Dunia yang tidak hanya dihuni oleh manusia, kini juga terdapat "Astra" yang dapat membantu setiap orang mencapai kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOMINASI MUTLAK
Matahari pagi di Hari 2 memancarkan sinar yang cerah, membakar sisa-sisa embun yang menempel pada dinding stadion utama. Penonton yang memadati tribun tidak berkurang sedikit pun, justru semakin menyemut karena hari ini turnamen resmi beralih ke kategori Solo 1vs1. Sesuai dengan regulasi baku, format ini mewajibkan 1 Kontraktor beserta 1 Astra miliknya untuk bertarung bersama di tengah arena melawan pasangan Kontraktor dan Astra lawan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi di balik strategi kelompok; ini adalah ujian kekuatan individu yang murni.
Layar holografis raksasa berkedip cepat, mengacak bagan tanding untuk Blok A. Arkan, yang namanya berada di urutan awal, langsung mendapati namanya keluar di Match 3.
[ Match 3 - Blok A: Arkan & Volt (Kelas 1-A) VS Danu & Scorpio (Kelas 1-S) ]
Begitu nama itu muncul, riuh rendah suara penonton langsung terdengar. Danu adalah tangan kanan Kevin sekaligus salah satu petarung jarak dekat terbaik dari faksi militer Kelas 1-S. Faksi mereka terkenal karena memiliki basis data taktis yang sangat lengkap untuk mengkonter berbagai elemen dasar.
Arkan melangkah masuk ke arena pasir yang luas, ditemani oleh Volt yang berjalan dengan anggun di sampingnya. Di seberang mereka, Danu berdiri dengan senyuman penuh kemenangan. Di depan Danu, seekor Astra berbentuk kalajengking raksasa berkulit legam setinggi 2 meter bernama Scorpio melambaikan sepasang capit bajanya yang mengerikan. Angka digital melayang di atas kepalanya: [ LEVEL 12 ].
"Aku sudah menganalisis rekaman videomu kemarin, Arkan!" seru Danu dengan nada meremehkan. Dia langsung menghentakkan kaki, memicu 30% elemen racun manusianya hingga membuat udara di sekeliling tubuhnya mendadak beraroma belerang yang menusuk hidung. "Kamu menang kemarin hanya karena memanfaatkan elemen hampa udara milik Sky untuk serangan instan! Tanpa bantuan anginnya, petir birumu tidak akan bisa menembus kulit luar Scorpio yang memiliki isolasi tanah alami, dan racun saku jiwaku akan melumpuhkan saraf manusiamu dalam waktu 10 detik!"
Arkan tidak membalas provokasi itu. Dia hanya menarik napas dalam-dalam, mengaktifkan fungsi pasif Akselerasi Pengondisian Fisik dari kubus logam kunonya.
BZZZZZT!
Arus listrik biru pekat melonjak instan menembus 60% resonansi elemen petir. Namun, bukannya menembakkan petir tersebut ke depan seperti kemarin, Arkan justru menahan seluruh aliran listrik murni itu di dalam jaringan otot dan saraf internal tubuh manusianya sendiri. Aliran listrik pekat itu memicu stimulasi bio-elektrik ekstrem, memaksa sel-sel tubuh Arkan bekerja 10 kali lebih cepat dari manusia normal. Tubuh manusianya kini tidak ubahnya seperti sebuah mesin generator bertenaga penuh yang siap meledak.
PRIIIT! Peluit digital pertandingan berbunyi.
"Scorpio, semprotkan kabut racun korosif! Acid Mist!" perintah Danu cepat. Kalajengking raksasa itu menyemburkan cairan ungu pekat yang langsung menguap, memenuhi arena dengan kabut beracun berskala besar.
Namun, sebelum kabut itu sempat mendekati posisi Arkan, sebuah dentuman udara keras terdengar dari tempat Arkan berdiri.
BOOM!
