Hubungan antara dua orang yang saling mencintai tentu saja akan lebih membahagiakan jika ada restu kedua orang tua di dalamnya. Namun, bagaimana akhirnya jika setelah semua usaha dilakukan, tapi tetap saja tidak ada kata restu untuk hubungannya?
Ini tentang Arasellia. Gadis dari kalangan biasa yang selalu kesulitan mendapatkan restu dalam setiap menjalin hubungan.
"Kalau pada dasarnya mereka udah nggak suka sama aku, mau aku kasih mereka uang semiliar juga nggak akan mengubah apa pun."
"Kalau misal berubah, emang kamu punya uang semiliar?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vin Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Left Handed Person
"Sorry, ganggu, ya?" Darma terlihat kikuk karena tatapan Ara.
"Hah? Ganggu?"
Bibir tipis Darma terkatup rapat hanya tangan kirinya yang kini ia lambai-lambaikan di depan wajah Ara.
Masih juga tak mengerti, Ara hanya mengernyitkan kening dan mengedikkan bahu.
"I'm left handed person, Ra," ucap Darma. Dia yang duduk di sebelah kanan Ara membuat sikunya bersenggolan dengan siku gadis itu.
"Eh, serius? Tapi kok ...." Ara sedikit terkejut mendengar pengakuan Darma. Memorinya jadi mengingat setiap momen pertemuannya dengan laki-laki di sampingnya.
Darma tersenyum simpul. "Nggak keliatan, ya?" cetusnya menjawab pertanyaan dalam benak gadis yang masih saja menatapnya cukup intens. "Aku kalo sama orang baru kenal emang biasa gitu."
"Maksudnya?" Saking penasarannya, Ara sampai menyingkirkan makanannya dan duduk menyamping guna mendengar penjelasan Darma.
"Makan dulu. Nanti dingin nggak enak." Darma terkekeh pelan. Ara yang selalu antusias dalam setiap obrolan memang menjadi poin plus di mata laki-laki itu. Karena biasanya, perempuan hanya akan tertarik jika membahas hal-hal yang mereka sukai.
Usai menghabiskan makanannya, sambil menunggu es krim kopyor pesanannya datang, Ara berkata, "Jelasin yang tadi."
"Yang mana?" Darma pura-pura lupa.
Ara berdecak kesal. Dibandingkan mengulangi perkataannya, dia lebih memilih menyambar es krim yang baru saja datang.
"Belepotan, tuh. Mau aku lap, tapi ntar kayak di film-film." Darma tertawa, sedangkan Ara semakin merengut.
"Cerita aja, sih. Gak usah mengalihkan pembicaraan," ketus Ara seraya meraih tisu, kemudian mengelap bibirnya.
"Hmm ...." Darma meminum es tehnya sebelum memulai bercerita. "Percaya nggak kalau aku orangnya susah beradaptasi?"
"Nggaklah!" Ara menjawab cepat.
Lagi dan lagi Darma hanya tertawa. "Nggak semua orang bisa dengan mudah menerima orang yang dominan tangan kiri. Bahkan, ada dari mereka yang langsung menghindar. Nggak enaknya lagi kalau langsung mengecap jorok padahal nggak tahu apa-apa. Gara-gara itu, aku jadi hati-hati kalau sama orang yang baru dikenal, dan buat ngehindarin omongan nggak mengenakkan itu, aku juga jadi ngebiasain diri buat pakai tangan kanan kalau makan sama orang baru."
"Kayak barusan itu?"
Darma mengangguk. "Dulu aku pernah dipaksa buat ngelakuin apa-apa pake tangan kanan," akunya sambil mengaduk-aduk es tehnya yang tinggal menyisakan es batu.
"Terus bisa?"
"Bisa, tapi nggak nyaman."
Ara membulatkan bibir dan mengangguk pelan. "Ya, udah nggak usah dipaksa kalo nggak nyaman."
