Suatu kehormatan, seorang gadis muda belia memilih menikah dengan seorang dokter duda tua, daripada menjual harga diri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cantik
"Ayo, bersihkan dirimu"
Sifa menoleh, ketika suara bariton mengagetkan dirinya
"Bapaak..."
Sifa menatap Ilham yang sudah rapih menggunakan baju koko dan sarung
"Ayo, semua keperluan sayang, ada dialmari sana" Tunjuknya pada lemari sebelah kiri miliknya
Sifa langsung berdiri dan menuju lemari yang ditunjuk oleh Ilham
Sifa membuka lemari dan
"Wah, bapaaak"
Ilham mendekati "Sayang ada apa?"
"Ini baju semuanya untukku?"
"Iya, sayang bersihkan dulu ya, nanti sholat bersama"
"Iya, tapi ini banyak sekali paaaak, yang kemarin saja belum terpakai semua " Ucap Sifa sendu
"Kenapa belum terpakai? kemarin hanya beberapa biji saja kan?"
"Maksud bapak, setelah baju dipakai, lalu dibuang begitu?"
"Hah?? buang? Ahaha" Ilham tertawa lebar mendengar penjelasan Sifa
"Bapaaaak"
"Sudah, sekarang, sayang pilih bajunya yang paling disuka, bersihkan badan, saya tunggu Ok"
Sifa mengalah
Sifa mulai memilih baju yang kira kira cocok untuk tidur
"Bagus bagus semua. Daster, satupun nggak ada. Memangnya, Sifa mau kondangan? nggak kak Wahidah, nggak bapak, semuanya sama, ingin buang buang duit"
Ilham hanya tersenyum mendengar gerutuan Sifa
"Ya sudah, saya tunggu disana ya?"
"Hah?? dari tadi bapak disitu?"
"Kenapa memang?" Ilham langsung duduk diranjang, lalu selonjoran
Sambil menunggu, ia membuka ponselnya
"Busyeeeeet"
Ilham berselancar diaplikasi WA
Di grup chat khusus dokter, 888 pesan belum terbaca, belum yang japri. Ribuan Chat sudah mengantri ingin dibaca oleh sang pemilik akun.
Ilham membaca satu persatu, tapi, dari delapan ratusan chat, yang bikin menarik perhatiannya hanya satu, yaitu pesan suara dari dokter Ram, dokter spesialis THT
"Wah dokter Ilham tidak nongol, kayaknya masih belah, belah, belah Ahaha"- Dr Ram THT nyanyi
"Iya nanti mblendung, mblendung, mblendung"-Dr Sukri Mata
"Habis itu oek, oek, oek Ahaha" -Dr Ram THT
"MashaAllah, begini ya kalau jadi artis dadakan, nggak nikah nikah salah, giliran nikah, di jadiin candaan. Hmmm, awas kamu dok. Dasar Rambo, main film sudah nggak terpakai jadinya begini, ngeledekin orang" Ilham geleng geleng, dan langsung mematikan data pada ponselnya
"Bapaaak, Sifa sudah siap"
Ilham menoleh, dilihatnya istri mungilnya sudah mengenakan mukena
"Cantik"
Wajah Sifa langsung beruba merah
"Baiklah, kita sholat dulu ya? Sholat wajib isya, setelah itu, kita sholat sunah"
Sifa mengangguk patuh
-
Mereka sudah selesai sholat
Ilham membelokkan badan kebelakang, setelah bersujud dan diakhiri do'a.
Mereka berjabat tangan, Sifa mencium punggung tangan Ilham, Ilham mencium kening Sifa
pyar pyar pyar
Bintang bintang serasa keluar dari tubuh Sifa
Setelah selesai, Sifapun melepas dan melipat mukenanya
Ilham duduk, diam memperhatikan gadis belia yang masih sibuk dengan dunianya
Sifa baru tersadar, kalau dirinya menjadi obyek suaminya.
Sifa melihat penampilan dirinya "Kenapa dengan penampilan Sifa pak? tidak cocok ya?"
Ilham geleng geleng
" jelek ya?"
Lagi lagi Ilham geleng geleng
"Lalu, apa yang bapak lihat? bajuku kebalik? bener kan ini" Sifa sudah menjembreng bajunya, dari lehernya, sampai jahitannya.
"Bener semua, mereknya juga ditengkuk, bapak lihat apa?"
"Sini, tidak ada yang salah dengan penampilan sayang"
Tangan kanan Ilham menjulur , sedang tangan kiri menepuk nepuk pahanya.
"Duduklah sini"
"Ish bapak malu"
"Malu sama siapa? nggak ada orang?"
"Memang bapak bukan orang?"
"Hei..." Ilham menarik hidung mancung Sifa
"Berani ngeles ya?" Ilham terus memandang Sifa
"Mau berdiri disitu sampai pagi?"- Ilham
"Bapaaaak, jangan menggodaku, aku malu"
"Ya sudah duduklah disini, ngapain malu"
Sifa masih tetap berdiri kokoh kayak gapura selamat datang
Sifa mulai bingung, ketika Ilham menanggalkan baju kokonya dan menyisakan kaos putih berlengan ketat yang masih melekat dibadan Ilham
"Ya sudah, daripada saya capek nungguin gapura jalan, lebih baik saya tidur"
Ilham langsung meringkuk membelakangi Sifa
Sifa mulai kalang kabut, pikirannya tertuju pada Dul yang ingin memperkosa,
Sifa mulai beranjak dan naik ketempat tidur, pikiran Sifa sudah berputar putar, soal dosa dan perkosa.
