NovelToon NovelToon
Hamil Tak Sengaja, Bayi Sang Don Mafia

Hamil Tak Sengaja, Bayi Sang Don Mafia

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:35
Nilai: 5
Nama Author: Carolis

Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.

Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.

Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.

Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.

Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.

Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Dominic Salvatore

Aku merindukan Ane setiap hari sialan sejak dia tak muncul makan bersama keluarga di meja seperti yang kuperintahkan. Tapi kupilih memberinya ruang setelah semua yang terjadi.

Melihat dia tidak makan makin memperkuat kekhawatiranku soal perasaan-perasaan bertentangan yang kurasa menyiksanya di kamar. Isabela sudah menceritakan soal masa lalu anoreksia Ane. Tapi waktu itu kuabaikan karena terdengar seperti alasan untuk menjelaskan kesulitan keuangan yang mungkin pernah mereka alami. Namun sekarang kulihat betapa seriusnya, dan dia harus menghentikan omong kosong ini.

Aku di ruang tamu menuang wiski yang enak ketika kulihat pelayan turun lagi membawa satu porsi makanan lagi. Darah mendidih mengalir di nadiku. Aku harus mengakhiri semua kekacauan ini. Akan kubuat dia makan dengan cara baik atau paksa.

Kuletakkan gelas di meja bar ruang tamu dan berjalan ke tangga, tapi dihentikan Isabela.

"Adikku tidak mau makan, kamu sadar itu? Aku khawatir dan..."

"Aku sadar segalanya di rumah ini." Kupotong.

"Begitu. Pokoknya..."

"Apa yang kautahu?"

"Bukan apa-apa..."

"Katakan sekarang juga. Ini perintah."

"Aku tidak bisa mengkhianati adikku, kamu tahu itu." Dia mengangkat bahu, menatap kukunya yang baru dirawat.

"Aku tidak akan mengulang. Bicara kalau tidak mau merasakan beratnya tanganku juga. Sudah kuperingatkan, kali ini tak ada ampun, Isabela."

"Baik." Dia mengangkat kedua tangan menyerah. "Aku dengar percakapan Ane dengan teman dari sekolah lamanya."

"Katakan terus terang, Isabela. Aku tidak sabar dengan dramamu."

"Baiklah, kamu punya rencana agar Ane masuk sekolah mafia dan menikah dengan seorang capo atau demi aliansi, kan? Jadi sebaiknya kamu percepat rencananya karena dia berniat kabur dari rumah dengan temannya itu." Katanya sambil membuat tanda kutip dengan jarinya.

Tidak, Ane-ku tidak akan kabur dariku begitu. Aku bisa merasakan saat dia dekat denganku, dari tatapannya bahwa dia mencintaiku. Atau dia mengira begitu. Kepolosan itu tak mungkin dipalsukan siapa pun.

"Akan kuurus itu sekarang."

"Boleh aku ke spa hari ini? Aku ingin cantik untukmu malam ini. Sudah lama kamu tidak mencariku."

"Aku bisa meniduri pelacur mana pun kapan pun aku mau dan kau sama sekali tidak berbeda dari mereka. Tujuanmu melahirkan pewaris untukku dan tak lebih. Tak ada cinta, tak ada romantisme atau fungsi lain selain inkubator manusia dan benda cantik untuk dipamerkan di acara sosial."

"Maaf. Aku hanya rindu padamu." Dia menunduk.

Perasaannya terdengar semu seperti rambut pirang yang baru dicatnya. Dia pasti lebih cocok dengan warna merah alaminya.

Kuputar mataku melihat dramanya dan dia marah menyadarinya. "Pergi! Tapi bersikaplah baik, Isabela. Akan menimbulkan kecurigaan kalau aku jadi duda untuk ketiga kalinya."

Dia menunduk dengan sikap sopan yang dia sendiri tahu palsu, lalu meninggalkan rumah.

Kutunggu beberapa detik karena kuduga dia masih keluar dari wilayah ini. Kulihat dari jendela saat mobil hitam itu pergi. Jantungku berdebar. Aku benci sensasi ini. Kenapa aku begini? Sial. Aku sadar aku sendirian dengannya sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan ini lewat.

Kunaiki tangga buru-buru dan kuketuk pintunya, tapi tak ada jawaban. Aku makin kesal, dan aku tak mau salah soal dia.

Isi kepalaku sudah cukup penuh kekacauan. Lima hari lagi pesta si cacing Sinaloa. Aku harus menghadapi bajingan itu di wilayahku.

Kutendang pintu keras-keras dan kulihat Ane terlonjak, menaruh tangan di dada untuk menenangkan diri. Aku gelap mata. Dia membuatku hilang akal. Akan kusuruh orang mencopot pintu ini. Aku tidak mau pintu itu tertutup. Tidak lagi. Aku akan masuk ke sini kapan pun aku mau.

Kulihat sekeliling dan dia sedang mengemas koper kecil. Terlalu kecil untuk seseorang seusianya. Kurasa dia memilihnya begitu agar lebih mudah kabur dengan bajingan itu. Kusipitkan mata. Tinjuku sakit karena mengepal. Aku hampir meninju wajah halus di balik kacamata konyol itu.

"Apa aku bilang kau boleh mengunci benda sialan itu?"

"Tidak, tapi... aku..." Bibirnya gemetar.

"Kau akan melakukan persis yang kuperintahkan, mengerti?" Kutuju lehernya, menekannya ke dinding.

Dia mencoba bicara beberapa kali. Kulonggarkan jariku di tempat yang sudah berbekas ungu tipis yang menggodaku. "Y-ya." Kata-katanya keluar tercekik dan nyaris tak terdengar.

Kudekatkan tubuhku padanya. "Bagus."

Aroma kepolosannya memabukkan, tapi aku tak berusaha pergi. Aku menginginkannya, dan harus sekarang. Aku tak bisa lagi menahan diri dan inilah saat menagih.

Kulepas lehernya, memakai tanganku untuk memegang pergelangannya yang bersandar di dinding. Dia tampak ingin kabur kapan saja.

"Kau ingat waktu aku melepas kakakmu hari itu?"

Dia mengangguk, menyatakan ya. "Aku ingat."

"Dan kau ingat bahwa kau berutang sesuatu padaku, kan?"

Dia menelan ludah, melepaskan bunyi yang kusukai dari mulut lembutnya. "Apa maumu?"

"Kau, Kecil, milikku dan harus belajar mengenali tubuhku." Kutekan tubuhku ke tubuhnya.

Kurasakan dia menegang seluruhnya. Aku tersenyum, mendekatkan mulutku ke leher rampingnya. Dia mendesah seperti malaikat yang takut pada iblis. Tapi dia memang harus takut padaku.

"Tolong berhenti." Dia memalingkan wajahnya ke arah pintu. Seakan menanti saat dia bisa berlari dariku.

Tak ada tempat di rumah ini yang tak bisa kutemukan dia.

"Beri aku satu alasan bagus kenapa aku tidak boleh memilikimu sekarang."

"Aku perawan." Itu keluar dari tenggorokannya seperti pengakuan.

Tawa mendadak lolos dari tenggorokanku. Kusentuh rambutnya yang kusut, mengusapnya lembut. "Jawaban salah, sayang. Itu justru membuatku makin menginginkanmu."

"Tolong..."

Dia tak melanjutkan. Kumulai ciuman-ciuman buas di mulutnya, menahan rahangnya kuat-kuat. Kakinya gemetar dan kurasakan perutnya menempel pada kejantananku yang siap menerobos kanal tak tersentuhnya.

1
MelaniWrites
tolong mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!