatan kinerja Ibu secara umum baik. Kehadiran stabil, kompetensi klinis sesuai, dan kepala unit memberi rekomendasi positif.”
“Kalau begitu, apa yang perlu dibahas?”
Jari supervisor berhenti pada kolom status.
“Rumah sakit sedang menyesuaikan jumlah tenaga kontrak dengan kebutuhan layanan. Kami perlu mengetahui kesiapan Ibu jika terjadi perubahan jumlah shift, pemindahan tugas sementara, atau penghentian hubungan kerja sesuai ketentuan kontrak.”
“Pemindahan ke unit lain?”
“Untuk karyawan kontrak, opsi penempatan sangat bergantung pada kekosongan dan anggaran.”
“Jadi belum ada tempat yang ditawarkan.”
“Belum.”
Nan Shin membuka map. “Saya membawa riwayat dua belas kontrak, penilaian tahunan, sertifikat pelatihan, dan rekap shift.”
Supervisor itu menerima dokumen, tetapi tidak membacanya satu per satu. “Silakan ditinggalkan salinannya. Semua akan dipertimbangkan.”
“Apakah kesalahan dokumentasi kemarin masuk penilaian?”
Sebuah halaman dibalik.
Nan Shin melihat judul laporan tertulisnya.
“Semua catatan selama periode evaluasi masuk dalam berkas.”
“Tindakan dilakukan tepat waktu. Tidak ada dampak pada pasien.”
“Keterangan Bu Ratna juga terlampir.”
“Tapi laporan itu tetap diletakkan di depan dua belas tahun penilaian baik.”
Supervisor tersebut merapatkan kedua tangan. “Urutan berkas tidak menunjukkan bobot penilaian.”
Nan Shin menelan jawaban yang ingin keluar. “Kapan keputusan diumumkan?”
“Bertahap dalam beberapa minggu. Sementara itu, Ibu tetap bekerja seperti biasa.”
Sebuah formulir didorong ke arahnya. Judulnya Konfirmasi Kehadiran dan Penerimaan Informasi Awal.
Nan Shin membaca sampai akhir sebelum menandatangani. Tidak ada persetujuan mengundurkan diri. Tidak ada pelepasan hak. Hanya pernyataan bahwa ia hadir dan menerima penjelasan.
Ia meminta salinan.
Supervisor itu tampak sedikit terkejut, lalu mencetak satu lembar untuknya.
“Nomor dokumen dan tanggalnya sama dengan yang saya tanda tangani?” tanya Nan Shin.
Supervisor itu membandingkan kedua lembar. “Sama. Yang satu salinan untuk Ibu.”
“Kalau ada pertemuan berikutnya, saya juga akan meminta salinan.”
“Itu hak Ibu selama dokumennya memang dapat diberikan kepada pegawai.”
“Ada lagi, Ibu Nan Shin?”
“Nomor berkas pertemuan ini.”
“Untuk apa?”
“Supaya saya bisa mencatat dan menindaklanjuti dengan tepat.”
Setelah nomor diberikan, Nan Shin menuliskannya pada sudut salinan. Kebiasaan dari buku biru mulai mengikuti langkahnya sampai ke ruang HRD.
“Saya masih punya pertanyaan,” katanya. “Kalau jumlah shift dikurangi sebelum keputusan akhir, apakah pendapatan dan penilaian saya ikut turun?”
Supervisor itu memeriksa berkas lain. “Penjadwalan merupakan kewenangan unit sesuai kebutuhan operasional.”
“Saya bertanya dampaknya.”
“Pembayaran mengikuti komponen kerja yang berlaku. Mengenai evaluasi, tim akan melihat keseluruhan data.”
“Kalau saya mendapat lebih sedikit kesempatan bekerja, data bulan ini juga akan menunjukkan jam kerja lebih sedikit.”
“Tim memahami adanya penyesuaian jadwal.”
“Apakah kriteria dan bobot penilaiannya bisa saya terima tertulis?”
Senyum profesional di wajah supervisor menipis. “Dokumen penilaian internal tidak dibagikan seluruhnya kepada pegawai. Hasil yang berkaitan dengan Ibu akan disampaikan pada pertemuan berikutnya.”
“Kalau ada data yang salah, kapan saya bisa membetulkannya?”
“Ibu dapat mengirim dokumen tambahan melalui surel HRD.”
“Ada batas waktunya?”
“Belum ditentukan karena pemetaan masih berjalan.”
“Saya minta alamat surel dan bukti penerimaan otomatisnya.”
