Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ada Pinjaman yang Gratis
Hari berikutnya, kelas Oca mendapatkan jadwal olahraga.
Sayangnya, pagi itu keberuntungan sepertinya sedang tidak berpihak pada Oca. Saat hendak berganti baju olahraga, ia seketika teringat kalau baju olahraganya lupa dimasukkan ke dalam tas pagi tadi. Oca benar-benar panik karena guru olahraga mereka, pak Dimas, itu terkenal galak.
"Aduh, gimana dong, gue lupa bawa baju olahraga," keluh Oca panik. "Pasti kena hukum nih sama Pak Dimas."
Andira mengernyit. "Lah, kok bisa lupa sih?”
"Gue lupa kalau hari ini jadwal olahraga," jawab Oca sambil nyengir tanpa rasa bersalah.
Andira tampak menghembuskan nafas. Kinan yang sedari tadi hanya mendengarkan tiba-tiba menopang dagunya sambil berpikir. Seolah baru mengingat sesuatu, matanya langsung berbinar.
"Eh, bukannya kelas sebelah jadwal olahraganya juga hari ini? Tapi giliran mereka setelah kita."
Oca mengernyit. "Terus?”
“Pake nanya lagi, itu kan kelas Dirga coba pinjem baju olahraga nya sama dia.”
Andira langsung sumringah. "Ide bagus tuh.”
"Ih, nggak mau," tolak Oca cepat.
"Lo mau kena hukum Pak Dimas apa mau minjem baju?" tanya Andira datar.
Oca terdiam. Dua pilihan yang sama-sama tidak menyenangkan, tapi ia juga tidak mau berurusan sama Pak Dimas.
"Yaudah deh, gue coba pinjem ke Dirga," gumam Oca akhirnya, pasrah.
"Nah, gitu dong!" Andira langsung mendorong bahu Oca pelan ke arah pintu. "Buruan sana, mumpung Pak Dimas belum ke sini."
Oca langsung berbalik dan berjalan cepat menuju kelas sebelah. Ia berhenti di depan pintu yang masih terbuka, kemudian menengok ke dalam kelas yang suasananya masih santai, beberapa siswa sedang ngobrol sambil menunggu pelajaran dimulai.
Matanya menyapu seluruh isi kelas, mencari sosok yang dikenalnya. Tak butuh waktu lama sampai pandangannya bertemu dengan Dirga yang duduk di dekat jendela. Pria itu mengernyit sebentar sebelum akhirnya berdiri dan menghampiri Oca di depan pintu.
"Ngapain ke sini?" tanyanya, nada suaranya antara bingung dan penasaran.
"Gue..." Oca sedikit menggantungkan kalimatnya, agak sungkan. "Lupa bawa baju olahraga. Bisa pinjem punya lo nggak?"
Dirga memandangi Oca beberapa detik, lalu sudut bibirnya pelan-pelan naik.
"Jadi... akhirnya lo datang juga buat minta tolong?”
"Iya," jawab Oca singkat. "Kenapa?"
"Nggak." Dirga mengangkat kedua tangannya, menahan tawa. "Tunggu sebentar."
Ia kembali ke bangkunya, membuka tas dan mengeluarkan baju olahraga lipatannya, lalu kembali ke depan pintu dan menyodorkannya ke Oca.
"Nih. Tapi jangan lupa nanti dibalikin."
"Iya, iya." Oca mengambilnya, sedikit terburu-buru. "Makasih."
"Sama-sama." Dirga bersandar di kusen pintu. "Oh ya, minggu depan gue yang minta tolong balik."
Oca mengernyit. "Tolong apaan?"
Dirga hanya tersenyum. "Belum tau. Nanti gue kasih tau."
Sebelum Oca sempat membalas, suara langkah kaki berat terdengar dari ujung koridor. Pak Dimas.
Oca langsung berbalik dan nyaris berlari kembali ke kelasnya, sementara dari belakang terdengar tawa pelan Dirga yang ia coba abaikan tapi gagal, karena tanpa sadar sudut bibirnya sendiri ikut terangkat.
______
Oca menghembuskan napas lega begitu sampai di ruang ganti. Ia membuka lipatan baju olahraga pinjaman Dirga, lalu mengerutkan hidung.
Kebesaran. Jelas sekali ini ukuran laki-laki.
Tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya pilihan yang ia punya daripada harus berhadapan dengan Pak Dimas. Oca mengenakan baju itu seadanya, menggulung sedikit bagian bawah celananya, lalu keluar ke lapangan dengan tampilan yang ia sendiri tahu tidak karuan.
Andira yang sudah berdiri di lapangan langsung menyembunyikan tawanya begitu melihat Oca datang. "Wah, longgar amat."
"Diem," jawab Oca pendek.
Kinan tak bisa menahan tawanya. "Lo keliatan kayak pake baju kakak kelas."
"Gue bilang diem."
Pak Dimas yang berdiri di tengah lapangan melirik Oca sekilas, alisnya sedikit terangkat melihat ukuran baju yang jelas tidak sesuai.
Anehnya, Pak Dimas tidak berkomentar apa pun. Beliau langsung meniup peluit dan memulai pelajaran seperti biasanya, berlari keliling lapangan, beberapa latihan fisik, dan diakhiri dengan permainan sederhana.
Sepanjang itu, Oca sesekali harus menarik bagian baju yang melorot, sementara Andira dan Kinan tidak henti-hentinya menahan tawa di sampingnya.
Begitu bel berbunyi dan pelajaran olahraga selesai, Oca langsung berganti baju kembali. Baju olahraga Dirga ia lipat rapi, lalu ia bawa ke kelas sebelah.
Namun, begitu sampai di depan kelas sebelah, Oca mendapati Dirga sudah lebih dulu menunggunya. Pria itu bersandar santai di dinding koridor sambil memainkan ponselnya.
Begitu menyadari langkah kaki yang mendekat Ia langsung menoleh dan mendapati Oca berjalan mendekat ke arahnya.
Dirga sedikit mendorong tubuhnya menjauh dari dinding dan menghadap ke Oca. "Gimana? Muat?"
"Kebesaran," jawab Oca datar, menyodorkan baju lipatannya. "Nih gue kembaliin, makasih ya."
Dirga menerima bajunya, lalu mengangguk singkat. "Oke, nggak masalah."
"Yaudah, gue balik ke kelas dulu," ucap Oca sambil berbalik melangkah pergi.
"Eh." Suara Dirga membuatnya berhenti. "Jangan lupa soal timbal baliknya."
Oca tidak berbalik, hanya menoleh sekilas ke arah Dirga sambil sedikit cemberut, "Iya, iya, cerewet banget sih."
Tawa pelan Dirga terdengar dari belakangnya. Oca hanya mendengus kecil tanpa menoleh lagi, lalu melanjutkan langkah menuju kelas.
Sementara itu, Dirga masih memperhatikan punggung gadis itu hingga sosoknya menghilang di balik pintu kelas, barulah ia masuk ke kelasnya sendiri.