NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Sisi lain Prisha.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang tidak biasa di dalam ruangan kerja eksekutif itu. Jarum jam dinding berdesik halus, mengiringi suara ketukan pena Saka yang sesekali menandandatangani lembar demi lembar berkas audit keuangan.

Saka meletakkan penanya, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran. Pria itu meregangkan kedua tangannya ke atas, memutar lehernya yang terasa kaku setelah tenggelam dalam tumpukan dokumen perusahaan yang memusingkan kepala.

Sepasang matanya kemudian bergulir secara otomatis, beralih menatap ke sudut ruangan. Di atas sofa kulit besar yang empuk, Prisha masih tertidur pulas. Posisi tidurnya sedikit meringkuk, menyembunyikan wajah angkuhnya yang kini tampak begitu polos dan rapuh di bawah temaram lampu ruangan. Napasnya terdengar teratur, naik dan turun dengan lembut tanpa riak emosi seperti beberapa jam yang lalu.

“Ternyata dia benar-benar tidak mengganggu,” gumam Saka dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan angin.

Saka terdiam selama beberapa saat, memandangi sosok gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Di dalam benaknya, sebuah kesadaran baru perlahan-lahan mulai merayap. Saka baru sadar bahwa selama ini keputusannya untuk menghindari Prisha, mengunci diri di kantor, dan mengabaikan keberadaannya justru menjadi bumerang yang semakin merepotkan dirinya sendiri.

Tindakan menghindar itu hanya memicu Prisha untuk bertindak lebih nekat, mulai dari menerobos kantor hingga menghajar karyawan di depan matanya. Padahal, jika dipikirkan lagi dengan kepala dingin, gadis itu sebenarnya akan jadi sangat penurut dan mudah dikendalikan ketika ia diperlakukan dengan baik atau setidaknya tidak dipancing emosinya.

Keheningan di ruangan itu mendadak terusik ketika ponsel pribadi milik Saka yang tergeletak di atas meja kerja bergetar pelan. Layar gawai itu menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk tanpa nama, melainkan hanya tertulis sebuah inisial singkat di kontaknya: D.

Saka meraih ponsel tersebut, menggeser tombol hijau, lalu menempelkannya ke telinga. Ketika menjawab panggilan tersebut, Saka langsung memanggilnya dengan sebutan yang sama. “Ya, D. Ada apa?”

"Hari ini Prisha melakukan apa lagi?"

"Dia mengamuk, menyerang bendahara baruku."

D tertawa. "Lalu apa yang kau lakukan?"

Saka terdiam sebentar, mau tidak mau ia mengakui saran D yang sering ia abaikan. "Ku kira saranmu waktu itu hanya membual. Ternyata dia benar-benar diam."

D Di seberang telepon tertawa renyah, seolah sudah memprediksi hal ini sejak awal. “Lihatlah sendiri, Saka. Selama ini kau bersusah payah menghindarinya sampai mengunci diri, padahal dia sebenarnya sangat mudah ditangani asal kau tahu bagaimana caranya.”

​Saka mendengus, merasa terpukul oleh fakta yang baru saja ia sadari sendiri. “Karena sepanjang yang kutahu, dia adalah gadis yang paling merepotkan dan egois.”

​“Tenang saja,” sahut D, nada suaranya mendadak berubah menjadi lebih serius dan penuh penekanan. “Setelah semua urusanku di sini selesai, aku sendiri yang akan membawanya bersamaku keluar dari sana. Begitu dia melihatku nanti, aku bisa menjamin dia tidak akan pernah berpikiran untuk menikah denganmu lagi.”

​Saka menaikkan sebelah alisnya, bibirnya mengukir senyuman tipis yang sinis. “Kau sangat yakin sekali ya, D.”

​“Aku tahu dia lebih dari yang kau tahu, Saka. Sebenarnya, Prisha itu hanya butuh perlindungan. Dia sangat ketakutan dan merasa sendirian setelah semua hal buruk yang menimpa keluarganya terjadi bertubi-tubi. Jujur, aku sangat berterima kasih pada ibumu yang waktu itu bertindak cepat mencegah dia untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Pun karena hal itu, aku tidak akan pernah membiarkan dia menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintainya.”

