NovelToon NovelToon
Aku Hamil Anak Pacarku

Aku Hamil Anak Pacarku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:88.6k
Nilai: 5
Nama Author: Revina Willy

⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!

UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB

Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.

Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?

Yuk pantauin terus ceritanya! 😉

-----

Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..

-----

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Rendi

Cup

Aku terbelalak kaget. Tepat sesaat aku berbalik, wajah Rendi sudah berada tepat di depan wajahku. Aku juga bisa merasakan sentuhan lembut di bibirku.

"Re-Rendi! Kamu apaan sih?!"

Aku langsung mendorong pelan dadanya agar menjauh dariku. Aku bisa merasakan jantungku yang kini tengah berdebar-debar tidak karuan.

Ck! Padahal aku kan sedang marah padanya. Jika dia membuatku salah tingkah begini kan rasa jengkelku padanya tadi jadi sia-sia.

Rendi tampak tersenyum menahan tawa. Dia benar-benar tau kalau saat ini aku sudah tidak sanggup lagi untuk marah. Dia benar-benar tau bagaimana caranya membuat amarahku reda. Ini curang namanya!

"Maaf dong.." Lirih Rendi dengan wajah memelas.

"I-Iya deh!"

Aku berpaling dari Rendi. Bukan karena aku merasa kesal atau sejenisnya, namun lebih tepatnya kini aku melakukan itu karena merasa malu.

"Liat ke sini dong.."

Rendi menyentuh lembut bahuku untuk kedua kalinya, lagi-lagi dia berusaha membujuk.

Seakan terhipnotis, aku langsung berbalik begitu saja. Aku memunyunkan bibirku, memberikan kode kalau aku masih merasa jengkel meski tidak seperti sebelumnya.

"Kok gitu? Senyumnya mana? Senyum dulu dong."

Rendi tersenyum menatap mataku. Saking dekatnya wajah Rendi denganku, aku bisa melihat dengan jelas mata Rendi yang sedikit menampakkan warna cokelat.

Rendi menyentuh daguku. Ujung jarinya menyentuh bawah bibirku. Perlahan aku merasakan Rendi semakin mendekatkan wajahnya kepadaku.

"H-Hei! Kamu mau ngapain?"

Aku berbisik pelan dengan mata melotot karena panik. Aku yakin sekali dia akan menciumku jika aku tidak menghentikannya.

Jika hanya kami berdua saja yang ada di sini, mungkin aku akan langsung menerima ciumannya tanpa ragu-ragu. Namun di sini masih ada anak-anak panti. Saat ini mereka memang terlihat sibuk bermain, tapi kan tidak ada yang tau kapan anak-anak itu menoleh ke arah kami.

"Nanti aja dong, ntar kalau anak-anak liat gimana?"

Rendi cemberut. Jika aku tidak menguatkan hati pasti saat ini aku sudah terbuai oleh wajah memelasnya itu.

Rendi perlahan merangkul pinggangku. Dibenamkannya seluruh wajahnya pada bahuku. Syukurlah dia tidak jadi menciumku.

Aku merangkulnya ke dalam pelukanku. Kutepuk-tepuk pelan punggungnya itu seolah-olah diriku tengah menenangkan anak kecil yang tengah merajuk.

"Kapan-kapan aja ya, liat situasi dong Ren."

Rendi melepaskan pelukannya lalu menatap wajahku. Ia mengangguk pelan sembari tersenyum. Senyumannya terasa menenangkan bagiku.

"Ya udah yuk! Ayo pulang!"

Aku bangkit dari dudukku sembari mengibas pelan rok ku yang terasa lembab. Rendi lantas ikut bangkit. Dikenakannya ransel miliknya di pundaknya.

Setelah sepakat untuk pulang, Rendi menghampiri anak-anak panti yang tengah sibuk bermain. Sepertinya dia ingin berpamitan dengan teman-teman kecilnya.

Terlihat jelas dari raut wajah anak-anak yang menyayangkan Rendi pergi, terutama Rio. Sepertinya Rio adalah anak panti yang paling akrab dengan Rendi. Anak-anak lain selain Rio dan Echa tampak canggung dan agak ragu saat berbicara dengan Rendi.

"Kak Silvi..!!"

Kulihat Echa berlari ke arahku. Belum penuh aku tersadar dengan suaranya yang memanggilku, Echa sudah tiba lebih dulu dan memelukku.

"Kakak bakal ke sini lagi kan?"

Intonasi suaranya terdengar sedih. Padahal kami baru saja bertemu. Tapi Echa sudah tidak ingin berpisah denganku.

"Iya.. kakak bakal ke sini lagi kok." Kataku sembari mengelus rambutnya.

"Janji?" Tanya Echa.

"Iya.. janji."

Echa perlahan mulai melepaskan pelukannya. Ia lalu menatapku dengan mata hitamnya. Matanya tampak berkaca-kaca. Hanya butuh beberapa detik hingga setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

Aku membungkuk hingga wajah Echa berhadapan denganku. Kutatap wajahnya dengan senyuman. Aku jadi merasa terharu karena Echa tidak ingin berpisah denganku.

"Kapan-kapan kakak bakal mampir lagi ke sini, jadi Echa jangan sedih ya."

Echa mengangguk. Dia mengedipkan matanya beberapa kali agar air matanya yang ia tahan sejak tadi tidak menetes.

"Nah, kakak pergi dulu ya."

