Selama lima tahun, Nur Halimah mengabdikan seluruh hidupnya untuk keluarga suaminya. Meski hanya menerima cacian, cemoohan, dan sikap dingin yang menyakitkan, dia tetap menyayangi mereka dengan tulus tanpa pamrih.
Namun ketulusan ternyata tidak selalu dihargai, saat Nur Halimah gagal menghadirkan buah cinta dalam pernikahan itu, suaminya tidak segan berpaling pada wanita lain.
Di titik terendah hidupnya, Halimah bertemu dengan Daffa Nugraha Surya. Pria kaya raya yang terlihat ambisius, tertutup, dan tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang tulus.
Demi menjadi pewaris sah perusahaan keluarga serta membuktikan dirinya di mata ibunya, Daffa memilih menikahi Halimah.
Bukan karena cinta, melainkan demi kesepakatan yang saling menguntungkan.
Dua jiwa yang sama-sama terluka... kini terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Mampukah ketulusan Halimah perlahan meluluhkan hati yang sedingin es milik Daffa? Atau justru Daffa-lah yang akan menghancurkan sisa hati Halimah untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RahmaYesi.614, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa dia di sini
Lima tahun lalu, Halimah bahkan tidak punya waktu untuk hanya sekedar menonton siaran televisi. Semua waktunya habis untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
Namun sekarang, usai sholat Zuhur tadi, Halimah hanya menatap siaran di layar televisi, bahkan kini ia mulai merasa bosan. Ia belum terbiasa dengan bermalas-malasan seperti ini.
"Mbok, boleh saya menanyakan sesuatu?" ucap Halimah dari sofa, sementara Mbok Ayu sedang mencuci piring bekas makan siang tadi.
"Tanya saja, Nyonya. Mbok dengar sambil nyuci piring," sahutnya lantang berlomba dengan suara air dari keran.
Sebentar Halimah menghela napas panjang, matanya terus menatap kearah punggung Mbok Ayu, "Mbok tau penyebab Nyonya Amanda begitu membenci Daffa?"
Mbok Ayu mendengar jelas pertanyaan itu. Dengan segera ia mematikan keran, menaruh piring terakhir yang dicuci keatas rak piring. Lalu, melangkah menghampiri Halimah.
Mbok Ayu tersenyum menatap wajah penasaran itu, "Kenapa Nyonya memanggil Nyonya Amanda dengan sebutan Nyonya? Bukankah harusnya Mama?"
Halimah menggeleng cepat, "Nyonya Amanda tidak suka dipanggil Mama. Kemarin saya memanggilnya Mama, tapi...." Halimah tidak melanjutkan kalimatnya, karena itu hanya akan membuatnya teringat lagi pada hari saat ia di sekap di gudang tua.
"Nyonya," Mbok Ayu memegang kedua tangan Halimah lembut, "Jangan terlalu membenci Nyonya Amanda ya. Dia hanya seorang anak yang dipaksa menikah dengan pria yang tidak dia cintai hanya demi keberlangsungan perusahaan."
Mbok Ayu mulai bertutur, menceritakan seperti apa Amanda dimasa lalu. Mbok Ayu memang baru mulai bekerja setelah Daffa lahir. Namun, cerita tentang Amanda bukan lagi rahasia di rumah utama.
"Tuan Dimas, suami Nyonya Amanda, anak dari supir kepercayaan Bapak Abimanyu. Tuan Dimas di sekolahkan sampai lulus S2 oleh Bapak Abimanyu. Tuan Dimas itu seseorang yang jujur, sangat jujur. Punya pendirian yang kokoh, baik hati dan bertanggung jawab."
Mbok Ayu juga menceritakan tentang Abimanyu yang hanya ingin mewariskan Surya Holding pada Dimas. Sehingga ia menjodohkan Dimas dengan Amanda.
Setelah pernikahan berjalan beberapa bulan, Amanda akhirnya luluh dan mulai menyukai Dimas karena ketulusan dan kejujuran Dimas.
"Tapi, malam itu Nyonya Amanda melihat langsung Tuan Dimas membawa dua wanita ke kamar hotel."
Halimah mendengarkan cerita Mbok Ayu tanpa menyela sedikitpun.
"Lalu, saat Tuan Dimas pulang. Malam itu mereka bertengkar hebat dan pagi harinya, Nyonya Amanda mengatakan bahwa Tuan Dimas telah merenggut kesuciannya secara paksa," Mbok Ayu menghela napas berat.
"Tidak ada yang benar-benar tau tentang apa yang terjadi antara Tuan Dimas dan Nyonya Amanda di malam itu. Namun, Nyonya Amanda mengatakan pada Bapak Abimanyu bahwa Tuan Dimas sedang menyusun rencana untuk mengkhianati Bapak Abimanyu. Sejak hari itu, Tuan Dimas diabaikan oleh semua keluarga Surya."