​Saka mendengus pelan, seolah meremehkan untaian kalimat emosional dari temannya itu. “Hmp, kau tahu sendiri sejak dulu sampai sekarang, satu-satunya wanita yang kucintai hanyalah Utami.”

​“Yah, pertahankan saja itu,” ucap D dengan nada memperingatkan yang sangat tajam. “Jangan sampai kau menjilat ludahmu sendiri dan berakhir jatuh cinta pada Prisha. Prisha tidak layak berada di samping orang yang memandangnya sebagai sampah yang tidak berharga.”

​Mendengar peringatan keras itu, Saka spontan tertawa kecil, menganggap ucapan D sebagai sebuah lelucon paling konyol abad ini. “Haha. Kau tenang saja, D. Aku tidak akan mungkin bisa jatuh cinta pada sampah seperti dia. Seleraku tidak serendah itu.”

​“Baguslah kalau begitu. Kupegang ucapanmu itu baik-baik, Saka. Bahkan, aku sedang merekam seluruh percakapan kita saat ini sebagai bukti di masa depan.”

​“Silakan saja, aku tidak peduli,” jawab Saka acuh tak acuh sebelum memutus sambungan sepihak.

​Saka menurunkan ponselnya dari telinga, lalu memutar tubuhnya untuk kembali menghadap ke arah meja. Namun, langkah kakinya seketika terhenti. Ketika berbalik, ia mendapati sepasang mata Prisha sudah terbuka lebar. Gadis itu sudah terduduk di atas sofa sambil merapikan blus polkadotnya yang agak kusut, menatap Saka dengan pandangan penuh rasa ingin tahu.

​Prisha mengucek matanya sekilas, lalu bertanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. “Kak Saka baru saja berbicara dengan siapa di telepon?”

​Saka jika merespons dengan cepat untuk menutupi keterkejutannya. “Bukan siapa-siapa. Hanya temanku.”

​Prisha memicingkan matanya, insting posesifnya mendadak bangkit dalam sekejap. “Teman? Cewek atau cowok?”

​“Cowok,” jawab Saka pendek, tidak ingin memperpanjang interogasi yang melelahkan. Pria itu kemudian merapikan jasnya yang sempat dilepas, lalu berjalan mendekati meja kerja untuk mengambil tas dokumennya. “Sudahlah, jangan banyak tanya. Ayo kita pulang sekarang.”

​Prisha tertegun sejenak. Ia refleks menoleh ke arah jam dinding besar yang tergantung di ruangan kerja tersebut. Angka digital menunjukkan baru pukul empat sore. Jarum jam yang masih terlalu awal untuk ukuran seorang budak korporat gila kerja seperti Saka Tanubrata. Biasanya, pria itu baru akan keluar dari sarangnya setelah matahari benar-benar tenggelam.

​“Kak Saka serius mau pulang denganku sekarang?” tanya Prisha memastikan, sepasang matanya berbinar cerah.

​“Hmm, biar sekalian saja. Aku juga sudah menyelesaikan pekerjaan pentingku,” sahut Saka datar.

​“Yeay!”

​Prisha langsung bangkit berdiri dari sofa tanpa memedulikan rasa pegal di tubuhnya. Ia berlari kecil menghampiri Saka, lalu tanpa ragu langsung menyusupkan jemarinya ke sela lengan Saka, menggandeng tangan kekar pria itu dengan sangat erat dan manja. “Ayo pulang sekarang, Kak!” ucapnya seraya memamerkan senyuman paling manis dan tulus yang ia miliki sore ini.

​Saka hanya bisa terdiam, membiarkan lengan kirinya dikuasai penuh oleh gadis itu. Sambil berjalan beriringan menuju pintu keluar, Saka membatin di dalam hatinya. ‘Ternyata memang jauh lebih ringan menghadapi gadis ini secara langsung dengan sedikit bersikap lunak, daripada harus membuang energi untuk terus menghindarinya.’

​Begitu pintu kayu ek tebal itu terbuka, pemandangan di koridor eksekutif seketika berubah drastis. Di ruang tunggu berdinding kaca, bola mata Bora dan Adrian hampir saja melompat keluar dari kelopaknya. Cangkir kopi yang tengah dipegang Adrian bahkan sempat miring karena tangannya mendadak gemetar hebat melihat pemandangan di depan matanya.

