NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RIAK YANG DIAM-DIAM BERISIK (1)

Hari Jumat biasanya menjadi hari yang paling ditunggu oleh Nara dan teman-teman klub basketnya. Bukan karena ada sesuatu yang benar-benar istimewa, melainkan karena pada hari itu latihan basket di sekolah berlangsung lebih santai dibandingkan hari-hari lainnya. Pelatih mereka terbiasa mengurangi porsi latihan menjelang akhir pekan sebagai hadiah untuk relaksasi setelah latihan keras yang harus mereka jalani dari hari Senin hingga Kamis. Tidak ada latihan fisik yang terlalu berat, tidak ada lari mengelilingi lapangan hingga kaki terasa kebas seperti bukan milik sendiri, dan tidak ada sesi evaluasi panjang yang membuat seluruh anggota klub duduk diam sambil menundukkan kepala karena dibacakan kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan pada saat latihan seolah dosa-dosa mereka sedang dikuliti sehingga membuat mereka semua untuk terus memperbaiki kemampuan diri.

Meskipun demikian, Jumat sore itu Nara merasa tubuh dan pikirannya jauh lebih lelah daripada biasanya.

Sejak pagi, ia sudah menjalani dua ulangan, presentasi kelompok yang sempat kacau karena salah satu anggotanya lupa membawa bahan yang dengan ketenangan tingkat dewanya meskipun dalam hatinya sangat panik membuat bahan presentasi dadakan mengandalkan kecanggihan teknologi Artificial Intelligence (AI), persiapan tes masuk beberapa universitas di luar negeri, serta rapat singkat bersama pengurus klub basket mengenai pertandingan persahabatan yang akan diadakan bulan depan. Ketika latihan selesai, Nara duduk di tepi lapangan sambil memandangi bola basket yang menggelinding perlahan menuju garis samping.

Keringat masih membasahi pelipisnya. Napasnya sudah teratur, tetapi pikirannya belum benar-benar tenang. Ia hanya ingin diam dan tenggelam dalam keheningan sejenak seolah rohnya sedang tak berada di dalam raganya.

“Kamu mau langsung pulang?” tanya Ekky, salah satu teman seklubnya menepuk pundak kiri Nara menyadarkan dirinya dari keterpakuan.

Nara mengangkat kepala menoleh kearah Ekky yang sedang memasukkan botol minum ke dalam tas. Rambutnya berantakan karena latihan, sementara kaus basketnya masih basah oleh keringat.

“Mungkin,” jawab Nara singkat seperti gumaman.

“Mungkin itu berarti belum yakin.”

“Memangnya kenapa?”

Ekky tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke arah dua anggota klub lain yang sedang membereskan bola. Setelah memastikan tidak ada pelatih yang memanggil, ia kembali menatap Nara dengan ekspresi seolah baru saja menemukan ide paling cemerlang di dunia.

“Kita ke klub renang, yuk.”

Nara mengernyit. “Klub renang?”

“Iya.”

“Buat apa?”

Ekky mengangkat kedua bahunya. “Enggak tahu.”

Nara menatapnya beberapa detik, berusaha memastikan apakah teman sekaligus sahabatnya itu sedang bercanda atau benar-benar serius.

“Jadi kamu ngajak aku ke klub renang, tapi kamu sendiri enggak tahu mau ngapain?”

“Justru itu serunya.” Ekky terkekeh. “Random saja. Iseng. Refreshing otak. Kita butuh suasana lain. Tiap hari lihat lapangan basket, ring, bola, garis tiga angka. Sesekali lah kita lihat air siapa tahu bisa ikut tenggelam.”

“Itu alasan paling tidak masuk akal yang pernah aku dengar.”

“Tapi kamu tetap mempertimbangkannya kan?”

Nara hendak menyangkal, tetapi ia tahu Ekky benar. Ada bagian kecil dalam dirinya yang memang ingin melakukan sesuatu yang berbeda. Ia tidak ingin langsung pulang, mandi, makan malam, lanjut belajar mengenai bisnis dan persiapan tes masuk ke universitas incarannya di luar negeri lalu berakhir menatap layar ponsel hingga tertidur lelap. Jumat sore seharusnya terasa lebih ringan daripada itu. Ia ingin merasakan kebebasan berekspresi menjadi diri sendiri yang akhir-akhir ini sedang dipertanyakan kepada dirinya sendiri.

