Buat para readers, sebelum memberi komentar jelek, sebaiknya baca hingga akhir Bab supaya tahu cerita yang sebenarnya.
Season 1
Arzio Roland, Seorang pria berusia 38 tahun terpaksa menikahi seorang gadis ingusan berusia 18 tahun, Mayra. Pernikahan itu terpaksa ia lakukan hanya untuk mengubah imej dirinya yang sering disebut perjaka tua menjadi pria beristri.
Beda halnya dengan Mayra, ia terpaksa menyetujui pernikahan ini demi adiknya, Rio yang masih berusia 3 tahun. Ia ingin adiknya mendapatkan pendidikan yang bagus sama seperti perjanjian yang dilontarkan oleh Tuan Arzio Roland kepadanya.
Season 2
Arash Ibrahim yang mendadak menjadi suaminya Zaira Roland, anak gadis Arzio Roland dan Nyonya Humayra, ditinggalkan oleh calon suaminya dihari pernikahan mereka.
Arash sudah lima kali menikah namun masih perjaka di usianya yang sudah 38 tahun. Akan kah Arash dan Zaira bisa bersatu untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal bersama
Setelah perdebatan hari itu, Nyonya Arnetha tetap kekeh pada pendiriannya, ia tetap tidak merestui hubungan mereka.
Walau bagaimanapun ia menolak hubungan itu namun ia tidak berdaya mengusir Mayra begitu saja karena status Mayra adalah istri sah Arzio Roland.
Berbeda dengan Rachel yang hanya sebagai kekasihnya saat itu hingga dengan mudah Nyonya Arnetha menyingkirkannya.
Nyonya Arnetha memutuskan untuk tinggal bersama mereka. Ia tidak peduli dengan kemarahan suaminya, Tuan Javier Roland.
Tuan Javier Roland sering kali memperingati istrinya itu agar tidak ikut campur urusan rumah tangga anak mereka. Namun Nyonya Arnetha tidak peduli. Ia tetap memikirkan bagaimana caranya memisahkan kedua orang itu.
Sedangkan Mayra, sejak dia sudah bisa menerima kehadiran Tuan Zio, Tuan Zio mengajaknya untuk tidur bersama dikamar mewahnya.
Namun Mayra mempunyai syarat, ia tidak ingin terpisah dari Rio, adiknya. Dengan terpaksa, Tuan Zio membuatkan pintu diantara kamarnya dengan kamar kosong di sebelahnya. Kamar yang akan ditempati oleh Rio.
Dengan begitu Mayra dengan mudah mengawasi adiknya. Seperti malam ini setelah menidurkan adiknya, Mayra pun kembali ke kamar mereka.
Tuan Zio sudah menunggunya sambil bersandar di sandaran tempat tidurnya.
"Mayra, kemari lah..." ucap Tuan Zio sambil menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Mayra mendekati lelaki itu dan ikut bersandar disana.
"Bagaimana kabar bayiku?" tanya Tuan Zio sambil mengelus perut Mayra yang hampir memasuki bulan keenam.
"Coba Tuan rasakan..." Mayra meraih tangan Zio dan meletakkan ke perutnya yang mulai bergerak-gerak.
"Apakah itu bayiku yang sedang bergerak?" Tuan Zio dengan sangat antusias merasakan gerakan kecil di perut Mayra.
Mayra tersenyum ketika melihat Tuan Zio sangat senang mendapatkan tendangan pertama dari bayinya.
"Kau lihat, Mayra. Dia menendang ku lagi!" ucapnya sambil tertawa kecil.
"Tuan, Maafkan saya... Bolehkah saya bertanya sesuatu?" tanya Mayra
"Sttt... Mulai sekarang tolong jangan sebut aku dengan sebutan TUAN lagi dan berhenti berkata saya-anda, kau sekarang istri ku, Mayra. Bicara lah selayaknya sepasang suami istri. Aku ingin kau panggil dengan sebutan sayang, bagaimana??? " tanya Tuan Zio
Ia sempat berhenti bermain bersama bayinya namun setelah selesai bicara ia kembali fokus pada perut istrinya.
Mayra pun mengangguk pelan,
"Sekarang apa yang ingin kau tanyakan?"
"Ini tentang Nyonya Arnetha..." kata Mayra,
"Kenapa dengan Mommy? Apa dia menyakitimu?" tanya Zio, ia berhenti bermain dengan bayinya dan menatap Mayra dengan serius.
"Sebenarnya tidak tapi... aku takut Nyonya Arnetha akan mengusirku. Sepertinya dia sangat membenciku, Tuan Zio." kata Mayra
"Tuh kan, Tuan Zio lagi... Mayra, aku tak akan membiarkan dia menyakitimu. Tetaplah bersamaku, biar bagaimanapun dia mengelak kau tetap istri sah ku." ucap Zio sambil merengkuh tubuh Mayra
Mayra ingin sekali menyinggung masalah Rachel kepada suaminya itu. Namun ia takut, takut suaminya akan marah padanya.
