Kehidupan Satya Avero Angkasa sangat jauh dari kata baik. Setiap malamnya ia habiskan untuk bersenang-senang dengan para wanita bayaran.
Kehidupan Satya berubah saat seorang murid pindahan dari luar negeri yang kini sudah menetap di negara tercinta.
Rindi Wijaya, adalah perempuan yang menganut tata krama dan tahu bagaimana bersikap kepada orang lain. Setelah puasa sekolah grammar, kini Rindi bisa bernafas lega bisa merasakan sekolah biasa.
Namun semuanya tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan ketika dirinya bertemu dengan seorang pria mesum yang punya berbagai cara untuk mendekatinya..
Ikuti terus kisah mereka!
Fllw ig : @rohmatulkarimah_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohmatul karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kissmark
Satya mengangkat bahunya acuh kala rival nya tersenyum sinis kepadanya. Saat ini Satya tengah berada di arena balapan, kali ini taruhannya adalah sebuah mobil yang dipakai untuk bertanding. Barang siapa yang kalah maka dia akan memberikan mobilnya kepada si pemenang
"Are you ready?!.." teriak seorang wanita dengan pakaian sexy berdiri ditengah-tengah mobil keduanya
"Go!!..." teriaknya melempar sebuah bendera keatas, dan disaat itu pula kedua mobil itu dengan penuh kesetanan melaju kencang tanpa memikirkan nyawa mereka yang dipertaruhkan disana
Satya begitu sangat fokus dengan jalanan, mungkin sesekali ia melihat lawannya yang juga cukup hebat bagi Satya. Satya semakin menginjak gas nya agar bisa menjadi yang pertama
"Sial!" teriak Satya kala melihat mobil rival nya sudah berada di depannya. Tidak mau kalah Satya pun melakukan strategi untuk menipu lawannya. Satya sengaja meminggirkan mobilnya dan berpura-pura mati mesin
Brakk.
"Mampus!" teriak Satya girang setelah melihat mobil di depannya itu menabrak trotoar karena ulah jahilnya. Satya tersenyum devil, iapun menekan kembali tombol gigi dan menginjak gas nya sampai full
"Curang lo Satya!" teriak lawan Satya saat mobil Satya melewati mobilnya yang sudah mengeluarkan asap dari depan
"Hahha... Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan gue," ucap Satya dengan senyum iblis nya
"Termasuk lo!" Satya melihat ke belakang melalui kaca spionnya. Trik yang satya gunakan tadi adalah untuk menarik perhatian lawannya kalau ia tidak akan menang dipertandingan itu, namun lawannya tidak akan pernah tahu rencana apa yang tersimpan dari kekalahan sementara itu
"Satu... Dua... Tiga..."
"Satya! Huhu..." teriak orang-orang yang mendukung Satya. Senyum miring Satya singgungkan setelah ia sampai digaris finish. Ia melihat sebagian orang yang selalu mendukungnya bersorak girang
"Satya... Satya... Satya..."
Satya keluar dari dalam mobil dengan senyum manisnya, ia harus memberikan senyum yang sangat manis untuk kemenangan kali ini
"Weshh... Bro!" segerombolan anak yang selalu mendukung Satya menyambut kemenangan sohibnya itu
"Satya, selamat ya sayang!" seorang wanita yang seumuran dengan Satya memberikan selamat dengan bercepaka-cepiki
"Terima kasih." ucap Satya
"Dimana tuh anak?" tanya salah seorang teman kumpul Satya dengan sengaja ingin memanas-manasi kubu rival Satya
"Sedang menguji nyali dipertangahan jalan, dia terlalu sombong namun nyatanya kosong." jawab Satya dengan tersenyum remeh. Mendengar hal itu membuat para teman rival Satya berlari menuju kendaraan mereka untuk melihat teman mereka
"Mau ke mana Sat?"
"Gue mau pulang."
"Hadiah lo?"
"Gue enggak suka barang rusak, jadi anggap saja gue sedang bersedekah dengan anak itu."
"Ckck... Lo emang ya Sat, gitu mending mobilnya buat gue aja." Satya tersenyum kecil
"Gue duluan semuanya!"