“Klub renang yang mana?” tanya Nara akhirnya.

Ekky tersenyum lebar. “Ya klub renang sekolah kitalah, mana lagi. Kamu lupa ya, sepupuku kan jadi anggota klub itu. Kita cuma lihat-lihat. Katanya ada sesi latihan sore hari ini.”

“Kalau kita diusir?”

“Berarti kita pulang.”

“Kalau kita dianggap aneh?"

“Kita kan memang agak aneh.”

Nara tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak pagi, kepalanya terasa sedikit lebih ringan dengan ide konyol sahabatnya itu. Mungkin itulah sebabnya mereka berdua bersahabat. Ide-ide absurd-nya selalu bisa memecahkan keseriusan di dalam hidupnya.

Mereka pun bergegas mengganti baju dengan seragam sekolah menuju klub renang. Langit sore tampak cerah meskipun warna birunya mulai memudar. Matahari menggantung rendah, menumpahkan cahaya keemasan di sela-sela kompleks gedung SMA Perguruan TA dan pepohonan rindang yang tertata apik sebagai pendampingnya.

Sesampainya di sana, Nara baru menyadari bahwa klub renang itu jauh lebih ramai daripada bayangannya. Dari luar gedung kolam renang indoor, suara percikan air sudah terdengar.

Ekky menyapa seorang penjaga dan menjelaskan bahwa ia ingin menemui sepupunya. Entah karena wajah Ekky terlihat meyakinkan atau penjaga itu memang sedang tidak ingin bertanya terlalu banyak, mereka diizinkan masuk ke area tribun penonton.

Aroma khas kolam renang langsung menyambut mereka. Campuran antara air, klorin, dan udara lembap memenuhi hidung. Suara peluit pelatih bersahutan dengan suara air yang terbelah oleh gerakan para perenang.

“Lumayan juga,” kata Ekky sambil duduk di bangku tribun.

Nara memilih duduk di sebelahnya. “Lumayan apa? Lumayan bisa lihat pemandangan perenang perempuannya atau lumayan sukses juga kamu bohongnya? Kamu beneran nggak takut sepupumu marah dengan kelakuan kita hari ini membawa-bawa nama dia?”

Ekky hanya menyengir sambil membenarkan kacamatanya karena sudah pasti akan mendapatkan ceramah panjang kali lebar kali tinggi dari sepupunya nanti.

“Kita benar-benar datang ke sini cuma buat duduk?”

“Kan sudah kubilang, refreshing otak.”

“Ini lebih seperti tersesat dengan sengaja dan nekad. Ada gila-gilanya kamu Ky.”

“Kadang-kadang tersesat dan nekad itu perlu supaya tetap menjaga kewarasan jati diri.”

Nara tidak menanggapi. Perhatiannya mulai tertuju pada aktivitas di kolam. Ia memang bukan orang yang memahami teknik renang. Baginya, hampir semua perenang terlihat cepat dan terampil. Ada yang berlatih gaya bebas, ada yang bergerak dengan gaya kupu-kupu, ada yang bergerak dengan gaya katak atau disebut juga sebagai gaya dada (breaststroke) dan ada pula yang berdiri di ujung kolam menunggu instruksi.

Awalnya ia hanya melihat tanpa minat khusus. Namun, beberapa menit kemudian, pandangannya berhenti pada salah satu lintasan di bagian tengah.

Seorang gadis bertubuh ramping dengan tinggi 160 centimeter baru saja melompat ke dalam kolam.

Nara tidak langsung mengenalinya. Gadis itu mengenakan topi renang berwarna biru gelap senada dengan baju renang one piece-nya dan kacamata renang toska yang menutupi sebagian wajahnya. Ia meluncur di bawah permukaan air dengan gerakan yang tenang. Ketika mulai berenang, kedua lengannya membelah air secara bergantian dengan sepasang kakinya yang menghentak bersamaan, seolah setiap gerakan sudah ia hafal sejak lama.

Ada sesuatu yang berbeda dari caranya berenang.

