Jiang Qiuye, putri tabib Jiang begitu sedih setelah tahu bahwa dirinya bukanlah putri kandung dari orang yang telah membesarkannya selama lima belas tahun.
Apalagi saat ia tahu bahwa ayah kandungnya tidak menginginkannya bahkan tega membuangnya begitu saja.
Untuk itu Qiuye berusaha agar bisa masuk ke dalam istana dan berharap mendapatkan informasi mengenai dirinya dan keluarga aslinya itu.
Akan tetapi perjuangannya tidak lah mudah, Qiuye harus menghadapi berbagai macam rintangan. Bahkan ayah kandungnya yang telah mengetahui bahwa dirinya masih hidup pun, menjadikannya sebagai buronan istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Guan Yu datang
Acara pesta perayaan ulang tahun Putri Xu akan segera di mulai, tamu-tamu undangan sudah mulai berdatangan dan berkumpul di lokasi pesta. Dan selama menunggu acara tersebut dimulai, mereka saling bercengkrama satu sama lain.
Tidak lupa memamerkan hadiah perwakilan dari kediaman mereka masing-masing.
"Aku membawa gelang giok dan ginseng berusia 1000 tahun," ucap putra adipati selatan.
"Hadiahmu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hadiah dari kediamanan kami," ucap putri adipati timur tidak mau kalah saing dan memamerkan lukisan kuno bernilai seni tinggi.
"Cih, hanya barang rongsokan. Lihatlah hadiah dari kediaman adipati barat," ucap putra adipati barat memamerkan giok es berbentuk kilin yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit panas serta memperlancar peredaran darah.
Begitulah kira-kira putra-putri pejabat dan bangsawan saling beradu kekuasaan.
Sedangkan mataku tertuju pada hadiah yang dibawa oleh nona muda Huang. "Nona muda, apa yang anda bawa?" tanyaku ingin tahu.
"Hanya hadiah biasa, tidak terlalu mewah seperti mereka."
"Ah masa? Anda adalah putri perdana menteri, masa hadiah anda tidak semewah seperti mereka."
"Untuk apa hadiah mewah, yang penting niat memberinya harus ikhlas."
"Ya, anda benar juga."
"Ya, yuk mari kita duduk. Sepertinya acara ini sebentar lagi akan dimulai," ajak Nona muda Huang.
"Ya, Nona."
Aku merasa senang sekali, karena tempat duduk untuk keluarga perdana menteri begitu dekat dengan tempat duduk utama keluarga istana. Jadi aku bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa anggota keluarga istana nantinya
Aku berdiri di belakang nona muda Huang bersama Bibi Lan, senantiasa setia menjaga dan melayaninya jika membutuhkan sesuatu.
...***...
Setelah menunggu cukup lama, perayaan pesta ulang tahun putri Xu yang ke lima belas akhirnya di mulai. Diawali dengan tarian pembuka acara yang dibawakan oleh dayang penari sebagai bentuk pengormatan sekaligus penyambut para tamu.
Lalu setelah itu, Permaisuri Liu dan Putra Mahkota memasuki aula.
Semua orang yang ada di aula terbuka itu pun memberi hormat kepada Permaisuri Liu dan Putra Mahkota. "Salam hormat kepada Yang Mulia Permaisuri dan Putra Mahkota, semoga Yang Mulia panjang umur!" seru semuanya.
Kedua mataku berbinar-binar melihat anggota keluarga kerajaan dan merasa kagum kepada aura kebangsawanannya itu.
Itukah wajah Permaisuri Liu dan seperti itu kah rupa Putra Mahkota? Walau aku hanya melihat sekilas karena wajahku harus menunduk demi menjaga tata krama dan juga kehormatan keluarga Huang, namun aku merasa mereka sangat hangat dan penuh welas asih.
Dan tak lama kemudian Putri Xu memasuki aula, disusul salam hormat semua orang.
Penampilannya sungguh memukau semua mata memandang. Termasuk mataku ini. Pakaian dan aksesoris yang dikenakan, riasan pada wajahnya semua tidak luput dari pandanganku.
Namun setelah memindah penampilannya cukup lama, aku merasa ada sesuatu yang aneh.
Kenapa wajah Putri Xu tidak terlihat mirip dengan ibu atau kakaknya itu?
"Jadi itu Putri Xu?" tanyaku pada Nona muda.
"Ya, dia Putri Xu. Ada apa?" tanya Nona muda kembali.
"Ah tidak ada," ucapku tidak berani melanjutkan.
"Terima kasih kepada kalian semua karena telah hadir di perayaan ulang tahunku. Semoga dewa dan dewi memberkati kalian semua yang hadir disini," ucap Putri Xu mengucapkan terima kasih pada para tamu undangan sambil mengangkat secawan arak putih kerajaan.
"Terima kasih Tuan Putri Xu, selamat ulang tahun dan semoga berkah melimpah!" seru semua orang membalas termasuk aku.
"Sebagai bentuk terima kasih dan penghormatan, mari kita bersulang," ucap Putri Xu kemudian menghabiskan arak dalam cawan dalam satu tegukan.
Disusul oleh semua orang kecuali aku, kemudian aku menahan nona muda Huang agar tidak meminumnya. "Nona, sebaiknya anda tidak meminum arak ini."
