Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jomblo
Halloo semua. Semoga kalian suka ya sama novel aku. Ini novel pertama aku dan alurnya sengaja kubuat lambat karena biar jelas di awal. Jangan lupa favorite kan ya.
Terima kasih.
Akhirnya setelah Rania menahan rasa malu dengan muka yang memerah untuk waktu yang tiba tiba terasa lama, mereka pun sampai dirumah Rania.
"Makasi ya ma...mas udah nganterin Ran pulang. Mau mampir dulu.?" Rania masih gugup dan malu dengan panggilan mas untuk Hardin.
"Pengennya sih mampir yang, tapi mas harus balek ke kantor sekarang karena ada yang mau diperiksa." jawab Hardin sambil tersenyum gemas melihat wajah malu malu Rania.
"Emmh..yaudah kalo gitu Ran turun dulu ya. Makasih ya mas. Hati hati dijalan."
"Iya sayang akuh." lagi dan lagi wajah Rania merona merah mendengar Hardin memanggilnya sayang.
"Kamu gemesin banget sih yaaang." ucapnya sambil mencubit gemas pipi Rania.
"Aauuw..sakit maaas." Rania mengelus pipinya yang memerah karena cubitan sayang dari Hardin.
"Hehe..maaf ya. Abisnya sayang aku gemesin banget, dari tadi tau mas pengen cubit."
"Yaudah turun gih. Salam sama bunda ya, maaf gak bisa mampir sekarang." sambungnya.
"Iya mas. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah Rania turun dan masuk ke dalam rumah, Hardin pun melajukan mobilnya menuju ke hotel. Karena dari tadi Harry sudah sibuk menghubungi menanyakan jam berapa dia balik ke hotel.
"Assalamualaikum..bundaaa...bundaaa." Rania memanggil bu Maya tapi tidak ada sahutan. Dia pun mulai mencari ke dapur dan ke kamar sang bunda tapi tetap tidak ada. Dia pun masuk ke kamar untuk mengganti pakaian dan mulai menyalin pelajaran yang tertinggal.
Sebelum menyalin, diputuskan untuk menghubungi bunda terlebih dahulu.
tuuut...tuuut...tuuut
Lama Rania menunggu tapi tidak ada jawaban. Dia pun memilih mengirimkan chat saja karena mungkin bundanya sedang dijalan.
R : Bunda dimana? Ran udah sampai rumah nih. (sent)
Selesai mengirimkan chat dia pun mulai menyalin pelajaran. Ternyata yang harus disalin lumayan banyak. Tangannya sampai pegal karena terus terusan menulis. Lama sudah Rania melototin bukunya tapi belum ada juga balasan dari bunda. Tiba-tiba dia teringat dengan adegan malu malu siang tadi. Dia tersenyum bahkan tertawa mengingat kejadian yang dianggapnya memalukan itu.
Rania mengambil hpnya untuk menghubungi bunda. Tapi ternyata hp bunda gak aktif dan itu sukses membuat Rania khawatir.
Aduuh..bunda kemana ya. Kok hpnya gak aktif sih bikin khawatir aja.
Dicobanya lagi menghubungi bu Maya tapi tetap tidak aktif. Tiba tiba..
"Assalamualaikum." terdengar suara salam dari bawah. Dari suaranya Rania sudah tahu kalau itu pasti bunda. Dia pun merasa lega dan langsung turun kebawah untuk bertemu dan menanyai sang bunda tentang kontrolnya tadi.
"Waalaikumsalam...bundaa dari mana aja siih? Tadi Ran telpon tapi hpnya gak aktif. Ran khawatir tau." ucap Rania beruntun.
"Hehe.. Maaf ya sayang hp bunda mati karena lowbat. Bunda cuma ke rumah sakit aja kok gak kemana mana."
"Bunda udah makan siang belum.?"
"Udah sayang. Kamu udah lama nyampe rumahnya.?"
"Udah bun, malahan aku udah nyalin pelajaran yang ketinggalan kemaren. Gimana kata dokter bun, kapan bisa mulai kemo.?" dengan tidak sabar Rania menanyakan hal itu sampai lupa kalau bundanya belum duduk.
"Bunda boleh duduk dulu gak? Capek banget kaki bunda." tanya bunda sambil tersenyum kecil dan melirik ke arah Rania.
"Astagfirullah maaf ya bun. Yok yok kita duduk bun."