Ia tidak terlihat sedang memaksa dirinya untuk menjadi yang tercepat. Ia juga tidak tampak terbebani oleh peluit pelatih atau orang-orang yang mengamati dari pinggir kolam. Gerakannya ringan, tetapi pasti. Sesekali ia mengangkat kepalanya untuk mengambil napas, lalu kembali membenamkan wajah ke dalam air.

Nara terus memperhatikannya hingga gadis itu mencapai ujung kolam. Gerakannya begitu indah seolah ia sedang berdansa bersama air.

Ketika gadis itu mengangkat kepala dan melepas kacamata renangnya, Nara tiba-tiba merasa pernah melihat wajah tersebut.

Ia menyipitkan mata. “Naya?” gumamnya.

Ekky menoleh kearah Nara. “Siapa?”

Nara tidak segera menjawab. Ia masih berusaha memastikan bahwa gadis yang berada di dalam kolam itu benar-benar Naya, seseorang yang pernah ditemuinya secara kebetulan beberapa waktu sebelumnya.

Pertemuan mereka saat itu singkat dan tidak direncanakan. Nara hanya mengingat seorang gadis kecil yang dua kali ia temui. Mereka tidak berbicara banyak. Bahkan setelah berpisah, Nara tidak menganggap pertemuan tersebut sebagai sesuatu yang penting untuk menjadi bagian dari cerita hidupnya.

Namun, sekarang ia melihat Naya dalam keadaan yang berbeda. Naya tidak sedang kebingungan. Ia tidak sedang bertanya kepada siapa pun. Ia tidak pula terlihat ragu atau canggung. Di dalam kolam itu, ia tampak seolah berada di tempat yang benar-benar dikenalnya. Air bukan sesuatu yang harus ia lawan, melainkan ruang yang membuatnya bebas.

Setelah beristirahat sebentar, Naya kembali mengambil posisi di ujung lintasan. Pelatih memberi aba-aba. Ia mendorong dinding kolam dengan kedua kakinya dan meluncur lagi.

Kali ini Nara memperhatikan dengan lebih saksama. Ia melihat bagaimana Naya berenang tanpa tergesa-gesa, tetapi tidak pernah kehilangan irama. Ia melihat bagaimana gadis itu menyelesaikan satu lintasan, berbalik, lalu melanjutkan lintasan berikutnya dengan ketekunan yang sama. Ia juga melihat senyum kecil Naya setiap kali latihan dihentikan sementara.

Senyum itu bukan senyum yang dibuat untuk menarik perhatian siapa pun. Naya bahkan tidak tahu bahwa Nara berada di tribun. Ia tersenyum hanya karena ia benar-benar menikmati apa yang sedang dilakukannya.

Entah mengapa, hal sederhana tersebut membuat Nara merasa sulit mengalihkan pandangannya kearah Naya.

“Nar,” panggil Ekky.

Nara tidak menjawab.

“Nara.”

“Apa?”

Ekky mengikuti arah pandangannya menuju sosok Naya. “Sepertinya aku kehilangan suatu momen pada saat aku absen mengikuti acara penerimaan anak-anak angkatan baru. Kamu kenal yang itu?”

“Pernah ketemu.”

“Teman?”

“Bukan.”

“Saudara?”

“Bukan.”

Ekky mengangguk pelan, lalu memasang wajah penuh pengertian yang justru membuat Nara merasa terganggu.

“Kenapa lihatnya serius begitu?”

“Aku cuma memastikan.”

“Memastikan apa?”

Nara terdiam. Ia juga tidak tahu apa yang sedang berusaha dipastikannya. Naya memang seseorang yang pernah ia temui beberapa kali, tetapi seharusnya tidak ada alasan baginya untuk terus memperhatikan gadis itu.

Mungkin ia hanya terkejut. Mungkin karena pertemuan keempat mereka terjadi di tempat yang sama sekali tidak ia duga. Atau mungkin karena Naya terlihat begitu berbeda ketika berada di dalam air.

“Aku enggak menyangka dia ikut klub renang juga disini,” jawab Nara. “Kukira dia hanya hobi. Ternyata melebihi ekspektasi.”

“Orang memang sering punya sisi yang tidak pernah kita tahu.”

Nara menghela napas, lalu bersandar pada bangku tribun.