"Kenapa Qiuye?" tanya Nona Muda Huang.
"Anda sedang minum obat, meminum arak bisa menghalangi efektifitas obat dan bisa juga memicu gejala lainnya," balasku.
"Oh begitu," balas Nona Muda Huang mengerti lalu menaruh kembali diatas meja. "Terima kasih sudah mengingatkan Qiuye."
"Ya Nona sama-sama," balas Qiuye.
Akan tetapi Putri Xu menangkap kegiatanku dengan Nona muda Huang, kemudian menegur kami.
"Nona perdana menteri, kenapa anda tidak meminum arak dariku?" tegur Putri Xu.
Hal tersebut membuat semua orang membicarakan kami.
"Benar, arak dari istana. Apalagi arak yang disajikan untuk jamuan oleh Yang Mulia kekaisaran haruslah dihabiskan, karena jika tidak, itu artinya sama saja menghina wajah Yang Mulia," ucap Putri Adipati timur.
"Benar sekali, Nona Huang. Anda harus membalas kebaikan Tuan Putri," timpal Putra Adipati barat dan disetujui oleh semua pejabat disana.
Nona muda Huang berdiri dan memberi hormat kepada Putri Xu. "Maaf Yang Mulia, hamba sedang dalam masa pemulihan dan sedang mengkonsumsi obat. Menurut saran tabib pribadi hamba, hamba tidak disarankan meminum arak atau minuman beralkohol."
"Kau sedang sakit?" tanya Putra Mahkota peduli.
"Ya Yang Mulia," balas Nona Muda Huang.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Nona Huang, silahkan duduk kembali."
"Terima kasih Yang Mulia," sahut Nona muda Huang lalu duduk kembali.
Aku menghela nafas lega karena keluarga istana tidak memperpanjang urusan ini, dan semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama acara berlangsung hingga dipenghujung nanti
"Sudah ... Ayo kita lanjutkan, bagaimana kalau kita mulai menikmati jamuan hari ini," ucap Putra Mahkota memulai.
"Baik Yang Mulia!" seru semua orang setuju.
Dayang istana telah bersiap, membawa beberapa baki nampan berisi makanan mewah. Lalu memberikannya kepada para tamu undangan yang hadir.
Sedangkan aku mengambil makanan satu persatu dari tangan dayang, mencicipinya sebelum diberikan kepada Nona Huang.
"Bagaimana? Apa ini semua aman?" tanya Bibi Lan.
"Aman Bibi," balas aku.
"Baiklah," ucap Bibi Lan lalu mulai menyajikannya kepada Nona Huang.
Tarian dan jamuan mewah begitu memanjakan, namun raut wajah Putri Xu seperti kurang senang.
Hingga Putra Mahkota harus menegurnya. "Ini adalah perayaan ulang tahunmu, kenapa wajahmu malah cemberut saja."
"Tidak seru," balas Putri Xu seperti ada yang kurang.
"Semeriah ini kau bilang tidak seru?" heran Putra Mahkota.
"Ya, tidak ada jenderal Guan Yu. Pesta ini terasa hampa," balas Putri Xu.
"Kenapa malah menyebut si peti es itu? Percaya atau tidak, dia tidak akan datang kesini."
Setelah perkataan Putra Mahkota selesai, Putri Xu yang tadinya lemah dan lunglai lantas berdiri tegak begitu saja ketika melihat kedatangan seseorang dimuka pintu.
Ia tersenyum lebar sekali dan memaksa Putra Mahkota agar menengok. "Itu dia! Itu dia Jenderal Guan Yu!" serunya kegirangan.
Putra Mahkota menegok kearah adiknya menunjuk dan terbelalak. "A-apa? Ternyata dia datang," ucapnya terheran-heran.
"Tentu saja dia datang, ini adalah pestaku!" ucap Putri Xu percaya diri.
Sementara itu jenderal Guan Yu mendekati meja anggota istana dan memberi hormat. "Jenderal Guan Yu memberi hormat kepada Yang Mulia Permaisuri Liu dan Putra Mahkota," ucapnya lalu menghadap Putri Xu. "Selamat ulang tahun Tuan Putri," ucapnya kemudian.
Putri Xu tersipu malu dan merasa senang sekali. "Terima kasih Kak Guan Yu."
"Guan Yu, silahkan duduk."
"Terima kasih Yang Mulia Permaisuri," ucap Guan Yu. Lalu mencari tempat duduk dan mulai mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
Kemudian pandangannya terhenti pada rombongan Nona Muda Huang dan mengunci salah satu dari rombongan tersebut.
"Sepertinya dia," ucapnya dalam hati.
Akan tetapi gerakan mata Jenderal Guan Yu tertangkap jelas oleh Putri Xu, hingga wanita bangsawan itu pun merasa kesal karena merasa perhatian dari pria yang ia sukai telah dicuri seseorang.
Putri Xu kembali menatap nona Muda Huang yang sedang berbincang seru dengan tabibnya lalu kembali menatap Jenderal Guan Yu yang terus menatap kearah Nona muda Huang.
Seketika hatinya memanas, hingga tidak sadar meremas erat hanfu nya hingga berantakan.
"Nona Huang, berani sekali dia mencuri perhatian Kak Guan dariku," geram Putri Xu dalam hati.
...Bersambung....