Harap bijak memilih bacaan.
Perhatikan bacaanmu❗️
Opsesi dan cinta. Dua kata yang tampak sederhana tetapi mengandung pengertian yang begitu dalam.
Sakia Shen, atau kerap kali dipanggil Kia. Hari itu suasana sangat cerah. Wanita cantik itu dengan gembira mendatangi rumah sang pacar untuk bertemu calon mertua. Namun, ekspetasi tak seindah realita.
Kia yang jengkel datang ke Bar untuk menghilangkan penat. Tanpa disangka, ia mengalami hal yang tak terduga.
Ikuti terus kisahnya
Jangan lupa untuk tingalkan jejak berupa Like
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KAY_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
...🐾🐾🐾🐾🐾🐾...
Kenneth menekan bel yang berada bersebelahan dengan tombol lampu. Ia meminta perawat untuk datang dan melepas infusan ditangannya secepat mungkin. Setelah itu, ia menghubungi direktur rumah sakit, dan memberitau jika ia ingin keluar sekarang.
“Baik-baik. Saya akan mengurusnya!” jawab direktur rumah sakit dengan nada gusar.
Tak butuh waktu lama. Seorang suster datang dengan membawa beberapa peralatan. “Apa ada masalah, Tuan?” tanya suster itu.
“Aku ingin pulang sekarang!” jawab Kenneth ketus.
Suster menelan salivanya kasar. Ia tau jelas siapa lelaki yang ada di depannya itu. “Ta-tapi itu ...” ucapnya terpotong oleh tatapan Kenneth yang tajam.
“Ada apa?” Kenneth berkacak pinggang.
Tiba-tiba seorang lelaki dengan gestur tubuh sedikit besar, datang menerobos masuk. Kenneth melihat lelaki itu tengah tersengal-sengal.
“Kenapa napasmu seperti itu?” tanya Kenneth dengan nada sombong.
“Ti-tidak, tidak apa-apa, Tuan Kent.” Direktur mencoba menyetabilkan napsnya. “Kenapa diam saja!” Direktur mendorong pelan pundak suster. “Cepat lepas selang infusnya!” lanjutnya kasar.
“Hei! Hei! Kok kasar sama cewek! Mau mati?” Kenneth menunjuk direktur yang tengah berdiri dengan gugup. “Cepat minta maaf!” Seru Kenneth membuat direktur itu membungkukkan tubuhnya dan meminta maaf dengan sopan.
Suster seketika terpesona dengan gaya Kenneth yang membelanya. Ia melirik sekilas, memandang wajah Kenneth yang cukup tampan.
“Aku gak ada waktu, cepat lepas ini!” Kenneth menggoyangkan tangan kirinya.
Suster langsung bergerak. Melepas infus dengan hati-hati. “Gak perlu plester!” Kenneth menarik tangannya.
“Tapi itu ....”
Kenneth menatap suster, ia mengambil kapas yang sudah di basahi alkohol dan menekan bekas infus. “Ini gak masalah!” ucapnya. “Pasien bernama Kia, bagaimana?” tanya Kennet bangkit berdiri dari sofa.
“Baru selesai rotogen. Sebentar lagi akan dibawa kemari,” jelas direktur.
Kenneth tersenyum, “Aku belum beruntung kali ini. Tapi tunggu waktu selanjutnya, Sayang!” batin Kenneth. “Kalian bisa keluar!” Kenneth membalikkan tubuhnya, satu persatu melepaskan kancing bajunya.
Baru selesai melepas baju, Zico masuk dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. “Tuan ....” sapa Ziko.
“Waktu yang tepat. Kamu tunggu sebentar!” Kenneth mengambil paper bag yang berisi baju dan segera mandi. Menyegarkan tubuhnya yang lengket bekas air laut yang belum sempat di bilasnya.
“Ziko, tagian Kia jangan lupa selesaikan juga, oke!” teriak Kenneth dari dalam kamar mandi.
“Baik, Tuan!”
Ziko dengan patuh menuruti permintaan bosnya. Ia membuka tablet yang di bawanya. Lalu mentransfer pembayaran langsung ke rekening rumah sakit. Ia menghubungi direktur untuk mengurus segalanya tentang keperluan Kia juga administrasi yang baru saja dia selesaikan.
Kenneth keluar dengan rambut yang setengah basah. “Anda tidak mengeringkan rambut?” tanya Ziko. Kenneth hanya menggeleng kepala, kemudian mengambil ponsel. Ia mengetik beberapa kata di pesan, kemudian mengirimkannya pada Kia.
Ziko mengambil meraih tangan Kenneth, mengeretnya kemudian membuatnya duduk di kursi. “Apa yang kau lakukan!” Seru Kenneth jengkel.
Ziko tak menjawab, ia mengambil hairdryer kemudian mengeringkan rambut bosnya. “Ziko! Kau lancang sekarang!” pekik Kenneth.
“Kalau gak kering, Anda akan masuk angin. Saya melakukan ini demi kesehatan Anda.” Ziko menyalakan hairdryer dan segera mengeringkan rambut Kenneth.
Kenneth menghela napas kasar. Ada rasa jengkel dalam hatinya yang berusaha ditahannya dengan baik.
“Satu asistennya begitu berani. Sekarang sekretarisnya sudah berani lancang! Sepertinya aku harus baik-baik mendidik mereka berdua!” batin Kenneth mengepal erat tangannya.
Othor ngepet lagi deh ya 🙈🙈
Pantengin terus, sapa tau nanti up lagi 😘
Jangan lupa sajennya, kembang 7rupa atau kopi itemnya 😁😁
Kebijaksanaan orang yg sdh berumur jgn di banding Kan ma anak muda berangasan model kenneth
Berikan Jenny ke pemilik sahnya.. Toh Ayahnya Jenny jg korban
Sesuatu klo di mulai dari ke tidak jujur an jalan ya biasanya g bener
Klo ken ingusan Kia bocil donk
Racun saja nenek lampir kyk gitu