Ucapan Ekky terdengar sederhana, tetapi ada benarnya. Selama ini Nara terbiasa menilai orang berdasarkan kesan pertama. Seseorang yang pendiam akan dianggap tidak suka berbicara. Seseorang yang terlihat kecil akan dianggap rapuh. Seseorang yang pernah terlihat kebingungan akan dianggap selalu membutuhkan bantuan.

Namun, Naya mematahkan kesan tersebut hanya dalam beberapa menit.

Di dalam kolam, gadis itu terlihat kuat dengan caranya sendiri. Bukan kekuatan yang berisik atau sengaja diperlihatkan. Bukan pula keberanian yang membutuhkan tepuk tangan. Ia hanya berenang, menikmati air, mengikuti arahan, dan sesekali tertawa bersama teman-teman satu klubnya.

Akan tetapi, justru karena Naya tidak berusaha menarik perhatian, perhatian Nara malah tertuju kepadanya.

Perasaan kagum itu tumbuh perlahan, nyaris tidak disadari. Berawal dari rasa penasaran, lalu berubah menjadi keinginan untuk terus melihat. Bukan sekadar melihat gerakannya, melainkan memahami mengapa Naya bisa tampak begitu bahagia hanya dengan berada di dalam air dan Nara mulai membandingkannya dengan dirinya sendiri.

Di lapangan basket, ia sering terlalu sibuk memikirkan hasil. Ia memikirkan skor, posisi, strategi, komentar pelatih, dan kemungkinan melakukan kesalahan. Bahkan saat bermain dalam latihan biasa, ia selalu merasa harus membuktikan sesuatu bahwa dirinya tidak akan mengecewakan harapan orang-orang disekelilingnya.

Naya terlihat sebaliknya.

Ia tampak menikmati setiap gerakan tanpa memikirkan siapa yang mengawasi. Bahkan ketika tertinggal dari perenang lain, ia tidak menunjukkan rasa kesal. Ia hanya berhenti, menarik napas, mendengarkan instruksi pelatih, lalu mencoba lagi. Kesungguhannya terlihat sederhana, tetapi terasa jujur.

Untuk sesaat, Nara lupa bahwa kedatangannya ke klub renang itu hanya akibat ajakan random Ekky. Ia lupa bahwa awalnya ia menganggap kunjungan tersebut tidak masuk akal. Kini ia justru merasa keputusan iseng itu membawa dirinya pada sesuatu yang entah mengapa terasa penting.

Latihan akhirnya selesai ketika matahari hampir tenggelam. Para perenang mulai naik dari kolam. Beberapa mengambil handuk, sementara yang lain berkumpul di dekat pelatih.

Naya melepas topi renangnya. Rambutnya yang basah jatuh menempel di sisi wajah. Ia berbicara dengan seorang temannya sambil tersenyum. Sesekali tangannya bergerak seolah sedang menjelaskan sesuatu yang lucu.

Nara tanpa sadar ikut tersenyum tipis.

Kemudian, tanpa peringatan, Naya menoleh ke arah tribun dan pandangan mereka bertemu.

Nara sempat berpikir untuk mengalihkan wajah, tetapi semuanya sudah terlambat. Naya tampak terkejut. Ia mengedipkan mata dua kali, lalu menunjuk ke arah Nara seolah ingin memastikan bahwa orang yang dilihatnya memang benar Nara.

Setelah memastikan hal itu benar, Naya segera mengalihkan pandangan seolah sedang mengalami mimpi buruk tiba-tiba dan bergegas berjalan menuju anggota lainnya untuk mendapatkan arahan terakhir sebelum mengakhiri sesi di Jumat sore ini.

Tindakan acuh Naya cukup untuk membuat dada Nara terasa aneh. Bukan perasaan yang besar atau dramatis. Hanya semacam kehangatan kecil yang muncul tiba-tiba, seperti cahaya matahari sore yang menyentuh permukaan kolam.

“Wah,” ujar Ekky pelan.

Nara langsung menurunkan tangannya. “Apa?”

“Enggak apa-apa.”

“Jangan mulai.”

“Aku belum bilang apa-apa.”

“Tapi wajahmu sudah bicara banyak.”

Ekky tertawa. “Aku cuma mau bilang, ternyata ide random-ku tidak buruk.”

Nara tidak ingin mengakuinya, tetapi kali ini ia setuju.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!