Seorang suami yang mempunyai dua istri, namun keduanya baik-baik saja tidak ada masalah.
Istri pertama sakit-sakitan dan tidak di karuniai anak, sementara Istri kedua di karuniai seorang putra.
Akan tetapi Sang Suami tidak puas dengan dua Istri, Dia masih tergoda wanita lain.
Akhirnya Dia jatuh dalam pelukan wanita jahat dan serakah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umi Asmarani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27 Emosi Icha
Dalam perjalanan Icha terdiam, Eli pun ikut terdiam. Melihat Icha yang mendadak diam membuat Eli curiga. Akhirnya sampai juga ke rumah Icha. Rumah mewah bak istana ini hanya di huni Icha sendirian selain para asisten rumah tangga, karena Papah Icha sibuk di kantor.
"Kenapa Icha jadi berubah begini, padahal tadi ngotot banget mau cari tau di TKP," batin Eli.
Icha berjalan sangat cepat, Eli mengekor di belakangnya. Saat berada di ruang tamu Eli di suruhnya duduk dan Icha pergi meninggalkannya. Icha mencari Papahnya disemua sudut rumahnya tapi semua sepi, Icha berjalan menuju dapur bermaksud menanyakan sama Si Mbok.
"Mbok, semalem Papah pulang ke rumah apa ngga," tanyaku sama Si Mbok.
"Semalem Tuan pulang bersama-sama temannya Non," balas Si Mbok.
"Ya sudah, nanti bilangin ke Papah ya ada urusan penting, no HP nya ngga aktif," Icha meninggalkan pesan buat Papahnya sama Si Mbok.
Icha jarang pulang ke rumah, lantaran jauh dari kampusnya jadi memilih kost yang deket dengan kampus. Seminggu sekali Icha pulang ke rumah, tapi jarang sekali dia bertemu sama Papahnya. Papah Icha orangnya super sibuk, dia ngga pernah ngurusin Icha, yang dia tau Icha akan bahagia dengan harta banyak yang dia miliki.
Icha kembali ke ruang tamu di mana dia tadi meninggalkan Eli sendirian di sana.
"Papah ngga pulang semalem, kamu nemenin aku ke kantor Papah mau ngga,?" tanyaku menawarkan.
"Boleh,"sahut Eli dengan mengangkat kedua bahunya.
Mereka pun bergegas pergi dari ruang tamu menuju halaman rumah. Icha masih tetap pada mode diam dan jutek, entah apa yang ada dalam benaknya. Mobilpun melaju menuju pintu keluar dan perlahan menghilang di jalanan.
****
Hari ini Bara sudah di perbolehkan pulang dari RS, dengan menggunakan roda Nando mendorongnya pelan keluar dari ruang rawat inap.
Nara jalan di belakang mengikuti mereka, raut kekhawatiran sudah tak nampak. Nara tak henti-hentinya bersyukur, Bara putra semata wayangnya selamat dari maut.
Nando sama Nara sudah tidak mempermasalahkan lagi tentang penusukan itu, karena Bara lah yang meminta untuk tidak melanjutkannya ke jalur hukum. Walau sebenarnya mereka sangat penasaran siapa dalang dari penusukan itu.
"Alhamdulillah...kita udah sampai rumah, Mas tolong keluarin dulu korsi rodanya," titah Nara, Nando pun langsung bergegas mengeluarkan korsi roda yang ada di belakang. Mereka mendorong kursi roda yang di duduki Bara masuk ke dalam rumah.
"Tante Dea, tidur sini aja ngga usah pulang," pinta Bara kepada Dea. Dea pun menoleh ke arah Bara sambil mencubit sayang pipi Bara.
" Aduhh...sakit Tante, Bara udah bujangan, bukan anak kecil lagi jangan di cubit-cubit," Bara mengusap pipinya sambil memanyunkan bibirnya.
"Nanti rumah Tante di gotong semut kalau ngga ada yang nungguin," balas Tante Dea sambil ketawa.
Mereka tertawa, Bara pun merasa malu di perlakukan seperti anak kecil.
"Mah, Yah...Bara pengin sendiri," pinta Bara dengan serius.
Nara, Nando dan Tante Dea pun melangkah pergi dari kamar Bara, mereka saling tatap karena merasa aneh.
"Aku paham betul laki-laki yang menusukku waktu itu, apa Icha tau kalau yang melakukan penusukan itu orang suruhan Papahnya. Kenapa mereka sampai melakukan ini kepadaku, apa salahku," Bara terus bertanya-tanya dalam hatinya, dia tidak habis pikir kenapa ini sampai terjadi pada dirinya.
"Huuufftt..." Bara menarik nafas dan membuangnya dengan cepat. Ahh sudahlah, aku ngantuk mau istirahat.
Bara berjalan pelan menuju tempat tidur sambil memegangi perut bagian kirinya yang masih terasa sakit, terlihat jelas wajahnya menyeringai menahan sakit. Tapi rasa kantuk agaknya mengalahkan rasa sakit yang ia rasakan, akhirnya Bara pun terlelap tidur.
