NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:59k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Kepercayaan Yang Retak

Jovian masih menatap pintu ruangan yang baru saja dimasuki Jena. Pikirannya tertinggal pada tatapan dingin wanita itu. Tidak ada pertanyaan sedikit pun. Dan justru itu yang membuat hati Jovian terasa jauh lebih tidak tenang. Jena memilih diam dan bersikap profesional. "Aku harus segera menjelaskan semuanya pada Jena," pikirnya. Jovian hampir melangkah mengejar Jena, ingin menjelaskan semuanya saat itu juga. Namun sebuah sentuhan di bahunya membuat langkahnya terhenti.

Michelle menepuk bahu Jovian dengan lembut. "Jovian."

Jovian menoleh. Michelle menatapnya dengan ekspresi serius sambil memegang map berisi dokumen. "Bisa kita lanjutkan? Charity event tinggal sebentar lagi. Masih ada beberapa hal yang harus kita finalisasi."

Jovian mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruangan Jena sekali lagi.

Rasa bersalah kembali menyerangnya.

Semalam ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa pertemuannya dengan Michelle hanya akan sebatas pekerjaan.

Namun kenyataan bahwa Jena melihat mereka bersama setelah ia mengingkari janji untuk menjemputnya membuat semuanya terlihat jauh lebih buruk.

"Jovian?" Panggilan Michelle kembali menyadarkannya.

Ia menarik napas panjang lalu mengangguk. "Ya. Kita lanjutkan."

Michelle berjalan lebih dulu menuju ruangan CEO. Namun sebelum mengikuti langkah wanita itu, Jovian mengambil ponselnya. Ia mengetik pesan singkat untuk Jena.

"Aku minta maaf soal tadi pagi. Aku akan jelaskan semuanya setelah pekerjaan ini selesai. Jangan marah dan jangan salah paham ya, Sayang." Jarinya menggantung beberapa detik di atas tombol kirim. Ia tahu pesan itu mungkin tidak akan langsung menghapus kekecewaan Jena. Tetapi setidaknya kali ini, ia tidak ingin membiarkan Jena kembali merasa ditinggalkan tanpa penjelasan.

Pesan itu akhirnya terkirim.

Sementara di balik pintu ruangannya, Jena menatap layar komputer yang menyala. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Ponselnya yang baru saja bergetar tergeletak di atas meja. Nama Mas Jovian muncul di layar. Namun Jena tidak terburu-buru mengambilnya.

Satu jam berlalu.

Pembahasan mengenai charity event akhirnya selesai. Jovian dan Michelle keluar dari ruangan CEO dengan membawa beberapa dokumen yang sudah disepakati.

Namun sejak keluar dari ruangan itu, pikiran Jovian tidak pernah benar-benar fokus. Matanya langsung mencari pintu ruangan Jena yang berada di sebelah ruangannya.

Ia masih mengingat ekspresi wanita itu saat pagi tadi. Dingin, tenang, namun penuh luka.

"Michelle, kamu bisa lanjut dengan tim desain. Aku mau menemui Jena dulu," ucap Jovian sambil melangkah menuju ruangan sekretaris sekaligus kekasihnya itu.

Namun baru beberapa langkah, suara berat menghentikannya. "Jovian."

Jovian menoleh. Sang ayah berdiri dengan kedua tangan di sisi badan. "Papa."

"Ikut Papa. Ada beberapa laporan yang harus kita bahas sekarang."

"Pa, tapi aku-"

"Sekarang, Jovian." Nada suara Bimo tidak memberikan ruang untuk membantah.

Jovian menoleh lagi ke arah pintu ruangan Jena. Rasa frustrasi memenuhi dadanya. Seolah sejak pagi, keadaan tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepada wanita yang dicintainya. "Baik, Pa." Dengan berat hati, ia mengikuti ayahnya.

Sementara itu, Michelle yang menyaksikan semuanya tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian, ia melangkahkan kakinya menuju ruangan Jena. Tangannya mengetuk pintu dengan pelan.

"Masuk." Jena yang sedang memeriksa beberapa berkas mengangkat wajahnya saat melihat pintu terbuka dari luar. "Bu Michelle."

Michelle tersenyum ramah dan menutup pintu di belakangnya. "Aku ingin bicara sebentar dengan kamu. Kamu ada waktu 'kan?"

"Tentu." Jena mengangguk.

Michelle duduk di kursi depan meja Jena. Beberapa detik ia hanya mengamati wanita di depannya. "Kamu dan Jovian sudah berapa lama bersama?"

Pertanyaan itu membuat Jena sedikit heran. "Kenapa bertanya seperti itu?"

