Zahra dan Arya dipertemukan saat masih kecil. Mereka berjanji untuk bertemu lagi 13 tahun kemudian. Saat dewasa mereka bertemu dan bekerja bersama, namun mereka tak menyadarinya. Hingga menjelang pertemuan mereka, Zahra harus mengalami kecelakaan demi menolong Arya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fasya Al Hafizh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi makam Ayah Ibu
Pagi - pagi sekali Zahra sudah bersiap - siap untuk pergi keluar kota bersama Reyhan.
Tidak tahu mengapa Zahra sangat merindukan kedua orangtuanya. Sudah lama Zahra tak datang ke peristirahatan terakhir kedua orangtuanya.
" Assalamu'alaikum.."
" Wa'alaikumsalam...Mas Rey udah sampai, masuk dulu Zahra udah bikin sarapan.."
" Iya, kebetulan nggak sempet sarapan tadi..." jawab Reyhan sambil tersenyum.
Keduanya sarapan bersama lalu berangkat keluar kota supaya jalanan tak terlalu macet.
Sementara di tempat lain, Arya yang tak bisa tidur lagi setelah sholat shubuh hanya berdiam diri di kasur bergelut dengan selimut tebalnya.
" Kemana ya Rey pergi, huhh...menyebalkan sekali. Gue di tinggal sendiri, pasti lagi berduaan dengan Zahra..." gumam Arya.
" Apa gue telfon aja ya mereka lagi dimana...? tapi gengsi gue, masa boss nyariin bawahannya.. Arrgh...." geram Arya.
Sementara Reyhan dan Zahra sudah mulai melajukan mobilnya meninggalkan kota Jakarta.
Mereka mengobrol dan bercanda untuk menghilangkan rasa penat.
" Mas Rey, kenapa ikut Zahra pergi sih..? emangnya nggak jalan sama pacarnya...?" tanya Zahra.
" Hhhh...emangnya kamu pernah lihat aku bawa pacar. Satu - satunya gadis yang deket samu aku itu cuma kamu...hahahaa..."
"Masa' sih Mas, kalau Mas Arya dan Mas Lucky gimana..? Apa mereka juga punya pacar..? kalau Mas Ferdi kan sering gonta - ganti pacar.." tanya Zahra lagi.
" Arya setauku belum pernah pacaran dengan siapapun, kalau Lucky belum bisa move on dari mantannya. Kalau Ferdi ya seperti itu cuma cari kesenangan aja.." jawab Reyhan.
" Kalau Mas Rey, pernah punya pacar...?"
" Tidak, dulu aku menyukai seorang gadis. Tapi, saat aku mengajak dia untuk berkenalan dengan Arya dia malah ngejar - ngejar Arya. Makanya sekarang aku nggak mau cari pacar sebelum Arya menikah atau paling tidak dia bertemu dengan jodohnya..." ujar Reyhan.
" Kalau Mas Arya nggak bertemu jodohnya, Mas Rey ikutan melajang seumur hidup...hehehee.." ucap Zahra.
" Mudah - mudahan saja Arya cepat bertemu dengan jodohnya..." saut Reyhan.
" Mas, jodoh itu sudah ada yang ngatur. Mas tidak perlu menunggu Mas Arya punya pasangan. Kalau gadis itu memang jodohnya Mas Rey pasti tidak akan berpaling pada yang lain.."
" Begini Za, kamu sebagai perempuan jika di suruh memilih kamu pilih aku atau Arya...?"
" Mmmm...akuu...tidak pilih dua - duanya..hehehee..."
" Serius Za, jangan bercanda.."
" Ok, kalau menurut aku memilh pasangan itu dari hati. Bukan harta atau jabatan, jadi aku harus mengenal hatinya terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan. Aku juga tidak menilai pasangan dari fisik, tapi dari ketulusannya.."
Setelah beberapa jam perjalanan mereka berhenti untuk beristirahat dan makan siang. Setelah itu mereka masuk ke mushola untuk sholat dhuhur.
Setelah beristirahat satu jam lamanya Zahra dan Reyhan mulai melajukan lagi mobilnya.
