Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.
Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.
Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biduk Lalu, Kiambang Bertaut
Safira sudah berganti pakaian dan mempersilahkan tamunya untuk duduk di ruang tamu sederhananya. Sekalipun rasanya ia ingin menolak kehadiran tamu tersebut, tetapi ketika lelaki itu bertanya perihal Alvin dan Zaini, Safira langsung membuang jauh-jauh niat tersebut.
“Jadi itu laki-laki yang tempo hari bawa Alvin dan Zain?” bisik Vera yang baru datang lima menit lalu. Merasa pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban, Vera kembali bertanya, “Terus ngapain dia ke sini?”
Safira menuangkan air dingin ke empat gelas yang sudah berisi sirup rasa melon. “Ya, mana aku tahu,” jawab Safira sekenanya. Dia masih merasa jengkel sekaligus malu dengan kejadian beberapa saat lalu. Untung saja tidak ada saksi lain, kalau tidak mungkin Safira lebih memilih untuk mengurung diri di kamar sampai besok.
Mendengar jawaban ketus Safira membuat Vera kesal, tapi perempuan yang lebih tua dari Safira itu enggan membalas. Jadi ia hanya diam sambil membantu Safira untuk membawa sepiring getuk dan timus.
“Maaf hanya seadanya,” ucap Safira berbasa-basi kepada dua pasang tamunya. “Jadi ada keperluan apa, ya, Mas dan Mbak ke sini?” tanya Safira begitu dia duduk.
“Sebelumnya perkenalkan dulu, saya Rahma dan ini Ashqar. Kedatangan kami ke sini untuk menanyakan beberpa hal. Tapi sebelum itu, bisa kami bertemu Alvin dan Zain?”
Dengan sorot mata curiga, Safira mencoba menjaga ekspresinya. “Kenapa? Kenapa Mbak mau bertemu dengan mereka?”
Rahma terlihat bingung dan hal itu disadari oleh Vera. “Apa tujuan sebenarnya anda ke sini?” tanya Vera, merasa janggal dengan kehadiran Ashqar dan Rahma yang menurutnya tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas. “Kalau untuk meluruskan kejadian kemarin malam, saya rasa nggak perlu. Mungkin itu hanya kesalah pahaman.”
“Itu memang kesalah pahaman, cuma—”
“Tolong katakan yang perlu dikatakan, tidak usah berbelit-belit,” potong Safira dengan nada paling dingin, bahkan untuk Vera sekalipun. Terlebih dia menggunakan bahasa formal yang tidak pernah Vera dengar sebelumnya.
“Di mana, Zain? Saya ayah kandungnya,” timpal Ashqar.
Safira terdiam sambil terperangah, tatapannya tertuju pada wajah Ashqar yang memperlihatkan keseriusan.
“Jangan coba menutup-nutupi,” lanjutnya dengan nada yang sama yang digunakan Safira.
Vera melirik Safira gusar, begitu pun Rahma pada Ashqar. Situasi mendadak menjadi tegang hanya dengan beberpa kalimat. “Apa buktinya kalau anda adalah ayahnya Zain?” tanya Vera pada akhirnya, mencoba memecahkan tensi di antara mereka.
Safira tersenyum mencemooh. “Anggap aja kamu benar-benar ayahnya Zain. Itu berati kamu adalah laki-laki berengsek dan orang tua yang tidak bertanggung jawab,” sungut Safira, menanggalkan sopan-santun.
Safira tidak bisa menahan luapan emosinya ketika memikirkan jika memang ucapan pria di hadapannya ini benar, maka pria itu sangat tidak bertanggung jawab sebagai orang tua. Ditambah lagi pria itu ternyata sudah menikah lagi dan menelantarkan Zaini serta ibunya yang harus bekerja hingga meninggalkan anak itu di panti asuhan.
Ashqar berusaha keras menahan emosi. “Kalau kamu nggak tahu apa-apa lebih baik tutup mulut aja. Kami ke sini untuk menjemput Zain, jadi katakan di mana dia?”
“Aku bahkan nggak tahu apakah kamu benar-benar ayahnya atau bukan.”
“Kalau kamu juga ragu seharusnya kamu nggak bicara sembarangan,” sindir Ashqar telak.
Safira mengerutkan alis, tidak terima. “Kalau gitu buktikan kalau kamu adalah orang tua Zain. Kalau kamu nggak bisa membuktikan maka kamu akan kami laporkan ke polisi.”
“Ide yang bagus,” sahut Ashqar sambil tersenyum mencemooh. “Kalau aku bisa membuktikan maka kamu yang akan kami penjarakan.”
“Oke!” sahut Safira berani. “Memangnya aku takut pada ancamanmu.”
Vera sudah terlihat kalang kabut mendengar ucapan sembarangan Safira. Bagaimana kalau pria itu benar-benar orang tua kandung Zaini?
“Fi, jangan gitu. Dibicarakan baik-baik ‘kan bisa,” tegur Vera.
“Dia yang mulai, Mbak. Lagian kenapa harus takut? Dia datang ke sini dengan istri barunya pakai mobil, sementara Zain justru dititipkan ke panti asuhan dan harus jalan kaki kiloan meter untuk mencari ibunya. Itu pun kalau dia benar-benar ayahnya Zain,” ungkap Safira menggebu-gebu.
“Zain di panti asuhan?”
“Panti asuhan?” tanya Ashqar dan Rahma berbarengan.