NovelToon NovelToon
Gravitasi Terbalik

Gravitasi Terbalik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Aarav Rafandra01

Saat si badboy jatuh cinta pada kebaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aarav Rafandra01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesalahpahaman

Aruna menatap kosong kearah Faisal yang semakin menjauh. Ia sadar kata kata nya terlalu berlebihan, tapi ia putuskan untuk tidak mengejar. Aruna mengambil salah satu buku ditumpukan tebalnya, sebuah buku tentang tata tertib dalam berperilaku. Aruna bergegas melangkah meninggalkan perpus.

Aruna melangkah dengan tergesa, tanpa memperhatikan sekitar.

Dibalik pintu perpustakaan, Faisal sedang menunggunya.

" ARUNA! " Teriak Faisal.

" Eh, Faisal. kirain aku kamu marah, terus pulang duluan."

" Mana bisa aku marah sama kamu, Na. Aku cuman ga nyaman didalem, makannya aku nunggu kamu diluar." Ucap Faisal sambil melangkah mendekat.

" Ehh iya, ini buku buat kamu. sengaja aku pinjem dari perpus, buat kamu pelajari." Aruna memberikan buku yang sedari tadi digenggamnya.

" Tata tertib dalam berperilaku? Buat apa? "

" Hidup itu mesti tau aturan, Sal. Aku bakalan bantu kamu buat berubah, tapi dengan cara aku." Ujar Aruna. " Aku suka anomali, kamu adalah hipotesis paling menarik yang pernah ku temui. Kamu mau kebebasan kan? Itu bagus. Tapi, aku mau kamu bisa lebih fokus sama satu hal, Tujuan."

Faisal mengernyit heran.

" Tujuan apa? "

Aruna menunjuk buku yang dipegang Faisal dengan sorot matanya. Faisal memperhatikan buku itu, membuka halaman demi halaman. Lalu menatap Aruna. Ia merasa bingung, terharu dan sedikit takut.

Bagi Faisal, Aruna bukan hanya menjadi seorang kekasih, melainkan ia adalah guru pembimbing yang paling jenius.

" Sebagai gantinya, kamu juga harus bantu aku keluar dari zona nyamanku. Selama ini aku terlalu terpaku pada angka dan buku, aku ingin lebih berani.... Kamu harus ngajarin aku sedikit kenalan yang aman."

Faisal tersenyum lebar, Ini tawaran yang jauh lebih menarik dari yang ia bayangkan.

" Kenakalan aman? Oke. Mulai sekarang, kita resmi menjadi tim. 'The Brain and the brawn' . Jadi pelajaran pertama kenakalanmu adalah..... Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu mau seseorang pergi meninggalkan perpustakaan? "

Aruna mengerutkan kening.

" Menyuruhnya pergi? "

" salah, " Faisal mengambil uang 5000 dari sakunya, berjalan cepat ke meja perpustakaan, dan meletakkan nya di meja. " Pak, saya lupa bawa buku. Ini denda saya."

Penjaga perpustakaan, Pak Irfan yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua, langsung tersentak.

" Faisal? Denda apa? Kau tidak meminjam buku!. "

Faisal mengambil salah satu buku di rak terdekat.

" Nah, sekarang saya pinjam, Pak. " Ia mengambil buku matematika paling tebal, dan membawanya pergi.

Faisal kembali menemui Aruna yang menunggu diluar pintu perpus.

" Kamu ngapain sih, Sal? " nadanya pelan seperti berbisik.

" Aku membayar denda sebelum meminjam, itu namanya antisipasi kenakalan. " Faisal menyeringai. " Sekarang , pak Irfan pasti lagi sibuk nyatet tanggal sama buku yang aku pinjem, perhatian dia bukan ke kita lagi. Pelajaran selesai. "

Faisal memasukkan buku matematika tebal itu kedalam tasnya.

Aruna menatap buku itu, Lalu mengalihkan pandangannya ke Faisal. Ekspresi heran diwajahnya dengan cepat digantikan oleh kilau penasaran.