Aku bangkit berdiri. Sebelum pergi dan melambaikan tangan pada anak-anak, aku sempat mengelus rambut Echa beberapa kali. Echa tampak senang ketika aku melakukan itu.

"Nah yuk!"

Rendi memintaku untuk naik ke atas jok motor. Langit mulai gelap. Awan-awan yang semula putih kini perlahan mulai menghitam.

Cahaya matahari mulai meredup, tak seperti sebelumnya. Langit yang awalnya berwarna biru cerah dengan warna jingga di ufuk barat, kini perlahan mulai berubah menjadi abu-abu gelap karena tertutupi awan.

Tuk

Suara yang pernah kudengar itu kini terdengar lagi di telingaku. Kutadahkan telapak tanganku sembari mengadah ke atas langit. Telapak tanganku terasa basah. Terlihat ada tetes-tetes air yang menimpanya.

Tuk Tuk Tuk

Suara rintik hujan yang menimpa helmku kini terasa semakin cepat. Kini aku bisa merasakan lenganku yang terasa basah karena tetes hujan.

"Ren! Ren! Hujan!" Seruku pada Rendi.

Dengan tangan kirinya, Rendi membuka kaca helmnya ke atas.

"Ya udah kita neduh dulu ya." Balas Rendi.

"Iya." Kataku.

Brumm

Motor semakin cepat melaju. Karena takut kehilangan keseimbangan, aku memeluk pinggang Rendi dengan erat.

Sama seperti kami, sepertinya awan yang menurunkan hujan juga tidak berniat untuk berhenti. Awan-awan hitam di langit rasanya seperti semakin ingin menumpahkan air.

Atap-atap setiap rumah warga mulai mengalirkan air ke tanah. Sepertinya hujan kali ini tidak akan berlangsung singkat.

*****

Ckkitt..

Rendi mengerem mendadak. Aku terkejut karenanya. Salah-salah aku bisa terjatuh. Untunglah aku memeluk Rendi dengan erat sehingga hal itu tidak terjadi.

Aku menoleh ke arah kiri. Kulihat rumah dan pagar yang sama-sama ber-cat putih tepat di depan kami. Kini aku sudah tidak asing lagi dengan rumah ini.

Rendi langsung memasukkan motornya ke dalam rumah dengan cepat, aku pun juga ikut berlari di belakangnya. Aku baru bisa bernafas lega setelah sampai di tempat teduh.

Hujan di luar ruangan terdengar semakin deras. Sekarang bukan hanya hujan, namun kilat juga sudah beberapa kali terlihat. Kini langit sudah tampak mirip dengan flash kamera.

Kulihat bajuku. Seragam sekolahku sudah basah kuyup. Begitu pula dengan rok ku. Sepertinya Rendi juga sama saja. Kami berdua benar-benar kehujanan.

Apa yang harus kukatakan pada mama jika mama melihat seragamku jadi seperti ini?

"KYAAA!!"

Spontan aku menutup wajahku dengan telapak tangan. Aku benar-benar terkejut sesaat tidak sengaja melihatnya.

"Ke-Kenapa sih Sil?" Rendi bertanya seolah-olah tidak tau.

"JANGAN LEPAS BAJU SEMBARANGAN DONG!!" Teriakku.

Benar. Rendi baru saja melepas baju seragamnya yang basah. Mungkin para laki-laki menganggap kalau melepas baju adalah hal yang biasa saja. Tapi aku yang melihatnya tidak terbiasa.

"So-Sorry, aku ke kamar dulu deh." Ucap Rendi.

Aku masih menutup wajahku. Aku benar-benar malu. Jantungku berdegup kencang karena terkejut. Entah kenapa aku merasa dejavu.

1
Qaisaa Nazarudin
Kamu aja yg Bodoh,Farel itu tau Rendi itu seperti apa,makanya dia ingin melindungi kamu,Dasar ogeb..🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Udah End aja,Gak ada kelanjutannya,Endnya kayak kegantung gitu, Ceritanya gak tuntas menurut ku..
Qaisaa Nazarudin
Ternyata Rendi udah biasa ngelakuin itu ke cewek2 yg lainnya juga..
Qaisaa Nazarudin
Apakah Rendi akan bertanggungjawab setelah ini?Atau biasa saja..🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Kalo emang Rendi sayang dan cinta sama Silvi,Harusnya dia menjaga Silvi bukan malah metosaknya,Ckk anak remaja jaman now..🤦🤦
Juju Siti Julaeha
pergaulan bebas dapat mengakibatkan seperti ini, hati hati aja
Toto Suharto
ceritanya bagus...konfliknya bikin baper dan penasaran...semangat lanjut dong thour...
Wahyuni
nanggung
@shiha putri inayyah 3107
kok gak ada lanjutannya...?🤔🤔
Hernawati Sitohang
jangan terjebak cinta rendi
Hernawati Sitohang
up
Rider Frost
ko ga up ya, lama thor
re
Next
Freen 🐰
hadir ya
Яцяу
farel pelindung sejatinya silvi
ai'
lanjut thor hehe
ai'
Jadi kepo ma zizi
indah
Bagus, awal yg menarik, jadi ingin baca lanjutannya karena banyak kemungkinan yg akan terjadi. Tutur bahasanya juga👍👍
mama angga
lanjuuuutttt
ai'
Rendi kek pedopil sih...eh bentar² keknya mereka mau olimpik bareng deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!