Lin tian seorang remaja yang tinggal bersama ayah nya seorang pemabuk. suatu hari tiba tiba ayah nya berbicara dan mengasih warisan keluarga untuk anak nya dapat berkultivasi. seperti pepatah mengatakan "di balik kekuatan hebat terdapat musuh yang kuat"
Mampu kah Lin Tian bertahan dari banyak nya musuh yang datang.
mari kita cari tau bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Puncak Tirani Kuno
Gemuruh dari ledakan energi Gu Wei membuat atmosfer di sekitar Panggung Nomor Tiga terasa mencekam. Aura hitam-merah yang pekat menyelimuti tubuhnya, memancarkan bau amis darah yang terbakar. Di atas kepalanya, sepasang cakar iblis api raksasa terus membesar, membelah udara dengan suara mendesis yang mengerikan. Gu Wei telah kehilangan akal sehatnya; yang tersisa di dalam benaknya hanyalah hasrat tunggal untuk melumatkan Lin Tian menjadi abu.
"Mati kau, keparat!"
Raungan Gu Wei terdengar menyerupai ringkik binatang buas. Dari ketinggian tiga meter di udara, dia menukik turun dengan kecepatan gila. Sepasang cakar iblis api hitam-merah itu mencakar ke bawah, menciptakan dua jalur robekan energi panas yang mengarah tepat ke ubun-ubun Lin Tian. Tekanan angin yang dihasilkan bahkan membuat lantai giok putih di sekeliling kaki Lin Tian mulai amblas sedalam beberapa sentimeter.
Di bawah panggung, puluhan ribu penonton menahan napas dengan wajah pucat. Serangan ini telah melampaui batas kemampuan rata-rata murid baru, bahkan setara dengan pukulan penuh seorang murid dalam yang berpengalaman. Beberapa kandidat yang memiliki mental lemah bahkan menutup mata mereka, tidak sanggup melihat akhir yang tragis dari sang pemilik Bakat Emas.
Namun, di hadapan badai penghancur tersebut, Lin Tian tidak mundur selangkah pun. Mata keemasannya menatap lurus ke arah cakar api yang menukik turun. Di dalam Dantiannya, pusaran esensi Fisik Suci Yang Terbalik berputar dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Aliran Qi emas murni meroket melewati meridian utamanya, merembes keluar melalui pori-pori kulitnya, dan bergelombang masuk ke dalam bilah pedang besar hitam miliknya.
WUNGGG—!
Pedang besar itu mengeluarkan suara dengungan bernada tinggi yang sangat pekat, seolah-olah besi tua itu memiliki nyawanya sendiri dan sedang bersorak menyambut pertempuran. Gurat-gurat pola perunggu kuno di lengan Lin Tian bersinar begitu terang hingga menembus kain jubah hitamnya yang robek, memancarkan tekanan kuno (Ancient Pressure) yang membuat pelindung batin di sekeliling arena bergetar hebat.
Ini adalah perpaduan antara kekuatan fisik mentah dari transformasi tulang perunggu tingkat sempurna dan kepadatan esensi Qi emas dewa.
"Teknik Pedang Tirani Sembilan Penjuru... Tebasan Kedua: Membalikkan Samudra!"
Lin Tian menghentakkan kaki kirinya ke lantai giok, memantapkan kuda-kudanya hingga tanah di bawahnya retak membentuk pola lingkaran sempurna. Dengan kedua tangan memegang erat gagang pedang besar, dia mengayunkan bilah logam berat itu dari bawah ke atas dalam gerakan melengkung yang sangat bertenaga.
BOOOMMMM!!!
Jika tebasan pertama Lin Tian menyerupai kapak yang membelah bumi, maka tebasan kedua ini layaknya naga air kuno yang mengamuk, membalikkan seluruh gelombang samudra ke langit. Sebuah riak energi berbentuk bulan sabit berwarna emas terang melesat naik, membawa tekanan atmosfer yang begitu masif hingga menghancurkan udara panas di sekitarnya dalam sekejap.
Dua kekuatan raksasa berbenturan di udara.
CRASHHH!