"Kenapa terdiam? Apa masih ada yang ingin kau tanyakan? Tanyakan saja!" ucapnya
"Aku ingin bertanya tentang Rachel..." ucap Mayra dengan suara yang sangat pelan, ia takut suaminya yang pemarah itu mendadak emosi kalau nama wanita itu disebutkan.
Zio terkekeh, "Ada apa dengan Rachel? Apa kau kira aku akan marah jika kau menyinggung masalah Rachel? Mayra, terimakasih... karena dirimu aku dapat menghapus nama itu di hatiku secara perlahan-lahan. Sekarang hanya ada kamu dan bayi kita." ucapnya sambil memeluk tubuh Mayra
Mayra merasa lega, ternyata suaminya tidak memarahinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Rachel? Apa Nyonya Arnetha menyukainya?" tanya Mayra,
"Sama seperti dirimu, mommy juga tidak menyukai Rachel. mommy bilang dia pergi meninggalkan aku dan kembali kepada suaminya. Sebenarnya aku tidak yakin dengan penuturan mommy, namun aku tidak memiliki bukti kuat kalau mommy juga berperan atas kepergian Rachel saat itu." ucap Zio
"Bukankah kamu memiliki CCTV disetiap sudut rumah ini? tanya Mayra
"Saat itu aku belum memasangnya karena aku sangat yakin mommy tidak akan berbuat apa-apa kepada Rachel. Namun aku salah, tiba-tiba saja Rachel yang begitu semangat memperjuangkan cinta kami, pergi meninggalkan aku tanpa sebab. Sejak saat itu aku memutuskan untuk memasang CCTV dirumah ini."
Mayra terdiam, "Pantas saja Zio tidak mengetahui tentang kejadian itu, ternyata dia tidak memiliki CCTV saat itu." batin Mayra
"Ada apa Mayra sayang, kenapa kau terdiam?" tanya Tuan Zio
"Tidak apa-apa, sebaiknya kita tidur. Aku sudah lelah." kata Mayra
Zio tersenyum nakal, "Aku ingin melahap mu dulu sebelum kita tidur, bolehkan?!" kata lelaki itu sambil menggerayangi tubuhnya,
"Tidak...."
***
Keesokan paginya,
Setelah mandi dan berpakaian, Mayra segera menuju dapur. Walaupun Tuan Zio sudah melarangnya untuk bekerja namun Mayra sudah terbiasa dengan pekerjaannya.
Akhirnya dengan terpaksa Tuan Zio membiarkannya tapi dengan syarat Mayra tidak boleh terlalu lelah.
"Pagi, Bu..." sapa Mayra kepada Bi Inah.
"Pagi juga. Sayang!" sahut Bi Inah
Mayra langsung menyambar peralatan dapur dan memulai aktivitasnya seperti biasa. Disaat ia sedang memotong sayuran, tiba-tiba Nyonya Arnetha datang.
"Hei, Gadis kampung! buatkan aku kopi seperti biasa!" ucapnya dengan nada ketus.
"Baik, Nyonya." Mayra segera membuatkan minuman yang diminta oleh wanita itu.
Mayra menyerahkan kopi itu kepada Nyonya Arnetha dan wanita itu mulai menyeruputnya dengan perlahan.
"Sebenarnya berapa yang kau inginkan? sebutkan saja, aku akan membayarnya asalkan kau mau meninggalkan Zio." ucap Nyonya Arnetha tanpa menoleh sedikitpun pada Mayra.
"Aku tidak ingin apa-apa, Nyonya. Kebahagiaan ku ada disini, bersama Tuan Zio." ucap Mayra terbata-bata.
"Bersama Arzio atau kekayaannya?!" kata wanita itu
"Demi Tuhan, Nyonya! Aku tidak pernah menginginkan harta Tuan Zio." sahut Mayra lagi.
Tiba-tiba Zio sudah ada dibelakang Nyonya Arnetha,
"Ada apa lagi ini, Mom?!" tanya Zio
Nyonya Arnetha tidak menjawab namun ia memasang wajah jengahnya.
"Mayra kemarilah..." Zio meraih tangan Mayra dan membawanya kembali ke kamar mereka.
"Sekarang bersiaplah, kita jalan-jalan. Aku ingin membawa mu bersenang-senang." kata Zio sambil mengganti pakaiannya dengan pakaian kasual.
"Tapi, adikku..." Ucap Mayra
"Kita ajak dia sekalian!"
Mayra pun segera ke kamar Rio dan memakaikannya dengan pakaian bagus.
"Kita jalan-jalan, Sayang! Rio suka gak?" tanya Mayra
Si kecil Rio mengangguk, sekarang giliran Mayra yang bersiap. Setelah selesai, ia dan Rio segera menemui Tuan Zio.
Tuan Zio membelalakan matanya, ia lupa kalau ia sama sekali tidak pernah membelikan pakaian yang bagus untuk Mayra dan si kecil Rio.
"Baiklah, hari ini kita beli pakaian untuk kalian berdua. Maafkan aku, Mayra! Aku bahkan tidak memberikan mu pakaian yang layak." ucapnya sambil menghembuskan nafas panjang
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, kita bisa cari makan diluar daripada mendengarkan perkataan mommy yang begitu menyebalkan itu."