Rara Depina atau biasa di panggil Rara, terpaksa menggantikan ibunya yang sedang sakit sebagai Art di ruamah tuan muda Abian Abraham.
Rara bekerja tanpa sepengetahuan tuan muda Abian. Abian yang pergi kerja saat Art belum datang dan pulang saat Art sudah pergi membuat Rara bisa bekerja tanpa di ketahui Abian.
Apa jadinya saat tak sengaja Abian memergoki Rara tengah berada di apartemennya.
Dilema mulai muncul saat diam-diam Abian mulai jatuh cinta pada pembantu cantiknya itu, dan di tentang oleh keluarga besarnya yang telah memilihkan calon buat Abian.
Akankah Abian mampu mempertahankan Rara di sisinya, cuus baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ara aku tidak suka dia
Kiki dan Imel membawa teman kencan sedang dia terpaksa dengan fathan. Dia tak enak hati menolak Fathan terang-terangan, dengan terpaksa harus menerima fathan sebagai teman nontonnya.
"Ki kamu sudah gila bawa fathan tanpa bilang dulu sama aku?" bisik Ara sambil mensejajari langkah Kiki. Saat masuk ke bioskop.
"Kalau bilang nanti kamu gak mau pergi," ucap Kiki sembari nyengir menatap Ara. Sementara Ara pasang muka masam. Bagaimana kalau ketahuan Bian nanti di sangka Ara tidak tepat janji.
Mereka sengaja beli tiket dengan nomor bangku bersebelahan. Kiki dan Imel jelas pasangan kekasih, sementara dia Fathan cuma teman, sebenarnya kalau bukan karena ancaman Bian, Ara tak terlalu kwatir dengan keberadaan Fathan.
Film pertama bergenre action, berulang kali Ara harus memejamkan mata karena adegan laga yang sedikit sadis.
"Ra aku ke toilet dulu ya," pamit Fathat saat film kedua hampir di putar.
"Iya, pergilah."
Namun, film kedua sudah di putar Fathan belum juga kembali. Film kedua begenre romantis, tubuh Ara panas dingin oleh adegan panas yang bukan terlihat di layar lebar saja, tapi pada pasangan muda mudi yang tak ingin kehilangan kesempatan beradu akting dengan pasangannya.
Ara sedang focus pada layar lebar di depannya saat jemarinya disentuh oleh tangan hangat dan membawanya kepangkuannya. Replek Ara beralih pandang kesebelah,mengira Fathanlah yang melakukannya tapi...
"Tuan," bisik Ara dengan mata melebar. Ini bukan mimpi kan? Tuan Abian tengah menggenggam jemarinya erat dengan wajah yang begitu penuh kelembutan.
Bian tak merespon dia seperti sedang focus pada adegan di layar lebar, walau sebenarnya hatinya tak kalah rusuh saat ini. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang saat ini, penampilan istrinya yang seperti wanita dewasa membuat suasana hati yang berbada.
"Tuan kenapa menyusulku kesini?" Tanya Ara dengan berbisik, sembari mendekatkan wajahnya, bahkan wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Bian napasnya menerpa kulit wajah Bian dengan hangat.
"Tiba-tiba aku juga ingin menonton film, tidak boleh?" Tanya Bian sembari membalas tatapan Ara.
"Tentu saja boleh, bioskop ini bukan milikku."
Bian tersenyum simpul, dengan lembut dia membawa tubuh Ara bersandar pada dada bidang miliknya. Ara tak menolak entah mengapa dia sangat senang di perlakukan oleh Bian begitu. Kiki dan Imel yang tak menyadari kehadiran Bian. merasa senang dengan adegan itu mereka mengira masih tetap Fathanlah yang berada di samping Ara.
