Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Api Unggun di Keheningan Malam Hutan
Jamuan makan siang di rumah sederhana sang ibu dan Elena berlangsung dengan penuh kehangatan. Meskipun menu yang disajikan hanyalah sup sayur liar dan daging asap kering, bagi Askara, ketulusan rasa syukur yang mengalir dari keluarga tersebut terasa jauh lebih mengenyangkan daripada hidangan mewah mana pun. Setelah memastikan Elena benar-benar aman dan perutnya terisi penuh, Askara berpamitan. Air mata haru mengiringi langkah kakinya saat jubah hitam misteriusnya kembali berkibar, meninggalkan Desa Boa w menuju jalur utara yang kian sepi.
Namun, dunia luar ternyata jauh lebih luas dan sunyi daripada yang diperkirakan. Setelah berjalan setengah hari penuh sejak meninggalkan batas desa, jalan setapak tanah perlahan menghilang, berganti menjadi hamparan semak belukar yang kian rapat. Kiri dan kanannya kini didominasi oleh deretan pepohonan raksasa dengan dahan-dahan saling membelit yang seolah memenjarakan cahaya. Hingga matahari benar-benar tenggelam di balik cakrawala, Askara belum menemukan tanda-tanda permukiman atau desa kecil lainnya. Langkah kakinya terpaksa terhenti di tengah sebuah hutan yang sangat gelap.
"Sepertinya aku tidak punya pilihan selain bermalam di tempat ini," gumam Askara pelan, menyapu pandangannya ke sekeliling kegelapan.
Dengan efisiensi fisik yang terlatih, Askara segera mengumpulkan ranting-ranting pohon kering di sebuah area kecil yang cukup terbuka di antara akar-akar pohon raksasa. Menggunakan sisa percikan energi sihir api elemen dasar yang sempat ia serap dari kroco bandit tadi siang, Askara menjentikkan jarinya.
Wusss...
Sebuah api unggun kecil menyala dengan tenang, menerangi area peristirahatan sementaranya dengan pendaran warna jingga yang hangat. Askara duduk bersila di atas tanah, menarik tudung jubah hitamnya sedikit ke belakang. Sebelum ia memejamkan mata untuk beristirahat, ia meletakkan kedua tangannya di atas lutut, mengambil napas dalam-dalam, dan mulai memfokuskan pikirannya ke dalam "wadah" kosong yang ada di dalam dadanya. Ia ingin memeriksa dengan teliti jumlah dan kondisi energi sihir yang telah ia serap sepanjang perjalanannya.
Di dalam ruang jiwanya, pusaran energi itu kini terlihat jauh lebih bervariasi. Ada sisa sihir kegelapan murni yang pekat dari monster penjaga dungeon, yang kini berdampingan dengan aliran sihir petir biru yang berderit pelan—hasil serapan dari Pemimpin Bandit tadi siang yang sempat membuat tubuhnya mati rasa sebelum dinetralkan oleh Air Mata Efrit. Tak hanya itu, sisa-sisa sihir api dan sihir angin dari para kroco bandit juga masih tersimpan rapi di sudut wadahnya, siap dileburkan kapan saja.
Melihat seluruh "bekal" senjata magis ini tersimpan dengan stabil, Askara mengembuskan napas lega. Stamina fisiknya sudah jauh lebih beradaptasi dengan elemen petir, menjadikannya modal yang sangat berharga sebelum ia benar-benar menginjakkan kaki di Hutan Sihir Kegelapan yang sesungguhnya.
Semakin larut malam, atmosfer di dalam hutan itu berubah menjadi kian mencekam. Hawa dingin yang menusuk tulang perlahan turun, disertai kabut tipis yang merayap di atas tanah.
Udara malam terasa sangat lembap, dan dinginnya seolah mampu menembus lapisan kain jubah hitamnya jika ia tidak menjaga api unggun tetap menyala.
Di balik kegelapan malam yang pekat, kesunyian hutan itu mendadak robek oleh suara bising dari makhluk-makhluk penghuninya. Dari arah barat, terdengar suara geraman rendah yang saling bersahutan, disusul oleh pekikan melengking dari monster burung malam yang hinggap di dahan-dahan tinggi. Gesekan sisik keras monster melata yang merayap di balik semak-semak berduri menciptakan irama tegang yang konstan di sekitar area tempatnya berkemah. Hutan ini jelas dipenuhi oleh ancaman, dan keberadaan api unggun kecilnya bisa saja menarik perhatian predator malam kapan saja.
Askara membuka matanya sedikit, melirik ke arah kegelapan di luar jangkauan cahaya apinya. Tangannya secara refleks menyentuh tanah, meraba getaran yang ditimbulkan oleh langkah kaki beberapa monster hutan yang tampaknya sedang berkeliaran tak jauh dari tempatnya berada.
Grrr... Srak... srak...
Mendengar kebisingan dan pergerakan monster-monster tersebut, Askara tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Di dalam dadanya, sirkulasi kekuatan gabungan siap diledakkan dalam sekejap jika ada makhluk yang berani menyerangnya.
Namun, malam ini Askara tidak memiliki niat sedikit pun untuk memburu mereka atau memicu pertempuran baru. Tubuhnya membutuhkan istirahat yang berkualitas, dan ia hanya ingin tidur dengan tenang tanpa perlu membuat keributan yang tidak perlu yang bisa memancing perhatian kawanan monster yang lebih besar.
Dengan gerakan yang sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara, Askara melepaskan sedikit hawa menindas dari sisa sihir kegelapan monster penjaga dungeon yang ia simpan di dalam dadanya. Ia membiarkan aura hitam tipis tak kasat mata itu merembes keluar dari tubuhnya, menyebar ke radius beberapa meter di sekeliling area kemah. Hawa kematian yang pekat dari monster tingkat tinggi itu seketika mengirimkan sinyal bahaya bagi insting binatang monster-monster hutan yang sedang mendekat.
Dalam sekejap, suara bising dan geraman di sekitar semak-semak mendadak surut. Langkah kaki monster yang tadinya mendekat kini terdengar bergerak mundur dengan tergesa-gesa, ketakutan setengah mati setelah merasakan
"keberadaan" entitas berbahaya yang sedang berdiam di dekat api unggun.
Setelah memastikan keadaan di sekelilingnya kembali sunyi dan aman dari gangguan, Askara kembali menarik tudung jubah hitamnya hingga menutup sebagian wajah, menyandarkan punggung tegapnya pada akar pohon besar, lalu perlahan memejamkan mata di bawah kehangatan sisa api unggun yang berderak pelan menembus malam yang dingin.