Gue Alana Pradipta. Kalau lu liat penampilan , gue yakin lu bakalan berpendapat gue cewek gak bener, preman dan cewek kasar. Gue maklum sih kenapa lu bisa mikir gitu.
Sampe hari gue ketemu malaikat kecil yang gue jamin bikin lu yang sekeras batu karang bisa leleh kayak es krim kepanasan.
Angel minta gue jadi ibu sambungnya.
Yang bikin gue binggung adalah gue sayang sama Angel tapi gak sama bapaknya. Belum lagi sosial ekonomi kita yang nge jomplang banget.
Apa siap Angel punya ibu sambung preman kayak gue gini? Terus pernikahan tanpa cinta sama Pak Ricard gimana? Masa iya ngabisin hidup gue sama orang yang gak gue cinta dan mencintai gue?
cover source : wallbox. ru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Semua orang sudah memulai sarapannya. Rupanya Richard sudah memberitahukan mereka bahwa kami akan sedikit terlambat.
"Eomma... " Angel sedang menikmati pancake nya. Angel duduk satu meja dengan oma dan aunty Jasmin.
"Halo sayang." gue mengecup pucuk kepala Angel. Sedang Richard mengacak rambut putrinya dengan gemas.
"Appa... " Angel merapikan rambutnya dibantu oleh mbak Lilis. Richard menarik kan kursi untuk gue.
"Kamu mau pesan apa, sayang?" Richard bahkan tidak lagi sungkan memanggil gue sayang di depan orang banyak.
"Apa saja."
"Dasar kampungan. Pasti gak biasa makan di hotel mewah." oma nya Angel berbisik sambil terus menyantap makanannya. Walaupun berbisik tapi gue masih bisa mendengarnya dengan jelas.
Gue memilih untuk tidak menjawab. Sebisa mungkin di pagi hari menghindari hal - hal yang bisa merusak mood.
Richard memesan bubur ayam untuk kami. Satu hal yang gue baru tahu belakangan bahwa Richard sangat menyukai masakan Indonesia.
"Appa kapan kita pulang?" tanya Angel dengan manja.
"Angel sudah ingin pulang?" Richard bertanya balik.
"Hu um. Angel mau main tea time sama eomma."
'Hari ini sayang." gue yang menjawab. Besok Angel sudah mulai sekolah, jadi gue dan Richard gak akan berlama - lama di hotel. Buat apa juga ngabisin puluhan juta kalau ada rumah.
"Status aja istri, ternyata kerjaannya gak jauh beda sama Lilis." sindiran terdengar lagi. Gue masih diam. Gue gak akan mempermalukan Richard disini.
Richard mengenggam tangan gue yang mengepal dibawah meja. Seolah tahu apa yang sedang gue rasakan. Bahkan iya mengecup pucuk kepala gue seolah menjawab sindiran oma nya Angel.
uwak dan Marlin langsung cek out setelah sarapan. Gue bergantian memeluk uwak dan Marlin. Rasanya berat meninggalkan rumah yang sudah gue tinggalin selama dua puluh tahun.
'Uwak mau bicara." uwak membawa gue menjauh dari kerumunan.
"Lan, mulai sekarang kamu harus hati - hati sama wanita itu." uwak menunjuk oma nya Angel dengan tatapan matanya.
"Kenapa, WA? uwak kenal?"
"Uwak gak bisa cerita sekarang. Yang pasti dia licik dan jahat. Jadi kamu harus waspada. Paham?"
"Iya, wak."
"Anak uwak." uwak memeluk gue. "Ibu kamu pasti bahagia liat kamu udah nikah."
"Kalau ada apa - apa hubungi, uwak." uwak melepas pelukannya. Gue mengangguk.
Kami kembali berjalan mendekati yang lain. Uwak menepuk pindah Richard, "Uwak titip Lana, Nak Richard. Tolong jaga dan perlakukan dia dengan baik."
"Tentu uwak."
Setelah mengantar uwak sampai lobi, gue, Richard dan Angel kembali ke kamar kami. Angel merapikan barang bawaannya tentu saja dibantu Mbak Lilis. Sedang gue merapikan koper gue dan Richard.
"Appa, aku mau bicara, boleh?" gue menutup koper Richard.
"Bicaralah sayang." gue hendak duduk disebelah Richard tapi Richard menarikku untuk duduk dipangkuannya. Gue duduk menyamping sambil melihat wajah tampan Richard. Manik matanya yang hitam, hidung mancung, rahang kokoh. Kadang wajah nya bisa tampak begitu serius tapi juga bisa sangat manis.
"Eemm Aku tidak bisa memasak. Jadi di rumah nanti jangan harap kamu bisa menikmati masakan buatan ku."
"Tidak masalah, sayang. Dirumah ada pelayan." jawabnya sambil terkekeh.
"Bolehkan aku tetap berjualan baju?"
"Tentu sayang. Lakukan apapun yang kamu suka. Aku tidak menikahimu untuk mengurungmu di rumah. Selama keluarga tetap nomor satu. Kamu juga harus mencapai mimpi - mimpimu." gue tersenyum mendengar penjelasan Richard. Ternyata menikah tidak seseram obrolan gue chat teman SMA gue.
Banyak dari mereka yang sudah menikah dilarang bekerja oleh suami. Mereka hanya berakhir didapur dan menjadi alat memproduksi anak. Kenapa gue bilang alat, karena setelah mereka punya anak, suaminya tidak ikut mengurusi anak.
Bagi suami mereka tugas mereka hanya mencari nafkah urusan pekerjaan rumah tangga dan anak adalah kewajiban istri.
"Terima kasih, appa."
"Berterima kasih lah yang benar sayang." Richard mencium gue lagi - lagi tanpa permisi.
"Appa... " gue bangun dari pangkuan Richard ketika merasakan ada yang mengeras dibawah sana.
"Satu kapli lagi sayang." pintanya seperti anak kecil yang meminta permen.
"Tidak. Tadi pagi sudah, semalam juga. Lagipula Angel menunggu kita appa." sambil berjalan gue menyeret koper kedekat pintu dan mengambil tas gue.
Richard menarik koper keluar kamar dengan wajah cemberut. Gue berjalan melewati Richard sambil tersenyum, gue seneng melihat wajah merajuk Richard. "Nanti malam, ya appa." gue berbisik sambil terus melenggang menuju kamar Angel.
Angel ternyata sudah siap. Gue mengandeng peri kecil gue dan turun ke lobi dengan Richard sedang koper kami sudah dibawa oleh room boy.
"Richard... " gue menoleh ke sumber suara. Seorang wanita cantik, sexy bak model mendekati Richard bahkan tidak sungkan memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri Richard. "Kamu disini?"
"Okey gaya salaman orang luar memang gitu." gue ngomong dalam hati.
"Iya, aku menginap sejak kemarin. Jessy kenalkan ini istri ku, Alana." Richard langsung memperkenalkan gue.
"Oh kamu sudah menikah. Kenapa aku tidak menerima undangan?" walaupun terlihat sedang bercanda tapi gue bisa melihat kekecewaan diwajah Jessy.
"Aku pikir kamu ada di Singapore."
Richard hanya berbincang sebentar dengan teman sekantor nya saat masih bekerja di Singapura. Angel merenggek minta pulang, gue liat Richard hanya sekedar menjaga sopan santun menemani Jessy berbincang. Sekarang kami sudah dalam perjalanan menuju rumah Richard.
Kasian Angel pengen ortu yg lengkap..