"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abah Pulang
17 Ramadan
Tujuh belas hari sudah Ramadan terlewati. Sudah dua hari dari semenjak abah berangkat kerja, hatiku rasanya gelisah tak menentu.
Setiap malam selalu terpikirkan abah, dan hampir setiap kali aku memejamkan mata bayangan abah tersenyum selalu hadir di pelupuk mata.
Aku hanya bisa mendoakan abah si sini, semoga selalu dalam lindungan Allah di mana pun berada.
"Nur!" Teguran mak membuatku kaget, tapi aku langsung menunduk menyembunyikan wajahku yang sendu.
Tak lama bale-bale yang aku duduki bergoyang dan berbunyi. Mak duduk di sampingku.
Siang hari di belakang rumah amat sunyi dan sejuk. Meski ada beberapa anak yang sedang bermain di atas pohon.
Tanah yang dipenuhi oleh pepohonan yang lebat dan besar, menjadi tempat asik bermain saat cuaca panas.
Aku sama sekali tidak berminat untuk bergabung dengan mereka. Pikiranku gelisah teringat akan abah.
"Kenapa?" tanya mak sembari mengusap punggungku lembut. Aku hanya menggeleng. Terus menunduk menatap kaki yang memainkan tanah di bawah pohon lobi-lobi.
"Masih mikirin abah?" tanya mak lagi. Aku terdiam, menunduk tanpa suara. Enggan untuk mengeluarkan kata. Aku memang memikirkan abah.
Rasanya hatiku ini tidak akan tenang sampai aku melihat wajah abah sendiri.
"Nur, 'kan, udah berdoa setiap abis shalat ... doa anak sholehah itu didengar Allah, lho," ucap mak lembut.
Aku mengangkat wajah melihat mak yang duduk di samping. Ia tersenyum. Senyumnya selalu membawa ketenangan untuk hatiku. Senyum kesyukuran meski hidup terasa sulit.
"Beneran, Mak?" tanyaku dengan lirih. Bibirku bergetar hendak menangis, tapi sebisa mungkin kutahan agar tak jatuh di depan mak.
Anggukan di kepala dari mak dengan garis bibirnya yang melengkung ke atas mencoba untuk meyakinkanku. Aku tersenyum meski gelisah masih saja bersemayam nyaman di hatiku.
"Sekarang, mending Nur main, gih, dari pada ngelamun di sini," titah mak lagi. Aku mengangguk, tapi masih enggan beranjak.
"Ya udah, besok Nur bayar fitrah, ya, sama Aceng!" ucap mak sebelum beranjak dari sisiku. Aku mengangguk.
Mak menepuk lembut kepalaku sebelum akhirnya masuk kembali ke dapur.
Aku masih duduk di bale-bale, di bawah pohon lobi-lobi ini menengadah menatap gumpalan awan putih yang berarak pelan.
Kuhembuskan napas dengan mata terpejam menikmati sepoi angin yang menerpa wajah. Deritan pohon bambu terdengar seperti nyanyian alam di telingaku.
Ditambah kicauan burung yang sesekali akan terdengar. Hewan-hewan bersayap itu sering terlihat bertengger di dedahanan pohon belakang rumah. Ditemani tupai yang berlomba saling mengalahkan melompat dari pohon ke pohon.
Aku tersentak, teringat Aceng yang sejak pagi tak kulihat batang hidungnya. Ke mana bocah nakal itu?
"Mak, Aceng mana?" tanyaku sedikit berteriak memanggil mak.
"Di rumah Puji, mau bikin beledogan katanya," sahut mak.
"Beledogan?" gumamku pelan. Setelah berpikir sebentar aku pamit pada mak ke rumah puji.
Rumahnya berada bersebrangan dengan rumah nenek. Dan rumah nenek berdiri di samping rumahku, tapi Puji tidur di rumah nenek setiap malam menemani nenek.
Benar saja, Aceng sedang berjongkok di hadapan paman yang tengah membuat beledogan.
Aku ikut duduk di tanah, mataku bergerilya mencari sosok Puji.
"Puji di mana, Mang?" tanyaku duduk dengan kaki yang tertekuk.
"Puji lagi ke warung," jawab paman tetap fokus pada bambu yang akan dijadikan beledogan.
Tak lama Puji datang dari warung, ia duduk di sampingku setelah memberikan apa yang dibelinya tadi pada bibi.
