Aku hanya tidur setelah membaca novel, lalu bangun sebagai villainess yang dijadwalkan mati tiga hari lagi. Tunanganku membenciku, gadis suci itu mencurigakan, pelayanku terlalu dramatis, dan duke utara menawarkan kontrak seolah sedang memesan teh. Baiklah. Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menara Beku Tidak Suka Tamu
Aku belajar satu hal baru tentang Northmere: di sini, pagi tidak dimulai dengan ayam berkokok, melainkan dengan angin yang menghantam jendela seolah ingin menagih hutang keluarga.
Aku membuka mata dengan rambut berantakan, selimut sampai ke dagu, dan Mira berdiri di dekat ranjang membawa nampan sarapan seperti prajurit membawa persembahan pada dewi perang.
“Nona, kabar baik dan kabar buruk.”
Aku menatapnya. “Kenapa pagi-pagi hidupku sudah berbentuk pilihan ganda?”
“Kabar baik: sarapan hari ini bukan roti batu.”
“Syukur.”
“Kabar buruk: kepala dapur ingin bertemu hamba setelah mendengar rumor sendok medan perang.”
Aku mengusap wajah. “Mira, apakah kamu takut?”
Mira menegakkan bahu. “Tidak, Nona. Hamba hanya merasa hidup hamba memasuki arc turnamen dapur.”
“Semoga kamu menang tanpa membuat sup meledak.”
“Doakan hamba.”
Setelah sarapan yang cukup manusiawi, aku mengenakan gaun praktis berwarna hijau gelap dengan mantel wol. Mira menyelipkan tiga saputangan, satu botol salep, dua roti manis, dan satu sendok ke dalam kantongku.
“Mira.”
“Untuk keberuntungan.”
“Aku akan membuka menara rahasia, bukan piknik berbahaya.”
“Itu sebabnya roti hanya dua.”
Aku menyerah.
Di aula utama, Cassian dan Adrian sudah menunggu. Cassian mengenakan mantel hitam panjang, wajah tenang seperti biasa. Adrian membawa pedang dan ekspresi yang membuat semua pelayan memberi jalan tanpa diminta. Edmund hadir dengan kunci perak di atas nampan, seolah benda itu bukan kunci menara berbahaya melainkan makanan penutup.
“Siap?” tanya Cassian.
“Tidak,” jawabku jujur. “Tapi sepertinya ketidaksiapan tidak pernah menghalangi alur hidupku.”
Adrian menepuk bahuku. “Aku akan di depan.”
Cassian berkata, “Saya juga.”
Mereka saling menatap.
Aku merasakan udara turun dua derajat.
“Baiklah,” kataku cepat. “Kakak di depan kiri, Duke di depan kanan. Jangan bertarung memperebutkan posisi pelindung. Aku bukan piala turnamen.”
Mira yang ikut sampai koridor mengangguk. “Nona adalah hadiah utama takdir.”
“Mira, itu tidak membantu.”
Kami berjalan menuju kastel lama. Semakin jauh dari aula utama, semakin dingin udara. Koridor berubah sempit, dindingnya lebih tua, obor lebih jarang. Lukisan leluhur North di bagian ini tampak lebih galak, seakan hidup mereka berakhir dengan dendam dan mereka ingin semua orang ikut merasakan suasana.
Di ujung koridor, sebuah pintu besi tinggi berdiri tertutup. Embun beku menempel di permukaannya membentuk pola seperti ranting berduri.
Edmund berhenti. “Saya hanya bisa mengantar sampai sini.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Karena setelah pintu ini, kastel lama tidak menerima orang tua dengan lutut bijaksana.”
Aku menatap Cassian. “Apakah itu lelucon khas Northmere?”
“Edmund jarang bercanda.”
Edmund membungkuk. “Saya sangat serius tentang lutut saya, Lady.”
Aku menghormatinya.
Cassian memasukkan kunci perak ke lubang pintu. Kunci berputar dengan suara berat. Pintu terbuka perlahan, mengeluarkan udara dingin yang membuat napasku berubah menjadi kabut.
Di baliknya, jalan batu menanjak menuju menara beku.
Menara itu lebih menakutkan dari dekat. Dindingnya tertutup es tipis meski tidak ada salju di dalam koridor. Jendelanya hitam, seperti mata yang tidak mau berkedip. Di pintu utama menara, ada ukiran dua simbol: serigala North dan mawar hitam.
Aku menyentuh liontin di leherku.
Cassian berhenti di depan pintu. “Ini pintu pertama.”
Aku teringat tulisan ibuku: Jangan biarkan Cassian membuka pintu pertama. Ia akan melihat apa yang seharusnya dilupakan.
“Duke North,” kataku cepat saat ia mengangkat tangan. “Tunggu.”
Ia menoleh. “Ada apa?”
