NovelToon NovelToon
My Bastard Husband

My Bastard Husband

Status: tamat
Genre:Patahhati / Balas Dendam / Poligami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Erna Surliandari

Bijaklah dalam memilih bacaan dan dalam berkomentar. Semua hanya fiksi, tapi maaf jika mengundang banyak emosi.

Happy reading!

Bertahan demi anak, adalah sebuah kata yang mudah di ucapkan, tapi begitu sulit untuk dilakukan. Sakit, dan perih, namun harus berusaha kuat dan tetap tersenyum di depan buah hati mereka. Apalagi, ketika terpaksa harus terus tinggal bersama.

Isti wulandari, seorang wanita karier dengan seorang anak perempuan berusia Sepuluh tahun. Dengan semua kesuksesan, kecantikan, dan bahkan kekayaan yang Ia miliki, nyatanya tak menjadikan sebuah jaminan untuk sang suami agar tetap setia. Suaminya kepergok selingkuh, dengan seorang wanita yang Dua belas tahun lebih muda darinya. Dan parahnya lagi, sang suami kekeuh menolak untuk diajak bercerai, dengan alasan anak mereka.

Berhasil mempertahankan rumah tangga, atau akhirnya Isti akan menyerah dan menjelaskan pada sang anak akan permasalahan ini meski harus sakit dengan keadaan yang ada?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak enak hati

Keesokan harinya, sesuai dengan rencana yang sudah Ia fikirkan matang-matang. Fikri mengajak Naya pindah ke rumah Ibunya di perumahan itu. Rani telah mengantar  Zalfa kesekolahnya, dan Ibunya kembali ke rumah Isti. Namun Isti sudah berangkat bekerja di Rumah sakit.

"Ibu belum bilang Isti, kalau Naya dipindahin Fikri kesana. Ibu merasa bersalah, kalau nanti...."

"Ngga usah mikir macem-macem duli, Bu. Mba Isti juga ngga akan tinggal diam sama keadaan ini. Mba Isti orangnya memang diam, dia cuma mikir dengan elegan, agar tak banyak merugikan orang lain." ucap Rani.

"Cuma ngga enak aja, kelakuan Masmu itu semakin hari semakin menjadi, Ran. Ibu kasihan sama Mba Is."

Rani memeluk tubuh Ibunya, dan mengelus bahunya agar sang Ibu sedikit tenang karena sebentar lagi Ia akan pergi, dan gak bisa menemani sang Ibu setelah ini.

"Rani kekampus dulu, Insyaallah ini konsul terkahir, dan beberapa hari kemudian Rani akan ujian sesuai jadwal." ucap Rani.

"Iya, Ibu doakan yang terbaik buat Rani." ucap Bu Laksmi, yang melepas kepergian gadisnya itu.

Bu Laksmi kini duduk termenung sendiri, membayangkan rumah kesayangannya itu ki u ditinggali oleh wanita yang Ia benci. Ia marah, muak, rasanya ingin kesana dan menghancurkan rumah itu..

"Ya Allah.... Astagfirullah..." ucapnya lirih, sembari memegangi jantungnya. Iapun kini memilih berbaring sembari terus berdzikir menyeseali tingkah laku sang putra.

***

"Bu... Kepala Laras sakit." keluh Laras yang menghampiri Isti, seraya memegangi kepalanya.

"Laras kenapa?" Isti cemas, terutama melihat wajah gadis kecil itu yang mulai pucat.

Isti yang tadinya duduk santai, langsung meraih tubuh Laras yang nyaris ambruk dan menggendongnya tidur di tempatnya. Sedangkan perawat yang lain, mempersiapkan obat untuk Laras sebagai pereda rasa sakitnya.

Laras terus merintih kesakitan, dan meringkuk di tempat tidurnya. Sedangkan Isti, terus berusaha ada di sampingnya untuk menguatkan gadis kecil itu.

"Sabar sayang, sebentar lagi kamu akan diberi obat. Sakitnya akan hilang." bujuk Isti, dengan menggenggam erat tangan Laras.

"Bosan minum obat, Bu. Minum terus, tapi ngga sembuh-sembuh." keluh Laras yang terus menahan sakitnya.

