NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Badai Sutra dan Hujan Jarum Cundamani

Angin di Dataran Tinggi Watu Tulis menderu kencang, menerbangkan debu tanah liat kemerahan yang menyelusup di antara celah-celah batu hitam.

Suara lenguhan gelisah tiga puluh gajah perang Blambangan kian menjadi-jadi, kontras dengan keheningan mutlak yang dibawa oleh derap kaki kuda hitam tunggangan Satria Pamungkas.

Dua kekuatan yang tidak seimbang kini berdiri berhadapan, hanya dipisahkan oleh hamparan tanah gersang sejauh seratus langkah.

Senopati Kebo Marcuet melangkah ke depan barisan gajahnya. Tubuhnya yang pendek kekar tampak seperti bongkahan batu hitam yang kokoh. Sepasang kapak raksasa bermata dua di kedua tangannya dihentakkan satu sama lain, menciptakan dentangan logam yang memekakkan telinga.

"Satria Pamungkas!" suara Kebo Marcuet parau dan berat, bergetar melintasi medan laga. "Kau pikir dengan membantai sekumpulan prajurit patroli dan memergoki dua senopati ceroboh, kau sudah bisa meruntuhkan Blambangan? Hari ini, barisan gajah selatan akan melumat tubuhmu hingga menyatu dengan tanah Watu Tulis!"

Di sampingnya, Senopati Menak Jingga tidak banyak bicara. Namun, Gada Kencana di tangan kanannya mulai berputar perlahan, memancarkan gelombang Prana kuning keemasan yang begitu padat hingga membuat batuan di bawah kakinya hancur menjadi debu halus. Sepasang matanya yang tajam mengunci sosok Dyah Sekar Ayu yang duduk di belakang Satria.

Satria menarik tali kekang kudanya, membuat hewan hitam besar itu berhenti tepat di tengah medan terbuka. Di bawah bayangan caping bambunya, sepasang mata hitam Satria menyapu barisan musuh dengan ketenangan yang menakutkan. Ia sama sekali tidak tergerak oleh jumlah pasukan lawan. Baginya, setiap kepala prajurit dan senopati di depannya adalah angka-angka digital yang siap dikonversi menjadi poin sistem.

"Kebo Marcuet, Menak Jingga," ucap Satria, suaranya pelan namun terdengar jelas oleh semua orang seolah-olah ia berbisik di telinga mereka. "Kalian berdua telah memilih untuk mati sebagai perisai dari rubah tua yang saat ini sedang berlutut di altar ghaib istananya. Pilihan yang sangat bodoh."

"Kurang ajar! Pasukan gajah, ratakan mereka!" raung Kebo Marcuet.

TEREEET!

Suara sangkakala perang ditiup dengan keras. Tiga puluh gajah perang raksasa berzirah lempengan baja langsung menghentak maju secara serentak. Tanah Dataran Tinggi Watu Tulis bergetar hebat bagai diguncang gempa bumi. Dari atas menara kayu di punggung gajah, ratusan pemanah elit Blambangan melepaskan anak panah mereka, menciptakan hujan panah berujung racun yang menggelapkan langit pagi.

Satria tidak bergerak sedikit pun dari atas pelana. Ia menatap ke langit dengan sangat tenang. "Sekar Ayu, bersihkan langit."

"Dimengerti," jawab Dyah Sekar Ayu dengan suara merdu namun sedingin es.

Sang putri melompat dari belakang pelana kuda dengan gerakan anggun yang melanggar hukum gravitasi fana. Tubuhnya melayang di udara setinggi sepuluh meter. Jari manis tangan kanannya berkilat terang oleh energi murni dari Cincin Intan Segoro Muncar, mengirimkan pasokan Prana masif ke dalam pembuluh darahnya.

Mantra Cundamani: Hujan Jarum Jiwa Suci!

Sekar Ayu mengayunkan selendang sutra hijaunya ke arah depan dalam gerakan melingkar yang cepat. Seketika, aura putih keemasan dari Darah Suci Dewi Sri meledak dari tubuhnya, termaterialisasi menjadi ribuan jarum cahaya yang berkilauan bagai bintang jatuh.

Wush! Wush! Wush!

Ribuan jarum cahaya itu melesat ke atas, menabrak hujan anak panah musuh hingga hancur menjadi abu di udara. Tidak berhenti sampai di situ, sisa jarum cahaya yang jumlahnya masih sangat banyak itu menukik tajam ke arah menara-menara kayu di atas punggung gajah perang.

Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!

