Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 28. SALAH PAHAM
Alessia melangkahkan kakinya perlahan mengikuti staf restoran. Setiap langkah terasa semakin berat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri.
Sesampainya di depan pintu ruang privat, langkahnya terhenti.
Tangannya menggenggam gagang pintu.
Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul, tetapi rasa penasaran jauh lebih kuat.
Alessia mendorong pintu itu perlahan.
Dan seketika—
Tubuhnya membeku.
Matanya membulat.
Napasnya seolah berhenti.
Di dalam ruangan itu, Vellano berdiri sangat dekat dengan seorang wanita.
Ansley.
Dan sebelum Alessia sempat memahami apa yang sedang dilihatnya, bibir Vellano dan Ansley bertemu dalam sebuah ciuman.
Dunia Alessia seperti runtuh dalam satu detik.
Tangannya terlepas dari gagang pintu.
“Vellano…”
Suara itu keluar begitu lirih, hampir tidak terdengar.
Namun cukup untuk membuat Vellano tersentak dan langsung menjauh dari Ansley.
Wajahnya berubah.
“Alessia?”
Ansley juga membeku. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya menghilang seketika.
Alessia hanya berdiri di ambang pintu. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha keras menahan air mata.
Ia teringat pelukan Vellano di kantor.
Kecupan di keningnya.
Kata-kata bahwa ia mencintai istrinya.
Semuanya kini terasa seperti kebohongan.
“Jadi…” suaranya bergetar, “ini alasan kau menghilang?”
Vellano melangkah mendekat.
“Alessia, dengarkan aku.”
Alessia mundur satu langkah.
“Jangan.”
Satu kata itu membuat Vellano berhenti.
Ia menatap suaminya dengan tatapan penuh luka.
“Aku datang ke sini karena khawatir. Aku pikir sesuatu terjadi padamu.”
Air mata akhirnya jatuh.
“Ternyata aku yang seharusnya tahu sesuatu sedang terjadi.”
Vellano tampak panik.
“Bukan seperti yang kau pikirkan.”
Alessia tertawa kecil di tengah tangisnya.
“Kalimat itu selalu datang terlambat.”
Ia berbalik sebelum Vellano sempat meraihnya.
Dan untuk pertama kalinya, Vellano menyadari bahwa keputusan yang ingin ia gunakan untuk mengakhiri masa lalu justru telah menciptakan luka baru yang
mungkin jauh lebih sulit diperbaiki.
Alessia pergi meninggalkan restoran dengan air mata yang terus mengalir. Langkahnya tergesa-gesa, bahkan ia nyaris tidak peduli ketika beberapa orang menoleh ke arahnya.
Di dalam ruangan privat, Vellano masih berdiri terpaku. Begitu pintu tertutup, amarahnya langsung tertuju kepada Ansley.
“Kenapa kau melakukan itu?”
Ansley menunduk. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah.
“Aku minta maaf.”
“Kita sudah membicarakan semuanya.”
“Aku tahu.”
Vellano mengusap wajahnya frustrasi. Mereka memang sudah berbicara sebelum makan malam. Vellano ingin mengakhiri hubungan mereka dengan baik, dan Ansley sebenarnya sudah menerima keputusan itu.
Namun sebelum berpisah, Ansley meminta satu hal.
“Ciuman terakhir,” ucapnya lirih.
Ia ingin mengucapkan selamat tinggal kepada lelaki yang pernah sangat dicintainya.
Vellano tidak menyangka Alessia akan datang tepat pada saat itu.
“Dia pasti salah paham,” gumamnya.
Ansley menatapnya sedih. “Aku benar-benar minta maaf, Vellano. Aku tidak bermaksud menghancurkan rumah tanggamu.”
Vellano tidak menjawab. Pikirannya hanya tertuju kepada Alessia.
Ia segera meninggalkan restoran.
Sepanjang perjalanan pulang, dadanya terasa sesak. Ia terus membayangkan wajah Alessia saat melihat mereka.
................
Begitu tiba di mansion, Vellano langsung mencari istrinya.
“Alessia!”
Tidak ada jawaban.
Ia menaiki tangga dengan langkah cepat.
“Alessia, dengarkan aku!”
Namun yang menyambutnya hanyalah keheningan.
Untuk pertama kalinya, Vellano benar-benar panik. Ia sadar, kali ini bukan sekadar kesalahpahaman kecil.
Ia mungkin baru saja menghancurkan hati wanita yang paling ia cintai.
Di kamar utama, Alessia duduk di tepi ranjang sambil menangis dalam diam. Wajahnya kacau, matanya sembap, dan rambutnya berantakan karena berkali-kali ia mengusap wajah dengan tangan gemetar.
Pintu kamar terbuka.
Vellano berdiri di sana dengan napas berat. Wajahnya penuh kepanikan.
“Alessia…”
“Jangan.”
