Roxy pria yang nyaris sempurna. Tampan, berkarisma, berbadan atletis dan kaya raya. Semua ada dalam genggaman nya. Tak ada satupun wanita yang bisa menolak pesona seorang Roxy.
Hanya satu hal yang tidak ia punya, ketertarikan pada wanita. Selebriti, model, pemain bahkan seluruh wanita sudah pernah ia coba, namun tak kunjung membuatnya tertarik. Lebih tepatnya membuat juniornya berdiri.
Dan suatu ketika, segalanya berubah. Roxy terpikat pada sosok wanita berjilbab yang ia temui saat sang sopir menjalankan kewajibannya di masjid Jamal.
Wanita yang membuat debaran di dada Roxy meningkat tajam,membuat tubuhnya tak mampu bergerak sesuai kehendaknya. Membuat akalnya tak bekerja.
Namun, kenyataan memukul keras wajahnya. Wanita itu sudah bersuami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
"Tinggallah di sini, Ayla."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa? Kamu nggak perlu membayar sewa."
Ayla tersenyum getir, lalu menggeleng pelan.
"Bukan itu, hanya, aku tidak bisa tinggal satu atap dengan yang bukan muhrim..."
"Lalu kamu akan tinggal di mana? Jika kamu bawa Uwais malam ini, akan tidur dimana kalian? Ini terlalu larut untuk berkeliaran di luar."
"Ada banyak hotel di sekitar sini. Aku bisa menginap sementara di sana." Ayla menunduk dan mengigit bibirnya. Meski berkata begitu, ia masih tetap berfikir di hotel mana yang murah.
Roxy tertawa kecil.
"Di hotel? Kau juga tidur seatap dengan orang asing di sana. Apa bedanya dengan di sini?"
Ayla bungkam dengan ucapan dari Roxy.
"Jangan banyak alasan, menginap di sini malam ini." Putus Roxy mendominasi tanpa bisa di bantah lagi. "Pitung!"
Pria setengah abad yang menjabat kepala pelayan itu mendekat. Lalu menunduk pada Roxy.
"Tunjukkan kamar untuk Ayla."
"Baik." Tunduk Pitung, lalu mempersilahkan Ayla dengan tangannya.
"Aku... Tidur sekamar dengan Uwais saja." Sela Ayla cepat-cepat tak ingin lebih merepotkan. Esok paginya ia berencana untuk pergi dari sana dan mencari tempat kos sementara.
"Benarkah? Bagus kalau begitu, Uwais tidur di kamarku."
Mata Ayla membola seketika.
"Ayo! Kita ke kamar." Ajak Roxy enteng.
"Apa? Tidak, tidak, aku tidur di tempat lain saja." Ucap Ayla bersemu dan sedikit salah tingkah. Tidak menyangka jika Uwais justru tidur di kamar Roxy. Tak mungkin mereka akan tidur bertiga sementara mereka bukan mahram.
Ayla mengikuti Pitung menuju kamar tamu yang sudah di siapkan. Dalam perjalanan, Ayla meruntuki diri nya sendiri. Tiba-tiba ia terpikir, kenapa tidak mengambil Uwais saja dan tidur di kamar yang udah di sediakan untuknya.
Sementara Roxy tersenyum puas.
"Malam ini kamu tidur di sini. Begitupun dengan malam-malam selanjutnya." Gumam Roxy melangkah menuju kamarnya.
Sementara itu, di rumah kontrakan Alfa.
"Kapan mas akan menikahi ku?" Tanya Agya duduk di ruang tamu.
Alfa menjambak rambutnya frustasi. Padahal tinggal selangkah lagi, ia sangat yakin jika Ayla pasti setuju untuk rujuk dengan nya. Namun, Agya malah menghancurkan semua. Menghancurkan semua harapan dan usahanya.
"Mas!" Agya memekik karena Alfa tak kunjung menjawab, justru sibuk menyubar rambut dan menjambaknya. Seolah sedang mengalami tekanan yang sangat berat.
"Diam Agya!"bentak Alfa dengan mata mendelik.
Agya membuka mulutnya tak percaya. Alfa kini membentak nya, dulu ia bahkan selalu bicara sangat lembut, sekalipun tak pernah membentak. Tapi kini?
"Mas sedang pusing!"
"Kenapa mas harus pusing? Bukankah mas memang ingin menceraikan Ayla. Kamu bahkan sudah mentalaknya."
"A-gi-ya!" Alfa menggeram, wanita selingkuhan nya itu terus mengoceh sementara sang ibu masih di sana. Terlihat sangat marah dan geram.
"Ibu mau pulang."
"Ibu, tolong bantu aku." Mohon Alfa mengiba, Bu ignis justru memberinya tatapan sinis dan tak suka.
"Ibu sudah membantumu Alfa. Tapi kau mengacaukan nya sendiri. Dan lagi, jangan lari dari tanggung jawab. Ibu tak suka." Bu ignis tak acuh, berbalik melangkah keluar. Tapi berhenti sejenak di ambang pintu.
"Dengar satu hal Alfa, menantu ibu hanya satu, Ayla. Ibu tidak menerima menantu yang lain."