Jerit kematian langsung pecah seketika. Jarum-jarum ghaib tersebut menembus zirah kulit para pemanah elit Blambangan dengan sangat mudah, memutus urat nadi dan membakar pembuluh Prana mereka dari dalam. Hanya dalam satu gerakan, seluruh pemanah di atas punggung gajah perang tewas bersimbah darah, jatuh berdebam ke tanah seperti karung beras yang robek.

[Bip! Heroine Dyah Sekar Ayu membantai unit pemanah elit Blambangan (120 Prajurit).]

[Memicu akumulasi Harem Feedback Loop!]

[Mendapatkan: 6.000 Poin Sistem.]

"Apa?! Mantra macam apa itu?!" Kebo Marcuet terbelalak melihat seluruh pasukan pemanahnya musnah dalam hitungan detik oleh tangan seorang wanita. Namun, gajah-gajah perang di belakangnya sudah terlanjur melaju dengan kecepatan penuh, bersiap menginjak tubuh Satria yang masih duduk diam di atas kuda.

Satria menatap barisan gajah berzirah baja yang berjarak kurang dari dua puluh langkah darinya. Tangannya bergerak ke belakang punggung, mencengkeram gagang Pedang Bintang Tujuh Kedewaan.

Sreeeng!

Bilah hitam legam pedang ghaib itu ditarik keluar dari sarungnya. Tujuh permata rasi bintang menyala serentak dengan cahaya perak yang menyilaukan, memancarkan hawa mematikan yang langsung membekukan kehangatan udara pagi di dataran tinggi tersebut.

"Ajian Pedang Pembelah Lautan... Tebasan Kedua: Riak Samudra Ghaib!"

Satria tidak melompat. Ia hanya mengayunkan pedangnya secara horizontal dari atas kuda dengan satu tangan—seberkas gelombang cahaya biru keputihan berbentuk bulan sabit raksasa melesat maju, menyusur permukaan tanah dengan suara menderu yang mengerikan bagai ombak samudra yang mengamuk menabrak karang.

TEBAS!

Gelombang cahaya Prana itu menghantam barisan depan gajah perang berzirah baja. Zirah lempengan baja setebal satu jengkal yang membungkus dada hewan-hewan raksasa itu terpotong menjadi dua bagian yang sangat rapi, disusul oleh kaki-kaki kokoh mereka yang terputus serentak.

Lima belas ekor gajah di barisan depan roboh dengan tragis, menyemburkan darah hitam yang membanjiri tanah merah Watu Tulis sebelum mereka sempat melenguh kesakitan.

Gelombang kejut dari tebasan itu terus melaju, menghancurkan sisa gajah perang di belakangnya hingga barisan pertahanan selatan Blambangan yang legendaris itu hancur berantakan menjadi tumpukan daging dan logam yang tak berbentuk lagi.

[Bip! Anda telah menghancurkan Barisan Gajah Perang Selatan Blambangan.]

[Memicu efek: Intimidasi Mutlak Skala Besar!]

[Mendapatkan: 15.000 Poin Sistem.]

[Saldo Poin saat ini: 24.000 Poin.]

Satria melompat turun dari atas kudanya yang kini berjalan mundur karena ketakutan melihat pembantaian di depannya. Pedang Bintang Tujuh Kedewaan di tangan kanannya diturunkan condong ke tanah, tetesan darah segar mengalir perlahan di sepanjang bilah hitamnya.

Di bawah perlindungan caping bambu, matanya yang sedingin es kini mengunci sosok Kebo Marcuet dan Menak Jingga yang berdiri gemetaran di tengah kabut darah yang mengepul dari jasad gajah-gajah mereka.

"Sekarang," bisik Satria, suaranya membelah keheningan medan perang yang kini hanya dipenuhi oleh sisa-sisa erangan kematian. "Siapa di antara kalian berdua yang ingin maju terlebih dahulu untuk menyatukan kepala kalian dengan tanah ini?"

Mendengar pertanyaan itu, Kebo Marcuet merasakan bulu kuduknya meremang hebat. Sifat sombongnya runtuh total digantikan oleh kengerian instingtual ghaib yang mendalam.

Namun, Menak Jingga di sampingnya justru menggertak gigi hingga berdarah, aura kuning dari Gada Kencana miliknya meledak dalam keputusasaan puncak.

"Bajingan cilik! Jangan kira kau sudah menang!" raung Menak Jingga, bersiap melesatkan serangan pamungkasnya demi mempertahankan sisa harga diri kadipaten Blambangan.

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!