Ini adalah kisahku dalam menunggu cinta pemuda yang kata peramal keluarga adalah keturunan ksatria.
Pemuda yang katanya menguasai ilmu-ilmu Jawa yang sudah tua umurnya.
Pemuda yang membuatku takut akan terkena mantra peletnya saat berjumpa pertama kali dengannya.
Pemuda yang banyak pacarnya, yang untuk mendapatkannya aku harus antri dan berebut dengan wanita lainya.
Namaku Selia, wanita yang terjebak cinta paranormal muda tapi tidak diceritakan dalam petualangan asmaranya.
Kan kam*pret namanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al Orchida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ch 28
Aku menelpon Ara begitu sampai di rumah, menyampaikan keluhanku yang menyiksa dan tak kunjung reda.
Lucia menginap di sana karena ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, Ara hanya menyuruhku untuk tenang. Dia akan menjelaskan besok saat mengunjungiku.
Al menghubungiku via panggilan video tak lama setelah Ara, wajahnya muram dan dia begitu mengkhawatirkanku.
"I am not okay, Al."
"Iya aku tau kamu nggak baik-baik saja. Kamu kesababan." Kata Al langsung memberikan informasi yang ingin aku tanyakan.
"Apa maksudnya itu, Al? Aku merasa nggak enak badan, mual dan muntah."
"Iya, tubuhmu peka dengan hal mistis. Mantra yang kamu pelajari dan mengendap dalam tubuhmu itu yang bereaksi dengan mereka. Kamu pergi ke toilet pada saat di pesta?"
"Yes i did. Aku melihat serombongan bapak-bapak membicarakan kamu, om Andric dan mom."
"Itu teman mom waktu muda. Kamu pasti menghirup aroma dupa yang sudah kena mantra, makanya ada reaksi."
"Aku juga merasakan ada mata yang selalu mengawasi. Seperti akan mengambil alih kesadaranku, tengkukku terasa berat, Al."
"Setelah ini lakukan meditasi, kamu bisa melawannya sendiri. Aku akan mendampingi dari sini. Aku mungkin tidak berkunjung ke rumahmu untuk sementara ya, Beb!
Aku tidak mau menyeretmu dalam bahaya, cukup Lucia saja yang mungkin kena imbasnya karena dianggap dekat denganku!
Dan makhluk yang menempel padamu itu harus segera dihabisi sebelum mereka pulang dan membuat laporan pada tuannya."
"Tapi kenapa mereka juga mengikutiku?"
"Tubuhmu bisa jadi wadah yang baik, apalagi bakatmu sebagai penyembuh mulai bangkit."
Aku menghela nafas berat. Kenapa tidak ada yang bilang kalau mendampingi seorang ksatria itu bukan hal yang mudah?
"Apa artinya aku juga tidak boleh mengunjungimu?"
"Iya, jangan ke rumah dulu!" Jawab Al dengan nada berat. "Besok biar Ara aja yang ke tempatmu!"
Aku merasa sedih terpisah dengan alasan seperti ini, lebih baik jika dibilang dia banyak kesibukan. Ini seperti sesuatu yang tidak pasti tapi menakuti hati.
"..." Aku tak sanggup membantah apalagi mendebatnya. Sejujurnya aku ingin mengajukan keberatan dengan pengaturan Al. Tapi aku hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Semua pasti baik-baik saja. I promise, my love!"
Hatiku menghangat mendengar janjinya, meski ada hal kecil mengganjal tapi aku abaikan.
"Boleh aku tau sesuatu? Apa rombongan bapak-bapak di tempat Wulan tadi memang ada hubungannya dengan semua hal mistis ini?"
Tubuhku merinding hebat saat menanyakan hal itu pada Al. Dia melihatku dengan iba, mendadak ada rasa takut menyusup dalam hatiku karena mata Al yang berbicara banyak.
"Sembuhkan dirimu dan fokuslah, aku akan menjagamu dari sini. Kamu harus selamat, Selia!"
Itu adalah kata-kata terakhir Al sebelum menutup panggilan videonya. Aku berusaha membuang gelisah dengan berwudhu dan melakukan meditasi yang dalam di kamar.
Semua terasa kosong, aku hanya mendengar suara nafasku sendiri yang juga menghilang setelah beberapa waktu. Tidak ada lagi yang kurasakan selain ruang hampa. Aku membuka mata dan melihat Al sudah menungguku dengan senyum tipisnya. Aku berhasil melangkah ke balik dunia dengan sendirinya.
Tapi nyaliku segera menciut saat menyadari ada dua orang yang sedang tertawa dengan lantang. Seorang nenek tua dan anak kecil. Aku merapatkan diri di belakang Al, berlindung dari segala kemungkinan.
Aku lihat wajah Al datar tanpa ekspresi saat melihat mereka. Sebuah siluet merah terbelah di depan Al dengan kecepatan tak terikuti mata, dan Al sudah memegangnya. Itu seperti sebuah keris dengan pendar merah seperti lahar.
