NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Putih

Pendekar Elang Putih

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Kultivasi / Wuxia / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:5.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adi Kusma

Terlahir dengan bakat bela diri di atas rata-rata. Membuat Mahesa menjadi pendekar dengan kemampuan olah kanuragan tak tertandingi diusia yang masih sangat muda.

Pembunuhan, fitnah, dan kekacauan terjadi di dunia persilatan. Menggerakkan hati Mahesa untuk mencari titik terang.

Hidup di antara daerah yang saling berperang, dengan asal usul yang belum jelas. Menempatkan Mahesa pada posisi yang sulit. Dia adalah pendekar dari Utara yang berdarah Selatan.

Mampukah Mahesa menciptakan perdamaian antara Utara dan Selatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adi Kusma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Padepokan Inti Naga

"Selama Tuan Muda sakit. Hampir setiap hari saya mengunjungi perpustakaan - perpustakaan besar yang ada di kota Tanjung Dalam. Maaf, Tuan Muda. Saya terpaksa mencari informasi lebih dalam mengenai Ilmu Tapak Naga Terbang. Ilmu yang Tuan Muda miliki. Menurut pemikiran saya, karena ilmu itu sehingga Tuan Muda begitu dimusuhi di tanah selatan ini. Ilmu Tapak Naga Terbang merupakan ilmu yang langka, banyak tokoh persilatan yang melarang mempelajari ilmu itu."

Mahesa menggaruk kepalanya. "Bagaimana kau bisa begitu yakin?"

"Ilmu Tapak Naga Terbang adalah ilmu milik Pendekar Naga Suci yang pernah menghancurkan Pulau Tengkorak ini. Saya menemukan beberapa catatan penting. Silahkan Tuan Muda." Puspita menyerahkan beberapa catatan yang berhubungan dengan Ilmu Tapak Naga Terbang. Catatan itu di kutip dari berbagai sumber, berasal dari buku-buku resmi terpercaya yang Puspita temukan di perpustakaan kota Tanjung Dalam.

Mahesa menyipitkan matanya saat membaca catatan Puspita.

Secara garis besar, Catatan itu tidak salah. Kemungkinan besar pemilik tulisan sudah pernah mempelajari Ilmu Tapak Naga.

Pada masanya, Ilmu Tapak Naga merupakan ilmu kebanggaan Padepokan Inti Naga. Satu Padepokan yang bertempat di timur Kota Lama. Saat itu, Kota Lama merupakan kota terbesar di wilayah Pulau Tengkorak. Tapi semenjak kejadian di Lembah Tengkorak, Kota Lama hancur dan berubah jadi kota terkecil dan termiskin. Kota Tanjung Dalam menjadi kota terbesar diikuti Kota Pungguk Lalang (pelabuhan).

Sejak saat itu, Ilmu Tapak Naga Terbang dilarang untuk dipelajari. Karena Ilmu tersebut telah menyebabkan kehancuran besar di Pulau Tengkorak.

Belakangan, diketahui telah muncul beberapa tokoh yang kembali memiliki Ilmu Tapak Naga. Akan tetapi, kekuatannya berbeda dengan Ilmu masa lalu. Meski masih banyak pro dan kontra yang terjadi di dunia persilatan Pulau Tengkorak, secara tidak langsung, ilmu Tapak Naga sudah mulai kembali diakui.

"Yang membuat perbedaan, Ilmu Tapak Naga Terbang hanya bisa di kuasai oleh keturunan langsung dari Padepokan Inti Naga." Puspita membantu menjelaskan. Dia bisa memaklumi jika Mahesa sulit untuk menerima. Sebab, berhubungan dengan dirinya. Jelas Mahesa berasal dari Utara dan menguasai Jurus Naga Terbang, tentu catatan itu sulit untuk dipercaya.

"Puspita, kau banyak mengetahui mengenai Pendekar Utara. Apa catatan Pendekar Selatan ini bertentangan?" kejar Mahesa.

Puspita Dewi menyerahkan beberapa catatan lain. Catatan singkat mengenai tokoh - tokoh persilatan ternama dari Utara. Termasuk asal - usul Ilmu Kanuragan yang mereka miliki. Dalam catatan, memang ada Pendekar yang memiliki Ilmu Tapak Naga. Tapi, itu ilmu tapak secara umum. Sangat jauh berbeda dengan Ilmu Tapak Naga Terbang, apalagi Ilmu Sepuluh Tapak Penahluk Naga. Benarkah Ilmu Sepuluh Tapak Penahluk Naga hanya bisa dikuasai oleh pendekar keturunan asli Padepokan Inti Naga? Lalu bagaimana bisa Mahesa bisa menguasai ilmu legenda itu?

