NovelToon NovelToon
Pria Kedua

Pria Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Patahhati / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Janda / Tamat
Popularitas:3.8M
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Aira tidak pernah berharap menikah untuk kedua kalinya. Namun dia menyangka, takdir pernikahan pertamanya kandas dengan tragis. Seiring dengan kepedihan hatinya yang masih ada, takdir membawanya bertemu dengan seorang pria.


"Aku menerimamu dengan seluruh kegetiran dan kemarahanmu pada seorang lelaki. Aku akan menikahimu meski hatimu tidak tertuju padaku. Aku bersedia menunggu hatimu terbuka untukku," ujar pria itu.

"Kamu ... sakit jiwa," desis Aira kesal sambil menggeram marah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menikahlah denganku

Pria ini masih duduk di kursi cafe ini. Sendirian. Padahal, dia bisa berada disini berkat perempuan itu. Aira. Ibrar mengambil cangkir kopi cappucino di atas meja dan menyeruputnya. Lalu mendesah. Dia memang tidak yakin perempuan yang masih berumur di bawahnya itu, akan menerimanya begitu saja.

Ibrar tahu ini tidak mudah. Entah dia muda atau tua, jika di hatinya masih ada luka, dia akan bersikap sama. Kaku. Dia yang sudah mendengar soal status janda yang di sandang Aira, merasa biasa saja. Namun perempuan itu mungkin tidak ingin seseorang tahu.

Masih teringat dengan jelas saat kalimat sakralnya muncul setelah mereka berdua bisa berada di sini. Beberapa menit yang lalu.

"Menikahlah denganku." Permintaan spesial yang di ucapkan Ibrar di depan cermin besar yang memantulkan diri mereka berdua. Disanalah mereka berdua duduk di cafe.

Bibir Aira terdiam. Dia sangat terkejut dengan permintaan lelaki ini. Bukan memintanya menjadi kekasih, tetapi memintanya untuk menikah.

"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Aira seperti mulai membentengi diri lagi. Padahal obrolan mereka mulai terdengar menyenangkan.

"Melamarmu. Aku ingin menikahimu."

"Kamu pikir menikah itu adalah sebuah lelucon? Permainan?" Aira mulai terusik.

"Aku tidak pernah menganggap demikian.  Pernikahan itu adalah hal suci dan berharga."

"Lalu? Apa yang kau lakukan dengan mengatakannya tiba-tiba? Juga mengatakannya padaku yang baru saja bisa mulai menganggapmu teman?" tanya Aira dengan ekspresi mencela yang kentara. Dia jelas merasa pria ini mudah sekali mengatakan hal seperti ini pada banyak wanita. Ini terbukti padanya yang baru saja di kenal.

Menurut Aira beberapa bulan tidak bisa menjadi acuan bagi Ibrar merasa sudah bisa mengenal dirinya. Apalagi memahaminya.

"Ini bukan lelucon. Aku mengatakannya dengan bersungguh-sungguh. Bagaimana denganmu?" Aira tidak tahu raut wajah pria ini sungguh serius atau berpura-pura.

"Aku bukan perempuan yang bisa kau ajak bermain-main soal pernikahan."

"Karena statusmu sekarang?" Aira menatap Ibrar lurus. Ya. Pria ini tahu dia sudah bercerai. Tiba-tiba mata perempuan ini nanar. Ada yang menyesakkan di dada. Aira ingin menangis. Sekilas dia nampak menggigit bibir bawahnya.

"Jadi karena aku sudah berstatus janda, kau bisa seenaknya menawarkan pernikahan padaku? Pemikiranmu seperti Itu?" Aira mendengkus. Merasa amarahnya naik. Ibrar tidak menjawab. "Sungguh memuakkan. Terima kasih sudah menemaniku. Pergilah." Aira enggan melihat ke arah Ibrar.

Walaupun Aira sudah menunjuknya dengan kasar, Ibrar tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia gigih.

"Karena aku tahu statusmu itu, aku tidak bisa sengaja meminta kamu jadi kekasihku, Ai. Kamu tidak butuh itu. Terlebih lagi, aku juga tidak butuh status kekasih. Aku butuh istri."

Aira menggelengkan kepala kesal dan beranjak berdiri. Memilih pergi dari sana.

Ibrar muncul di depan pintu kontrakan Aira.

