Siena gadis sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan besar terlibat sebuah perjanjian dengan pemilik perusahaan tersebut, dan menyeretnya ke dalam cinta segitiga yang di ciptakan oleh Rangga Wijaya, sepupu pemilik perusahaan yang bernama Sagara Abraham.
Akankah cinta Sagara Abraham berlabuh selamanya di hati Siena? atau berhenti di tengah jalan dan berpaling ke hati selanjutnya? Siapakah yang memenangkan hati Siena?
Cover by pinteres, edit by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan
Dion berdiri di ambang pintu kamar Farel, memperhatikan Siena menyuapi putranya dengan sangat sabar. Sudah beberapa hari Farel sama sekali tidak mau makan, kondisi tubuhnya semakin menurun membuat Dion cemas.
"Mungkinkah Farel merindukan ibunya? tapi tidak mungkin, sejak bayi Farel di rawat Siena," gumam Dion.
"Siena!"
"Ya!" sahut Siena menoleh ke arah Dion sekilas.
"Bukankah kau harus berangkat bekerja?" tanya Dion melirik jam tangannya sekilas.
"Iya, sebentar lagi," jawab Siena.
"Siena, aku ingin bicara sebentar denganmu." Pinta Dion.
"Sebentar," jawab Siena seraya menyeka bibir Farel menggunakan tisu basah, lalu meletakkan mangkok bubur di atas meja.
"Ibu, maukah kau temani aku malam nanti?" tanya Farel menatap wajah Siena.
"Tentu sayang, sekarang kau istirahat." Tangan Siena terulur mengusap lembut pipi Farel.lalu berdiri tegap.
"Ayo!" Dion menarik tangan Siena pelan, berjalan bersama meninggalkan kamar putranya.
"Ada apa?" tanya Siena, langkahnya terhenti di teras rumah.
"Si, aku tidak tahu bagaimana caranya menyampaikannya padamu." Dion menundukkan kepalanya sesaat. "Sepertinya Farel sangat membutuhkanmu."
"Maksudmu?" tanya Siena.
"Maukah kau menikah denganku?" pinta Dion.
"Menikah?" dahi Siena mengerut, menatap kedua bola mata Dion.
Dion mengangguk, "ya."
Siena tertawa kecil menanggapi permintaan Dion. Sama sekali tak terpikirkan olehnya untuk menikah dengan Dion.
"Kenapa kau tertawa? apakah ada yang lucu dengan permintaanku?" tanya Dion.
"Pernikahan bukan untuk main main, aku tidak bisa." Tolak Siena. "Mungkin Farel menginginkan dan merindukan sosok ibu, tapi bukan aku..yang Farel butuhkan ibu kandungnya."
"Tapi Siena, itu tidak mungkin. Clara sudah menikah, jangankan untuk kembali, bertemu dengannya itu mustahil." Bantah Dion.
"Kau belum mencoba bukan?!" seru Siena,menatap tajam Dion, ia tidak mengerti mengapa pria di hadapannya memilih menikahi wanita lain, bukannya berusaha terlebih dahulu menemui Clara dan mengatakan kebenarannya bahwa ada putranya yang lain tengah merindukannya.
"Siena." Dion meraih tangan Siena. "Aku mencintaimu Siena."
"Maaf, aku tidak bisa." Tangan Siena menepis tangan Dion, lalu balik badan. "Cari Clara, dan temui dia."
Setelah bicara seperti itu, Siena berlalu dari hadapan Dion.
Dion menghela napas panjang menatap kepergian Siena. "Harus dengan cara apa aku meyakinkanmu, Siena."
"Pah.."
Dion menoleh ke belakang, melihat Farel sudah berdiri di belakangnya.
"Sayang." Dion mengangkat tubuh Farel, menggendongnya lalu mencium sayang hidung Farel.
"Aku mau Ibu Siena," ucap Farel.
"Benarkah?" tanya Dion.
Farel menganggukkan kepalanya. "Iya!"
Dion tertawa kecil mendengar permintaan Farel. "Kau mau membantuku untuk mendapatkan ibumu?" tanya Dion.
Farel menganggukkan kepalanya lagi. "Tentu, Pa!"
"Baiklah sayang, aku akan berusaha mendapatkan cinta ibumu. Sekarang kau harus beristirahat."
Dion melangkahkan kakinya, menuju kamar pribadi. Setelah itu ia memutuskan untuk mencari Clara dan memberitahu tentang putranya, dan rencana kedua mendapatkan cinta Siena.
***
Di kantor.
Siena yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya. Tiba tiba dari arah belakang, Sagara menarik tangan Siena, lalu memasukkan cincin tunangan ke jari manis gadis itu.
"Apa apaan ini?" Siena menepis tangan Sagara kasar, lalu melepaskan cincin di jari manisnya kembali, namun Sagara mencegahnya.
"Jangan coba coba untuk melepas cincin itu kembali!" perintah Sagara menggenggam erat tangan Siena.
"Kau tidak bisa memaksakan kehendakmu sesuka hati," ucap Siena geram, matanya melebar menatap wajah Sagara.
Sagara tersenyum sinis menanggapi pernyataan Siena. "Apakah wanita sepertimu harus punya gengsi yang tinggi? akui saja kalau kau senang apabila aku menikahimu. Bukankah kau bisa hidup enak? semua serba ada?"
"Plakk!!"
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Sagara. Pria itu mendengus kesal, menatap marah ke arah Siena.
"Aku memang butuh uang, butuh kenyamanan dan fasilitas lainnya untuk memudahkanku dalam segala hal. Tapi tidak begini caranya selama aku masih bisa berusaha, kecuali aku benar benar dalam keadaan berbeda!" seru Siena.
"Kau menantangku, Siena?" tanya Sagara menatap tidak suka.
"Ini, ambillah!" Siena melepaskan cincin di jari manisnya, lalu di lemparkan ke dinding.
Mata Sagara mengikuti arah jatuhnya cincin itu masuk ke bawah meja. Lalu pandangannya ia alihkan ke Siena yang masih berdiri terpaku menatap marah kepadanya.
"Baik, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi ketahuilah Siena. Aku tidak akan berhenti mengganggu hidumu sampai kau mau menikah denganku." Ancam Sagara, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan Siena di dalam ruang kerjanya.
"Kau belum tahu siapa aku..berani sekali mengancamku." Gumam Siena pelan.
Jd saga,rangga dan arga ini bersaudara bgitu ??? Yg punya dendam ini para orgtua nya . Tp ank2 nya yg pda jd korban
Jd sedihhh krna rangganya meninggal ,
Rangga nya munculin lg aja thor biar hdp bhgia sma siena..
Aku udh ga srek sma saga krna ibunya skrg udh jahat..dan mlah skrg berpihak sma si melati..sma² jahat mreka