Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Aku Masih Normal
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di luar, bulan sabit menggantung tenang, di sekitarnya bintang berkelip-kelip.
Angin malam terus memainkan rambut Veyra yang setengah duduk di sofa panjang balkon kamar. Matanya terus menatap langit. Napasnya stabil, seolah sedang menikmati ketenangan sesuangguhnya.
Dari dalam kamar, suara langkah kaki mendekat. Alvero muncul dengan piyama tidur yang sebelumnya Veyra siapkan. Ia duduk di sofa kecil sebelah istrinya.
Beberapa detik mereka hanya diam. Sampai akhirnya Alvero menghela napas panjang.
Veyra sedikit menoleh. "Kenapa, Mas?"
Alvero meraih tangan Veyra, lalu menggenggamnya erat. "Sayang, apa aku terlalu keras ya sama Regan?"
"Nggak kok, kamu kayak gitu karena punya alasan. Begitu juga Regan, dia hanya sedang berkembang."
"Tapi kenapa rasanya aneh. Dia berubahnya cepet. Aku ngerasa asing kalau dia terlalu formal." Ucapan Alvero berhenti beberapa detik. "Zio juga jadi kebawa jaga jarak. Biasanya Regan gak pulang gitu aja. Dia nemein Zio sampai bener-bener puas main. Tapi tadi nggak... aku lihat jelas gimana Zio kecewa."
"Kenapa gak formal pas di kantor aja. Tapi di luar kantor, kalian bersikap biasa aja." Veyra mengelus rambut Alvero. Ia memberikan sedikit saran.
"Nggak bisa."
"Kenapa?"
Alvero tak langsung menjawab, ia hanya menatap langit-langit balkon. Sebelum akhirnya ia menghela napas.
"Karena itu Regan," jawabnya lirih. "Kalau dia mau deket ya deket. Kalau dia marah ya marah. Dia gak bisa setengah-setengah." Lanjut Alvero, nada suaranya turun satu oktaf.
Hening kembali jatuh diantara mereke. Hanya suara daun yang tertiup angin.
"Sayang, aku cuma bingung." Alvero memainkan jari-jari Veyra.
Sementara Veyra menegakkan duduknya, lalu ia bersandar ke pundak Alvero. "Bingung gimana?"
"Aku masih merasa keputusan ini benar. Tapi..." Kata-katanya belum Alvero lanjutkan.
"Tapi apa?" Tanya Veyra.
"Tapi kenapa rasanya malah kayak gini."
Veyra memeluk lengan suaminya. "Mas, jangan terlalu di pikirkan. Kamu gak salah, hanya saja kamu kehilangan sesuatu yang biasanya hadir setiap hari."
Alvero terkekeh kecil.
Veyra melepaskan sandarannya, lalu menatap wajah Alvero dalam. Sorot lelahnya sekarang jelas terlihat. "Kamu... capek ya, Mas?"
Alvero mengangguk. "Dikit," jawabnya.
"Nggak papa, kok. Capek itu hal yang wajar. Kecuali nyerah tanpa alasan."
"Sejak aku sama Regan jaga jarak, suasana rumah sedikit berubah, ya?" Tanya Alvero.
"Iya, karena gak ada yang seheboh dia kalau main sama, Zio."
"Kamu ngerasa aneh juga?"
Veyra hanya mengangguk. Sebelah tangan mengelus perut buncitnya.
"Kamu bela dia?"
"Nggak. Tapi kenyataannya emang gitu, kan?" Veyra bertanya balik. Membuat Alvero terpaku sejenak.
Ia tak lagi bersuara. Hanya saja kenyataan yang Veyra katakan itu benar. Apalagi Renzio, soal bermain tadi cukup membuat Alvero kecewa. Tapi entah untuk apa.
Padahal, Renzio tidak membentak atau menangis. Renzio hanya mengambil pistol mainan dari tangan Alvero dengan wajah ngambek ala anak kecil. Tapi cukup membuat perasaan Alvero berat.
"Sayang," suara Alvero lirih. "Kalau suatu saat aku jatuh gimana?" Tanyanya tiba-tiba.
Veyra tersenyum lembut, ia menoleh sebentar. Lalu kembali menatap langit. "Aku bantu kamu buat bangun."
"Kalau aku sakit?"
"Aku bantu rawat."