Aku tidak bisa mengatakan, “Ibu mati saya menulis pesan di buku harian ajaib dan menyuruh Anda tidak membuka pintu.” Itu terdengar terlalu tidak stabil bahkan untuk standar hidupku sekarang.
Jadi aku memilih alasan lain.
“Kontrak kita menyebut Anda membantu saya, bukan mengambil semua risiko sendirian.”
Adrian langsung setuju. “Benar. Biarkan aku buka.”
“Tidak juga,” kataku cepat. “Kakak juga terlalu bersemangat untuk menyentuh benda berbahaya.”
Adrian tampak tersinggung. “Aku terlatih.”
“Justru itu masalahnya. Orang terlatih sering merasa bisa menghadapi apa pun, lalu cerita memberi mereka luka dramatis.”
Cassian menatapku dengan mata menyipit. “Kau tahu sesuatu.”
“Aku curiga banyak hal.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu gaya hidup.”
Mira, yang seharusnya menunggu di luar tetapi entah bagaimana berhasil mengikuti sambil membawa selimut, mengangkat tangan. “Bagaimana kalau kita undi?”
Aku, Cassian, dan Adrian serempak menatapnya.
“Tidak,” kata kami bertiga.
Mira menunduk. “Baik. Demokrasi gagal.”
Aku melangkah ke depan. “Aku yang buka.”
Adrian langsung menarik lenganku. “Tidak.”
Cassian berkata, “Itu terlalu berisiko.”
“Jika pintu ini memang membutuhkan darah Arvella, maka aku satu-satunya yang bisa membuka tanpa memaksa orang lain berdarah.”
Mira mendesah dramatis. “Nona sangat pemberani sampai hamba ingin pingsan dengan hormat.”
Aku menatapnya. “Tunda dulu.”
Di pintu terdapat lekukan kecil berbentuk mawar. Aku mengeluarkan pisau kecil dari meja sarapan—jangan tanya, aku belajar dari Mira—lalu menusuk ujung jariku. Darah merah muncul. Aku menekan jariku pada lekukan itu.
Pintu bergetar.
Simbol mawar hitam menyala redup.
Lalu terdengar suara perempuan.
Putri Mawar, sebutkan dosamu.
Aku membeku.
Adrian menarik pedang. Cassian tampak tegang. Mira hampir menjatuhkan selimut.
“Dosaku?” bisikku.
Suara itu mengulang.
Sebutkan dosamu.
Aku berpikir cepat. Ini pasti semacam kunci sihir. Jika salah menjawab, mungkin kami dibekukan, dikutuk, atau diberi ceramah panjang dari leluhur.
Dosa Evangeline asli? Terlalu banyak. Surat cinta obsesif, melempar vas, menghina orang, bertengkar dengan Seraphina. Tapi apakah pintu ini meminta dosa moral atau kata sandi?
Aku mengingat catatan di kover cerita yang kupilih sendiri: “Kalau aku harus hidup sebagai penjahat, setidaknya aku akan menjadi penjahat yang sulit dibunuh.”
Aku menarik napas.
“Dosaku,” kataku keras, “adalah terlalu mudah dijadikan kambing hitam oleh orang yang kurang kreatif.”
Hening.
Mira berbisik, “Nona, apakah itu jawaban religius?”
“Entahlah.”
Pintu bergetar lagi.
Lalu suara perempuan itu terdengar, kali ini hampir seperti tertawa.
Jawaban diterima.
Pintu terbuka.
Aku menoleh ke Cassian dan Adrian. “Ternyata sarkasme bisa membuka pintu sihir.”
Cassian menatapku lama. “Saya harus mencatat itu.”
Di balik pintu, ada ruang bundar dengan tangga spiral naik ke atas dan turun ke bawah. Dindingnya dipenuhi ukiran mawar dan serigala. Di tengah ruangan, terdapat cermin besar tertutup kain hitam.
Udara di dalam terasa aneh. Dingin, tetapi tidak mati. Seperti ruangan ini menunggu seseorang selama bertahun-tahun dan mulai bosan.
Mira melangkah pelan. “Nona, apakah kita harus membuka kain itu?”
Dalam cerita horor, jawabannya selalu tidak. Dalam cerita misteri, jawabannya selalu ya. Dalam hidupku, aku tampaknya tidak punya pilihan karena benda mencurigakan selalu menangkap perhatian semua orang.
Aku mendekati cermin.
Cassian berkata, “Hati-hati.”
“Aku selalu hati-hati.”
Adrian mendengus. “Sejak kapan?”
“Sejak aku hampir mati. Tolong hargai pertumbuhan karakter.”
Aku menarik kain hitam itu.
Cermin terbuka.
Tetapi bayangan yang muncul bukan diriku.
