Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Devan meminta hak.
Sinar matahari pagi yang menembus gorden kamar utama mansion Alister sama sekali tak membawa kehangatan. Suasana ruangan megah itu justru terasa begitu mencekam dan membeku, seolah menolak kehidupan yang ada di dalamnya.
Di tepi ranjang berukuran besar, Nadia duduk dengan wajah pucat pasi. Lingkaran hitam dan sembap di matanya memperlihatkan betapa hancurnya wanita itu melewati malam ke dua pernikahan tanpa kehadiran sang suami. Perutnya masih sesekali melilit akibat stres berat, namun sakit di fisiknya tak sebanding dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka pelan. Langkah kaki yang tegap bergema di atas lantai marmer, seketika membuat jantung Nadia berdegup kencang.
Devan pulang.
Pria itu melangkah masuk dengan raut wajah keras bagaikan pahatan batu. Setelan kemejanya masih sama dengan yang ia kenakan kemarin, menandakan ia sama sekali tidak mengganti pakaiannya. Sorot matanya dingin, namun di balik kedinginan itu, tersembunyi amarah yang siap meledak kembali.
Nadia bergegas berdiri. Meski tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pening luar biasa, ia memaksakan diri melangkah mendekat.
"Devan..." sapa Nadia lirih, suaranya parau dan bergetar. "Akhirnya kamu pulang..."
Devan bahkan tidak melirik ke arahnya. Pria itu berjalan melewati Nadia begitu saja menuju meja kerja di sudut kamar, meraih beberapa dokumen di sana.
"Saya hanya mengambil berkas yang tertinggal" sahut Devan dengan nada suara datar dan cuek.
"Devan, tolong..." kata Nadia lirih, menatap punggung suaminya dengan tatapan memohon. "Jangan bersikap asing seperti ini padaku. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kamu bisa dengarkan penjelasan aku dulu..."
Devan menghentikan gerakannya. la memutar tubuh, menatap Nadia dengan senyum sinis yang sarat akan kepahitan.
"Penjelasan apa lagi, Nadia?!" tanya Devan dengan suara berat dan dingin.
"K-kamu dengarkan penjelasan aku biar nggak salah paham kaya gini" jelas Nadia sembari mencoba meraih tangan Devan. Tapi Devan justru melangkah mundur saat Nadia mencoba meraih tangannya. Penolakan halus namun tajam itu membuat tangan Nadia membeku di udara.
Nadia menatap Devan dengan tatapan terluka. "Oke kalo kamu memang nggak butuh penjelasan aku" kata Nadia pasrah. "Tapi Aku mau minta maaf, Devan... Aku cuma mau kamu tahu kalau aku nggak ada niat sedikit pun buat mengecewakan kamu..."
Devan terkekeh sinis mendengar ucapan Nadia barusan. Sebuah tawa hambar yang menyayat hati dalam keheningan kamar. Ia menatap Nadia dari atas ke bawah, menatap wajah istrinya yang berderai air mata dengan pandangan penuh kekecewaan yang teramat pekat.
"Kamu ingin minta maaf? cetus Devan, suaranya meninggi dengan nada yang menuntut. "Kamu pikir semua ini bisa selesai setalah kamu minta maaf? Setelah kamu menjatuhkan harga diri saya kemarin?!" tanya Devan.
Devan melangkah maju, mencengkeram kedua bahu Nadia—tidak terlalu keras hingga menyakiti, namun cukup kuat untuk membuat wanita itu terkunci dalam tatapan tajamnya.
"Nggak ada yang perlu kamu katakan lagi!!" Bentak Devan dengan napas memburu membuat Nadia tersentak kaget. "Setalah melihat kamu menangis memohon demi mantan bajingan mu itu, aku jadi sadar jika kamu memang tidak bisa lepas dari pria itu"
Nadia menggeleng keras. "Nggak seperti itu, Devan! Sumpah, nggak seperti itu!" jerit Nadia pilu, air matanya kian deras membasahi pipinya yang pucat. "Aku cuma tidak ingin kamu bertindak karena dendam! Aku tidak mau anak kita lahir di tengah-tengah rasa benci—"
"Bohong!" potong Devan tajam, menyela kalimat Nadia tanpa ampun.