"Kenapa kamu selalu berada di seputar kehidupanku?" tanya Aira kesal saat Ibrar berulang kali muncul di rumahnya dan kontrakannya. Yeri yang sebenarnya mau keluar buat mencari belanjaan di luar rumah, tidak jadi. Saat melihat ada pak Ibrar di depan pintu, Yeri berhenti dan menguping dari balik dinding.

"Aku tidak tahu. Mungkin takdir membuat aku begitu."

"Jangan membuat alasan tidak masuk akal, Brar. Kamu sengaja mendekatiku. Sudah aku katakan, aku tidak ingin di dekati. Cukup sebagai atasan dan bawahan saja."

"Mungkin benar aku yang mendekatimu. Namun, apa itu salah?"

"Jelas salah. Kamu bukan pria yang patut mendekatiku."

"Jadi menurutmu, aku tidak pantas untukmu?"

"Aku tidak berhak menilai soal itu. Aku tidak sedang membahas itu. Yang aku bicarakan adalah ... " Aira mengambil napas panjang. "... kamu tidak seharusnya mendekatiku karena statusmu."

"Status? Apa yang kamu maksud dengan status?" Kening Ibrar mengerut.

"Kamu itu sudah beristri, Brar ..."desis Aira menahan marah. "Kamu seharusnya ...."

"Tunggu. Berhenti berkata dulu," ujar Ibrar memotong kalimat Aira. Kelima jarinya menahan kalimat Aira untuk tidak di lanjutkan. Bola mata Aira menatap Ibrar dengan menyipitkan mata. "Apa yang kamu maksud sudah beristri?"

"Berhenti berpura-pura tidak mengerti apa yang aku maksud," ujar Aira dingin.

"Aku mengerti kalimat yang kamu katakan, tapi aku tidak mengerti kenapa kamu mengatakan bahwa aku sudah beristri. Sudah aku katakan di awal aku muncul di perusahaan itu, aku belum menikah."

"Jangan berbohong. Bukankah istrimu baru saja melahirkan. Perempuan di klinik itu. Perempuan yang akan melahirkan darah dagingmu."

"Klinik? Oh, klinik itu! Tempat dimana pertama kali kita bertemu ...." Di saat aku pertama kali melihat airmatamu menetes itu, Aira?

"Syukurlah jika kamu masih ingat soal itu. Soal dirimu yang sedang menemani istrimu melahirkan." Ada gelak tawa remeh yang muncul dari bibir Aira.

Bibir Ibrar tersenyum. Tentu saja dia ingat. Senyuman yang membuat Aira membuat kerutan samar di keningnya. Kenapa pria ini justru tersenyum? Dia merasa kalah dan ketahuan aku mengatakan ini?

"Jadi yang kamu maksud aku beristri adalah itu?"

"Sudah jelas itu menunjukkan identitasmu yang asli, Ibrar. Bersikaplah seperti orang yang sudah beristri. Jangan memberi perhatian pada perempuan lain. Bertanggung jawablah pada pilihanmu dan komitmen kalian sejak awal. Jangan memanfaatkan situasi yang tidak tahu soal dirimu yang sebenarnya."

Terbaca raut wajah marah dan pedih di wajah perempuan ini. Semua ini mengingatkannya akan kegagalan menikah. Di khianati oleh orang yang di cintai. Juga ... dia tidak mau menjadi duri dalam kehidupan seseorang. Aira tidak ingin pernikahan seseorang hancur seperti dirinya.

"Aku tidak menyalahkanmu jika kamu berpikir seperti itu. Itu wajar." Ibrar tersenyum lagi. Senyum mengerti akan cerita di balik kepedihannya. Pria ini bersikap tenang.

"Aku memang tidak perlu di salahkan karena itu adalah kenyataan."

"Ikut denganku jika kamu ingin melihat kenyataan yang sesungguhnya."

"Tidak. Aku tidak perlu tahu. Aku tidak ingin tahu."

"Kamu perlu tahu, Aira." Ibrar memegang pergelangan tangan Aira tiba-tiba.

"Lepaskan Ibrar. Apa yang kamu lakukan?" tanya Aira melebarkan matanya melihat ke arah tangan Ibrar yang mencekal pergelangan tangannya. Terkejut pria ini mulai bertindak semakin jauh.