Satu kata itu langsung menghentikan langkahnya.
Vellano menelan ludah. “Tolong dengarkan aku. Aku bisa menjelaskan.”
Alessia tertawa kecil, tetapi terdengar begitu getir.
“Menjelaskan apa?”
Vellano mendekat beberapa langkah. “Apa yang kau lihat tadi tidak seperti yang kau pikirkan.”
Alessia akhirnya menoleh. Air mata kembali mengalir di pipinya.
“Aku melihat suamiku mencium wanita lain.”
Vellano terdiam.
“Aku menunggumu selama tiga jam,” lanjut Alessia dengan suara bergetar. “Aku meneleponku. Aku menghubungi Maxime. Aku bahkan pergi ke kantor karena aku takut sesuatu terjadi padamu.”
Dadanya naik turun menahan tangis.
“Dan ternyata kau sedang bersama Ansley.”
Vellano mencoba meraih tangannya, tetapi Alessia langsung menariknya.
“Jangan sentuh aku.”
“Alessia, aku tidak berselingkuh.”
“Lalu apa itu?”
Vellano kehilangan kata-kata sesaat.
Alessia menunduk.
“Aku sudah mencoba percaya padamu. Bahkan ketika aku takut kau masih mencintainya, aku tetap mencoba percaya.”
Suaranya semakin lirih.
“Dan tadi siang, kau memelukku di depan semua orang. Kau mencium keningku. Aku pulang dengan hati bahagia karena berpikir akhirnya kau benar-benar memilihku.”
Ia menatap Vellano dengan mata penuh luka.
“Ternyata beberapa jam kemudian aku menemukanmu mencium wanita yang selama ini paling kutakuti.”
Vellano tampak terpukul.
“Itu ciuman terakhir. Aku dan Ansley sudah sepakat untuk mengakhiri semuanya.”
Alessia memejamkan mata.
“Kenapa aku harus percaya?”
“Karena aku mencintaimu.”
Alessia menggeleng perlahan.
“Aku lelah, Vellano.”
Kalimat itu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
“Aku tidak ingin bertengkar. Aku tidak ingin mendengar penjelasan malam ini. Aku hanya ingin berhenti merasa seperti orang bodoh.”
Vellano berdiri terpaku.
Alessia kemudian membalikkan tubuhnya, membelakanginya.
“Pergilah.”
Untuk pertama kalinya, Vellano tidak memiliki jawaban.
Ia hanya berdiri beberapa detik, menatap punggung istrinya, sebelum akhirnya mundur dengan hati yang terasa hancur.
................
Malam itu, kamar utama terasa begitu sunyi meski hati keduanya dipenuhi kekacauan. Setelah mandi dan berganti pakaian, Vellano turun ke dapur. Ia menyiapkan makan malam sederhana, lalu membawanya kembali ke kamar.
Ketika masuk, langkahnya terhenti.
Alessia masih duduk di sisi ranjang. Matanya sembap, pipinya basah oleh air mata. Ia tampak begitu lelah, tetapi tetap tidak mampu menghentikan pikirannya sendiri.
Vellano meletakkan nampan di meja.
“Alessia… makanlah sedikit.”
Tidak ada jawaban.
Vellano duduk beberapa langkah darinya.
“Aku tahu kau marah. Kau boleh marah kepadaku. Tapi jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini.”
Alessia akhirnya mengusap air matanya.
“Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.”
“Tidak ada apa-apa lagi antara aku dan Ansley.”
“Tapi aku melihat kalian.”
Suara Alessia patah.
Vellano menunduk. “Aku tahu.”
Ia mendekat perlahan, tetapi tidak menyentuhnya.
“Aku salah karena tidak memberitahumu tentang pertemuan itu. Aku seharusnya jujur sejak awal.”
Alessia tertawa lirih di tengah tangisnya.
“Kenapa baru sekarang?”
Pertanyaan itu menghantam Vellano.
“Aku pikir aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Ternyata aku justru membuatmu terluka.”
Alessia menatapnya dengan mata merah.
“Aku cuma ingin menjadi istrimu tanpa harus takut ada wanita lain di antara kita.”
Vellano menahan napas.
“Kau satu-satunya istriku.”
“Tapi aku ingin merasa menjadi satu-satunya wanita di hatimu.”
Vellano akhirnya menggenggam tangannya dengan hati-hati.
“Alessia, dengarkan aku. Aku mencintaimu.”
Air mata Alessia kembali jatuh.
Ia tidak menjawab.
Namun kali ini, ia juga tidak menarik tangannya.
Bagi Vellano, sekecil apa pun itu, setidaknya masih ada harapan untuk memperbaiki semuanya.
Alessia akhirnya berkata:
"Vellano, mari kita bercerai saja.”
...****************...
Tiba-tiba banget woy ngajakin cerai😭
Shock berat pasti si Vellano