Dosa tidak melayani suami, apa pilih Dul yang akan memperkosa dirinya
"Dosa? Perkosa? Dosa? perkosa"
Sifa mulai merebahkan tubuhnya, menatap keatas bingung, kemudian ia miring menghadap dokter Ilhamnya
Sifa mulai memegang pundak suaminya
"Bapaaak" Pelan
"Hmmm, tidurlah"
Sifa kecewa
"Nggak enak banget, tidur ada temannya, tapi dikasih punggung" Sifa
Ilham langsung berbalik "Kenapa? apa sayang sudah siap?"
Tangan Ilham menjulur, membenahi anak rambut, mengusap wajah ayu istrinya
Cup
Cup
Cup
Sifa kaku seketika, wajah Sifa sudah diabsen semuanya
Ilham sudah setengah menindih badan Sifa, Sifa tambah kaku dibuatnya
"Relax, jangan panik"
Ilham semakin mendekati wajah Sifa, tapi netranya tertuju pada benda kenyal, yang sudah ia sesap sebelumnya waktu dipelaminan
"Emmmp"
Bibir mereka masih berpaut
Tangan Ilham sudah berada dipundak Sifa, memegang pundaknya, dan menurunkan tali penyangga gaun malamnya satu persatu.
Malam ini, Sifa mengenakan gaun malam berbahan satin, tanpa lengan, yang berwarna maroon .
Wah, dokter Ilham akan main matador hihi. Author terkekeh geli
Ilham mulai menyesap leher jenjang Sifa, pundak Sifa, hingga Sifa mendesa
"Bapaaak"
Keringat mereka mulai mengalir, hawa dingin AC mulai memanas, karena darah mereka berpacu, nafas mereka memburu
Tangan Ilham terus menyusup masuk kebalik baju malam milik Sifa, Sifa terjingkat ketika tangan besar sudah menggenggam dada ratanya dibalik gaun malamnya
Gleser gleser
Sifa sudah tidak karuan menahan semuanya, mulut mengagah kekurangan oksigen, ketika mulut seseorang sudah menyesap dadanya yang masih datar seperti tutup gelas
Kedua tangan Sifa sudah diantara telinga dan rambut Ilham, niat ingin menjauhkan dari tubuhnya, tapi tubuhnya juga sudah butuh sentuhan
"Bapaaaak"
Ilham sudah melepas kaos dan sarungnya
"Sayang, kamu sudah siap?"
Kembali mulutnya menyesap mulut Sifa yang mengangah mendesah
Sifa sudah merem melek tidak karuan, permainan sang dokter membuatnya gila
Basah, basah, basah, semuanya basah
Kulit bertemu kulit
Bulu bertemu bulu
Semakin tenggelam, semakin nikmat rasanya
Ahaha....
"Aaaakkkhhh" Ilham
"Bapaaaaakkk sakiiiitttt" Sifa
Ilham terdiam diatas Sifa, pelan pelan ia mulai melepasnya, mengambil tissu dan mengelap apa yang basah
Ilham melihat tissue bekas tersebut, bibirnya melengkung
"Ternyata pusakaku masih tajam hihi"
Ilham memeluk Sifa, menyelimuti, mencium kening
"Terimakasih sayang"
Ilham mengusap perut rata Sifa,
"Tumbuhlah anakku"
Ilham menarik Sifa kedalam pelukan, masuk dalam satu selimut
"Selamat malam sayang, I love you"
Malam ini, Ilham lupa dengan Nancy,
Perasaan gembira mendominan, seluruh perasaannya
Ilham sudah melepas masa dudanya
Kurun waktu lima tahun, semenjak Nancy dinyatakan sakit, Ilham mengubur dalam keinginan menggauli istrinya. Rasa tidak tega mendominasi seluruh fikirannya
Dan malam ini, malam yang membahagiakan untuk seorang dokter tampan ahli kandungan
-
Pagi harinya
Sifa sudah wangi dan duduk membelakangi meja rias
tangan besar memegang pundaknya
"Kenapa sayang bengong?"
Ilham bergeser hingga didepan Sifa, ia berdiri dengan lututnya, kedua tangannya memegang tangan Sifa yang berada dipangkuan Sifa
Ilham masih menggunakan handuk yang masih melilit dipinggangnya
"Masih sakit?"
"Nggak tau" Sifa geleng geleng
Dalam hati Ilham bersorak "Yess, ternyata permainanku hebat"
Bersambung....
hayo... panas dingin..
kangen sama cerita lama...
kangen pengen baca lagi...
sakjane ki aku kangen karro karrya mu thor...😩
gak buat karya lagi kah🤔
kata *samoza* jadi kelingan sama novel ini🙈
klw suami di dunia nyata kayak bgtu.. ummmm senangx