Usai mengatakan itu, Bu ignis pergi. Menyisakan Agya dan Alfa yang terus mengumpat dan tampak sangat frustasi.
"Mas..."
"Ini semua salah mu Agya! Kini ibu bahkan mengecam ku." Geram Alfa menampakkan deretan gigi putihnya.
"Mas! Bagaimana bisa kamu menyalahkan aku? Ini anak kita mas, kita yang melakukan bersama!"
"Benarkah? Kenapa aku tak yakin jika itu anakku?"
Plak!
Agya menampar wajah Alfa oleh karena terlalu geramnya. Pria pengecut yang bahkan tak mengakui perbuatannya sendiri.
"Ini anakmu! Aku hanya tidur denganmu, mas!" Agya sangat marah dengan tuduhan dan pengingkaran dari Alfa."Teganya kamu berkata seperti itu!"
Tanpa Agya sadari, air mata itu mengalir bebas di pipinya.
Sejenak kedua anak manusia itu saling diam. Merasai keheningan malam yang hanya di isi oleh suara jangkrik dan desiran angin yang menggoyangkan dahan dan ranting.
"Kamu harus tanggung jawab, mas!" Tangis Agya menutup wajahnya, bahu gadis itu berguncang hebat membayangkan dirinya hamil, tanpa seorang suami.
Alfa menunduk dan menenggelamkan kepalanya. Mengusap rambut belakang dengan kedua tangannya. Ia cukup pusing dengan semua yang menimpanya. Ayla belum di dapat kembali. Agya sudah hamil dan mengacaukan segalanya.
"Sekarang semakin sulit untuk membuat Ayla kembali." Gumam Alfa dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Alfa terus berpikir. Ia tak ingin bercerai dari Ayla. Tiba-tiba saja ia teringat dengan buku nikah. Wajahnya langsung tegak.
"Dia tadi berangkat dengan sangat tergesa. Aku yakin buku nikah itu pasti tidak terbawa." Gumam Alfa lagi."Aku harus menyimpan nya, sebelum Ayla mengajukan gugatan cerai ke pengadilan."
Alfa beranjak dari duduknya. Melangkah dengan tergesa menuju kamar. Mengobrak-abrik lemari mencari buku nikah.
****
Keesokan pagi nya.
Ayla terbangun, melihat jam di layar ponselnya. Waktu sudah mengisyaratkan untuk menunaikan kewajiban dua rakaat. Gegas Ayla beranjak dari pembaringan dan menuju kamar mandi. Mengambil wudu dan mulai menggelar sajadah.
Sejenak Ayla tertegun. Ke arah mana dia harus menggelar sajadahnya. Ayla lalu mengambil hp, dan menggunakan kompas sebagai panduannya mencari arah Kiblat.
Selesai melaksanakan dua rokaat nya Ayla berjalan keluar kamar. Sudah ada banyak aktifitas di luar. Para pelayan sibuk membersihkan rumah, ada juga yang sibuk di dapur. Semua mengerjakan porsi kerjaan masing-masing.
"Tempat ini luas banget, sampai azan subuh saja tak terdengar." Gumam Ayla melihat setiap sudut tempat yang ia lewati.
Ayla berjalan menuju dapur. Di dapur kesibukan lebih terasa. Saat Ayla sudah di dapur yang amat luas itu, Ayla tercengang.
"Ya ampun.... Ini dapur rumah apa dapur restoran?"
Roxy menuruni tangga. Hari ini, ia sangat bersemangat begitu membuka mata. Bisa tidur dalam satu atap yang sama walau belum di kamar yang sama dengan pujaan hatinya, suatu pencapaian yang sangat luar biasa menurut Roxy.
"Selanjutnya tinggal menjeratnya dalam hubungan pernikahan."
Di depan pintu kamar Ayla, Roxy berdiri. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu. Roxy menarik nafas panjang,mencoba menetralkan degup jantung nya yang tak karuan.
Pintu di ketuk, namun, tak ada jawaban. Roxy memberanikan diri membuka pintu, degup jantungnya membuat Roxy tak mengenali dirinya sendiri. Bayang wajah Ayla yang masih terlelap membuat Roxy makin tak karuan.
Pintu di buka, Roxy melangkah semakin ke dalam. Ranjang tampak kosong dan rapi. Koper Ayla tampak tegak di samping ranjang.
Roxy mengedarkan pandangan berkeliling setiap sudut. Tak ia temukan Ayla. Langkah kakinya terayun menuju kamar mandi. Ia berdehem menenangkan hati dan juniornya. Bayangan-bayangan kotor mengisi otaknya.
"Jangan begini..." Roxy mengusir bayangan di atas kepalanya dengan mengibas tangan.
Setelah bayangan kotor itu menghilang, Roxy berdehem lagi, menghilangkan kegugupan di dalam dirinya.
Pintu di ketuk, tak ada jawaban. Roxy memegang handel pintu lalu mendorong perlahan seiring dengan suara degub jantungnya yang makin sulit untuk dia kendalikan.
lanjut aah