"Aku butuh kamu, tahu pembuktianku."

"Aku tidak membutuhkan pembuktian apapun Ibrar!" Mendengar nada tinggi dari Aira, Yeri hendak mendekat untuk membantu. Namun di urungkannya.

"Aku yang membutuhkannya Aira. Aku ingin kamu tahu yang sebenarnya."

"Tidak. Lepaskan!" Karena Aira terus saja memberontak, Ibrar melepaskan.

"Maaf."

"Kamu ... Kamu ... " Telunjuk Aira menunjuk marah. "Bersikaplah seperti seorang pria yang jantan Ibrar. Kamu sudah berkomitmen dengan seseorang dari awal. Seharusnya kamu malu bersikap seperti ini padaku!" ujar Aira marah. Hingga kalimatnya terbata di awal.

Aku terlalu terburu-buru. Dia semakin membenciku.

Aira pergi masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Ibrar yang menyesali sikapnya yang mulai tidak sabar. Yeri segera bersembunyi saat tahu temannya masuk.

Meskipun sudah sengaja mengusir Ibrar, Aira tidak segera menjauh dari pintu. Punggungnya masih bersandar di balik pintu. Memejamkan mata sebentar. Kemudian menunduk. Tangannya menyisir rambutnya dengan gelisah.

Aira merasa terbebani dengan ucapan Ibrar. Hatinya belum bisa menerima siapapun. Entah apa arti marahnya ini. Jika dia ingin menolak Ibrar, dia bisa saja langsung bersikap acuh.

Selain karena statusnya yang di ketahui Aira sudah berisitri, Aira juga belum bisa membuka hati. Namun entah kenapa dia begitu emosional mendengar pernyataan Ibrar soal ingin menikahinya. Hingga dia sangat marah saat pria itu terus saja mendesak untuk mendekatinya.

Yeri menatap iba sahabatnya itu.

1
ione
/Smile//Smile/
Inah Ilham
sudah baca 30 episode baru nyadar klo ini karya lady_ Ve, pantes mc nya wanita muda yg tangguh
Lienda nasution
alah....ceritanya bertele tele thor
Tri Lestari Endah
Dari awal sampai disini ceritanya buat greget
banyak pelajaran yang di dapat

berharap ada bonchap sampai aira melahirkan
masih terbawa kesel sm nara dan eros
rasa sakit dan trauma aira belum sebanding sakitnya nara dan penyesalan eros
Latifah Latifah: setujuuu
total 1 replies
Ririnyulianti Yulianti
Luar biasa
Bang Juky
umur 16 si aira dah kerja ya
Anik kartin
banyak pesan moral yg disampaikan pada tiap tokohnya..semoga kita bisa belajar dr tiap kejadian dan mengambil hikmahnya...semangat kak untuk karya selanjutnya..
Anik kartin
bukan cinta....tapi DOSA
Yomita Hervina
agak aneh ibrar jg ngomong wanitaku saat di dpn yuta n wira jg jk ga salah.kl sdh sprti itu kesannya dia mmg pny affair dgn prmpuan tsb,kecuali kl itu dia lakukan di dpn org asing/bukan kenalan.
Sri Widjiastuti
tegas mu telat eros
Sri Widjiastuti
oalah nduk2 sdh tau rasanya jd pencuri. sekarang parno kecurian
Sri Widjiastuti
adakah sosok ibrar beneran, hari gini😇😇
Tiadayanglain
Betul tu nara
Aira masih sangat ingin dekat eros
Buktinya dia masih g bisa move on
Tiadayanglain
Kok aneh perempuan ni udah di sakitin tapi kok susah move on
Kesan nya kayak perempuan bodoh
Tiadayanglain
Aneh kakak kok hri tu ibrar ngaku wanitaku
Tiadayanglain
Nah pelihara anak haram MU eros
Anak dalam nikah meninggal
Jadi aira ga da iktan lagi
seru_seruan
aku ngulang baca entah keberapa kalinya.
kalo Aira, kakaknya Ibrar dijodohin sama Yuta gimana y...?
Nurazmi Azmi
Kok nggak di cerita in Aira itu masih hamil apa keguguran ya, YG jelas dong Thor jangan bikin bingung
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
Sriza Juniarti
lanjut kk🥰💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!