"Apa Ayah adalah keturunan dari Padepokan Inti Naga? Tunggu ... Tunggu ... Bukankah Pendekar yang menghancurkan Pulau Tengkorak 25 tahun silam adalah pendekar dengan Ilmu Tapak Penahluk Naga? Dan si wanita merupakan ahli pedang. Mungkinkah itu Ayah dan Ibu? Ah, tidak. Tidak!! Itu tidak mungkin. Tidak mungkin ayah dan ibu sekejam itu."

"Tidak mungkin !!! Tidak mungkin !!!" Mahesa berteriak. Nafasnya naik - turun tidak teratur. Kertas catatan ditangannya bergetar.

"Tuan Muda, ada apa? Apa ada yang salah dengan catatan itu?" Puspita jadi panik. Tiba-tiba saja raut wajah Mahesa kembali jadi sangat kusut. Padahal, Puspita merasa menyusun catatan dengan baik, berusaha untuk tidak menyinggung pemilik Ilmu Tapak Naga. Dia hanya menuliskan rincian ilmu secara umum, tanpa menjurus pada hal yang bersifat menjelekkan.

Mahesa berusaha menguasai diri. Dia tidak mungkin menyalahkan Ayah dan Ibunya. Benar, orang tuanya memang tidak pernah bercerita asal-usul mereka. Entoh, selama ini Mahesa tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Sekarang, saat menemukan masalah, tidak mungkin dia harus meminta penjelasan dari Ayah dan Ibunya. Ini adalah masalahnya pribadi. Bahkan kalau bisa, Ayah dan Ibunya jangan sampai tahu. Mahesa sudah besar, tidak seharusnya membebani orang tua.

"Tidak, tidak ada apa-apa. Saya baik-baik saja." Mahesa mencoba memasang senyum. Namun wajahnya jelas tidak bisa berbohong.

"Tuan Muda, maaf. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan Anda. Saya ..."

"Tidak. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirimu." Mahesa menggoyangkan tangan sambil menggelengkan kepala.

Mahesa merasakan tubuhnya lemas. Seluruh sendi jadi terasa nyeri. Puspita jadi serba salah. Dia sama sekali tidak mengetahui perihal apa yang mendadak menimpa majikannya. Sehingga, kondisi Mahesa semakin memburuk. Tatapan matanya pun menjadi kosong.

"Tuan Muda, apa yang terjadi?" Puspita hampir menangis. Gadis itu nampak serba salah melihat majikannya mendadak shok berat.

"Tuan Muda ...." Puspita mendekatkan dirinya. Dengan memberikan diri, dia memeluk Mahesa.

Satu pelukan yang membuat Mahesa merasa lebih tenang. Pemuda itu membenamkan wajahnya di dada Puspita yang semakin erat memeluknya.

Tidak ada yang menghitung waktu, hingga berapa lama mereka berdiam diri tidak ada yang tahu. Pohon dan ranting, mereka seakan mengalihkan pandangan ke tempat lain. Tidak ikut campur.

"Jika benar, saya berasal dari selatan. Lalu mengapa, Pendekar Selatan begitu ingin mencelakai saya?" Mahesa berkata lirih ketika mulai bisa menguasai diri. Dia nampak begitu tertekan.

Puspita merenggangkan pelukannya. Dia membiarkan kala Mahesa membaringkan kepalanya di pangkuan.

"Tuan Muda, saya yakin. Utara dan Selatan itu sama. Ada orang baik, juga banyak orang jahat. Orang tua Anda berusaha untuk membuka mata Anda. Melihat dengan mata Selatan di dalam Utara. Jangan Tuan Muda berfikir, bawa Tuan dijadikan alat untuk balas dendam. Saya yakin, alasan mereka sangat mulia."

"Mempunyai seseorang seperti mu, adalah karunia terbesar dalam hidup saya. Terimakasih banyak atas kesetiaan mu selama ini. Suatu kebodohan jika saya sampai melepaskan dirimu." Mahesa menatap Puspita penuh makna.

"Kau berlapang dada, menerima perlakuan orang tua yang menelantarkan dirimu sejak bayi. Kau memaafkan orang yang menindas masa kecil mu. Kau bisa melakukan semuanya dengan ikhlas. Sungguh, semua itu membuat saya salut. Saya harus banyak belajar dari dirimu. Meski usiamu muda, kau sangat luar biasa."

"Tuan Muda,,, apa yang sebenarnya terjadi?" Puspita kembali bertanya. Dia semakin tidak mengerti.