Suara hantaman yang dihasilkan begitu tajam, mirip dengan suara logam raksasa yang saling bergesekan. Namun, kekuatan gila dari Pil Pembakar Darah milik Gu Wei ternyata tidak mampu menahan beratnya tebasan tirani Lin Tian. Dalam hitungan satu kedipan mata, sepasang cakar iblis api hitam-merah yang tampaknya tak terkalahkan itu retak, hancur berkeping-keping menjadi percikan api yang langsung padam sebelum sempat menyentuh lantai.
"Tidaakkk—!"
Gu Wei menjerit histeris dari udara saat melihat tebasan emas itu dengan mudah menghancurkan serangan terakhirnya dan terus melesat ke arahnya. Riak energi emas itu menghantam dada Gu Wei dengan telak.
BANG!
Zirah Qi, pakaian sutra, dan seluruh pertahanan internal Gu Wei hancur total. Tubuhnya terlempar ke udara bagaikan layang-layang yang putus talinya, memuntahkan darah segar dalam jumlah besar yang membentuk kabut merah di udara, sebelum akhirnya jatuh berdentum keras di tengah arena.
BRUAK!
Gu Wei terkapar tak berdaya. Efek dari Pil Pembakar Darah langsung lenyap, menyisakan tubuhnya yang kurus, kering, dan dipenuhi luka robek akibat tekanan angin pedang Lin Tian. Meridian di sekujur tubuhnya telah terputus akibat penolakan energi, menjadikannya seorang cacat seutuhnya. Dia bahkan tidak memiliki kekuatan lagi untuk sekadar mengerang; matanya yang meredup menatap langit dengan tatapan kosong yang dipenuhi penyesalan terdalam.
Lin Tian perlahan menurunkan pedang besarnya, menyarungkannya kembali ke punggung dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan tugas sepele. Napasnya tetap teratur, dan aura emas di sekeliling tubuhnya perlahan menyusut kembali ke dalam Dantian.
Seluruh alun-alun terdiam dalam keheningan yang luar biasa panjang. Tiga puluh ribu orang membeku, tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara, bahkan desah napas pun terdengar samar. Mengalahkan seorang praktisi Ranah Pemurnian Meridian Level 3 yang menggunakan obat terlarang, sementara dirinya sendiri baru berada di Level 3 Pengumpulan Qi... Ini bukan lagi sekadar menjembatani perbedaan ranah. Ini adalah pembantaian mutlak yang menjungkirbalikkan seluruh hukum kultivasi Benua Azure!
"Pertarungan... selesai. Pemenang: Lin Tian!" Suara diaken penguji akhirnya terdengar, bergetar hebat dengan nada yang sarat akan rasa ngeri.
Di panggung utama, Tetua Mo Feng berdiri dengan mata berbinar-binar penuh kegilaan. "Luar biasa... Benar-benar luar biasa! Teknis pedang itu, kekuatan fisik itu... Anak ini adalah permata terbesar yang pernah ditemukan oleh Sekte Pedang Azure kita dalam seribu tahun terakhir!"
Namun, di sudut kursi undangan, Tetua dari Sekte Api Langit berdiri dengan wajah sehitam pantat kuali. Dia menatap tubuh cacat Gu Wei dengan jijik, lalu mengarahkan pandangannya yang dipenuhi niat membunuh yang sangat pekat ke arah Lin Tian. Namun, menyadari bahwa para Tetua Sekte Pedang Azure kini mengawasi Lin Tian bagaikan induk elang menjaga anaknya, dia hanya bisa mendengus kencang, mengibaskan jubah merahnya, dan pergi meninggalkan alun-alun dengan rasa malu yang luar biasa.
Lin Tian tidak memedulikan kepergian Tetua tersebut. Dia berdiri di tengah arena, menatap dingin ke arah kerumunan kandidat lainnya.
"Siapa lagi yang ingin maju?" Suara Lin Tian tenang, namun mengandung tekanan tirani yang membuat puluhan kandidat yang tersisa secara tidak sadar mundur satu langkah, tidak ada satu pun yang berani menatap matanya. Hari ini, Lin Tian telah mengukir namanya dengan darah dan kekuatan di Kota Azure Wood.
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