Isti beralih memeluk Laras, ketika para sahabatnya kembali memasukan jarum infus ke lengannya. Itu semua dilakukan agar Laras tak berontak seperti biasanya, demi bisa memasukkan obat dengan cepat melalu infusnya tersebut.

"Laras ngga mau di infus, Laras bosen, sakit, Bu." keluhnya.

"Daripada Laras minum obat terus, malah bahaya." ucap Isti padanya.

"Tapi kalau pakai infus, Laras ngga bisa bebas kayak biasanya."

"Bisa, Laras ngga usah khawatir. Kalau sakitnya ngga kambuh, pasti di lepas lagi." jawab Isti, berusaha meyakinkan.

Tak lama kemudian, Firman datang dan membawa beberapa obat. Ia pun segera menyuntikkan pada Laras, dan gadis kecil itu perlahan tenang. Ia mulai memejamkan matanya, dengan tetap dalam pelukab Isti.

"Apa perlu rontgen lagi?" tanya Isti.

"Lebih spesisfik lagi. Ia butuh MRI." balas Firman.

"Lakukan saja, apapun demi dia. Pakai saja uang yang ada, nanti saya akan dengan lebih giat mencari lagi bantuan."

"Is...." tegur Firman, yang kini tak segan lagi untuk memanggil nama Isti secara langsung.

"Kasihan dia, dia hanya ingin sembuh."

"Baiklah, kami akan persiapkan semuanya. Kamu tetap jaga dia, sebentar lagi akan kami panggil untuk tindakan. Semua harus dengan konsultasi dokter saraf." terang Firman padanya.

Isti  mengangguk, dan perlahan melepas pelukan pada Laras. Kemudian membaringkannya yang tidur begitu pulas.

Isti kembali duduk di bangkunya, menunggu kabar dari Firman untuk proses MRI. Ia membuka Hp yang sedaritadi tak Ia sentuh sama sekali.

"Ngirim gambar apalah Mas Fikri?" gumamnya dalam hati.

Ia pun membuka satu persatu gambar beserta pesan yang di kirim oleh suaminya itu. Kaki dan tangannya langsung gemetar, hatinya kembali perih. Apalagi kalau bukan karena kelakuan sang suami padanya. Ia dengan bangga mengirimkan Foto mereka yang telah pindah ke rumah Bu Laksmi.

"Aku sudah pindah dengan persetujuan Ibu. Aku harap kamu mengerti, ini salah satu caraku adil dengan para istriku." ucap Fikri dalam pesannya.

"Atas persetujuan dengan keikhlasan, atau atas persetujuan dengan terpaksa? Kamu sudah durhaka, Mas. Jika kamu menyakitiku, aku masih bisa diam. Tapi ketika kalian menyentuh Ibu, aku akan melawan." balas Isti, dengan segala emosinya.

Fikri tak lagi membalas pesan, tapi Ia langsung menelpon Isti saat itu.

"Kenapa lagi?" tanya Isti, dengan nada sedikit tinggi.

"Aku sudah tanya Ibu, ketika akan membawanya pindah, Is."

"Ibu tersenyum, atau sedih?" tanya Isti.

"Tanpa ekspresi. Tolong bujuk Ibu agar mengerti akan situasi ini. Naya juga butuh tempat yang layak, seperti halnya kamu dan Rani."

"Bukan karena takut di serang warga?"

"Darimana kamu tahu itu? Jangan-jangan, kamu yang menghasut mereka, Is?"

"Kenapa harus menghasut, jika kenyataannya begitu. Tanpa ku beritahu, bangkai yang kamu simpan itu akan tercium oleh mereka. Kamu takut kan, jika seseorang akan melaporkan perbuatanmu?"

"Is.... Tolong, Is. Aku minta tolong sekali lagi padamu, jangan terlalu menekan Naya, kasihan dia. Dia masih terlalu muda."

"Wah, justru karena masih muda, mentalnya harus benar-benar di latih agar semakin kuat nantinya." ledek Isti, dengan tawanya yang menyeringai.