****
Icha berjalan menuju ruangan Pak Arga, tak ada yang mampu menghentikan langkahnya. Mereka semua tau Icha adalah Putri sang Pemilik Perusahaan. Mba Tika sang sekretarispun tak mampu menghentikan langkahnya ketika dia menghadang karena Pak Arga sedang menerima tamu.
"Non, Pak Arga sedang ada tamu," Tika berusaha menghadang di depan pintu ruangan Pak Arga. Namun Icha tak menghiraukannya.
"Awas! minggir kamu! aku mau ketemu Papah," Icha menerobos masuk. Betapa dia kaget saat mendapati pemandangan di ruangan Papahnya. Perempuan cantik sedang berada di pangkuan Papahnya dengan kondisi baju berantakan dan rambut acak-acakan.
"Papah! begini rupanya kerjaan Papah, Icha ngga nyangka Pah," hardik Icha. Suruh perempuan itu keluar dari ruangan ini.
Pak Arga terlihat gugup dan segera merapihkan jas yang ia kenakan, dan mendorong pelan tubuh perempuan cantik dari pangkuannya untuk meninggalkan ruangannya.
"Ada apa sayang...kenapa kamu ngga ngabari dulu kalau mau ke kantor Papah," Pak Arga mendekati Icha dan mengusap rambutnya dengan lembut.
"Siapa perempuan itu Pah, kenapa Papah ngga ijin dulu ke Icha," jawabnya ketus dengan memalingka mukanya ke arah lain.
"Sini duduk dulu,"Pak Arga menepuk sofa mengajak Icha duduk di sana. Tapi rupanya Icha masih marah, dia tidak bergeming sama sekali.
"Kok anak Papah jadi seperti ini, jadi tukang marah sekarang," Pak Arga mencoba mengajaknya bercanda, namun Icha tidak menggubrisnya.
"Pah, apa benar orangnya Papah yang sudah melukai Bara temanku? mengapa Papah lakukan itu, aku mencintainya Pah," Icha menangis di depan papahnya, dia tidak terima kalau itu adalah benar-benar ulah papahnya.
Pak Arga bangun dari tempat duduknya menghampiri Icha yang masih mematung sedari tadi. Pak Arga menepuk pundak anaknya," Siapapun dia yang sudah mengecewakan putriku dia akan mendapatkan balasannya."
"Tapi tidak dengan Bara, Pah! dia memang susah didekati, tapi aku ngga mau melihat dia terluka," Icha yang masih terisak membenamkan kepalanya dalam pelukan papahnya. Aku mencintainya Pah, jangan pernah sakiti dia.
"Hmm, ternyata cinta telah merubahmu jadi lemah nak, Icha yang nakal, pemarah dan ngga punya hati sekarang telah berubah menjadi makhluk yang lemah," bisik papahnya lirih. Ternyata pemuda itu yang telah merubahmu.
****
Di sebuah kontrakan sederhana nampak seorang ibu terduduk disebuah kursi roda, tatapannya kosong entah apa yang sedang ia pikirkan. Suara deru mobil berhenti di halaman kontrakan.
Alex menendang kursi roda yang sedang Lina duduki "Lin bikinin aku kopi cepat! Istri macam apa kamu, bisanya cuma duduk!" Alex meneruskan langkahnya sambil memeluk seorang wanita.
Lina terdiam, cairan bening menetes dari kedua netranya, rasa sakit dan kecewa terpancar di raut wajahnya. Perlahan dia menggerakan kursi roda yang ia duduki menuju ke dapur.
Bayangan masa lalu terlintas dalam pikirannya.
Dulu...aku pernah menyakiti Nara, dan merusak rumah tangganya. Kini aku menuai apa yang pernah aku tabur.
"Ini Mas kopinya," Lina meletakan cangkir berisi kopi dengan tangan gemeteran. Setelah itu dia menggerakan kembali kursi rodanya menuju kamar. Tapi tangan Alex menariknya dengan kasar.
"Kenapa kopinya cuma satu, terus dia mau minum apa hah!" dengan kasar Alex membentak dan mendorong Lina dari kursi roda.
"Ambilin aku air dingin, cepat! mata perempuan itu melotot ke arah Lina.
Lina bangun dari lantai berusaha menarik kursi rodanya, setelah duduk di kursi roda di menggerakan kursinya kembali menuju dapur. Dia kembali lagi ke ruang tengah mengantar air minum dingin. Lina melihat mereka sedang bercumbu disofa sederhana yang ada di ruang tengah. Pemandangan seperti itu bukan kali pertama ini ia temui, hampir tiap hari dia membawa gonta-ganti perempuan. Entah sampai kapan dia akan seperti ini.
"Ya Allah, aku terima apapun itu...semoga mampu menebus dosa-dosaku di masa lalu."
andai dirimu nikahbdg nando dgn siri, harta ygvdiberikan nando ke kamu, jd harta gono gini istri yg sah sexara afama dan negara.
jd perkawinan dgn suri, tdk punya kekuatan hukum apapun.
Sudah tua kan ?
Waktu Nando selingkuh dgn Lina umurnya diatas 40 th. 23 tahun kemudian berarti sudah di atas 60th.
Hena teman sekolah Nando.
Masih melacur...