Berada di dekat Ara dengan situasi begini, membuat Bian tak mampu menahan hasratnya untuk tidak menyentuh Ara, sosok molek yang memaksanya keluar rumah meninggalkan seambrek pekerjaan yang menuntut di selesaikan tengah menggodanya. Dia malah memilih menyusul Ara bayangan tubuh mulus dengan balutan gaun hitam itu membuatnya tak tenang. Tubuh molek itu begitu terespose sempurna di tambah dengan adegan romantis yang terpampang nyata membuat Bian tak kuasa untuk tak melabuhkan bibirnya merasai lembut dan hangat bibir Ara. Ara adalah istri sahnya dekat dengannya selalu membuat angannya melambung sangat tinggi.
"Tuan ini tempat umum," bisik Ara panik, saat berhasil melepas diri dari suaminya.
"Tidak ada yang perduli dengan apa yang kita lakukan Ara, kenapa kau sepanik itu."
Ara mengedarkan pandangannya Bian benar, tak satupun melihat kearah mereka, masing-masing sibuk dengan diri masing-masing, bahkan ada yang melakukan hal yang sama dengan mereka.
Bian kembali focus pada adegan layar lebar. Sementara Ara menatap Bian dengan tatapan penuh, wajah tampan penuh karisma ini telah membuat jantungnya berdegup kencang akhir-akhir ini.
"Ara, focuslah pada film di depanmu. Jangan memancing ku dengan tatapan intensmu itu," ucap Bian tanpa beralih pandang dari layar lebar. Ara tersenyum lalu beralih menatap Layar lebar, dia tak benar-benar berani membuat Bian hilang kendali saat ini.
Bian meninggalkan Ara sebelum film usai. Tak mau teman Ara memergoki dirinya yang menggantikan posisi Fathan yang telah di usirnya pulang.
"Fathan kemana Ra?" Tanya Kiki saat mereka meninggalkan gedung Bioskop saat film telah usai.
"Gak tau, katanya tadi ke toilet, oh ya aku pulang duluan deh gak ikut makan, udah di pesankan taksi tuh di bawah," ujar Ara beralasan.
"Emang gak bisa nunggu ya Ra?" Ara menggeleng pelan.
"Ya udah deh, hati-hati," ucap Kiki dan Imel kecewa.
"Oke."
Ara melangkah tergesa menuju basement Mall, Bian tengah menunggunya di dalam mobil.
"Sudah pamit dengan teman mu?"
"Sudah tuan."
Bian membawa mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartement. Sesampainya di apartemen Bian memarkirkan mobilnya tak jauh dari pintu lift di basemen agar Ara tak terlalu jauh berjalan.
Seperti biasa Ara berjalan duluan Bian mengekori dari belakang. Tubuh gemulai Ara dengan gaun hitam minim itu membuat Bian gemas. Saat di lift mereka berpapasan dengan dua pria penghuni apartemen lain.
Mata kedua lelaki itu tak lepas dari mencuri pandang ke Ara. Wajah cantik dengan tubuh seputih salju itu sungguh menarik perhatian mereka. Semua itu tak lepas pengawasan Bian.
Bian mengekori langkah Anggun Ara dengan hati panas, pandangan dua pria tadi membakar hati dan jantung.
"Ayo kekamarku!" Bian menggandeng mesrah jemari Ara.
"Mau apa tuan?"
"Main kuda-kudaan Ra."
"Iis orang serius nanya juga," sungut Ara kesal.
"Iya aku jawabnya juga serius, kamu kira main-main?"
"Main kuda kudaan? udah gede juga," omel Ara sembari terus mengikuti langkah lebar suaminya.
"Lebih enak main kuda-kudaan pas uda gede Ra, kamu mau bukti?"
Bian beralih menatap Ara penuh sembari mengunci rapat pintu kamarnya.
"Iss apaan sih!" Sungut Ara sembari duduk di tepi Ranjang Bian.
