NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Kacau Balau

Jika ada satu hal yang paling tidak bisa disembunyikan dari seorang Carson, itu adalah isi kepalanya yang sedang semrawut.

Sejak menapakkan kaki di laboratorium pusat pukul delapan pagi tadi, pikiran Carson sama sekali tidak berada di ruang kerjanya. Matanya memang menatap barisan kode di monitor, tapi visual yang berputar di otaknya adalah wajah pucat Nezha yang sedang membungkuk di depan wastafel, mengeluarkan isi perutnya dengan lemas.

Morning sickness, kata Nezha. Tapi bagi Carson, istilah medis itu tetap saja terdengar seperti sebuah ancaman besar. Ditambah lagi, ia harus memutar otak tentang bagaimana caranya menyelinap ke area pembuangan limbah medis nanti malam untuk mengambil paket pangan militer yang ia selundupkan. Dua beban besar itu sukses membuat fokus Carson hancur lebur.

BRAKK!

"Aduh!" Carson mengaduh kecil saat tangannya tanpa sengaja menyenggol tumpukan dokumen di tepi meja hingga semuanya berserakan di lantai.

Rey, rekan kerja Carson yang duduk di meja sebelah, hanya melirik sekilas dari balik kacamata pelindungnya. Rey adalah tipe pegawai paling cuek seantero divisi logistik data kesehatan. Jadi dia hanya mendengus pelan lalu kembali fokus mengetik.

Carson menggerutu, membungkuk untuk memunguti kertas-kertas itu dengan terburu-buru. Kepalanya sempat terantuk pinggiran meja besi dengan bunyi yang cukup keras.

"Sialan," umpat Carson berbisik, sambil mengusap keningnya yang mendadak pening.

Carson mendengus, menyusun kembali kertas-kertas itu ke dalam map dengan gerakan kikuk, lalu menaruhnya kembali ke meja.

Isi kepalanya kembali berputar. Bagaimana kalau Nezha pingsan di kantornya? Bagaimana kalau dia terpaksa dibawa ke ruang kesehatan? Membayangkan alat pemindai fisik mendeteksi kandungan Nezha membuat bulu kuduk Carson berdiri. Rasa cemas yang membakar tenggorokan membuat Carson reflek meraih cangkir silinder di sudut kirinya, mendekatkannya ke bibir, lalu meneguknya dalam-dalam.

"UHUK! UHUK! SIALAN!"

Carson langsung menyemburkan kembali cairan hitam pekat itu ke lantai. Lidahnya terasa pahit luar biasa, seperti baru saja mengisap arang basah.

"Hei! Apa-apaan kamu?" Rey akhirnya bersuara, menatap Carson dengan pandangan sangat terganggu. Ia merebut cangkir hitam itu dari tangan Carson. Wajah pria cuek itu berubah masam menatap sisa air liur Carson di pinggiran cangkirnya. "Itu minumanku, Carson! Cangkirmu yang warna biru di sebelah sana! Kenapa kamu ambil cangkirku yang warna hitam?!"

Carson terbatuk-batuk kecil sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangan, wajahnya merona merah karena malu sekaligus menahan pahit. "Maaf, Rey... demi Tuhan, aku tidak fokus. Warnanya mirip."

"Mirip dari mana? Biru dan hitam itu beda jauh, bodoh!" Rey menggerutu, mengambil tisu dengan jengkel untuk membersihkan mejanya yang terkena cipratan. "Kamu ini aneh sekali hari ini. Biasanya kamu yang paling tenang di ruangan ini, bahkan saat sistem eror pun kamu tidak pernah sebingung ini. Kamu sedang mabuk atau bagaimana sih?"

"Tidak, hanya kurang tidur," jawab Carson seadanya.

Carson menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia memundurkan kursi berodanya sedikit, berniat untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang tegang. Ia menyandarkan punggungnya dengan penuh bobot ke sandaran kursi sambil mendongak menatap langit-langit.

Namun, Carson lupa kalau salah satu roda kursinya sudah agak longgar sejak minggu lalu.

Begitu ia memberikan beban berlebih ke belakang, kursi itu mendadak miring ke kanan. Keseimbangan Carson hilang seketika. Kedua kakinya terangkat ke udara, tangannya menggapai-gapai mencari pegangan, tapi terlambat.

GUBRAKKK!

"Aduh!"

Semua orang di ruangan itu yang untungnya hanya berisi empat orang termasuk mereka, langsung menoleh. Carson sudah telentang di lantai dengan posisi kaki yang masih menyangkut di sandaran kursi yang terguling. Sementara punggung dan kepalanya menghantam lantai lumayan keras.

"Astaga!" Rey sampai melompat dari kursinya karena saking kagetnya. Suara dentuman itu keras sekali.

Rey berjalan mendekat, berdiri di atas Carson yang masih telentang di lantai sambil menatap langit-langit dengan pandangan kosong, meratapi nasibnya yang sial bertubi-tubi hari ini.

Rey ternganga, menatap Carson yang masih terkapar lemas di lantai seperti kura-kura yang terbalik.

"Carson? Kamu masih hidup, kan?" tanya Rey, menyentuh lengan Carson dengan ujung sepatunya. "Perlu aku panggilkan psikiater? Hari ini tingkahmu makin lama makin ajaib."