"Mas... Jangan harap, dia aman disana. Kamu ngga tahu, bagaimana warga kompleks, Mas. Berita akan dengan cepat menyebar, hanya dengan sekali hembusan angin. Mau jawab apa kamu kalau mereka tanya?" imbuh Isti.

"Ter-terpaksa mengakuinya sebagai saudara. Dan itu pasti akan memerlukan bantuanmu." jawab Fikri sedikit gugup.

"Kamu fikir, mereka anak kecil yang bisa di bohogi? Tapi, terserahlah. Jika kamu kuat, ya lakukan saja. Toh, kamuh sudah terlalu sering berbohong. Kamu itu pembohong yang ulung, ku akui kehebatanmu yang satu itu." balas Isti, lalu mematikan Hpnya karena sudah muak.

Isti kembali meletakkan Hp di dalam tas kecilnya. Mencoba mengesampingkan semua masalah yang baru saja terjadi. Ia memilih fokus dengan Laras, karena memang butuh perhatian saat ini.

" Memikirkan semua tentangmu, membuat aku ingin segera memporak porandakan isi rumah itu, Mas. Tapi, biar saja dulu, urusanku masih lebih penting dari kamu." gumam Isti.

Panggilan telepn dari ruangan MRI di meja kerja Isti. Ia segera menjawabnya, dan meng'iyakan apa yang diperintahkan Firman padanya. Isti pun segera memanggil beberapa orang, untuk membantunya mendorong brankar Laras, dan membawanya ke ruang dokter Saraf.

Suara brankar pun memecah keheningan lorong Rumah sakit itu. Merekalah pejuang kesembuhan seorang gadis kecil yang sedang tak ada harganya, bahkan bagi orang tuanya sendiri.

"Tenang Laras, meski kamu sampah bagi mereka, tapi kamu adalah berlian bagi kami." bisik Isti, yang mendorong brankar itu tepat di sebelah kepala Laras.

1
NaNa
Luar biasa
kinan kinan
Seru dan ceritanya bagus...
wo ai ni
lah gajelas bgt, takdir situkang selingkuh sama pelakor kok enk bgt hidupnya, kyk ga ada rasa sesal bersalah
Soraya
mksh y thor karyanya
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak👍
Ririn Nursisminingsih
suka karakter isti
Assyifa Ramadhani
untung isti masi liat ank ma ibu,
cb klo aq ogah lah.
lbih baik sendiri jga ank drpd mkn ati doang tiap hari liat wajahnya
Aas Azah
baru mampir thoor tapi udah bikin nyesek😭😭😭
Alexa Juliana
Semoga bayinya kembar biar rumah tambah rame..
Alexa Juliana
Jgn² nanti ternyata ayahnya Laras adalah Pak Bardo..
Alexa Juliana
Menjemputnya ---> menjenguknya
Alexa Juliana
Awal kehancuran hidupmu sdh di depan matamu Fikri..nikmati hari2mu saat sdh di ceraikan Isti..
Alexa Juliana
Jgn² Rani tuh yg ngehajar Naya
Alexa Juliana
Si Naya tuh yg ngirim foto ke sekolah Zalfa..
Alexa Juliana
Gaji Masih pas²an sok sok'an punya istri 2..
Alexa Juliana
Mengharapkan naik pangkat demi utk menghidupi selingkuhan bukan demi kebahagiaan anak dan istri sah..Semoga mimpimu g akan terwujud Fikri..kalau perlu posisimu diturunkan..
Alexa Juliana
Pak Bardo kan duda..semoga Isti bercerai dgn Fikri dan menikah dgn Pak Bardo biar si Fikri tau rasa klo berlian yg dia sakiti menikah sama si Boss..
Alexa Juliana
Klo ada di dekat si Fikri, asli pengen getok tuh kepalanya.. egois banget sih..
Alexa Juliana
Setuju sama perkataan Bu Laksmi..
Alexa Juliana
Tetap keukeuh g mau cerai tp ga mau juga ngelepasin selingkuhan hanya krn sdh dijebol..Iihh jijay banget itu otong udh nyelup lobang yg lain..di pikiran suami, klo suami selingkuh itu g apa dan dianggap wajar, tp klo istri selingkuh ga ada kata maaf dan langsung bilang istrinya seorang jalang dan diceraikan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!