Dengan 60% resonansi petir yang merangsang otot kakinya, Arkan melesat maju dengan kecepatan yang benar-benar tidak masuk akal. Gerakannya begitu cepat hingga menciptakan distorsi bayangan di udara, menembus kabut racun tanpa terkena efek korosi sedikit pun karena tubuh manusianya bergerak jauh lebih cepat daripada laju penyebaran partikel gas racun tersebut.
Danu bahkan belum sempat mengedipkan matanya saat sesosok bayangan manusia tiba-tiba bermanifestasi tepat di titik buta kirinya.
"Apa—?!" Danu terbelalak horor.
"Terlalu lambat," bisik Arkan dingin.
Tanpa menggunakan jurus petir jarak jauh, Arkan mengayunkan sebuah pukulan fisik murni yang dilapisi energi kinetik kecepatan tinggi tepat ke arah ulu hati Danu. Di saat yang sama, Volt yang bergerak dalam sinkronisasi sempurna melompat dari arah kanan, menghantamkan cakar fisik raksasanya langsung ke arah sambungan karapas Scorpio.
PANG! CRASH!
Pukulan fisik Arkan yang luar biasa keras membuat lapisan 30% elemen racun milik Danu hancur berantakan. Tubuh Danu menekuk ke depan, seluruh pasokan udara di paru-parunya keluar seketika, dan dia terlempar gila-gilaan sejauh 15 meter sebelum akhirnya jatuh bergulingan di atas pasir dan langsung pingsan di tempat. Di waktu yang bersamaan, Scorpio milik Danu juga melengking kesakitan saat cakar fisik Volt meretakkan cangkang bajanya, membuat Astra Level 12 itu langsung terpaksa kembali ke dalam saku jiwa pemiliknya dalam bentuk serpihan cahaya spiritual karena kehabisan energi kontrak.
[ Pemenang Match 3 - Blok A: Arkan. Durasi: 3,5 Detik. ]
Kevin yang menonton dari tribun khusus peserta mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih, matanya melotot tidak percaya melihat tangan kanannya dihancurkan seperti serangga dalam hitungan detik tanpa Arkan perlu mengeluarkan satu pun jurus elemen petir jarak jauh. Taktik "konter petir" yang mereka siapkan semalaman hancur total di hadapan anomali kekuatan fisik fisik Arkan.
Setelah jeda istirahat siang, turnamen bergerak cepat masuk ke paruh kedua untuk Blok B kategori Solo 1vs1. Kali ini, seluruh atensi penonton beralih sepenuhnya kepada Sky yang berjalan memasuki arena tanding dengan langkah yang anggun namun sarat akan wibawa seorang pewaris utama Keluarga Skyborn.
Lawan Sky di Match 1 Blok B ini bukan sembarang orang. Dia adalah Rian, seorang murid senior Kelas 2-S yang terkenal dengan gaya bertarungnya yang licik dan manipulatif. Rian tersenyum sinis, memanggil Astra utamanya yang berwujud gumpalan cairan lumpur hitam pekat setinggi 3 meter bernama Sludge Monster [ LEVEL 13 ].
"Kudengar kamu selalu mengandalkan kecepatan instan dari petir teman jalananmu itu untuk menang, Sky," Rian memprovokasi, menyelimuti tubuh manusianya dengan 30% elemen air yang membuatnya tampak berkilau. "Di kategori Solo ini, fisik Astra lumpurku kebal terhadap segala bentuk serangan fisik jarak dekat. Angin tipismu tidak akan bisa memotong cairan lumpur ini!"
Sky hanya mengembuskan napas pendek, lalu perlahan membuka kipas peraknya dengan gerakan kelingking yang sangat elegan. Sepasang mata jernihnya menatap Rian dengan pandangan dingin yang mutlak. "Senior, kamu terlalu banyak bicara untuk seseorang yang bahkan belum bisa menyempurnakan sirkulasi energinya sendiri."