"Hati-hati bro!" Satya mengangguk dan memasuki mobilnya kembali untuk meninggalkan arena balap
****
Satya menghentikan mobilnya didekat gerbang utama rumah Rindi, Ia menatap rumah besar nan megah milik keluarga wijaya itu
"Gue benar-benar memiliki pekerjaan baru, karena hanya ingin melihat lo," ucap Satya, ia merubah gaya duduknya dengan menurunkan jok mobil agar punggungnya bisa bersandar
Lama Satya memandang ke rumah Rindi, sampai salah satu gorden kamar dirumah itu terbuka lebar. Satya menegakkan tubuhnya untuk melihat siapa seseorang disana
"Belum tidur ternyata," ucap Satya kala melihat Rindi lah sosok yang muncul dari balik pintu balkon kamar itu
Satya mencari letak ponselnya, setelah menemukan apa yang ia cari. Satya segera menghubungi nomor Rindi sambil terus memandang Rindi yang terlihat tengah menikmati udara malam
"Tidak diangkat?" gumam Satya, melihat layar ponselnya. Sekali lagi Satya menekan tombol hijau
"Angkat sayang," ucap Satya penuh harap agar Rindi mengangkat telpon darinya. Satya melihat Rindi berlari masuk
"Hallo,"
"Sial, mendengar suaranya saja sudah membuat adik gue berdiri." batin Satya saat mendengar suara Rindi
"Hallo," sapa Rindi sekali lagi
"Kenapa belum tidur?" tanya Satya
"Emm... Tidak apa, aku tidak bisa tidur." jawab Rindi
"Memikirkan aku?" Satya tersenyum dengan pertanyaan nya sendiri
"Sejak kapan gue jadi lebay seperti ini?" batin Satya geli sendiri
"Kamu terlalu percaya diri Satya!" seru Rindi, Satya ikut tersenyum kala melihat Rindi menjawab dengan tersenyum malu
"Aku mengatakan yang sebenarnya sayang, buktinya kamu menjawab aku dengan tersenyum-senyum." Rindi terdiam mendengar ucapan Satya
"Kamu ada dimana?"
"Tidak penting aku ada dimana sayang, yang terpenting aku selalu mengawasi kamu." jawab Satya, terlihat Rindi menggigit ujung kukunya
"Jangan jorok seperti itu!" Rindi menoleh kesana kemari
"Leher mu akan sakit jika seperti itu, lebih baik kamu tidur saja daripada diam diluar seperti itu."
"Kamu ada dimana sih?"
"Tidur sekarang, atau aku pergi ke sana dan memaksa kamu untuk tidur dengan caraku."
"Ahh.. Tidak-tidak, aku akan tidur sekarang. Kalau begitu aku tutup."
Tut.
Satya menggelengkan kepalanya pelan, entah mengapa melihat tingkah Rindi dan mendengar suara Rindi membuat hatinya menghangat
"Kenapa gue jadi seperti ini?" Satya mengusap wajahnya kasar
"Rindi... Rindi... Pesona lo begitu kuat, sehingga mampu membuat seseorang seperti gue bisa memalingkan wajahnya."
****
Rindi meletakkan tas nya dan merapihkan rambutnya, ia melihat anak-anak kelas yang sibuk dengan kegiatan mereka. Rindi tersenyum dengan tingkah anak kelas yang berbagai macam
"Morning Rindi!" seru Eli yang baru saja masuk
"Morning juga El."
"Ini untuk kamu," Eli menyodorkan satu kotak susu kehadapan Rindi
"Wahh... Baik banget sih!" seru Rindi dan mengambil pemberian Eli
"Aku minum ya ini," ucap Rindi meminta izin kepada Eli untuk meminum susu tersebut
"Minum saja aku kan sudah memberikan itu sama kamu." Rindi tersenyum lalu mengangguk pelan
"Enak nih yang minum susu!" Rindi dan Eli menoleh, terlihat Satya dan Samuel tengah berjalan mendekat
"Apakah enak minum susu di pagi hari?" tanya Samuel kepada Eli. Ia tersenyum melihat kedua wanita di hadapannya tengah menikmati susu, seperti anak kecil saja pikirnya
"Sibuk banget sih kamu." jawab Eli sengit
"Dasar pundungan," ucap Samuel
"Suka-suka aku dong."
"Lebih enak minum susu langsung dari sumbernya." ujar Satya yang kali ini menimbrung, namun matanya tidak pernah lepas dari memandang Rindi, yang terlihat malu-malu itu
"Kissmark nya masih terlihat jelas." batin Satya, Samuel yang melihat tingkah Satya itu mengangkat bahunya
"Jangan buat dia tidak nyaman dengan lo pandangin dia seperti itu." bisik Samuel ditelinga Satya. Sedangkan Satya yang diberitahu oleh Samuel itu hanya menoleh sekilas, ia mengacuhkan peringatan Samuel dan melangkah menuju kursinya
"Masuk!" seru Satya menyuruh Rindi untuk masuk. Rindi pun mengangguk dan menggeser dirinya ke kursi sebelah
"Rindi, leher kamu kenapa?"
"Ya?" tanya Rindi, namun detik berikutnya ia tersadar kalau lehernya terdapat tanda yang dibuat oleh Satya. Samuel pun ikut melihat kearah leher Rindi
"Ini... Ini digigit serangga kemarin." jawab Rindi gugup
"Tinggal katakan saja kalau itu kissmark, untuk apa menutupinya."
"Kissmark?"
_
_
_
_
Bersambung...
kak buat rindi tau kelakuan Satya di luar dong yang berhubungan dengan cewek lain, biar jera satya
semoga Satya dapat pelajar dari kelakuannya, di tinggal rindi,biar gak gitu lagi kelakuannya