Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Rencana Perjodohan Dimulai
Bab 9: Rencana Perjodohan Dimulai
Meskipun rencana awal si kembar untuk membuat Adrian menderita diare gagal total, hasil akhir dari kopi buatan Aline justru memicu ide yang jauh lebih gila di dalam otak genius Kenzo dan Keira. Sepanjang hari itu, mereka mengamati bagaimana Adrian bekerja di ruang tengah dengan suasana hati yang jauh lebih tenang daripada biasanya. Pria itu bahkan tidak memecat sekretarisnya yang salah menjadwalkan rapat via telepon siang tadi—sebuah keajaiban yang biasanya akan berakhir dengan pemecatan tidak hormat.
Di ruang bermain mereka di sayap timur, Kenzo sedang mengetuk-ngetuk dagunya dengan pensil digital, sementara Keira sedang menyusun rencana di atas papan tulis kecil menggunakan spidol warna-warni. Di sudut ruangan, Aline sedang berpura-pura merapikan mainan balok kayu dengan gerakan lambat khas pelayan lugu.
"Kopi buatan Kak Aline mengandung sihir," bisik Keira pada kakaknya dengan suara bersemangat. "Daddy tidak marah-marah hari ini. Itu artinya, Daddy menyukai Kak Aline!"
"Jangan bodoh, Kei," sahut Kenzo rasional. "Daddy menyukai kopinya, bukan orangnya. Tapi... jika wanita ini bisa menjinakkan emosi monster Daddy hanya dengan secangkir kopi, dia memiliki kualifikasi yang cukup untuk naik pangkat."
"Naik pangkat jadi apa?" Keira memiringkan kepalanya.
"Jadi Ibu baru kita," jawab Kenzo datar tanpa ekspresi, seolah-olah ia baru saja memutuskan untuk membeli aset perusahaan baru. "Misi pertama kita gagal membuat Daddy tersenyum dengan cara menderita, jadi kita akan menggantinya dengan Misi: Mencari Ibu Baru. Kita harus menyatukan mereka berdua di dalam satu ruangan tertutup tanpa gangguan dari para penjaga."
Aline yang sedang berpura-pura mengelap debu di rak mainan hampir saja menjatuhkan kain lapnya. Ibu baru? Menikah dengan mafia iblis yang diduga melenyapkan kakakku sendiri? Anak-anak ini benar-benar sudah gila! batin Aline berteriak frustrasi. Rencana balas dendamnya kini mulai bergeser ke arah drama komedi situasi yang tidak masuk akal karena ulah si kembar.
Pukul delapan malam, setelah makan malam selesai, si kembar mulai melancarkan aksi mereka.
Aline diminta oleh Pak Yusuf untuk mengantarkan beberapa tumpukan buku referensi sejarah kuno yang baru saja tiba dari kurir ke perpustakaan pribadi mansion yang terletak di lantai tiga area tengah. Perpustakaan itu adalah ruangan raksasa dua lantai yang dipenuhi oleh ribuan koleksi buku langka, dengan pencahayaan yang sengaja dibuat remang-remang untuk menjaga kualitas kertas-kertas kuno di dalamnya.
Saat Aline masuk membawa tumpukan buku tebal, ia terkejut melihat Adrian sudah berada di sana. Pria itu sedang berdiri di atas tangga kayu tinggi yang bersandar pada rak buku raksasa, tampak sedang mencari sebuah manuskrip tua. Jas formalnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga ke siku, memperlihatkan otot lengan bawahnya yang kokoh dan dipenuhi guratan urat yang jantan.
Aline melangkah masuk dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara. Namun, di saat yang bersamaan, suara klik tajam terdengar dari arah pintu masuk perpustakaan.
Cklek! Sret!
Pintu kayu ek raksasa itu tiba-tiba menutup dengan keras dari luar.
Aline menoleh dengan panik. Ia buru-buru berlari ke arah pintu dan mencoba memutar gagang kuningan besarnya. Terkunci. Pintu itu dikunci dari luar menggunakan kunci fisik kuno yang slotnya sangat kokoh.