Mendengar itu, perhatian Darma langsung beralih pada Ara. Ia tatap lekat gadis itu dengan bibirnya yang menyunggingkan senyuman. Senyum yang sangat manis yang jarang sekali ia perlihatkan pada siapa pun.
Merasakan wajahnya memanas, Ara langsung membuang muka. Bibir bawahnya ia gigit, dan jangan tanya bagaimana jantungnya sekarang. Sudah berjoget-joget ria di dalam sana.
"Jujur, Ra, aku suka sama kamu ...."
Eh?
Jadi, semakin salah tingkah 'kan Ara ini.
"Sama keluarga kamu juga."
Oh ....
"Mereka beda dari orang-orang yang pernah aku kenal sebelumnya."
Jelaslah. Kenalanmu pasti 'kan orang-orang kaya. Aku, mah, ampas.
"Nengok sini, kek. Berasa lagi ngomong sama rambut aku."
Mata Ara membeliak. Baru sadar kalau sejak tadi dia terlihat seperti tidak mengacuhkan Darma. Dengan raut tanpa dosa, Ara pun kembali memalingkan wajahnya. "Emang keluargaku beda gimana?"
"Yah, beda. Biasanya kalau aku main ke tempat cewek itu langsung ditanya-tanya kerjanya apa, dulu kuliahnya di mana, jurusan apa. Malesnya lagi kalau ditanya orang tua kesibukannya apa. Errr ...." Darma menggeram kesal.
"Ish, ketauan banget suka gonta-ganti cewek."
"Risiko orang ganteng, Ra," kata Darma narsis.
"PD!"
Darma terbahak-bahak. Entah mengapa jika bersama Ara jadi mudah sekali tertawa. "Fakta, ya. Buktinya mereka terus yang nembak. Aku cuma pernah nembak cewek sekali, waktu SMA. Itu aja karena kalah taruhan bola."
"Jahat banget!" Ara memukul tangan Darma menggunakan sendok.
"Sakitttt, Ra." Darma mengelus-elus tangannya. "Namanya juga remaja. Udah, yuk, ke bengkel. Nanti keburu sore."
Ara mengiakan. Selang sepuluh menit, mereka telah tiba di bengkel motor yang lumayan besar.
"Mas Darma."
Panggilan itu terdengar saat keduanya baru selangkah memasuki tempat bising tersebut. Darma menoleh, lalu mendekati laki-laki yang memanggilnya. "Selamat, ya, papa bilang istri kamu udah melahirkan." Ia menyalami.
"Makasih, Mas. Oh, ya, motornya di sini." Laki-laki itu menunjukkan di mana motor Ara berada.
"Abis berapa, Ling? Takutnya uangku nggak cukup, nanti ada yang marah." Darma melirik Ara yang sejak tadi mengekorinya.
Lelaki yang dipanggil "Ling" itu tertawa sebelum kemudian menyerahkan nota kepada Darma.
Usai membaca nominal yang mesti dibayar, Darma mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang ratusan.
"Eh, kelebihan ini, Mas."
"Buat anak kamu."
"Duh, repot-repot. Makasih, ya, Mas. Kapan-kapan mampir ke rumah, ya."
"Iya. Duluan, ya, Ling."
Laki-laki itu mengangguk.
Motor Ara sudah berada di depan lengkap dengan helmnya ketika Ara dan Darma keluar dari bengkel.
"Hati-hati, ya."
"Kamu juga."
"Jalan duluan, gih. Aku liatin dari sini. Oh, ya, kamu kumpulin soal-soal yang nggak bisa nanti dibahas bareng."
"Serius?" Ara yang tadinya sudah mau memakai helm mengurungkan niat.
"Iya. Udah sana jalan, mendung, nih. Nanti kehujanan lagi."
"Iya. Bye." Ara melambaikan tangan usai helmnya terpasang dengan benar, lalu menghidupkan motornya.
Tanpa Darma sadari, bibir tipisnya menyunggingkan senyum sembari memandangi gadis yang baru saja berlalu dari hadapannya.
jujur aku seneng omanya mati
🙈🙈🙈