"Hanya penasaran."

Jena terdiam sejenak sebelum menjawab. "Sembilan tahun."

Mata Michelle sedikit membesar. "Wah." Kemudian ia tertawa kecil. "Lama sekali."

Jena hanya mengangguk. "Iya."

Michelle menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jena, kamu tidak perlu cemburu padaku." Jena menatapnya datar. "Aku dan Jovian tidak punya hubungan apa-apa. Kami hanya rekan kerja." Jena tetap diam. Michelle kembali melanjutkan ucapannya. "Jangan terlalu overthinking. Karena kalau kamu terus bersikap penuh curiga dan selalu mempermasalahkan kedekatan kami dalam pekerjaan, lama-lama Jovian bisa jenuh."

Kalimat itu mulai membuat rahang Jena mengeras.

Michelle tersenyum tipis. "Dan seorang pria yang jenuh dengan pasangannya, terkadang akan mencari wanita lain yang lebih pengertian."

Seketika Jena meletakkan pulpen di atas meja. Tatapannya berubah tajam. "Dan wanita yang lebih pengertian itu adalah Bu Michelle?"

Seketika, senyum Michelle berubah. Bukan lagi senyum ramah. Melainkan senyum yang menyiratkan tantangan. Gadis berbaju merah marun dan rok span selutut itu menyeringai kecil lalu mengangkat bahu. "Maybe?" Ia mengangkat bahu.

Jena mengepalkan tangannya di bawah meja. Sekarang ia mengerti. Tujuan Michelle datang ke ruangannya bukan untuk menenangkan dirinya. Bukan untuk menjelaskan hubungan profesionalnya dengan Jovian. Wanita itu datang untuk menguji seberapa kuat kepercayaan dan kesabaran Jena.

Namun kali ini, Jena bukan wanita yang akan menangis dan diam seperti sebelumnya. Tatapannya tetap lurus menatap Michelle.

Meskipun hatinya masih terluka oleh sikap Jovian pagi ini, satu hal yang ia tahu pasti. Ia mengenal pria itu.

Sembilan tahun bukan waktu yang sebentar. Mereka telah melewati begitu banyak badai, kesalahpahaman, perbedaan, dan berbagai ujian yang datang dalam hubungan mereka.

Karena itu, Jena tidak akan membiarkan wanita lain datang dan menggoyahkan keyakinannya begitu saja.

Dengan tenang, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Saya percaya pada Jovian."

Michelle menaikkan alisnya. "Benarkah?"

Jena mengangguk. "Kami sudah melewati banyak rintangan bersama. Termasuk hadirnya ulat bulu yang ingin merusak hubungan kami."

Seketika ruangan menjadi hening.

Beberapa detik kemudian, Michelle berdecak pelan. "Ck." Ia mengangkat tangannya dan menyentuh poni rambutnya dengan gerakan santai. Alih-alih marah, senyum tipis justru muncul di bibirnya. "Kepercayaan dirimu bagus sekali." Michelle menatap Jena dari atas hingga bawah dengan tatapan sulit diartikan. "Aku suka."

Jena tidak menjawab. Ia hanya membalas tatapan wanita itu dengan tenang.

Michelle lalu berdiri dari kursinya. "Pertahankan kepercayaan itu, Jena." Ia melangkah menuju pintu. Sebelum membuka pintu, Michelle berhenti sejenak tanpa menoleh. "Karena terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah orang ketiga." Jena tetap diam. "Tapi dua orang di dalam hubungan itu sendiri."

Setelah mengatakan kalimat itu, Michelle membuka pintu dan keluar begitu saja dari ruangan. Suara ketukan heels-nya terdengar menjauh dan akhirnya menghilang.

Baru setelah Michelle benar-benar pergi, Jena mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan.

Tatapan kuat yang ia tunjukkan di depan wanita itu perlahan berubah sendu. Ia memang percaya kepada Jovian. Sangat percaya. Namun bukan Michelle yang membuatnya takut.

Yang membuatnya sakit adalah kenyataan bahwa orang yang ia percaya itu kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Jena menatap ponselnya yang masih menampilkan pesan dari Jovian.

"Mas akan jelaskan semuanya setelah pekerjaan ini selesai."

Jena menggenggam ponselnya erat.

"Kali ini, kamu harus benar-benar menjelaskan semuanya, Jovian," bisiknya lirih. "Karena kepercayaan di antara kita yang dibangun selama sembilan tahun memang kuat. Tetapi jika terus menerus kamu mengulangi hal yang sama, kepercayaan itu pasti akan retak juga."

