Aneuly Priliana (18) sejak kecil ia hanya tinggal dengan nenek nya, namun semenjak nenek nya meninggal ia harus tinggal di panti asuhan, ia sekolah memakai uang beasiswa dan uang hasil kerja paruh waktunya untuk menyambuh hidupnya.
Setelah lulus sekolah menengah atas, ia lebih memilih bekerja sebagai baby sister keponakan sahabatnya, yang ternyata menaruh hati pada Aneuly sejak mereka bersahabat.
Selama bekerja Aneuly tergoda oleh Duda Tampan, Ayah dari ketiga anak asuhnya.
Darendra Maximillan (27) Pria tampan yang sudah mempunyai tiga anak kembar ini, Mulai jatuh cinta pada gadis yang di cintai adiknya sendiri, gadis yang juga menjadi baby sister anak nya.
Namun Daren mati - matian berusaha mengelak rasa suka pada gadis bernama Aneuly itu. Tapi Ketiga anak nya sangat dekat dengan Aneuly dari pada dengan dirinya.
"Aku seperti mempunyai 4 orang anak, mereka semua sangat manja," gerutu Aneuly kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitryas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DLM II Eps 28
Daren bergegas masuk ke dalam mobil mewah miliknya, mesin mobil hidup ia segera mengatur persneling dan menginjak gas hingga mobilpun meninggalkan halaman luas di kediaman Mansion utama milik Maximillan.
Dengan jalanan yang sepi Daren tidak bisa konsentrasi, pikirannya teringat dengan canda tawa yang dilakukan Abian dan Aneuly saat dirinya hendak pergi menemui orang tuanya tadi.
Brak!!
"Sial!! sudah ku duga jika Abian menyukainya juga!" pekik Daren sambil menggebrak stir mobilnya.
Daren teringat kata-katanya sendiri saat berbicara dengan Axio jika dirinya tidak akan mau bersaing dengan Abian. Dia tersenyum namun terlihat menyedihkan saat mengingat obrolannya besama putranya.
"Kau bodoh! Daren," pekiknya kesal.
Berusaha mengelakpun Daren tetap tidak iklas jika adiknya juga mencintai Aneuly. Dengan cepat Daren menginjak gas dan melaju lebih kencang dari sebelumnya, ia ingin cepat menemui Aneuly detik itu juga.
*
Waktu menunjukan tengah malam, Aneu berjalan menuruni anak tangga untuk mengambil minuman di lemari pendingin karena tenggorokannya merasa haus.
"Abian? sedang apa kamu di sana?" tanya Aneu terkejut karena melihat wajah Abian yang juga terkejut dengan rambut yang berantakan dan wajah yang teroihat lelah.
"Aneu…" lirihnya berjalan guntai mendekati sahabat sekaligus gadis yang ia sukai. Abian sangat frustasi dengan perasaannya, dia sangat ingin memberi tahu isi hati nya tapi di sisi lain dirinya merasa takut akan penolakan dan bisa saja sampai kehilangan seorang sahabat.
"Ada apa Abian? kamu kenapa?" tanya Aneu.
Bruk.
"Abian!"
Abian menjatuhkan tubuhnya di pelukan Aneu, mau tidak mau Aneu menahanya dengan cara memeluknya agar tubuh Abian tidak tumbang karena dia memberikan beban tubuhnya pada Aneu.
Abian berdiri lemas dengan tangan yang menjontai ke bawah dengan dagu yang di topangkan di bahu Aneuly.
"Abian kamu mabuk?" tanya Aneu karena dirinya mencium aroma alkohol dari mulut Abian. "Ayo kita duduk," ajak Aneu.
"Diamlah aku ingin seperti ini …" lirihnya memejamkan mata dan menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Aneu sambil menghirup aroma tubuh sahabtanya.
"Aku harus bagaimana Aneu?" tanya Abian dengan nada lemah. "Aku sangat mencintainya."
"Kamu punya gebetan baru? kenapa tidak bilang-bilang padaku!" tanya Aneu, dia sedikit kesal karena akhir-akhir ini Abian tidak pernah cerita semua kegiatannya. Jika dulu dirinya sering cerita, bahkan hal sepele seperti saat ke dalam toilet saja dia bisa bercerita.
"Aku sudah lama menyukainya, tapi aku tidak tau caranya Aneu," lirihnya lagi semakin sedih. Aneu yang berniat marah pada Abian karena tidak bercerita jika sahabatnya itu mencintai seorang wanita dari lama, di urungkannya niat Aneu untuk marah karena merasa kasian meoihat kesedihan Abian saat ini.
'Apa mencintai seseorang semenyakitkan ini?' tanya Aneu dalam hati saat melihat Abian yang terlihat begitu sedih.
Aneuly pun mengusap punggung Abian dengan lembut seolah memberikan kekuatan kepada sahabatnya itu. "Jangan sedih Abian, cerita padaku apa yang terjadi?"
Abian mendengar suara pintu yang terbuka, dia mengangkat lengan yang sedari tadi tak bertenaga menjunti ke bawah. Dipeluknya gadis yang sedang memeluk dirinya, " Aku sangat mencintainya Aneuly." Ucap Abian tepat saat Daren menghentikan langkahnya saat melihat kedua orang itu berpelukan.
Abian sengaja mengecilkan kata 'Nya' agar terdengar jika dirinya sedang berkata 'Aku mencintai Anuely' Abian sengaja berbuat seperti itu agar Daren mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kak Daren?" tanya Abian seolah dirinya baru sadar jika Abian baru melihat kedatangan sang kakak.
.
.
to be continued...