" Ohhhh jadi kamu ngorbanin uang kamu buat ngalihin perhatiannya pak Irfan? Nakal banget sih kamu." Aruna tersenyum.

Mereka berdua duduk dibangku panjang dekat kantin, kini benar benar hanya berdua. Tak ada sorot mata yang mengintai.

Faisal harus mulai terbiasa dengan suasana perpustakaan, karena semakin lama ia menjalin hubungan dengan Aruna. Maka semakin sering juga ia mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan kini menjadi tempat mereka berlindung, Dimana sorot mata Aruna yang damai lebih mengguncang daripada peringatan keras dari guru BP manapun.

Perubahan dalam diri Faisal terasa sunyi, namun dampaknya cukup besar. Ia tidak langsung berhenti merokok, tapi ia berusaha mengurangi. Ia masih suka berkumpul di warung belakang, tapi sekarang ia lebih sering menghabiskan waktu istirahat di depan perpustakaan. Untuk memantau kekasih hatinya.

Namun, tidak semua orang setuju dengan perubahan baiknya.

Suatu sore di warung belakang sekolah tempat biasa ia berkumpul dengan teman teman geng nya.

" Lu kemana aja, Sal." ucap Yadi.

Faisal sedang asik memainkan ponselnya sambil menikmati satu batang rokok. Ia menatap Yadi dan beberapa anggota lainnya yang menatapnya dengan rasa ingin tahu.

" Ada, gue. Disekolah." Jawab Faisal dingin, kembali mengarahkan pandangannya pada ponsel.

" Disekolah? Betah Lu disekolah? , Lu sama sekali ga ada ngabarin kita, kenapa Lu berubah drastis kaya gini?" Tanya Yadi, nadanya penuh kekecewaan.

" kenapa emang? Biasanya juga gue ga ngabarin kan kalo mau kesini. Gausah ribet deh lu kaya yang baru kenal gue aja." balas Faisal.

" Ini bukan soal ribet, Sal. Tapi kayanya lu mulai ngelupain kita! " Nadanya meninggi.

" Lu sibuk ngurusin cewe kutu buku itu kan? Lu lemah, Sal. Dulu mana bisa lu dikendaliin sama cewe."

Mendengar nama Aruna disebut dengan kata yang menurut Faisal kurang pantas, Faisal langsung berdiri. Meletakan ponselnya, Suasana dimarkas menjadi tegang.

" Maksud lu apa ngomong gitu? Lu ga suka liat gue sama dia? " Ucap Faisal sambil mendorong Yadi.

Tatapan matanya tajam dan mengintimidasi. aura kenakalan yang selama ini dikagumi Yadi, kini diarahkan padanya.

" Dia sama sekali ga pernah nyuruh gue buat lupain kalian, dia cuman mau gue sadar, kalo ada hal yang lebih penting daripada sekedar nongkrong." Suara Faisal rendah, terkesan lebih berbahaya dari teriakan.

Yadi mundur selangkah, terkejut. " Jadi lu lebih milih dia daripada kita? Kita udah bareng bareng lama, Sal. Jauh sebelum lu kenal dia."

" Gue ga milih siapa siapa, gue cuman milih jalan yang buat gue lebih baik. Kalo emang kalian ga bisa Nerima perubahan gue, kalian boleh cabut. " Faisal menghela nafas, kekecewaan menggantikan amarahnya.

Yadi dan gengnya pergi meninggalkan Faisal.

" Suatu saat nanti, lu bakal nyesel, Sal. Udah ngebuang kita."

Faisal tertegun.

Hubungan Faisal dengan sahabat serta gengnya mulai retak, mereka pergi sore itu. Meninggalkan Faisal seorang diri di markas dengan udara sunyi yang dingin.

Besoknya, Faisal tak masuk sekolah. Ia menghabiskan waktunya seharian dimarkas, meratapi kejadian yang baru saja dia alami. Faisal merasa serba salah, ia tak bisa berfikir jernih. Dan hanya bisa melamun di teras warung sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!