Pria itu melepaskan cengkeramannya pada bahu Nadia, lalu menyugar rambutnya kasar. Tatapannya kini berubah, memancarkan kecemburuan yang mendalam dan luka ego seorang pria yang merasa dikhianati.
Devan menatap lurus ke dalam mata Nadia yang berkaca-kaca, melontarkan pertanyaan yang selama semalam meracuni pikirannya di penthouse.
"Jawab jujur, Nadia... Apa kamu sebenarnya masih mencintai mantan suamimu itu?!"
Deg!
Pertanyaan itu menghantam dada Nadia bagaikan petir di siang bolong. Dunia Nadia serasa runtuh detik itu juga. la mematung dengan bibir bergetar, menatap Devan dengan tatapan tak percaya.
"D-Devan... apa yang kamu bicarakan?" bisik Nadia, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan.
"Jawab saja, Nadia!" bentak Devan, langkahnya kembali memojokkan Nadia hingga punggung wanita itu menembus tiang ranjang. "Kalau kamu sudah tidak punya rasa apa-apa padanya, kenapa kamu harus se-menderita itu melihat Arkan hancur?! Kenapa kamu harus menangis dan mengorbankan harga dirimu demi membela pria yang sudah membuang mu seperti sampah?!"
Napas Devan memburu kasar, dadanya naik-turun menahan luapan emosi yang membakar.
"Hanya wanita yang masih menyimpan perasaan di hatinya yang sudi berlutut demi menyelamatkan pria dari masa lalunya! Jawab saya... apa Arkan masih bertengger di dalam hatimu, sampai kamu tega menginjak-injak harga diri saya sebagai suamimu?!"
Nadia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tangisnya pecah menjadi isakan yang teramat pilu hingga dadanya naik turun dengan sesak.
"Tega sekali kamu menuduhku sejauh itu, Devan..." rintih Nadia pilu. "Rasa cintaku pada Arkan sudah mati sejak hari pertama dia mengkhianati ku! Hati aku sudah tidak tersisa sedikit pun untuk dia!"
"Lalu kenapa kamu harus menangis membela dia di depan saya?!" tanya Devan lagi.
"Kan aku sudah kasih tau alasan aku ngebela dia ke kamu!" sahut Nadia cepat, sembari meremas perutnya yang kembali melilit parah akibat stres yang memuncak. "Kamu masih nggak percaya makanya kamu nanya lagi, hah?!" tanya Nadia balik.
Devan terdiam sejenak. Nafasnya memburu dengan ritme cepat. Dia ingin percaya pada ucapan Nadia, tapi ego dan apa yang dia liat sendiri di depan matanya kemarin membuatnya berpikir dua kali untuk mempercayai ucapan Nadia.
Devan melangkah maju ke arah Nadia. Matanya menatap lurus ke manik mata Nadia yang terlihat berkaca kaca sekaligus terluka. Dengan kasar dia mencengkram rahang Nadia dengan cengkraman kuat hingga Nadia mendongak menatap balik mata hitam Devan.
"Kalau begitu, buktikan pada saya malam ini agar saya percaya pada mu, Nadia"
Deg!
Nadia mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak mendengar kalimat menuntut dan nada rendah yang Devan ucapkan.
"Serahkan dirimu pada saya" bisik Devan tepat di depan bibir Nadia yang bergetar, napas maskulinnya terasa begitu dekat dan mengunci pergerakan wanita itu. "Tidurlah dengan saya malam ini sebagai seorang istri saya seutuhnya. Berikan tubuh dan seluruh jiwamu pada saya tanpa ragu. Jika kamu memang sudah benar-benar membuang Arkan dari hatimu, kamu tidak akan menolak hak saya sebagai suamimu saat ini juga."
★★★
Jujur aku gak terlalu bisa bikin adegan dewasa, soalnya belum ada pengalaman༎ຶ‿༎ຶ jadi nanti kalo jiwa tulisan nya gak dapat ya maklumin aja yah ;)