Carson mengerang pelan, menyingkirkan kursi yang menimpa kakinya lalu duduk di lantai sambil memegangi pinggangnya yang terasa encok. "Kursi sialan... aku tidak gila ya, Rey."

Belum sempat Carson bangkit berdiri untuk merapikan penampilannya yang berantakan, pintu otomatis ruang kerja mereka mendadak terbuka.

Dr. Vega melangkah masuk. Jas laboratoriumnya melambai, dan tangannya memegang sebuah tablet. Langkah kakinya mendadak terhenti begitu melihat Carson yang baru saja berusaha duduk di lantai dengan rambut berantakan, sementara kursinya tergeletak mengenaskan di sebelahnya.

Dr. Vega menaikkan sebelah alisnya di balik kacamata tebalnya. "Carson? Kamu sedang apa? Kesurupan?"

Carson buru-buru menegakkan kursinya dan berdiri dengan canggung, membenarkan posisi bajunya yang berantakan. "D-Dokter Vega. Tidak, Dok. Ini... kursi saya agak tidak stabil tadi."

Dr. Vega menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak berniat membahas keganjilan itu lebih lama. Wajahnya mendadak berubah menjadi lebih serius, membuat atmosfer di dalam ruangan langsung terasa dingin.

"Carson, tinggalkan dulu main-mainmu," kata Dr. Vega dengan nada datar. "Direktur Utama Laboratorium Pusat menitip pesan padaku. Kamu dipanggil ke ruangannya di lantai paling atas. Sekarang."

Deg.

Jantung Carson rasanya seperti berhenti berdetak seketika. Darah di sekujur tubuhnya mendadak menjadi sedingin es. Keringat dingin langsung merembes keluar dari pelipis dan telapak tangannya.

'Direktur? Kenapa direktur?' teriak batin Carson dalam kepanikan yang luar biasa.

Otaknya langsung berputar liar ke arah skenario terburuk. Apakah manipulasi data gelang perak Nezha yang ia lakukan kemarin malam terdeteksi oleh sistem keamanan? Atau apakah pemotongan kuota pangan militer yang ia alihkan ke limbah medis sudah ketahuan sebelum ia sempat mengambilnya nanti malam?

Tapi sistem bilang proses selesai dan aman! Bagaimana kalau ini jebakan? Bagaimana kalau di atas sana sudah ada petugas penertiban yang siap memborgolku dan membawaku ke kamp kerja paksa?

"D-Direktur, Dok? Saya?" Carson berusaha keras menjaga agar suaranya tidak terdengar gemetar, meski lututnya sudah terasa lemas. "Ada urusan apa ya, Dok? Apa ada kesalahan pada manifes bulanan yang saya kerjakan?"

Dr. Vega mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Mana aku tahu. Beliau hanya bilang ingin menemuimu secepatnya. Sudahlah, jangan membuat beliau menunggu. Kamu tahu sendiri kan bagaimana temperamen orang-orang sektor atas kalau disuruh menunggu?"

Carson menelan ludah dengan susah payah. Ia melirik ke arah Rey yang menatapnya dengan tatapan kasihan, karena siapa pun yang dipanggil oleh Direktur Utama biasanya jarang membawa kabar baik.

"Baik, Dok. Saya ke sana sekarang," ucap Carson pasrah.

Dengan langkah yang terasa amat sangat berat dan pikiran yang dipenuhi rasa takut yang teramat besar, Carson berjalan keluar ruangan. Setiap jengkal langkahnya menuju lift lantai atas terasa seperti langkah menuju tiang gantungan. Carson mengepalkan tangannya kuat-kuat, bersiap untuk kemungkinan terburuk.

Pikirannya benar-benar kacau. Jika dia tertangkap hari ini, bagaimana nasib Nezha? Bagaimana nasib anak mereka?

Ia terus merapal doa di dalam hati, berharap penuh cemas agar rahasia besarnya bersama Nezha tidak terbongkar hari ini. Sebab jika iya, tamat sudah riwayat mereka berdua.

1
Rudy satria
bylla berbahaya nggk sih,ko bikin deg,deg,degan😅😅
Rudy satria
semoga bylla bukan mata² pemerintah 😅
Rudy satria
saya pikir langsung curi buahnya satu ² ternyata bijinya saja,sabar ya dedek bayi kira² 3 bulan sampai tomatnya matang😅😅
ririma: wkwk,,
total 1 replies
Rudy satria
apakah bylla salah satu tim yang nantinya kabur bersama Carlos dan Nessa
Rudy satria
lebih nggk kebayang,kalo beneran ada negara yang memiliki peraturan sekonyol itu🤣
ririma: lah iya juga ya🤣
total 1 replies
Rudy satria
Kay nggk asing,negara Konoha seperti itu jga nggk ya semoga si nggk ya😅😅
ririma: hmm, ngga ikutan ya kak🤭
total 1 replies
Rudy satria
ceritanya bagus, meskipun masih blm paham kenapa ada peraturan anomali seperti itu😄
ririma: engga usah dipahami kak, emang anomali itu peraturannya😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!