Al mengambil tangan kananku dan meletakkan gagang keris itu di telapak tangan lalu membantuku menggenggamnya. Panas yang membakar langsung menjalar ke seluruh tubuh dan lepas begitu saja di dada. Keris itu dengan aneh sudah melekat dalam genggaman. Dan sebuah energi besar bersarang dalam tubuhku.
"Ini Asih Jati, dia akan membantumu menghabisi mereka." Al menunjuk nenek dan anak kecil yang masih saja cekikikan melihatku.
"Mereka tidak tampak jahat, Al!" Gumamku tertahan, aku rasanya tidak tega melihat penampakan mereka yang terlihat baik itu harus aku ubah jadi abu. Apalagi anak kecil perempuan itu tampak sangat imut.
Al terkekeh kecil, "Kamu harus terbiasa dengan tipu daya setan, Beb. Mereka bisa menyamar jadi apapun dan menipu matamu. Sebaiknya kamu waspada atau kamu yang akan jadi abu duluan."
"..." Aku melirik wajah dingin Al yang bergeser ke belakang. Memberikan aku ruang untuk menghadapi mereka sendiri.
"Jangan menahan diri, Srikandi!" Bisiknya membakar semangat.
Asih Jati sangat ringan di tangan, energinya terus berputar di dalam tubuhku. Aku menatap tajam pada dua perempuan beda usia yang mendadak berhenti tertawa.
Hawa sekitar langsung anjlok membekukan tulang, aku tak lagi kaget apalagi menggigil. Aku sudah pernah mengalaminya jadi aku tersenyum tipis demi melihat mereka menyeringai dengan wajah paling menyeramkan yang pernah kulihat.
Bahkan dalam mimpi terburukpun aku belum pernah menjumpai wajah seperti itu. Kulit mereka mengkerut dan menggelambir aneh dengan bentolan sebesar kelereng di seluruh tubuh.
Anak perempuan kecil yang tidak menapak pijakan itu langsung melesat ke arahku dengan tangan terulur hendak mencekik. Sementara si nenek menubruk kakiku dan menjegalnya hingga aku terbanting.
Usaha yang bagus dan kompak!
Rahang nenek itu terbelah lebar dan mengatup saat mulutnya menggigit kakiku hingga taringnya, ngilunya serasa menembus tulang. Aku menjerit menyentak dengan kekuatan penuh dan menendangnya hingga mencelat beberapa meter. Tanganku yang lebih panjang mencengkeram leher anak perempuan kecil itu dan membantingnya tepat di sebelahku.
Sebelum tangan kecilnya menyentuh tubuhku, aku menghunjamkan Asih Jati tepat pada dahinya. Ujung keris dengan pendar seperti lahar itu dengan mudah melesak ke dalam kepalanya, matanya mendelik dan hanya menggeliat sebentar. Aku hanya memegang ruang kosong dengan keris menembus tanah. Tubuh itu jadi debu tak terlihat dengan cepat.
Masih dalam posisi tengkurap aku melirik nenek itu meraung menggila. Dia langsung berdiri dan berjalan melayang dengan mata merah menyala.
Aku juga berdiri dengan siaga dan penuh waspada. Ketika jarak sudah dekat nenek itu menghilang dari pandangan mata. Kurasakan ada kuku tajam menembus kulit leherku dari arah belakang. Dia mendekapku sambil mencekik kuat, aku benar-benar seperti sedang menggendong monster berbau anyir di punggungku.
Tangan kiriku menjambak rambut masainya dan menarik ke depan, dengan cepat aku memutar tubuh dan menusuk dadanya dengan keji. Meskipun leherku terasa sakit dan terluka dalam tapi aku masih bisa menyeringai senang karena berhasil mengantarkan si nenek untuk kembali bergabung dengan cucunya.
Aku terjatuh dengan lutut sebagai penyangga, leherku sangat sakit seolah mau putus. Dan kakiku nyeri hingga menembus tulang. Aku memejamkan mata mengatur nafas dan konsentrasi.
"Waktunya pulang dan menyembuhkan diri, Beb!" suara Al terdengar lirih saat menyambar tubuhku. Tangannya mengambil Asih Jati dariku ketika aku sudah duduk dipangkuannya di atas naga yang terbang lambat. Aku merangkul lehernya dan terus saja menatap wajahnya yang dihiasi senyum tipis. Mengecup pipinya sebagai ucapan terima kasih.
Kamu memang mempesona di mana saja, Al! keluhku dalam hati.
Tak lama dia menurunkanku dengan cara menggendong seperti seorang putri, menggenggam erat tanganku dan mengantarkanku ke balik dimensi ruangan dimana aku bermeditasi. Kamarku.
Badanku lelah, tapi ada rasa hangat yang tertinggal di telapak tangan yang baru saja disentuh Al saat aku merebahkan diri beristirahat.
***