“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13 Makan Malam
Arumi mematut dirinya di cermin, ia menundukkan kepalanya dalam saat melihat dirinya yang berbalut dress sederhana peninggalan sang almarhum ibunya sebelum ia meninggal.
Dress sederhana selutut berwarna biru muda itu membuat gadis sederhana itu, terlihat sangat cantik ia mengusap dadanya sebuah buliran kristal mengucur dari sela pelupuk matanya.
" Ibu, aku merindukan mu " Gumam Arumi ia tersenyum lembut melihat dirinya dari pantulan cermin.
Wajahnya yang jelita ia poles dengan bedak bayi dan gincu berwarna merah muda, menambah kesan natural di wajah nya yang baby face. tangannya berkeringat ia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana senang atau sedih bertemu dengan mama sang tunangan.
Ia menaruh bobotnya di bibir ranjang, tangannya mengambil selembar foto yang berada di atas nakas. Ia tersenyum lembut melihat foto wanita tersebut
" Ibu, aku harap Abang Adrian adalah jodoh yang terbaik pilihan nenek " Kata Arumi jemarinya mengusap pelan foto usang tersebut. Foto sang almarhum ibu nya yang begitu cantik dengan kebaya foto itu diambil saat sang ibunda nya sedang di pernikahan sang paman, senyuman nya begitu indah sekali
Arumi menaruh foto tersebut di laci ia mengunci nya dengan cepat ia bersiap-siap karena tahu, sang kekasih akan menjemputnya sebelum pergi ia memakan permen agar tidak nervous.
" Udah siap? " Tanya Adrian kala Arumi membuka pintu masuk, sosok lelaki tampan berbalut kemeja abu-abu terlihat jelas Arumi membandingkan dirinya dengan sang calon suami yang putih bersih— berbadan tinggi.
Harum, sedangkan dirinya bagaikan pembantu Aroma parfume murahan — dengan wajah yang kusam karena tidak mampu membeli skincare alhasil hanya pakai sabun mandi. Rasa ketidaknyamanannya menyerangnya begitu pedih sekali
" Kenapa diam? " Tanya Adrian berusaha menerka apa yang ada di benak gadis itu. Arumi menggeleng kan kepalanya
" Aku hanya agak tidak nyaman saja, aku takut mama, papa abang tidak suka dengan ku " Kata Arumi merendah
" Jangan takut!, mama , papa orang yang baik jadi jangan seperti itu ya " Adrian berusaha menenangkan gadis tersebut ia mengusap pelan rambut Arumi
" Ya Bang "
***
Arumi memperhatikan sekeliling nya ia berdecak kagum kala. Mereka berhenti di sebuah rumah bercat putih tulang yang di lindungi pagar menjulang tinggi berwarna hitam, Mata Arumi terhipnotis pada bangunan mewah rumah tersebut yang dimana ia memimpikan nya saja tidak kuasa
Pintu mobil terbuka membuat Arumi menoleh ke sisi kanannya, Adrian yang membuka kan pintu mobil lalu ia menunggu dirinya untuk turun.
" Bang padahal aku bisa buka sendiri, jangan jadikan diriku manja " Protes Arumi tidak enak membuat Adrian terkekeh pelan
" Kamu itu calon istri abang sudah sepatutnya abang manjakan kamu, "
" Terimakasih abang sebelum nya tapi, aku tidak perlu di seperti ini kan " Sahut Arumi
Keduanya masuk ke dalam rumah langsung di sambut Asisten rumah tangga. Bi Usti yang menyapa mereka " Malam den, neng, siapa tuh den? " Bi Usti menatap Arumi dengan tatapan menggoda Arumi menundukkan kepalanya
" Calon istri " Sahut Adrian tersenyum ramah
" Alhamdulillah akhirnya, aden sudah mau nikah semoga lancar ya den, neng " Doa Bi Usti tulus
" Ya Bi Makasih " Sahut Adrian
" Nyonya sudah menunggu di ruang makan " Kata Bi Usti memberitahu
" Baik "
Detak jantung Arumi berdetak cepat, tatapannya mematut lantai — ia tidak mampu menguatkan dirinya. Kali ini dia akan bertemu dengan seorang yang sangat penting sekali kedua orangtua dari seorang lelaki yang berarti dalam hatinya,
" Ma, maaf menunggu " Kata Adrian kala sudah tiba di ruang makan
" Sayang, ini yang namanya Arumi? " Tanya Laila wanita paruh baya yang tersenyum ramah ke Arumi
" Malam tante, Maaf saya telat " Kata Arumi hati-hati
" Ngga apa-apa ayo sayang duduk di dekat tante " Ajak Laila sembari menggandeng tangan Arumi dengan lembut, seumur hidupnya ia tidak pernah merasakan kehangatan dari seorang ibu ia tersenyum matanya berkaca-kaca .
" Silakan menikmati sayang " Kata Laila ia memberikan beberapa lauk pauk dan nasi kepiring Arumi, membuat hati Arumi menghangat
" 𝘐𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢? " Batin Arumi menatap tidak percaya
" Oh ya, Tante turut berdukacita ya sayang tentang kematian nenek kamu " Kata Laila sembari menuangkan air minum ke gelas Arumi. " Ya Tante terimakasih "
" Sayang kalau ada apa-apa hubungi saja Adrian, dia adalah calon suami mu " Kata Laila matanya menyorot pada sang Putera
" Ya tante"
" Oh ya kapan kamu mau menikah dengan Adrian?, tante bakal sewakan WO untuk kalian yang terbaik " Tanya Laila begitu antusiasme sekali
Arumi menghentikan suapan nya tangannya bergetar hebat, Ia menundukkan kepalanya penuh ketidkanyamanan
" Apa tante tidak malu memiliki menantu seperti ku?, aku bahkan tidak lulus sekolah dasar Tante " Kata Arumi penuh ketidak percaya diri
Laila mengusap lembut bahu Arumi. " Itu hanya Status sosial saja menurut tante. Apa pun Status kamu tidak masalah yang penting hati kamu " Jelas Laila lembut
" Terimakasih tante, bagi aku itu sangat berharga ada yang menghargai ku juga di dunia yang besar ini. " Sahut Arumi matanya berkaca-kaca
" Sayang kamu itu wanita yang tangguh dan baik hati, sangat cocok untuk Adrian tante tidak mempedulikan apapun itu tentang masalah pendidikan mu. Yang penting kamu punya perangai yang baik " Tutur Laila senyuman kehangatan mengembang di bibirnya
" Terimakasih tante"
" Sama-sama sayang, sini peluk! " Laila memeluk erat Gadis itu gadis yang kehilangan semuanya di usia nya, yang begitu muda tidak ada satupun gadis yang sanggup kehilangan semuanya.