Begitu peluit pertandingan dimulai berbunyi, Rian langsung bergerak mundur di balik tubuh besar Sludge Monster miliknya. "Sludge, telan seluruh arena! Mud Swamp!" lumpur hitam pekat mulai meluap dari tubuh Astra tersebut, merembes ke permukaan tanah pasir untuk mengunci pergerakan kaki Sky.
Sky tidak bergerak mundur ataupun panik. Dia mengangkat tangan kirinya ke udara, memicu 30% elemen angin manusianya secara maksimal. Lingkaran sihir hijau besar berputar di bawah kakinya, melepaskan tekanan spiritual yang begitu murni hingga membuat tanah pasir yang mulai berlumpur di sekelilingnya terhempas bersih.
"Zephyr, ajari senior kita bagaimana cara menghargai elemen langit," perintah Sky pelan.
SKREEECH!
Zephyr [ LEVEL 10 ] melesat tinggi ke angkasa stadion, mengepakkan sayap kristal hijaunya hingga menghasilkan suara desingan tajam seperti bilah pedang. Di bawah kendali penuh dari kesadaran spiritual Sky, Zephyr menciptakan pusaran angin vakum raksasa yang berputar dengan kecepatan gila di tengah arena. Jurus aktif baru Sky langsung dilepaskan: Aero Blade Rain.
WUUUUUUSH—SRIIING! SRIIING! SRIIING!
Ratusan, bahkan ribuan bilah angin transparan yang setajam silet raksasa menghujani arena tanding dari arah langit seperti badai anak panah yang tiada habisnya. Kehebatan manipulasi Sky terlihat di sini: bilah-bilah angin tersebut tidak menyerang lumpur secara sembarangan, melainkan memotong sirkulasi udara dan tekanan internal di dalam molekul air Sludge Monster secara presisi. Lumpur hitam milik Astra Rian dipotong menjadi jutaan serpihan kecil berukuran mikro hingga kehilangan struktur padatnya dan mencair menjadi air biasa yang tidak berbahaya.
"T-Tidak mungkin! Bagaimana bisa elemen angin memotong wujud cair?!" Rian berteriak panik, tubuh manusianya yang dilapisi 30% elemen air mulai terkena goresan-goresan kecil dari sisa tekanan angin vakum Sky yang menembus pertahanannya.
Sky melangkah maju selangkah, menutup kipas peraknya dengan suara klik yang tajam. Bersamaan dengan gerakan penutupan kipas tersebut, pusaran angin di sekeliling Rian mendadak memadat secara instan, mencekik seluruh pasokan oksigen di sekitar tubuh manusia Rian hingga wajah senior itu berubah menjadi biru karena kehabisan napas. Sebelum tubuhnya benar-benar ambruk, Rian mengangkat tangan kanannya dengan gemetar ke udara.
"A-Aku... aku menyerah...!" Rian terbatuk-batuk, jatuh berlutut di atas tanah arena dengan tubuh yang lemas total.
[ Pemenang Match 1 - Blok B: Sky. Durasi: 24 Detik. ]
Gemuruh tepuk tangan yang sangat meriah langsung pecah dari seluruh tribun penonton. Di tribun VIP, Ignis dari Keluarga Flamewing hanya bisa terdiam dengan wajah masam melihat sepupunya mendominasi arena dengan tingkat efisiensi elemen angin yang begitu mutlak tanpa pakaian manusianya terkena noda setitik pun.
Arkan yang menonton dari tribun peserta menyunggingkan sebuah senyuman puas. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Sky yang sedang berjalan kembali ke arah lorong pemain sambil melambaikan tangan ke arah penonton dengan santai. Hari ke-2 babak penyisihan kategori Solo 1vs1 baru saja dimulai, namun Duo Badai ini telah sukses mengirimkan pesan yang sangat keras kepada seluruh peserta: mau itu pertarungan tim ataupun individu, posisi puncak turnamen ini sudah memiliki nama pemiliknya sejak awal.
pukul 12.00 Wib dan 15.00 Wib. Saran dan dukunganmu sangat membantu karya ini menjadi lebih baik!