Bian tertawa pelan melihat wajah istrinya yang menggemaskan. Bian mendekati Ara sembari membuka satu-persatu kancing kemeja hitamnya, Ara terpana suaminya begitu tampan dengan pakaian santainya tanpa jas atau pun tuxedo yang membungkus tubuh kekarnya.
"Tuan terlihat tampan dengan baju sederhana ini," Puji Ara dengan mata berbinar oleh dada bidang Bian yang kini sudah terlihat jelas, karena kemajanya sudah terbuka semua.
"Kau aneh Ra, selama ini wanita lebih suka melihatku mengenakan jas maupun tuxedo," ucap Bian sembari duduk di samping Ara membelai pipi mulus Ara dengan jari kokohnya.
"Aku merasa tidak sepadan denganmu tuan, saat tuan mengenakan semua itu," ucap Ara. Jemari mungilnya membelai dada bidang Bian, hangat dan mendebarkan.
"Ra.."
"Hemm."
"Jangan pergi dengan gaun seperti ini tanpa izin ku," ucap Bian tegas.
Bian menempelkan tubuhnya begitu dekat jemarinya menyusup di balik punggung Ara. Perlahan mebuka resleting gaun hitam yang membungkus tubuh molek Ara, meluruhkan gaun hitam itu keatas ranjang. Tubuh molek itu seperti mutiara yang berkilau di tengah cahaya temaram. Membius tatapan Bian untuk tak beralih sedetikpun.
Ara mengeliat pelan, ******* dan rintihan lolos begitu saja dari bibir tipis Ara. Sentuhan Bian seperti candu, membawanya terbang tinggi seperti mimpi.
"Kau dengar aku tadi bilang apa? jangan perlihatkan tubuh molekmu pada lelaki lain! kau cuma milik ku!" Tegas Bian, setegas sentuhannya kini. Menjamah setiap Area sensitif Ara.
"Hemmm!" Gumam Ara menanggapi ocehan dan sentuhan Bian.
Malam ini dia benar-benar kewalahan oleh ulah Bian. Keringat sudah membasahi tubuh keduanya tapi Bian terlihat masih belum juga mau melakukan pelepasan, sementara Ara sudah entah berapa kali mencapai puncak, tubuhnya seakan sudah tak kuat lagi.
"Bian ayolah..." Rengek Ara, terdengar begitu seksi di telinga Bian. Senyum puas terlihat di bibirnya dia membuat Ara memohon padanya.
"Baiklah sayang, mari kita akhiri."
Bian kembali membawa Ara kepuncak yang lebih tinggi, bersamaan melakukan pelepasan menuntaskan hasrat yang sedari tadi membelenggu Bian.
Bian terkulai di atas tubuh Ara, gadis belia ini membuatnya berulang kali terkulai bermandi keringat.
"Ara berapa usiamu?" Tanya Bian Sembari mengecup puncak kepala Ara dengan lembut.
"Delapan belas tahun tuan."
"Benarkah semuda itu usia mu?"
"Tentu saja, aku bahkan belum tamat SMA tuan."
"Ara."
"Ya tuan."
"Siapa lelaki yang nonton bersama mu tadi?"
"Fathan tuan, teman sekelasku."
"Aku tidak suka melihatnya!" tegas Bian sembari mempererat rengkuhannya pada tubuh Ara.
Ara cuma tersenyum menanggapi ucapan Bian, dia selalu saja melarang dia bertemu pria lain, tapi Bian dia tak punya hak melarangnya.
"Aku juga tidak suka Septia tuan," bisik Ara pelan, berharap Bian tak mendengar ucapannya.
"Baiklah, aku akan menjauhi dia untuk mu," sahut Bian dengan mata terpejam.
Benarkah dia akan menjauhi Septia, wanita yang mempunyai seribu keistimewaan, hemmm mustahil.
Happy reading.
Hay readers emak maaf kalau baru up. Emak baru bisa pegang ponsel akibat demam. yang udah mampir jangan lupa tinggalin dukungannya ya.