"Tolong jangan tanyakan itu sekarang. Saya perlu lebih banyak waktu untuk mencerna semua ini." Pinta Mahesa. "Padepokan Inti Naga. Kita harus selidiki lebih jauh Padepokan itu."

"Tuan Muda, saya hanya akan mengikuti apa yang Anda anggap baik." Puspita tersenyum manis sambil membelai wajah Mahesa.

"Tidak. Itu tidak bijak. Saya sangat perlu bimbingan dan masukan dari mu. Kita akan melakukan ini bersama. Saya dan dirimu. Kita." Mahesa mengangkat jari kelingking nya ke arah Puspita.

Dengan tawa kecil, Puspita menyambut dengan jari kelingking miliknya.

"Janji!!!"

"Janji."

Keduanya tertawa. Mahesa tidak segera bangkit dari pangkuan Puspita. Dia memilih menikmati kenyamanan itu lebih lama. Selama yang dia mampu.

°°

Suasana Kota Tanjung Dalam sangat ramai. Banyak bangunan-bangunan  besar berdiri. Aktivitas pasar pun tidak berhenti hingga malam menjelang.

Mahesa dan Puspita menginap di satu penginapan berukuran besar yang berada di tengah kota. Dengan menjual beberapa sumber daya berharga dan langka, Mahesa memperoleh cukup banyak uang. Hingga cukup untuk hidup beberapa bulan dengan mewah.

Seorang Pendekar besar seperti Mahesa, tidak akan mendapat kesulitan hidup dimanapun, jika berkaitan dengan masalah keuangan. Memiliki kemampuan ilmu tenaga dalam yang sangat tinggi, Mahesa dengan mudah mendapatkan sumber daya yang harganya mahal. Sementara, sumber daya sangat diburu oleh setiap pendekar. Singkat kata, uang akan datang sendiri.

"Tuan Muda, kapan kita akan pergi ke Padepokan Inti Naga?" tanya Puspita sambil membenahi mangkuk kotor bekas makan malam.

"Saya tidak ingin terburu-buru. Masih banyak yang perlu saya cari di Kota Tanjung Dalam ini." Mahesa menjawab pelan, sambil menyeruput wedang jahe hangat yang baru di buat oleh Puspita.

Penampilan keduanya sekarang sangat jauh berbeda. Tanpa topeng perak di wajah, Mahesa jauh terlihat sangat muda dan tampan. Begitu juga dengan Puspita. Dia merias wajah dengan pupur dan gincu mahal, hingga kecantikannya meningkat berkali lipat. Gadis itu tidak memakai pakaian seorang pelayan. Mahesa membeli pakaian yang cocok dipakai mereka layaknya pasangan suami istri saudagar muda.

Belibis Putih sekalipun, tidak akan mudah mengenali keduanya dengan sekali lihat.

"Saya tidak menyangka, ternyata kau sangat gesit bergerak dibidang pendapuran. Masakan yang kau hidangkan, semuanya sangat cocok di lidah." Mahesa memuji Puspita. Bukan sekadar ucapan terimakasih, melainkan murni ungkapan dari dalam hati.

"Tuan Muda Elang Putih terlalu memuji. Saya banyak belajar dari buku yang pernah saya baca. Lagipula, bukankah tugas seorang istri adalah menyiapkan masakan yang sedap untuk sang suami?"

Mahesa tertawa kecil, "yah, kau benar. Saya berharap suatu saat nanti, kau selalu bisa menyiapkan masakan lezat setiap kali saya pulang ke rumah."

Puspita tersipu malu, kedua pipinya terlihat memerah.

"Mungkin tahun depan, dua tahun lagi, tiga tahun lagi. Saya tidak bisa menjamin hari yang pasti. Akan tetapi, setelah semua ini selesai. Kita akan bersama mencari kedua orang tua mu. Lalu, kita akan berjanji untuk hidup berdua. Dengan begitu, saya akan bisa memenuhi janji untuk selalu menjaga mu hingga akhir." Mahesa menatap Puspita dalam, perkataan nya sangat serius.

"Tuan Muda, saya sangat senang mendengarnya. Akan tetapi ...."

"Sssstttt!!! Jangan ada kata tapi. Kita harus memperjuangkan harapan." Mahesa meletakkan jari telunjuk nya di bibir Puspita. Meminta gadis itu untuk tidak bicara lagi.

Puspita tersenyum bahagia. Dia merebahkan kepalanya di pundak Mahesa. Pundak ternyaman untuk bersandar.