Mbok Ayu melanjutkan ceritanya, "Dua bulan kemudian Nyonya Amanda hamil. Dia bersikeras ingin membunuh janin yang baru tumbuh di rahimnya itu. Tapi, Bapak Abimanyu mengancam akan menarik semua fasilitas darinya jika berani melakukan sesuatu pada janin itu."
Mbok Ayu menghela napas, mengingat-ingat cerita yang ia dengar dari bisik-bisik ART yang bekerja di rumah utama.
"Dua minggu setelah kabar kehamilan Nyonya Amanda tersebar, Tuan Dimas mengalami kecelakaan. Mobilnya bertabrakan dengan truk dan Tuan Dimas meninggal di tempat," tutur Mbok Ayu menutup cerita itu. Karena memang hanya itu yang ia tahu sejauh ini.
Halimah menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca, "Tidak ada yang benar-benar bisa disalahkan atas apa yang terjadi. Mungkin, wajar Nyonya Amanda membenci Daffa atas kekecewaannya pada mantan suaminya. Tapi meski begitu, saya rasa Daffa tidak seharusnya menerima kebencian sebanyak itu, Mbok."
"Tuan Muda Daffa tidak pernah merasakan hangatnya pelukan seorang ibu atau pun ayah. Satu-satunya pelukan hangat yang dia rasa hanya pelukan Kakeknya. Nyonya Amanda amat sangat membenci Tuan Muda. Dan sekarang Tuan Muda juga sudah kehilangan satu-satunya manusia yang paling dia sayangi. Mbok harap, Nyonya tetap tinggal disisi Tuan Muda lebih lama," tutur Mbok Ayu penuh harap.
Halimah hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Mbok Ayu. "Aku ingin tinggal disisinya, Mbok. Tapi...." bisiknya dalam hati dan tak mampu melanjutkan kalimat itu.
Sementara di perusahaan, Daffa tidak bisa melanjutkan pekerjaannya. Ia hanya merebahkan punggung di sandaran kursi. Matanya terpejam, mengingat hari-hari bahagia bersama Kakeknya.
"Bos, maaf mengganggu," Beni masuk ke ruangan Daffa.
"Katakan," ucapnya tanpa membuka mata.
"Beberapa lamaran untuk lowongan Staf bagian HRD sudah masuk. Bukankah Bos ingin saya..."
"Saya akan memeriksanya sendiri," potong Daffa.
"Baik, Bos. Tapi..."
"Rapat, kan?"
"Iya, Bos."
"Lima menit lagi, saya akan ke ruang rapat."
"Baik, Bos."
Beni langsung keluar dari ruangan Daffa. Ia memberi tahu karyawan lain untuk bersiap di ruang rapat yang berada di lantai yang sama dengan ruangan bagian HRD.
Rapat itu berlangsung dengan baik seperti biasa. Hanya saja sedikit lebih tenang, karena Daffa tidak banyak protes. Ia terlalu lelah untuk melakukan hal itu dalam kondisi seperti saat ini.
Usai rapat, Daffa meninggalkan ruangan itu disusul oleh Beni. Saat hampir masuk lift, langkah Daffa terhenti. Matanya menatap jauh ke arah ruangan bagian staf HRD.
"Tasya!" gumamnya pelan.
Beni langsung menoleh kearah tatapan mata Daffa. Ia melihat seorang wanita berambut panjang diikat rapi baru saja keluar dari ruangan HRD.
Wanita itu terlihat asing, "Mungkin salah satu pelamar, Bos," ucap Beni tanpa tahu apa-apa.
Daffa langsung tersadar begitu mendengar suara Beni. Ia segera masuk ke dalam lift, menekan angka menuju lantai tempat ruangan kerjanya.
"Beni, bawakan semua daftar lamaran bagian HRD yang masuk hari ini!" perintahnya pada Beni.
"Baik, Bos," Beni keluar dari ruangan Daffa menuju bagian HRD untuk meminta data lamaran yang masuk khusus hari ini.
Sementara Daffa, duduk diam di depan komputernya. Jari-jarinya tanpa sadar mengetuk pelan di atas meja.
"Kenapa dia melamar kerja di sini?!"
Bersambung....
...Hai, hai pembaca setia 'Nur Halimah' 👋...
...Mohon bantu Author untuk terus melanjutkan cerita itu sampai selesai ya. Jadi, saat mampir tinggalkan jejak kalian, supaya Author tau kalau cerita Halimah dan Daffa ada yang selalu membaca dan menunggu update nya. Terimakasih 😁🤗...