Setelah duduk Rania menatap bundanya dengan rasa penasaran. Tapi yang ditatap malahan pura pura gak tau.
"Bundaaa..." rengeknya.
"Hahaha...iya sayang sabar dong. Jadi tadi kata dokter bunda bisa mulai kemo minggu depan, tepatnya hari Rabu." jawab Bu Maya.
"Ya udah kalau gitu hari rabu minggu depan Ran izin gak sekolah biar bisa temani bunda, yaa."
"Emh sayang, bunda kemo sendiri aja juga gak apa apa kok. Bunda gak mau kamu ketinggalan pelajaran lagi. Dua minggu lagikan kamu ujian akhir nak." ucap bunda.
"Tapi kan gak mungkin juga Ran biarin bunda kemo sendiri. Kalau masalah pelajaran nanti Ran bisa pinjam buku temannya Ran lagi bun." dia bersikeras akan tetap menemani bu Maya untuk kemoterapi.
"Rania sayang, dengerin bunda ya. Bunda mohoon sekali sama kamu turuti bunda kali ini. Bunda gak mau kamu melihat bunda dalam keadaan lemah karena itu hanya akan menambah pikiran kamu saja. Bunda gak mau kamu sedih ngeliat keadaan bunda saat menjalani kemo. Jadi bunda sangat mohon sama kamu, kamu gak usah nemani bunda kemo, yaaa." bu Maya masih mencoba agar Rania tidak perlu menemaninya kemo.
"Tapi bunda.."
"Sayang..bunda mohon sama kamu. Kamu cukup doakan yang terbaik aja buat bunda. Do'ai semuanya berjalan lancar." Bu Maya memotong ucapan Rania.
"Bunda yakin mau pigi sendirii?" tanya Rania.
"Iya sayang. Bunda sangat yakin." ucap bu Maya sambil tersenyum dan mengelus rambut anaknya.
"Ya sudah, tapi bunda harus tetap kabari Rania nanti ya." pinta Rania pada bu Maya.
Selesai berbicara mengenai kapan bu Maya akan kemo, mereka pun memilih masuk ke kamar masing masing. Rania yang melanjutkan menyalin pelajaran sedangkan Bu Maya memilih untuk istirahat.
Bu Maya duduk di pinggir tempat tidur dan termenung. Dia memikirkan apa yang telah dijanjikannya pada Rania. Dia takut Rania akan sedih nanti.
Aku harap aku telah mengambil keputusan yang tepat. Rania sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang kuat, dia pasti bisa menghadapi semuanya. Haah...
Termenung beberapa saat tanpa terasa air matanya jatuh saat mengingat Rania. Sebenarnya dia tidak mau, tapi dia terlanjur berjanji pada Rania. Bu Maya membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan beristirahat tanpa mengganti seluruh pakaiannya karena dia sudah merasa sangat kelelahan.
Setelah dirasa tangannya mulai pegel, Rania istirahat sebentar dan mengambil hp di sebelah tumpukan bukunya.
R : gimana kerjanya mas? 😊 (sent)
"Aaaakkk...kok aku deg deg an siih cuma karena hal kecil ginii. Haduuh.. Pasti deh muka ku ini udah merah.." Rania berguling guling ditempat tidur karena malu dengan tingkahnya sendiri.
Hardin yang saat itu sedang serius melanjutkan pekerjaannya dengan Harry tiba tiba tersenyum begitu melihat isi chat Rania. Sudah pasti yang melihat dia tersenyum tiba tiba akan merasa heran, apalagi sahabatnya itu.
"Hemh...pasti chat dari si gadis sekolah." cibirnya melihat Hardin yang masih tersenyum sambil terus melihat ke layar hpnya.
"Iri? Bilang man." gelaknya sambil mengetik di layar hpnya.
H : Lancar kok. Ni juga masih mas kerjain. Sayang nya aku lagi apa? 😘 (sent)
"Lebay banget sih lu man. Cuma dapat chat dari pacar aja sampe segitunya. Kalo gue mah ogah."
"Lu kan jomblo. Mana tau rasanya dapat chat dari orang terkasih. Wahahaha."
Dan hasil dari ucapan Hardin adalah muka mengkerut Harry yang merasa kesal dengan kata kata yang ditujukan untuknya itu.
Terima kasih sudah mampir di novel aku. Jangan lupa like dan komen yang positif ya.