NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog — Teman yang Tak Terlihat

Rumah itu gelap dan sunyi, hanya diterangi cahaya bulan yang menyusup tipis melalui celah gorden kamar utama. Ibu Josh tidur menyamping, satu tangannya masih terulur ke arah tempat di sampingnya—tempat yang seharusnya ditempati putranya yang baru berusia tiga tahun, yang sejak senja tadi memintanya untuk ditemani tidur karena takut gelap.

Josh kecil, dengan pipi tembam dan rambut halus yang berantakan menutupi dahinya, sebenarnya sudah terjaga sejak beberapa menit yang lalu.

Ia membuka mata perlahan di tengah kegelapan kamar, matanya yang bulat menatap langit-langit tanpa rasa takut sedikit pun—hal yang aneh untuk anak seusianya yang tadi sore begitu ketakutan hanya karena lampu kamar mandi berkedip.

Ia turun dari ranjang tanpa membangunkan ibunya, kaki-kaki kecilnya melangkah pelan menyusuri lantai kayu yang dingin menuju kamar mandi di ujung lorong. Rumah itu benar-benar sunyi malam itu, hanya suara detak jam dinding tua di ruang tamu yang terdengar teratur, seperti detak jantung rumah itu sendiri.

Setengah jam kemudian, ibu Josh terbangun oleh insting keibuan yang tiba-tiba menyergap tanpa alasan jelas—perasaan hampa di sisi ranjang yang seharusnya hangat oleh tubuh kecil putranya. Ia meraba-raba dalam gelap, dan ketika tangannya tidak menemukan apa pun selain seprai yang dingin, kepanikan langsung menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Josh?"

panggilnya, suaranya masih serak oleh kantuk namun mulai bergetar oleh kecemasan. Ia menyalakan lampu kamar, memeriksa kolong ranjang, lemari, bahkan balik pintu. Kosong.

Ia berlari ke kamar mandi. Kosong, gelap, tidak ada tanda-tanda anaknya baru saja berada di sana. Ia memeriksa dapur, ruang tamu, bahkan gudang kecil di belakang rumah yang jarang dibuka. Namanya terus ia panggil, semakin keras, semakin panik, suaranya memantul di lorong-lorong rumah yang kosong dan tidak menjawab.

Tidak menemukan apa pun di dalam rumah, ibu Josh—dengan hanya mengenakan daster tidur dan sandal jepit yang terpasang asal—berlari keluar rumah, menerjang dinginnya udara malam tanpa peduli. Ia menyusuri jalan kompleks perumahan yang sepi, memanggil nama putranya di setiap sudut, mengetuk pagar tetangga yang sudah lelap tertidur, matanya menyapu setiap bayangan gelap dengan harapan menemukan sosok kecil yang ia cari.

Sepuluh menit. Dua puluh menit. Setengah jam berlalu tanpa hasil apa pun. Air matanya sudah mengalir deras di pipinya, pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan terburuk yang bisa ia bayangkan sebagai seorang ibu. Ia berlari kembali ke rumah dengan napas terengah, berniat mengambil ponsel untuk menghubungi suaminya dan mungkin polisi, ketika langkahnya terhenti mendadak di ambang pintu dapur.

Di sana, di tengah kegelapan dapur yang hanya diterangi cahaya lampu jalan dari jendela, Josh kecil duduk tenang di lantai, punggungnya bersandar pada kaki meja makan, kedua tangannya terlipat di pangkuan seolah sedang menunggu sesuatu—atau seseorang.

"Josh!"

Ibunya berlari mendekat, mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dengan tangan gemetar, memeriksa setiap inci tubuhnya untuk memastikan tidak ada yang terluka. Anak itu tidak menangis, tidak juga terlihat ketakutan—hanya menatap ibunya dengan mata polos yang justru terlihat sedikit bingung dengan reaksi berlebihan sang ibu.

"Kamu dari mana saja?" tanya ibunya,

suaranya masih bergetar antara lega dan panik yang belum sepenuhnya reda, air mata masih membasahi pipinya.

"Ibu nyariin kamu ke mana-mana, sayang. Ibu takut banget."

Josh kecil menggeleng pelan, wajahnya begitu tenang seolah tidak memahami kepanikan yang baru saja terjadi di sekelilingnya. "Aku nggak kemana-mana kok, Bu. Dari tadi aku di sini terus, lagi ngobrol sama temanku." Ibunya terdiam, jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berdegup kencang. Rumah itu kosong, tidak ada siapa pun selain mereka berdua. Ia menatap sekeliling dapur yang gelap, mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin putranya sedang mengarang cerita seperti anak-anak seusianya yang lain.

"Temannya mana sekarang?" tanyanya pelan,

berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski bulu kuduknya perlahan mulai berdiri. Josh kecil menoleh sekilas ke sudut dapur yang paling gelap, tempat cahaya lampu jalan tidak sepenuhnya menjangkau, seolah memastikan sesuatu di sana sebelum kembali menatap ibunya dengan wajah polos.