°°

Berjarak empat jam perjalanan dari Kota Lama, di hutan belukar yang gelap. Empat sosok bayangan berjalan perlahan. Setelah dekat, mereka ternyata mereka adalah Rangga Sena, Arya Sewu, Darma Wiguna dan Badra Tarya. Di tanah selatan, Mereka dikenal dengan sebutan Empat Pendekar Putih.

Keempatnya berada di bekas reruntuhan Padepokan Inti Naga. Ada yang sedang mereka periksa.

"Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini kakang. Tanaman liar tumbuh begitu padat." Arya Sewu berbisik.

Rangga Sena hanya mengangguk. Dia pun merasakan hal yang sama. Hanya ada jejak bekas pemburu yang melintas beberapa bulan lalu.

Darma Wiguna muncul setelah memeriksa cukup jauh. Sama, dia tidak menemukan apa yang mereka cari.

Tidak ada tanda kebangkitan Padepokan Inti Naga. Atau mungkin mereka berpindah tempat? Tapi kemana? Tanah Utara? Rasanya tidak mungkin. Sama sekali tidak ada kabar berhembus dari utara. Tidak mungkin dunia persilatan utara menutup rapat kemunculan Padepokan baru yang mengajarkan Ilmu Tapak Naga Terbang dengan bebas.

Badra Tarya yang masih terpisah dari rombongan terus berjalan menyusuri hutan belukar. Dia memasuki bekas bangunan utama Padepokan Inti Naga.

Tidak henti-hentinya Badra Tarya berdecak kagum. Jelas, pada masa jayanya, Padepokan Inti Naga sulit untuk dimasuki.

"Aku bisa merasakan, bekas energi yang tersisa dari pertempuran puluhan tahun silam. Pendekar Naga Suci sungguh luar biasa. Sayang, aku belum pernah bertemu."

Ilmu yang dimiliki Pendekar Naga Suci memang berasal dari Padepokan Inti Naga. Namun, selama ratusan tahun semenjak di dirikan. Belum pernah ada murid padepokan yang mencapai tingkat setara dengan Pendekar Naga Suci. Bahkan, kekuatan ilmu tenaga dalam Pendekar Naga Suci berada di atas pendiri Padepokan. Memang, tidak ada yang bisa memastikan kebenaran berita tersebut. Akan tetapi, cukup sebagai gambaran yang menempatkan Pendekar Naga Suci sebagai Pendekar terbaik di tanah selatan.

"Hmmmmm .... Sayang sekali. Padepokan ini harus berakhir dengan kehancuran akibat perang saudara." Badra Tarya menarik nafas panjang.

Langkah kakinya terus terayun melewati semak dan tanaman perdu yang tumbuh subur mengelilingi bekas Padepokan Inti Naga.

1
Irwandy Kamal
𝚋𝚞𝚔𝚊 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚝𝚘𝚙𝚎𝚗𝚐𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚕𝚎𝚜𝚊𝚒 𝚖𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊, 𝚕𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚕𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚔𝚞𝚊𝚝 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚖𝚋𝚞𝚗𝚢𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚠𝚊𝚓𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗𝚗
Irwandy Kamal
𝚙𝚊𝚍𝚎𝚙𝚘𝚔𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚛𝚊𝚓𝚊𝚠𝚊𝚕𝚒, 𝚓𝚞𝚛𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚌𝚊𝚔𝚊𝚛 𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 🤔
merah putih
bagusss...thor....hanya sj msh terlalu banyak ungkapan2. kurangi ungkapan2 terutama saat bertarung.
Hamka Bahri
Luwuk Banggai Parigi Moutong 🤣🤣🤣🤣
Nggenk Topan
mahesa lebay...
Nggenk Topan
galih janda bahenol
Yuniar Hadi
iya
Nggenk Topan
kok bikin bingung...?
Nggenk Topan
tambah hebohhhhh
Mely Kanzafaiz
cerita yg ga jlas
Rivan Zuhri
jadi menikah dengan siapa saja
Rivan Zuhri
Luar biasa
Rizal Sude
Biasa
Yanah Tjan
Luar biasa
Tabri Bong Plaju
ceritanya bagus,typonya gak ada,mudah di ikuti jln ceritanya.... semangat terus tor...
@ ubaydah_*😄
harus kembaran Puspita cewek aja,biar ceritanya tambah seru
Adi Kusma: Mksh kk
total 1 replies
@ ubaydah_*😄
kenapa si Puspita GA bunuhdiri aja biar siluman jahatnya ikutan mati.
Denmas
agak rumit di pahammi
Irhakim
kak permisi mau promo dulu kak tentang fantasi constelasi
Thomas Andreas
ngeri julukannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!