Di dalam cermin, seorang perempuan berambut merah gelap berdiri sambil memegang bayi. Wajahnya mirip Evangeline, hanya lebih dewasa dan lebih lembut. Aku tahu tanpa harus diberi tahu.
Ibu Evangeline.
Lady Rosaline Arvella.
Mira menutup mulut. Adrian membeku.
Cassian menatap cermin dengan wajah yang tiba-tiba kehilangan semua ketenangan.
Di dalam cermin, Rosaline menoleh seolah bisa melihat kami.
Suaranya terdengar pelan.
Jika kau melihat rekaman ini, berarti Cassian kecil gagal melupakan.
Aku menoleh ke Cassian.
“Cassian... kecil?”
Untuk pertama kalinya, Duke Utara tampak benar-benar ingin melarikan diri.
Mira berbisik kagum, “Yang Mulia Duke pernah kecil?”
Cassian menatapnya. “Semua orang pernah kecil.”
“Hamba sulit membayangkan.”
Aku hampir tertawa, tetapi cermin kembali bersuara.
Rosaline, kau harus pergi, suara pria terdengar dari rekaman. Suara itu lebih muda, tetapi mirip Cassian. Mungkin ayahnya.
Cermin menunjukkan pria dewasa berambut hitam berdiri di samping Rosaline. Di belakang mereka, seorang anak laki-laki kecil berambut hitam mengintip dari balik pintu sambil memegang cangkir kecil.
Aku menatap Cassian.
Cassian menutup mata sejenak.
Mira hampir meleleh. “Duke kecil membawa teh kecil...”
“Jangan,” kata Cassian.
“Lucu sekali,” bisikku.
“Lady Evangeline.”
“Baik, maaf. Kita sedang dalam adegan serius.”
Rekaman cermin berlanjut. Rosaline menyerahkan sebuah buku kepada ayah Cassian.
Ordo sudah masuk istana. Mereka akan memakai gadis itu. Saintess bukan penyelamat. Ia kunci.
Aku membeku.
Saintess bukan penyelamat.
Ia kunci.
Rekaman tiba-tiba bergetar. Bayangan menjadi kabur. Rosaline menatap langsung ke depan.
Evangeline, jika suatu hari kau berdiri di sini, jangan mencari siapa yang menjebakmu. Cari siapa yang menciptakan peranmu.
Cermin retak.
Aku mundur satu langkah.
Di bawah cermin, sebuah laci kecil terbuka sendiri. Di dalamnya terdapat peta tua dan selembar kertas.
Cassian mengambil peta itu. Aku mengambil kertasnya.
Tulisan di atasnya hanya tiga kata.
Naskah asli disembunyikan.
Aku merasakan kulitku meremang.
Naskah asli?
Novel yang kubaca ternyata bukan seluruh cerita.
Atau lebih buruk.
Dunia ini bukan sekadar novel.
Dunia ini punya penulis lain.
Dan seseorang sudah menulis Evangeline sebagai penjahat sejak awal.
Aku menyentuh halaman itu, tetapi tidak ada tulisan tambahan. Tidak ada instruksi. Tidak ada catatan kaki ramah seperti “harap jangan panik”. Sangat disayangkan. Jika dunia ini memang punya naskah asli, seharusnya ia menyediakan indeks.
Adrian berdiri di belakangku dengan wajah gelap. “Kita tidak bisa membiarkan buku ini tetap di sini.”
“Tidak bisa juga langsung membawa semuanya,” kata Cassian. “Jika sihirnya terikat pada ruang ini, memindahkan buku utama bisa memicu jebakan.”
Aku menatap rak-rak batu yang menjulang. “Jebakan seperti apa?”
“Beku permanen. Ruang runtuh. Ingatan terhapus. Atau kutukan keluarga.”
Mira menutup telinga. “Hamba tidak ikut, tetapi hamba merasa ikut menderita.”
“Duke North,” kataku, “apakah Anda sengaja menyebut semua kemungkinan terburuk?”
“Saya menyebut kemungkinan umum.”
“Northmere butuh brosur wisata baru: datang untuk salju, tinggal karena ingatanmu terhapus.”
Cassian hampir tersenyum, tetapi kemudian matanya kembali ke cermin yang retak. Bayangan anak kecil dalam rekaman sudah hilang, tetapi aku bisa melihat ia masih memikirkannya. Cassian kecil, ayahnya, ibuku. Mereka semua terikat dalam sesuatu yang jauh lebih lama daripada fitnah tiga hari lalu.
Aku menyimpan kertas itu di balik mantel. “Baik. Kita ambil yang bisa dibawa, tinggalkan yang bisa membunuh, dan kembali sebelum tempat ini memutuskan kita tamu buruk.”
Adrian mengangguk. “Akhirnya rencana yang masuk akal.”
“Jangan terbiasa. Biasanya rencanaku berkembang sambil berlari.”