Novelia hidup berdua dengan adiknya Milea, Novelia sangat menyayangi adiknya itu hingga sesuatu yang menyakitkan menimpa adiknya. Adiknya dinyatakan defresi dan harus dirawat di rumah sakit jiwa dan itu membuat hati Novelia sangat hancur.
Novelia curiga kalau defresinya adiknya ada hubungannya dengan lingkungan sekolah, maka dari itu Novelia bekerja sebagai penjaga kantin untuk menyelidiki siapa orang-orang yang berada dibalik kejadian yang menimpa adiknya itu.
Akankah Novelia bisa menemukan pelakunya atau justru nyawa Novelia yang akan terancam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOVELIA BAB 28
🍃
🍃
🍃
🍃
🍃
Sore pun tiba, Angkasa pun memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Angkasa langsung menuju kamarnya dan ternyata Patricia sudah tidak ada.
"Dia selalu saja pergi, dan tidak pernah pamit kepadaku," gumam Angkasa.
Angkasa pun turun dari lantai dua, dan bersamaan dengan Novelia yang baru saja pulang dari rumah sakit.
"Kamu baru pulang, Lia?"
"Iya Pak, ya sudah kalau begitu aku siapkan makan malam dulu," seru Novelia.
Angkasa menahan lengan Novelia membuat Novelia terkejut.
"Patricia pergi ke mana?"
"Tadi Bu Patricia bilang, ada shooting dan kemungkinan pulang larut malam," sahut Novelia.
Angkasa mengangguk lemah dan duduk di atas sofa.
"Lia, sini duduk aku mau menanyakan sesuatu sama kamu."
Novelia pun duduk di samping Angkasa. "Pak Angkasa mau nanya apa?"
"Bagaimana kalau kita menikah siri, Lia?"
Novelia membelalakan matanya, merasa terkejut dengan ucapan Angkasa.
"Ma-maksud Pak Angkasa, apa?"
"Aku kan sudah bilang sama kamu, kalau aku akan bertanggung jawab atas apa yang sudah aku lakukan kepada kamu, sebelum menunggu proses perceraianku dengan Patricia, ada baiknya kalau kita nikah siri dulu soalnya aku takut khilaf lagi."
Mata Novelia sudah berkaca-kaca, menikah dengan Angkasa suatu hal sangat mustahil buat Novelia tapi saat ini Angkasa sendiri yang mengatakan kalau dia ingin menikahi Novelia.
"Pak Angkasa pasti sedang bercanda, kan? Pak Angkasa hanya kasihan sama aku, bukan karena cinta," sahut Novelia dengan deraian airmata.
Angkasa menggenggam tangan Novelia dan menatap Novelia dalam.
"Jujur, sejak pertama aku bertemu dan melihat kamu di sekolah, ada perasaan aneh yang aku rasakan. Aku belum tahu, kalau itu perasaan apa yang jelas aku selalu ingat sama kamu dan selalu ingin bertemu denganmu. Tapi semenjak kejadian itu, aku sadar dan aku baru tahu, kalau itu adalah perasaan cinta. Aku benar-benar mencintai kamu, Lia."
"Tapi bagaimana dengan Bu Patricia? Apa alasan Bapak menceraikan Bu Patricia?" tanya Novelia pura-pura tidak tahu.
"Patricia sudah mengkhianatiku, Lia. Bahkan, kalau boleh jujur, Patricia sudah bukan perawan lagi saat aku menikahinya dan itu artinya, Patricia sudah bermain-main di belakang aku tanpa sepengetahuanku."
"Terus, bagaimana dengan orangtua Bapak? Mereka tidak akan merestui hubungan kita, karena aku adalah anak orang miskin."
"Lia, Papi aku mempunyai penyakit jantung jadi aku harus pelan-pelan membicarakannya kepada Papi dan itu membutuhkan waktu. Jadi, selama kamu menunggu, aku ingin kita menikah siri terlebih dahulu soalnya aku takut kamu hamil dan aku tidak mau, anakku nanti di sebut anak yang tidak punya Ayahnya."
Novelia kembali meneteskan airmatanya, hingga akhirnya Novelia pun menganggukan kepalanya. Angkasa tersenyum dan langsung membawa Novelia ke dalam pelukannya.
"Kamu jangan takut, karena aku akan selalu ada untuk menjagamu."
"Terima kasih, Pak."
Malam pun tiba...
Malam ini menjadi malam paling bahagia bagi Angkasa dan Novelia, mereka berdua makan malam bersama hasil masakan Novelia.
Angkasa mulai terlihat manja kepada Novelia, malam ini mereka begitu romantis bahkan Novelia melayani Angkasa seperti mereka berasa sudah menjadi pasangan suami istri.
"Aku merasa sangat bahagia Lia, aku baru merasakan bagaimana rasanya punya seorang istri karena Patricia tidak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang istri," seru Angkasa sembari mengusap kepala Novelia.
Saat ini Angkasa dan Novelia sedang duduk di sofa, Novelia menyandarkan kepalanya di pundak Angkasa.
"Oh iya Lia, apa aku boleh tanya sesuatu lagi?"
Novelia menganggukan kepalanya...
"Maaf, aku pernah mengikuti kamu dan kamu masuk ke rumah sakit jiwa, siapa yang kamu jenguk di sana?" tanya Angkasa pura-pura tidak tahu.
Novelia terkejut, Novelia pun langsung menatap Angkasa.
"Kalau kamu tidak mau cerita juga tidak apa-apa, aku tidak akan maksa."
Novelia merasa bimbang saat ini, apakah dia jujur saja kepada Angkasa supaya semuanya cepat selesai dan mereka mendapat hukuman yang setimpal.
"Memangnya Pak Angkasa ingin tahu yang sebenarnya? Terus kalau aku cerita, memangnya Pak Angkasa akan percaya sama aku?"
"Kok kamu ngomongnya seperti itu? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Angkasa.
"Aku akan menceritakan semuanya kepadamu Pak, tapi tidak sekarang karena aku masih butuh bukti lagi untuk menguatkan cerita aku," sahut Novelia.
Angkasa tersenyum dan mengusap pipi Novelia, dia tidak mau memaksakan Novelia untuk bercerita biarlah Angkasa bersabar, karena cepat atau lambat, Novelia pun akan menceritakannya sendiri.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk bercerita tapi ingat, kalau kamu butuh bantuanku jangan segan-segan untuk mengatakannya."
"Baik Pak."
Angkasa kembali menarik tubuh Novelia ke dalam pelukanya, dan itu membuat Novelia sangat bahagia.
semangat buat Novelia,,😉😉
buat Authornya semangat juga,,🙂🙂
mksh k popy untuk sajisn yg bagus maaf lama nggak baca lg sibuk di rl... 🙏🙏🙏