"Udah pergi," jawabnya sederhana,

seolah itu adalah jawaban paling wajar di dunia. Ibunya memeluk tubuh kecil putranya semakin erat malam itu, menahan diri untuk tidak gemetar di hadapan anaknya sendiri. Ia tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada siapa pun selain suaminya, dan bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, jam di dinding ruang tamu rumah itu—jam tua peninggalan neneknya yang kelak akan diwariskan kepada keluarga kecil mereka—entah kenapa, malam itu untuk pertama dan satu-satunya kalinya dalam sejarah rumah tersebut, berhenti tepat di pukul 02.02, meski baterainya baru saja diganti seminggu sebelumnya.

Josh tidak pernah mengingat kejadian malam itu ketika ia tumbuh besar. Namun entah kenapa, setiap kali ia melewati dapur rumahnya di malam hari, ada sudut kecil yang selalu ia hindari tanpa sadar—sudut paling gelap, tempat cahaya lampu jalan tidak pernah sepenuhnya menjangkau, seolah tubuhnya menyimpan ingatan yang tidak sanggup diakses oleh pikirannya sendiri.

Ayah Josh, yang malam itu sedang dinas luar kota, baru mendengar cerita tersebut keesokan harinya melalui telepon, suara istrinya masih bergetar menceritakan detail demi detail. Ia mencoba menenangkan dengan penjelasan paling masuk akal yang bisa ia pikirkan—anak kecil kadang berjalan dalam tidur, memiliki teman khayalan, atau sekadar bingung menjelaskan tempat persembunyiannya sendiri. Namun jauh di dalam hati, bahkan ayah Josh yang paling rasional sekalipun, tidak sepenuhnya bisa menjelaskan bagaimana seorang anak berusia tiga tahun bisa berjalan sejauh itu tanpa terbangun sekali pun, tanpa menangis ketakutan sendirian dalam gelap seperti anak-anak seusianya pada umumnya.

Selama beberapa minggu setelah kejadian itu, ibu Josh tidak pernah lagi membiarkan putranya tidur sendirian, bahkan setelah Josh tumbuh cukup besar untuk memiliki kamarnya sendiri. Ia akan duduk di tepi ranjang Josh setiap malam, menunggu hingga napas anaknya benar-benar teratur tanda tertidur lelap, sebelum akhirnya berani meninggalkan kamar itu dengan hati yang masih diselimuti kekhawatiran yang tidak pernah sepenuhnya hilang.

Dan setelah malam itu, "temannya" tidak pernah lagi disebut-sebut oleh Josh kecil. Tidak ada obrolan lain, tidak ada penampakan lain, tidak ada satu pun kejadian aneh yang membuat ibunya harus terjaga panik di tengah malam. Bertahun-tahun berlalu dengan tenang, begitu tenang hingga ibunya sendiri perlahan mulai memercayai bahwa malam itu hanyalah satu kejadian aneh yang berdiri sendiri, sebuah momen kecil dalam masa kanak-kanak yang tidak akan pernah terulang lagi.

Josh tumbuh menjadi remaja yang biasa saja—tenang, sedikit pendiam, gemar mengamati langit sore selepas pulang sekolah. Tidak ada lagi sudut gelap yang ia hindari secara sadar, tidak ada lagi cerita tentang teman yang tidak terlihat. Kejadian malam itu benar-benar terkubur, dianggap sebagai kenangan aneh yang tidak lagi relevan bagi siapa pun, termasuk Josh sendiri yang bahkan tidak mengingatnya sama sekali.

Namun menjelang usia enam belas tahun, sesuatu yang baru mulai muncul—bukan lagi kehadiran yang duduk diam menunggu di sudut ruangan, melainkan sesuatu yang jauh lebih gelisah. Sebuah bayangan hitam, samar dan cepat, mulai sesekali melintas di ujung penglihatannya—berlari melintasi halaman sekolah saat sore mulai turun, menyeberang gang sempit dekat rumahnya saat ia berjalan pulang, atau sekadar berkelebat di balik pohon-pohon pinggir jalan sebelum menghilang secepat kemunculannya. Setiap kali Josh menoleh cepat untuk memastikan, bayangan itu sudah tidak ada, seolah sengaja menghindari agar tidak benar-benar tertangkap mata.

Ia tidak pernah menghubungkan bayangan berlari itu dengan kejadian masa kecilnya yang sudah lama terlupakan. Baginya, itu hanya efek lelah, kurang tidur, atau sekadar trik cahaya sore yang menipu mata siapa pun yang berjalan sendirian terlalu lama.

Ia tidak tahu, bayangan itu sudah mengawasinya jauh lebih lama dari yang bisa ia bayangkan—dan tidak akan puas hanya berlari di kejauhan untuk selamanya.

...****************...

Next Part???

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!