Dari balik celah bawah pintu yang tebal, terdengar suara cicit manis Keira yang sengaja dikeraskan agar terdengar ke dalam ruangan. "Oh tidak! Kak Aline! Pintu perpustakaannya tiba-tiba macet dari luar! Kunci cadangannya sepertinya hilang dibawa oleh Pak Yusuf ke gudang bawah tanah! Kalian harus menunggu di dalam sana sampai Pak Yusuf kembali satu jam lagi, ya!"
Aline memutar matanya di balik kacamata tebalnya. Alasan klasik anak lima tahun yang sangat tidak meyakinkan, umpatnya dalam hati.
"Apa yang terjadi?" suara bariton Adrian terdengar dari atas tangga. Pria itu perlahan turun dengan gerakan yang sangat tenang dan berwibawa, menatap Aline yang berdiri di depan pintu dengan pandangan dingin.
"T-Tuan Besar... Nona Muda Keira bilang... pintunya tidak sengaja terkunci dari luar... dan kuncinya hilang..." jawab Aline dengan wajah ketakutan yang kembali ia pasang, tubuhnya merapat ke daun pintu seolah ingin menembusnya.
Adrian menghela napas pendek, menganggap ini adalah salah satu kejahilan harian anak-anaknya yang biasa. Ia melangkah menuju meja kerja besarnya di tengah perpustakaan untuk meraih telepon internal mansion guna menghubungi kepala keamanan.
Namun, sebelum jemari tangan Adrian sempat menyentuh gagang telepon kabel tersebut...
Bzzzt... Cklek!
Seluruh aliran listrik di dalam perpustakaan raksasa itu mendadak padam total. Lampu gantung kristal di langit-langit mati, pendingin ruangan berhenti berderum, dan sistem pencahayaan darurat pun tidak menyala—sebuah indikasi kuat bahwa sirkuit utama ruangan ini baru saja diretas dan dimatikan secara paksa dari pusat kendali eksternal.
Di kamar tidur mereka, Kenzo sedang tersenyum puas di depan laptopnya setelah berhasil meretas saklar daya lantai tiga menggunakan skrip malware buatannya sendiri. "Misi pencahayaan romantis dimulai," gumam bocah itu datar.
Di dalam perpustakaan, kegelapan gulita seketika menyelimuti ruangan. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendar sinar bulan yang samar-samar menerobos masuk dari jendela kaca patri besar di ujung ruangan yang berjarak cukup jauh dari posisi mereka. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan mencekam.
Aline yang memiliki kemampuan penglihatan malam yang sangat baik berkat latihannya, bisa melihat siluet tubuh tinggi Adrian yang berdiri diam di dekat meja kerja. Untuk mempertahankan perannya sebagai gadis desa yang penakut, Aline sengaja berakting panik.
"A-Aduh! Lampunya mati! Tuan Besar, saya sangat takut pada kegelapan!" Aline mulai menjerit kecil dengan nada panik yang dibuat-buat. Ia melangkah maju secara acak di dalam kegelapan, berpura-pura kehilangan arah dan keseimbangan di antara lorong-lorong rak buku yang sempit.
Sret!
Ujung sepatu kain Aline dengan sengaja menyenggol sudut karpet persia tebal yang sedikit terlipat di lantai. Tarikan itu membuat tubuh Aline kehilangan keseimbangan secara nyata—kali ini bukan sepenuhnya akting. Tubuhnya terjerembab ke depan, meluncur lurus ke arah posisi siluet tubuh Adrian yang sedang melangkah maju untuk memeriksanya.
Aline bersiap untuk menggunakan teknik jatuh selamat agar tidak terluka, namun sebelum tubuhnya menghantam lantai kayu yang keras...
Sepasang lengan yang sangat besar, kokoh, dan sekeras baja tiba-tiba terulur dari balik kegelapan. Dengan akurasi dan kecepatan refleks yang luar biasa khas seorang petarung papan atas, Adrian berhasil menangkap tubuh Aline yang melayang jatuh sebelum menyentuh lantai.
Bruk!
Tubuh mungil Aline mendarat tepat di atas dekapan hangat dan kokoh milik Adrian Dirgantara.