NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan rahasia di Koridor kampus

Hari Rabu pagi, suasana di area gerbang utama fakultas teknik tampak sangat ramai oleh hilir mudik mahasiswa tingkat akhir yang bersiap menghadapi perkuliahan semester ganjil yang akan dimulai secara resmi besok pagi.

Aku berjalan menyusuri koridor lantai dua gedung jurusan sistem informasi dengan langkah kaki yang terburu-buru, memeluk erat draf proposal skripsiku yang sudah rapi terjilid menggunakan sampul plastik mika berwarna hijau muda.

Hari ini adalah jadwal bimbingan resmiku yang pertama dengan Pak Arkan setelah kami kembali dari Jakarta kemarin sore.

Jantungku berdegup kencang tak karuan saat kakiku mulai mendekati pintu kayu bertuliskan nama lengkap Mas Arkan di depan ruangannya. Aku menarik napas dalam-dalam, merapikan letak kerah kemeja flanel kotak-kotak biruku yang agak miring sebelum akhirnya mengetuk pintu kayu tersebut perlahan.

Tok... Tok...

"Masuk," terdengar suara berat dan dingin yang sangat akrab dari dalam ruangan.

Aku memutar gagang pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan dosen yang ber-AC dingin itu dengan posisi tubuh yang sangat sopan dan formal. Di balik meja kerjanya yang rapi, Pak Arkan sedang duduk fokus menatap layar laptop MacBook-nya dengan kacamata bacanya yang terpasang sempurna di hidung mancungnya.

"Selamat pagi, Pak Arkan," sapaku dengan suara yang sangat resmi, memastikan tidak ada satu pun indikasi keakraban pribadi yang terdengar jika ada mahasiswa lain yang kebetulan lewat di depan pintu ruangannya yang sedikit terbuka.

Pak Arkan mendongak, menatapku lurus-lurus dengan ekspresi wajahnya yang kembali terlihat dingin, datar, dan kaku mode dosen killer-nya telah aktif seratus persen di area kampus ini.

"Selamat pagi, Karin. Silakan duduk dan serahkan draf revisi proposal skripsi kamu," jawabnya dingin dengan nada suara yang sangat teratur.

Aku segera menarik kursi kayu di hadapan mejanya dan duduk dengan sopan, lalu menyerahkan draf hijau mudaku yang kini sudah bersih dari coretan merah ke hadapannya.

Detik-detik berikutnya terasa sangat sunyi senyap. Pak Arkan membalik lembaran demi lembaran draf kertasku dengan gerakan jari-jemarinya yang sangat tenang. Matanya membaca baris demi baris tulisan latar belakang, rumusan masalah, dan bagan diagram alur databaseku yang baru dengan sangat teliti tanpa melewatkan satu karakter pun.

Dahinya yang berkerut dalam perlahan-lahan mulai mengendur. Sepasang matanya yang tajam melirik ke arahku dari balik kacamata bacanya dengan sorot mata yang menyiratkan rasa puas yang sangat mendalam atas hasil kerjaku kali ini.

"Revisi kamu kali ini sangat bagus, Karin. Penjelasan urgensi sistemnya sudah konkret, alur datanya juga sudah sangat rapi dan logis tanpa ada redundansi data lagi," puji Pak Arkan dengan nada suara yang datar namun jelas memberikan penghargaan atas usahaku. Ia mengambil pulpen hitamnya, lalu membubuhkan tanda tangan persetujuan bimbingannya di halaman pengesahan proposal skripsiku dengan gerakan tegas. "Saya setuju draf ini diajukan ke dewan penguji untuk dijadwalkan sidang proposal minggu depan."

Mendengar kalimatnya, dadaku rasanya seperti dipenuhi oleh kembang api yang meletup-letup bahagia luar biasa. "Beneran, Pak? Terima kasih banyak ya, Pak! Saya janji akan mempersiapkan presentasi sidangnya dengan sebaik mungkin!" ujarku bersemangat dengan senyuman lebar yang sangat manis mengembang di wajahku.

"Sama-sama. Itu memang sudah kewajiban kamu sebagai mahasiswi saya," sahut Pak Arkan tenang sembari menyerahkan kembali draf proposal hijau mudaku ke tanganku.