​Saka Tanubrata—si tuannya yang biasanya memasang wajah tripleks—kini melangkah keluar dengan santai sembari membiarkan Prisha bergelayut bermanja di lengan kirinya dengan wajah yang tampak begitu bahagia.

​Adrian menyenggol lengan Bora dengan tidak santai, wajahnya dipenuhi ekspresi horor. “Hei Bora ... tolong tampar aku. Apa aku sekarang sedang bermimpi?”

​Bora yang biasanya memasang wajah sedatar papan pun kali ini tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia menurunkan cangkir kopinya perlahan, menatap lurus ke depan tanpa berkedip. “Sepertinya ... aku yang sedang bermimpi, Pak Adrian,” balas Bora dengan nada suara yang sedikit linglung.

​Sebelum mereka berdua sempat mencerna situasi gila tersebut, Prisha menghentikan langkahnya di depan ruang tunggu dan memanggil pelayannya dengan nada riang. “Bora! Apa lagi yang kau tunggu di sana? Ayo cepat, kita pulang.”

​Bora langsung tersentak dari lamunannya, buru-buru berdiri tegak dan merapikan pakaiannya. “Ba-baik, Nona,” jawabnya terbata-bata, segera berjalan cepat mengekor di belakang majikannya.

​Sementara itu, Adrian masih mematung di tempatnya berdiri dengan mulut yang sedikit terbuka. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat dengan kedua matanya sendiri.

Ia tahu pasti bahwa ia sudah menghabiskan banyak cangkir kopi pahit bersama Bora sejak tadi untuk menanti amukan jilid dua, jadi tidak mungkin ia mendadak tertidur dan mengalami halusinasi separah ini.

​Efek kejut dari kemesraan dadakan itu ternyata tidak berhenti di lantai eksekutif saja. Begitu pintu lift terbuka di area lobi utama, atmosfer di lantai dasar kantor Tanubrata Group langsung mendadak senyap seketika. Langkah kaki puluhan karyawan yang kebetulan sedang melintas di lobi mendadak terkunci di atas lantai.

​Bisik-bisik seketika pecah bagaikan dengungan lebah di setiap sudut ruangan saat mereka melihat bos besar mereka berjalan beriringan dengan sang 'Putri Gila' Kaelen yang beberapa jam lalu sempat memicu keributan.

​"Astaga, lihat itu! Bukankah itu Nona Prisha yang tadi melabrak masuk?" bisik seorang karyawan wanita di balik kubikelnya kepada rekannya.

​"Iya! Tapi kenapa sekarang mereka kelihatan ... manis begitu? Lihat tangannya, dia menggandeng Pak Saka!" sahut yang lain dengan mata melebar.

​"Bukannya tadi bendahara baru kita, si Angel, keluar dari sana sambil menangis dengan baju robek-robek? Kok sekarang Nona Prisha malah tersenyum begitu? Apa Pak Saka tidak marah?"

​"Gila, gosip besok pagi pasti akan sangat panas!"

​Di ujung meja lobi, sang resepsionis yang mengulur waktu dengan sekotak cokelat premiumnya, kini hanya bisa menatap pemandangan itu dengan raut wajah pasrah yang teramat dalam.

Tangannya yang memegang kotak cokelat sisa tadi mendadak lemas. Ia mengusap matanya berkali-kali, merasa dirinya juga sedang terjebak dalam halusinasi massal yang dibuat oleh alam bawah sadarnya setelah kebanyakan makan coklat.

​Namun, Prisha sama sekali tidak memedulikan pandangan tidak percaya ataupun bisik-bisik miring dari ratusan pasang mata karyawan yang menatapnya di sepanjang jalan keluar. Baginya, semua manusia di gedung ini hanyalah penonton di dalam panggung sandiwara yang ia pimpin.

Dengan dagu yang terangkat angkuh namun bibir yang terus menyunggingkan senyum, Prisha terus mengeratkan gandengannya pada lengan Saka, melangkah mantap keluar menuju mobil jemputan yang sudah disiapkan oleh Pak Riski di depan lobi.

​Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!