"Pak, punya Puji udah jadi?" tanyanya menatap paman yang sedang membuang setiap sekat dalam bambu menggunakan linggis dengan hati-hati.
"Udah, ini buat Aceng," jawab paman menunjuk pada sepotong bambu yang disandarkan di tembok rumah.
Puji beranjak mengambil bambu tersebut dan kembali duduk bersamaku. Paman dan bibi tidak mempunyai anak laki-laki. Oleh sebab itu, ia menaruh perhatian lebih pada Aceng. Mainan apa pun akan dibuatkannya.
Pistol dari batang daun pisang, pistol peletokan dari bambu, atau yang saat ini sedang dibuat beledogan.
"Nih, Ceng, udah jadi!" kata paman seraya memberikan bambu yang sudah disulap menjadi beledogan pada Aceng.
Dengan sumringah Aceng menerimanya, ia membolak-balik balik potongan bambu itu dengan saksama.
"Ada minyaknya gak?" tanya paman lagi. Aceng mengangguk. Ya ... kemarin dia meminta mak untuk membeli minyak tanah. Ternyata buat beledogan.
"Mainnya di sini aja nanti, jangan di depan. Sama Puji sama Teteh," ucap paman lagi. Aceng kembali mengangguk.
Dia meletakkan kembali beledogan itu di samping rumah paman. Ia mengajakku pulang karena sebentar lagi waktu ashar tiba.
__________*
Malam cepat sekali datang, waktu yang kami tunggu kedatangannya untuk memberi jatah makan pada cacing-cacing yang ikut berpuasa di siang hari.
Menunya masih sama, hanya ada nasi dan goreng terasi. Makan setelah shalat Maghrib. Aceng tak sabar menunggu datangnya waktu isya. Bibirnya sudah gatal ingin meniup api dalam lubang meriam bambu itu.
Dan ... waktu yang ditunggu pun tiba. Aceng segera berlari ke rumah paman usai melepas atribut shalatnya.
"Aceng mana?" tanya mak bingung. Ia hanya melihat sarung dan peci bocah nakal itu teronggok di depan televisi.
"Di rumah Mamang," jawabku seadanya. Mak menggeleng pelan, ia masuk ke rumah dan memunguti pakaian Aceng.
Tak lama,
Boom!
Suara ledakan yang bersahutan terdengar. Wah ... mereka mulai bermain tanpa aku. Gegas kulepas mukena dan meletakkannya di atas ranjang. Berlari keluar setelah pamit pada mak.
Ternyata, digaanku benar. Aceng sudah bersiap meniup api dalam lubang meriam itu. Aku segera bergabung bersama mereka.
Dengan sepotong bambu kecil digunakan untuk menyalakan api dalam lubang bambu yang berisi minyak tanah itu.
"Gantian!" kataku setelah Aceng meniup api tersebut.
Pyuh!
Boom!
Suara ledakan dari meriam bambu milikku dan Puji saling bersahutan dan akan beradu dengan milik anak lain.
Bermain beledogan atau meriam bambu ini jangan di depan rumah. Begitu kata paman. Jadi kami selalu bermain di samping rumah paman yang agak lapang karena di belakang rumah paman hanya ada lahan kosong milik nenek.
"Hati-hati, Ceng! nanti apinya balik ke muka. Niupnya jangan dari atas, tapi dari belakang. Nanti bulu mata kamu yang lentik sama alis yang tebal itu kebakar abis kaya temen teteh," ingatku padanya saat akan meniup api itu lagi.
"Iya, Teh," sahutnya seraya meniup api dalam lubang dengan kuat.
Saya yakin, permainan ini tak ada lagi yang memainkannya. Sudah lewat masanya. Katanya.
Aku yang haus bermaksud untuk pulang ke rumah mengambil air, tapi saat tiba di depan rumah Puji tak sengaja kulihat sebuah motor berhenti di depan mushola.
Aku memicing untuk memastikan siapa yang turun dari motor. Dibawah sorot lampu berwarna kuning milik mushola, kulihat dengan jelas siapa sosok yang baru saja turun dari ojek.
"Abah!" pekikku senang dengan senyum lebar. Itu abah. Abah pulang.
Namun, senyumku memudar saat sosoknya menoleh sambil tersenyum.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