Namun, tepat saat jemariku menyentuh ujung kertas draf tersebut untuk menerimanya, ujung jari manis kanan Pak Arkan yang mengenakan cincin emas putih polos pernikahan kami tampak bersentuhan halus dengan jari manisku yang juga melingkar cincin yang sama persis di bawah lipatan kertas draf skripsi kami.

Sentuhan hangat yang tak sengaja itu membuat kami berdua seketika membeku di tempat duduk masing-masing selama beberapa detik penuh.

Aku menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata cokelat gelap milik Mas Arkan yang kini menatapku dengan getaran kehangatan yang sangat dalam di balik kacamata bacanya. Di ruangan dosen yang ber-AC dingin ini, di bawah papan nama akademisnya yang resmi, rahasia pernikahan kecil kami tersimpan rapat di antara sekat-sekat draf proposal skripsi yang menjadi saksi bisu awal mula perjalanan cinta kami yang manis di bawah satu atap yang sama.

"Silakan keluar dan persiapkan diri kamu dengan baik, Karin," bisik Mas Arkan dengan nada suara yang mendadak melunak sepenuhnya, sangat hangat khusus untukku sebelum ia kembali menatap layar laptopnya dengan wibawa dosennya yang kembali terjaga rapi.

"Baik, Pak Arkan. Selamat siang," sahutku sangat pelan dengan pipi yang memerah sempurna karena malu, lalu segera berbalik melangkah keluar dari ruangan kerjanya dengan hati yang diliputi oleh debaran kebahagiaan yang sangat luar biasa indah menyambut hari-hari baruku sebagai istri kontrak dari dosen killer kamar sebelahku itu sepanjang satu tahun ke depan.

Setelah menutup pintu ruangan Pak Arkan dengan sangat perlahan, aku berdiri mematung di koridor luar selama beberapa saat. Aku memeluk draf proposal skripsiku erat-erat di depan dada, mencoba menenangkan debaran jantungku yang masih berdetak liar. Sentuhan tidak sengaja di jari manis kami tadi rasanya masih menyisakan kehangatan yang menjalar hingga ke ujung kepalaku.

"Karin!"

Sebuah tepukan cukup keras di bahu kiriku sukses membuatku terlonjak kaget. Aku menoleh cepat dan mendapati sosok Dinda, sahabat dekatku satu jurusan, sedang menyengir lebar sambil membawa segelas es kopi susu.

"Ih, Dinda! Kebiasaan deh suka ngagetin!" gerutuku sambil mengusap dadaku yang masih berdegup kencang karena kaget bercampur gugup.

"Lagian kamu bengong aja di depan pintu ruangan Pak Arkan. Gimana bimbingannya? Masih dicoret-coret kejam pakai tinta merah legendaris itu?" tanya Dinda penasaran, matanya melirik draf hijau di pelukanku.

Aku buru-buru menyembunyikan tangan kananku yang memakai cincin pernikahan ke dalam saku kemeja flanelku agar tidak terlihat olehnya. "E-eh, nggak kok! Malah hari ini langsung di-acc sama Pak Arkan buat maju sidang minggu depan."

Mata Dinda seketika membelalak lebar. "Demi apa?! Pak Arkan sang pembantai draf mahasiswa langsung nge-acc proposal kamu sekali bimbingan setelah libur seminggu? Gila, kesambet angin apa ya itu dosen killer?"

"Mungkin beliau lagi senang aja hari ini," jawabku asal sambil tersenyum canggung, menahan diri setengah mati agar tidak keceplosan mengatakan bahwa alasan Pak Arkan sedang senang adalah karena kami baru saja pulang dari bulan madu singkat berkedok pernikahan kontrak di Jakarta.

"Wah, harus selamatan ini mah! Yuk, ke kantin bawah, kamu harus traktir aku es krim sebagai perayaan kelolosan draf maut ini!" ajak Dinda bersemangat sembari merangkul pundakku erat-aliran.

Aku hanya bisa pasrah pasrah ditarik oleh Dinda menyusuri tangga koridor menuju kantin. Namun, saat kami baru saja menuruni anak tangga pertama, aku sempat melirik kembali ke arah pintu ruangan Pak Arkan yang kini kembali tertutup rapat. Di balik pintu itu, ada suamiku yang sedang bekerja keras secara profesional, dan aku harus berjuang sama kerasnya agar bisa segera lulus dan mendampinginya tanpa ada beban akademis lagi di antara kami.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!