"Kalau aku salah?"
Veyra terkekeh kecil. "Aku ingetin, Mas."
"Kamu bisa aja jawabnya, sayang." Alvero menatap wajah Veyra lekat.
"Karena aku istri kamu, Mas." Jawab Veyra sambil tersenyum lebar.
Pandangan Alvero tidak beralih sedikitpun dari wajah istrinya. Tangannya menyalipkan rambut rambut Veyra ke belakang telinganya.
"Sayang, tetap jadi istri aku ya. Selamanya."
Veyra hanya mengangguk kecil.
"Untung ada kamu." Alvero mencolek hidung Veyra.
"Ya memang aku harus ada."
"Makanya aku takut."
Veyra mengernyit. "Takut apa?"
"Takut kamu terpikat laki-laki lain."
Veyra sontak tertawa kecil, tangannya refleks memukul lengan suaminya. "Apa-apaan sih, Mas. Harusnya aku yang bilang gitu ke kamu."
"Lah kenapa, emang aku gak boleh takut juga?"
"Bukan gitu. Kamu itu kerja, dan di kantor banyak cewek-cewek cantik. Apalagi status kamu sebagai Direktur, yakali banyak yang gak minat." Jelas Veyra.
"Ya gak tahu, aku kan ke kantor kerja. Bukan buat perhatiin cewek-ceweknya. Walaupun banyak yang minat sama aku, tapi aku nggak. Aku cuma minat sama kamu, sayang."
Veyra tak menjawab lagi. Keduanya kini saling menatap, sebelum akhirnya sama-sama tertawa.
Kepala Veyra bersandar ke dada Alvero. Hanya ada sisa tawa dan suara jangkrik.
Setelah cukup lama mereka diam. Alvero kembali menghela napas sebelum ia buka suara.
"Soal Regan..."
"Jangan bahas Regan dulu," Veyra memotongnya cepat. Perlahan ia berdiri sambil memegangi pinggangnya.
"Lama-lama kalian kayak sepasang kekasih yang lagi berantem," lanjut Veyra sambil menahan senyum. Ia berjalan masuk.
Mendengar jawaban istrinya yang diluar dugaan, Alvero langsung ternganga. Ia cepat-cepat menyusul.
"Sayang pikiranmu kejauhan. Aku masih normal." Pekik Alvero.
"Yakin?" Tanya Veyra. Ia nunjuk wajah Alvero dengan ekspresi jahil.
"Aku bisa buktiin langsung sekarang." Alvero membuka celananya sendiri.
Veyra melotot. "NOO!" Teriaknya. Tawa yang tadi di tahan, kini pecah juga. "Aku hanya bercanda sayang. Pakai lagi celanamu!"
"Aku kangen baby di perutmu." Alvero masih berdiri di sisi ranjang.
Veyra mendecak kecil. "Alasan klasik."
Alvero kembali menaikkan celananya. Lalu, naik ke atas ranjang. "Aku cuma menakuti kamu. Lagian, baru dua hari lalu aku jenguk baby. Kasihan dia kalau aku sering jenguk."
Veyra membuang napas lega. "Baguslah kalau kamu ngerti, Mas."
"Udah. Ayok tidur, jangan terlalu larut malam." Alvero mengecup lembut kening Veyra. "Good night sayang. Love you more."
Alvero berbaring, tangannya memeluk pinggang Veyra, dan sesekali ia mengelus perut Veyra yang mulai semakin membesar.
...****************...
Sementara di sisi lain... Regan baru saja masuk ke penthousenya. Tapi langkahnya berhenti mendadak. Regan melihat Penthousenya sudah rapi. Lalu dua orang paruh baya tengah duduk santai di sofa.
"Kenapa ada suami istri yang nyasar ke tempat tinggalku?" Katanya.
Raymond menoleh, tangannya meraih bantal sofa. Lalu dilemparkan ke arah Regan.
"Anak nakal," gumamnya.
Bantal itu mendarat mengenai kepala Regan.
"Dady melakukan kekerasan. Aku lapor ke Komnas anak." Regan mengambil bantal yang jatuh.
"Usia dua puluh tujuh tahun? Anak apa?"
Regan nyengir lebar. Ia mendekati kedua orangtuanya. Lalu nyalip duduk di tengah. Kepalanya langsung bersandar ke pundak Sofia sambil memeluk lengannya.