1
partini
ortumu mah Very good 👍
Ama Apr: belum tahu dia😂
total 1 replies
Asphia fia
lanjut thor update LBH byk lg💪
Ama Apr: Insya Allah kk
total 1 replies
Nining Sariningsih
wah orang tua yang bijak,,,,,gak kayak keluarga si Jovan yang tonik,cocok thoorrrrrr kalau jena dapat keluarga kayak keluarga pak Trisno ma bunda Laila aku doa in mudah2an jodohnya jena,,,,,semangat thooorrr💪💪💪
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🫰
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
namanya unik loh...Obi alias mas Toto 😅
Ama Apr: hahaha, berarti bs aja 2 orh yg beda🤭
total 3 replies
Dartihuti
masya'allah betul ortu yg bijak ...kebahagian yg hakiki lbh utama dr pd gelimangan harta tp hati terasa hampa...harta bisa di cari bersama kebahagian gk akan mampu di beli dng semua yg harta punya aaa...betul " 👍pak Trisnoudah maruk dqn nafsu harta apapun susah tuk menyadarkan kl org dah egois bin srakah
Ama Apr: kan, masih ada orkay yg bijak🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Bimo belum tahu saja kalau Mas Toto itu Obi laki2 yg direndahkan derajat nya oleh anak istrimu kalau ketemu pasti menolak 100%, sebab kelakuan anak istrinya, dan untuk Jihan belum tentu dia masih perawan siapa tau udah jebol duluan melihat pergaulan nya saja begitu sama kaya Michelle
Ama Apr: hihi, kena mental mereka🤣
total 1 replies
partini
wah ternyata ga mulus ya pak Bimo mua main curang Tah jangan" Bimo kepikiran menjebak biar tangung jawab macam obat perangsang mungkin setalah tau siapa anak pak Tris tentu nya
pak Tris ortu yg 👍
Ama Apr: hehe, iya kk
total 3 replies
Andriyati
aku rasa dia punya gangguan mental,,
Ama Apr: michelle kk?
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
terlalu berambisi pengen jodoh in anak nya sama keluarga konglomerat 😏
Ama Apr: betul kk
total 3 replies
Oma Gavin
jangan mau pak trisno temen mu itu licik matre dan sombong
Ama Apr: hoho iya
total 1 replies
Eneng Farida
aduh beneran bkn toto kan anak pak tresno?
Ama Apr: kita lihat nanti
total 1 replies
Dartihuti
Percaya deh dng crita Nikita kl sikap Pak Trisno lbh bijak gk seegois main trima si Bimo main asal jodohi anak hanya buat urusan bisnis...jg bisa bedain sikap org tulus apa fulus
Ama Apr: yap, betull
total 1 replies
partini
semoga ga Jena sama Niki kedepannya ga ada masalah takut nya cinta bertepuk sebelah kaki wehhh🤦
pak Bimo to the point sekali wehhh
pak tri responnya seperti apa yah penasaran langsung gas atau seak seok
Ama Apr: hehe, besok y kk
mau up lagi, nggak keburu🤣
total 3 replies
Amy
semoga pak trisno nggak mau jodohin anaknya sama jihan,,,,tolak mentah2 aja
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
Dartihuti
Diiih...nafsu amat ingin c4 berbesan orang kaya biar + bonafit biar di pang tak terkalahkan gk tahu tar sok ...Pak Tridno mang kayak anda tuan Bimo yg gila akan sumber kekayaan hingga meremehkan org
Ama Apr: kita buktikan, apa trisno sm gila harta
total 1 replies
Oma Gavin
weleh ngarep banget anaknya bisa tunangan sama anak pak trisno yg sudah kesengsem sama jena jgn harap bisa yg ada kamu terkejut setelah tau jena kerja di perusahaan pak trisno
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
partini
sat set sekali mau di jodohin,aihhh ga jadi mendoakan kamu jadi mantu pak tri Jen 🤭
Ama Apr: belum tentu pk tris nya mau🤭
total 1 replies
Yeni Astriani
semoga pak Trisno menolak perjodohan itu sama Jihan jangan Terima keluarga sombong☺☺☺
Ama Apr: wkwkwk, aamiin
total 1 replies
Kota Tegalan
PD BANGET si Bimo 🤣🤣🤣🤣 yg ada ntarr Jihan mewek 😆
Ama Apr: ketawain aja kk
total 1 replies
Dartihuti
Moga di mudahkan ya Jena...
Pak Trisnonya terkesan dng prilaku jg kinerjamu...begitu jg Authour nya🥰
Ama Apr: aamiin, makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!