Supervisor menuliskan alamat pada kartu kecil. “Cantumkan nomor pegawai pada subjek.”
“Siapa yang bisa saya hubungi kalau tidak ada balasan?”
“Nomor ekstensi saya ada di bawah alamat.”
Nan Shin memasukkan kartu itu ke map. “Baik. Saya akan kirim semua berkas hari ini.”
Nan Shin mencatat jawaban itu di belakang salinannya, lengkap dengan tanggal dan nama jabatan orang yang menjelaskan. Ia tidak berdebat lagi. Namun sekarang ia tahu bahwa setiap bagian yang menentukan nasibnya berada di tangan rumah sakit, sementara dirinya hanya menerima hasil akhir.
Ia kembali ke IGD sebelas menit sebelum jam istirahat berakhir.
Ayu mendekat begitu melihatnya. “Bagaimana, Kak?”
“Belum ada keputusan.”
“Itu bagus, kan?”
“Mereka menanyakan kesiapan kalau shift dikurangi atau hubungan kerja dihentikan.”
Wajah Ayu kehilangan senyum. “Mereka panggil siapa lagi?”
“Saya nggak tahu.”
Nan Shin tidak ingin menambah rumor. Ia menyimpan salinan ke loker, lalu kembali bekerja.
Sejak hari itu, ia datang lebih awal dan pulang paling akhir. Ia memeriksa ulang catatan Putri, mengambil pasien tambahan ketika Dewi sibuk, dan menggantikan Ayu yang harus mengantar ibunya kontrol.
“Kak, kamu nggak perlu ambil shift aku,” kata Ayu.
“Kamu sudah dapat izin.”
“Tapi kamu baru dipanggil HRD. Jangan sampai kelihatan terlalu capek dan salah lagi.”
“Kalau kamu membatalkan izin, urusanmu sendiri jadi berantakan.”
“Aku bisa atur ulang.”
“Jangan mengorbankan jadwalmu karena takut saya dinilai.”
Ayu menggigit bibir. “Aku cuma nggak mau mereka bilang Kakak sudah tidak sanggup.”
“Cara membantu saya adalah memastikan shift tetap aman. Kamu izin sesuai prosedur, saya bekerja sesuai pembagian.”
Nan Shin merapikan dokumen serah terima. “Kalau saya menolak saat unit kurang orang, itu juga bisa ditulis.”
Putri berdiri di sisi lain meja. “Saya bisa ambil lebih banyak tugas sekarang. Form kompetensi saya hampir selesai.”
Nan Shin menatapnya. “Bagus. Tapi jangan kerja di luar kemampuan hanya karena situasi ini.”
“Saya merasa seperti sedang mengambil jadwal Kakak.”
“Kamu tidak membuat kebijakan.”
Putri menatap papan tugas. “Kalau saya melihat pembagian yang tidak aman, saya lapor ke siapa?”
“Bu Ratna. Tulis kondisinya, jangan hanya bilang rasanya tidak adil.”
“Jumlah pasien, tenaga, dan tugas yang tertunda?”
“Betul. Fakta lebih sulit disingkirkan daripada rasa bersalah.”
Nan Shin mengulang kalimat yang sama seperti setelah rapat. Kali ini kalimat itu terasa lebih sulit diucapkan.
Selama lima hari berikutnya, ia menjaga agar tidak ada satu angka pun salah. Setiap pemberian obat diperiksa berlapis. Setiap jam dicocokkan. Ia mencatat pujian keluarga pasien, menyerahkan sertifikat pelatihan terbaru, dan menawarkan diri untuk shift malam.
Tubuhnya kembali sakit saat pulang, tetapi ia menganggap rasa sakit itu sebagai harga untuk bertahan.
Pada Jumat sore, jadwal dua minggu berikutnya ditempel di papan IGD.
Perawat mengerubunginya. Ada yang mendapat tambahan malam, ada yang dipindah ke akhir pekan. Nan Shin menunggu sampai orang-orang bergeser.
Biasanya namanya muncul lima atau enam kali dalam seminggu.
Ia menelusuri tabel dengan ujung jari.
Pada minggu pertama, tiga shift.
Pada minggu kedua, tiga shift.
Di bawah kolom keterangan tertulis: penyesuaian kebutuhan unit.
Tidak ada tanda tangan Bu Ratna di samping perubahan itu, hanya paraf kecil dari bagian penjadwalan dan tanggal yang sama dengan pertemuan HRD.
Nan Shin memotret jadwal itu sebelum ada yang menggantinya.
Namanya telah dikurangi tanpa satu kata pun kepadanya.