"Mamy, aku lapar. Mamy pasti bawain aku Nasi Ayam Hainan buatan auntie Mei, kan?"
"Soal itu auntie Mei tidak akan lupa. Dia selalu ingetin Mamy. Sekarang makanannya ada di dapur. Kamu makan dulu sana."
Regan tidak bergerak, ia diam sebentar.
"A-aduhh, arghhh..." Ringisnya sambil memijat kakinya.
Raymond menoleh sambil terkekeh. "Kenapa kaki kamu, rematik. Atau asam urat?"
"Enak aja. Itu penyakit Dady. Bukan penyakit anak muda seperti aku."
"Lalu, ada apa dengan kakimu?" Tanya Sofia.
Regan kembali pura-pura meringis kesakitan. "Di parkiran aku jatuh, My."
Sofia tak langsung menjawab lagi. Tapi... "Aduhh... kaki Mamy juga sakit habis duduk lama di pesawat."
"My, dari Singapura ke Indonesia hanya satu jam. Itu gak lama, daripada Mamy duduk di salon."
Sofia menatapnya tajam, ia membuang napas. Kemudian bangun dari duduknya, menuju dapur untuk mengambil makanan.
Raymond hanya mendesis, ia kembali fokus pada tablet di tangannya. Drama Ibu dan anak seperti ini, sudah lama tidak ia saksikan.
Tak lama, Sofia kembali. Di tangannya membawa Nasi Ayam Hainan dan Kepiting Cabai. Sofia menyimpannya pelan di atas meja. Ia kembali duduk di sebelah anaknya.
Regan tersenyum lebar. "Terima kasih, Mamy."
Saat tangannya terulur meraih sendok, Regan terdiam beberapa detik. Tangannya beralih memijat pundaknya sambil menggerakkan satu tangan.
Ia berdehem kecil. "Aduhhh... ternyata mengetik hampir seharian penuh membuat tangan terasa kaku."
Raymond dan Sofa langsung menatapnya. Kemudian, mereka berdua saling melempar pandangan. Raymond menaikkan alis. Sementara Sofia hanya menggeleng.
"Aduhh... sepertinya aku kesulitan mengangkat sendok." Kata Regan lagi.
"Regan, kamu hanya perlu mengangkat sendok hingga ke mulut. Bukan mengangkat besi baja ratusan kilo." Jawab Raymond yang paham drama anak semata wayangnya itu.
"Aduhh... tangan Mamy juga terasa kaku karena seharian ini banyak bergerak." Sofia menirukan gaya putranya.
Regan memutar otak, mencari alasan lain lagi. Ia berdehem.
"My, aku anak tunggal kalian, kan?" Tanyanya tiba-tiba.
"Iya," jawab Sofia cepat.
"Aku pewaris Dady juga, kan?"
"Iya."
"Bagaimana kalau aku kurus karena tidak bisa makan malam ini."
"Apa kamu tidak malu kalau nanti penampilanmu kurus? Apa kata orang?"
"Aku tinggal jawab, tidak ada suntikan dana dari orangtuaku."
Sofia memijat pangkal hidungnya, ia akhirnya mengambil piring berisi Nasi Ayam Hainan. "Kamu terlalu banyak alasan. Bilang saja kamu mau Mamy suapi."
Raut wajah yang pura-pura kesakitannya, berubah seketika menjadi cengiran lebar tanpa dosa. "Kalau Mamy ngerti kenapa gak langsung suapin aku?"
"Karena Mamy pikir kamu udah dewasa." Jawab Sofia sambil menuntun makanan ke mulut putranya.
"My, aku udah..."
Sofia cepat-cepat memasukkan makanan ke mulut Regan. Membuat ucapan Regan terhenti.
Regan tertawa kecil, lalu mengunyah makanannya.
Tiba-tiba ia mengunyah pelan, pandangannya beralih ke Sofia dan Raymond. Entah sejak kapan, dia mulai jarang pulang seperti ini. Duduk diantara kedua orangtuanya. Mendengar omelan yang sama. Mendengar ejekan yang sama.
Hal-hal yang dulu terasa terbiasa, kini justru membuat dadanya hangat.
Suasana hangatnya, kontras dengan masalah yang sedang ia hadapi bersama Alvero.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan