Menikahi Majikan Ibu — Season 2
Genre : Komedi Romantis
Perjalanan rumah tangga Barata Wirayudha, pemilik BW Group yang menikahi putri dari pembantunya sendiri, Bella Cantika.
Perbedaan umur, latar belakang dan karakter membuat rumah tangga keduanya menjadi berwarna.
Bara yang temperamen, arogan dan mudah terpancing emosi, tetapi ia seorang yang penyayang keluarga dan daddy terbaik untuk putra-putrinya.
Bella yang lemah lembut dan dewasa, terkadang suka ketus pada suaminya berusaha menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya di usia yang masih muda.
Keduanya tidak romantis tetapi bercita -cita memiliki kehidupan rumah tangga yang romantis. Apakah rumah tangga mereka tetap berjalan mulus di tengah perbedaan?
Ikuti kisah rumah tangga Bara dan Bella bersama putra putrinya, Rania Wirayudha, Issabell Wirayudha dan The Real Wirayudha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Kunjungan Kailla
Kamar perawatan Bella ramai dengan riuh rendah suara anak-anak dan para orang tua mengobrol. Dua hari dirawat di rumah sakit, bella mulai merasa bosan dan merindukan kehangatan rumah. Namun dia tidak bisa berbuat banyak, Bara bersikeras agar ia tetap dirawat di rumah sakit sampai kondisinya membaik. Beberapa luka lecet di kaki dan tangannya mulai mengering. Kandungannya pun sejauh ini baik-baik saja.
Real tampak sibuk dengan mainan sedang diasuh Rikka di pojok kamar perawatan. Caca sibuk mengerjakan pekerjaan rumah dibantu Bara yang memilih cuti agar bisa menemani Bella. Rania, anak sulung Bara itu belum pulang sekolah, meskipun waktu sudah menunjukan pukul tiga sore. Ada tugas kelompok, begitu alasannya pada kedua orang tuanya. Opa Oma Rania masih setia menunggu ditemani Ibu Rosma dan Mama Dian. Keempatnya mengobrol sepanjang hari.
“Mas, Kailla mau ke sini,” Bella yang duduk bersandar di atas brankar bersuara setelah sejak tadi sibuk bertukar cerita dengan sahabatnya itu melalui whattsApp.
“Hah? Sekarang, Bell?” Bara mengangkat pandangannya. Ngeri tercetak jelas di raut wajah Bara. Terbayang kekacauan seperti apa yang akan terjadi saat Kailla bertandang di tengah keriuhan keluarga mereka. Pria tampan dengan pakaian santai itu duduk di lantai kamar menemabi Issabell yang juga duduk membungkuk di lantai mengerjakan PR-nya.
Seperti permintaan Bella, ia ingin anak-anak tetap bersamanya selama ia dirawat. Sehingga semua putra-putrinya berkumpul di kamar perawatan sepanjang hari, baru kembali ke rumah saat malam tiba.
“Nanti malam. Kailla ke sini bersama Om Pram. Jadi menunggu suaminya pulang kerja dulu” Bella menjelaskan.
"Oh, syukurlah. Dia datang bersama pawangnya. Aku tidak bisa membayangkan kalau tidak ada Pram," ucap Bara pelan sembari menghela napas penuh kelegaan.
***
Selepas magrib, kamar perawatan Bella terasa sepi kembali. Anak-anak sudah pulang, tertinggal Bara yang memang bermalam di rumah sakit menemani istrinya.
“Bell, apa kamu tidak curiga dengan Kakak?” tanya Bara membuka pembicaraan. Pria itu memilih duduk di atas brankar sambil menyuapi Bella menghabiskan makan malamnya.
“Memang kenapa dengan Kakak, Mas?” tanya Bella.
“Entahlah, aku merasa ada yang tidak beres dengan Kakak. Tolong diperhatikan, Bell. Kamu mommy-nya. Dia dekat denganmu. Tolong awasi dia. Kakak sedang di umur ya ... kamu pasti paham maksudku, Bell. Aku ingin anak itu menyelesaikan pendidikannya dan bergabung di perusahaan.”
“Ya, Mas. Nanti aku lebih perhatian lagi.”
Bara kembali menyodorkan sesendok nasi dan lauk.
“Sudah, Mas. Aku sudah kenyang.” Bella meminta Bara menyudahi.
“Sudah kenyang?” tanya Bara memastikan. Tangannya masih memegang sendok berisi nasi dan lauk.
“Ya ....” Bella mengangguk.
“Ya sudah.” Bara tersenyum sebelum menyuapkan sendok terakhir ke dalam mulutnya sendiri.
Meletakan piring ke atas nakas, Bara berganti meraih segelas air putih dan menyerahkannya pada sang istri. Pengalaman kedua kalinya menghadapi kehamilan Bella, Bara jauh lebih luwes dan pintar merawat istrinya. Tiga tahun lebih hidup bersama, tentu saja banyak hal yang membuatnya mengerti semua kemauan sang istri. Belajar menurunkan ego dan sikap kerasnya, meski tidak jarang Bella juga harus mengalah padanya.
Ini adalah seni berumah tangga yang dulu tidak dialaminya saat bersama mantan istrinya Brenda. Sama-sama masih muda, membuat mereka dulu berebut mempertahankan ego. Berebut menjadi yang paling benar dan mencari kesalahan yang lainnya. Berjuang menjadi pemenang, meskipun harus mengorbankan keutuhan rumah tangganya.
Bersama Bella, ia baru mengerti. Berumah tangga bukan semata-mata siapa yang menang atau siapa yang kalah. Bukan juga siapa yang benar atau siapa yang salah. Siapa yang bisa mengalah dan berani mengakui kesalahan. Siapa yang sanggup bertahan di tengah perbedaan pendapat. Itulah pemenangnya. Sekarang ia dan Bella hanya berjuang untuk mempertahankan apa yang sudah menyatu.
Masalah? Tentu saja ada. Gangguan kecil maupun besar datang silih berganti dari dalam atau luar. Membuat gesekan, perbedaan pendapat sampai pertengkaran di antara keduanya. Namun, perjuangan mereka selama ini, anak-anak dan komitmen membuat mereka memutuskan untuk berada di jalan yang sama.
“Bell, jam berapa Kai ....” Bara tidak menyelesaikan kalimatnya, suara pintu terbuka mengalihkan perhatian pria itu. Tak lama suara berisik Kailla sudah menggema seisi kamar perawatan. Yang membuat Bara kesal adalah kehadiran Ricko yang juga ikut masuk ke dalam kamar sembari menenteng kado dan rangkaian bunga raksasa.
"Boo, selamat ya. Sudah hamil lagi." Kailla menghambur ke arah brankar dan memeluk Bella. Bahkan ia mengabaikan musuh bebuyutannya.
"Aku tidak menyangka kamu begini luar biasa. Selamat, ya." Kailla kembali memeluk Bella dengan erat.
"Sudah-sudah, Kai. Anakku baru berusia enam minggu. Nanti terjepit karena pelukan kencangmu. Bayiku belum bisa protes. Aku sebagai ayahnya mewakili." Bara mulai protes.
“Kamu tidak mengucapkan selamat padaku. Ini hasil kerja kerasku, Kai,” lanjut Bara.
“Yang hamil itu, Bella. Tanpa Bella, kerja keras Om itu sia-sia,” ledek Kailla membuat Bara mati kutu. Sejak dulu keduanya berdebat tidak tahu tempat.
"Congrats, Bar." Pram berjalan mendekat dan memeluk sahabat sekaligus rekan bisnisnya itu.
"Wih! Sudah dua. Aku satu saja belum." Pram terbahak sembari menatap Kailla. Ia tahu jelas selama ini Kailla berjuang untuk bisa hamil. Bahkan menggunakan segala cara. Hanya saja ia menolak, sebelum mendapatkan restu dari mama kandungnya. Kailla keguguran empat tahun lalu, peristiwa itu masih membekas.
"Aku dengar istrimu kecelakaan, Bar?" tanya Pram.
"Ya, terserempet motor. Bersyukur ... kandungannya baik-baik saja."
"Boo, kamu sudah ada rencana mengidam? Sewaktu hamil Real sepertinya kamu belum mengidam dengan maksimal. Mulai dari sekarang, kamu harus membuat catatannya. Apa perlu aku catat untukmu?" tawar Kailla usil. Ekor matanya melirik ke arah Bara.
"Pohon mangga di lapangan dekat komplek sudah mulai berbunga, Boo." Kailla tertawa saat mengingatkan sahabatnya. Teringat saat hamil Real, Bara terjatuh dari pohon mangga.
"Sayang, tahun ini kalau mangga belum berbuah ... minta Daddy-mu main perosotan di pohon mangga. Melorot dari atas sampai ke bawah," lanjut Kailla, mengusap perut Bella berbicara pada si jabang bayi. Ia sudah ingin tertawa, tetapi takut diomeli Pram karena mengerjai Bara.
"Astaga! Anak nakal ini sengaja meledekku. Coba saja nanti saat dia hamil," gerutu Bara dalam hati.
"Anak kecil jangan mengajari orang dewasa. Umur Bella boleh lebih kecil darimu, tetapi anaknya sudah hampir empat. Sebaiknya kamu diam saja, Kai," cerocos Bara. Sejak tadi, ia mengikuti pergerakan Ricko. Anak muda itu diam-diam mencuri menatap istrinya.
Kailla tersenyum licik saat mendapati Bara yang mengamati asistennya. Tercetus ide konyol untuk mengerjai suami sahabatnya itu. Di saat seperti ini, Bara tidak akan berani melarang. Kehadiran Pram membuatnya berada di atas angin.
"Rick, ayo ke sini. Kamu tidak mengucapkan selamat pada Bella. Bukannya kalian sahabat? Ayo sini."
"Kurang ajar! Dia sengaja membuatku cemburu!" gerutu Bara dalam hati.
Menahan kesal. Bara terpaksa mengalah. Kalau tidak ada Pram bersama mereka, sudah dipastikan Ricko tinggal nama, apalagi ia melihat sendiri Ricko yang menyalami istrinya sebelum berpamitan keluar.
Selepas kepergian Ricko, Bara memilih mengobrol dengan Pram. Membahas masalah pekerjaan dan proyek. Bella sendiri lebih banyak mengobrol dengan Kailla, membahas gosip yang sedang hits dan pria tampan yang sedang viral.
***
Tiga hari berada di rumah sakit, akhirnya Bella diizinkan pulang ke rumah. Hari itu, tampak Rikka dan mamanya sedang bersiap hendak pulang ke Surabaya. Mereka sudah bertemu dengan Rissa, sudah tidak ada alasan lagi untuk bertahan di Jakarta.
"Mommy ... Onty jangan puyang," rengek Real menarik gaun biru Bella. Wajahnya begitu menyedihkan saat melihat Rikka memasukan barang-barang ke dalam koper.
"Jangan begini. Nanti Onty datang lagi. Sekarang Onty harus pulang," bujuk Bella.
"Mommy ...."
***
TBC
bacaan ringan disaat wsktu luang
hiburan bukan bacaan spiritual 🙏🙏🤭
pemahaman rumahtangga bara pasca penghianatan brenda sang mantan istri membuat ruang bella terbatas. kalau bara suamiku sudah ku tukar tambah