Sore hari menjelang maghrib mereka sampai di kota tujuan.
" Za, kita mau kemana sekarang..?"
" Cari penginapan aja Mas, Zahra kan tidak punya rumah.."
" Ok, kita cari di sekitar sini aja keburu maghrib soalnya..."
Mereka menginap di sebuah penginapan sederhana namun sangat nyaman dan rapi. Hamparan bunga - bunga tersusun rapi di setiap depan pintu kamar pengunjung.
" Coba lho ikut kesini Ar, pasti sangat menyenangkan. Tunggu saja nanti, suatu saat gue bakal kasih tahu lho yang sebenarnya terjadi..." batin Reyhan.
Setelah membersihkan diri dan sholat maghrib, Reyhan menghampiri Zahra di kamarnya.
" Za, makan yuk. Udah laper nih sekalian jalan - jalan sebentar.." ajak Reyhan.
" Iya Mas, emangnya nggak capek udah jalan seharian..." saut Zahra.
"Kita jalan kaki aja keliling di sekitar penginapan.." ucap Reyhan.
" Ok, tapi kalau nanti Zahra capek di gendong ya..?" saut Zahra nyengir.
" Siap Tuan Putri.." Reyhan tersenyum melihat Zahra sedikit melupakan kesedihannya .
"Ehh, Za.. waktu di Villa itu pas kamu kabur ke sungai kok mau pulang karena bujukan Arya. Padahal kamu paling deket sama Ferdi kok maunya pulang sama Arya..." tanya Reyhan.
" Hehehee... soalnya Zahra takut sama Mas Arya, dia kalau lagi marah serem..." jawab Zahra tertawa.
" Jadi lho diancam kalau nggak mau pulang..?"
" Nggak juga sih, dia bersikap manis waktu itu. Bahkan dia mau gendong Zahra sampai di perkebunan..." ucap Zahra.
" Nggak bener nih Arya, katanya cuma ada Aulia dihatinya. Tapi Zahra juga di deketin..." batin Reyhan.
" Mas, kita makan disana aja ya.. Udah kejauhan kayaknya kita jalan..." ajak Zahra.
Setelah selesai menikmati makan malamnya, Zahra dan Rey kembali ke penginapan untuk beristirahat.
Pagi hari seusai sholat shubuh Zahra keluar dari kamarnya menghirup udara pagi yang masih segar, sedangkan Rey kembali tidur karena udara masih sangat dingin. Rasanya tak rela menanggalkan selimut hangatnya.
Jam sembilan pagi Zahra dan Reyhan berangkat ke makam orangtua Zahra. Mereka menyusuri jalan perkampungan yang masih sangat alami. Udara yang masih segar membuat Reyhan sangat senang.
" Mas, kita berhenti di depan sana ya.." ucap Zahra.
" Ok, kita sudah sampai ya..?" tanya Reyhan.
" Mas Rey tunggu aja disini, Zahra nggak lama kok.."
" Nggak apa - apa, aku temenin ke dalem..".
Zahra memasuki area pemakaman bersama Reyhan. Zahra duduk bersimpuh di depan makam kedua orangtuanya. Dia menangis meluapkan segala isi kerinduan di hatinya.
" Ayah, Ibu. Zahra datang, maaf Zahra sudah lama tak mengunjungi kalian. Harusnya Zahra kesini setelah wisuda seperti harapan Ayah dulu supaya bisa berpendidikan tinggi dan menjadi orang yang sukses. Ayah, Zahra berjanji tidak akan mengecewakan ayah dan ibu. Tapi, Zahra rasanya tak kuat hidup tanpa Ayah dan Ibu, Zahra merindukan pelukan kalian..." Zahra terus saja menangis. Reyhan mendekati Zahra dan memeluknya.
" Sabar Za, jangan menangis lagi. Paman, bibik perkenalkan saya Reyhan. Saya berjanji akan selalu menjaga Zahra. Aku tak akan membiarkan airmata kesedihan di wajah Zahra. Saya sudah menganggap Zahra seperti adik saya sendiri. Saya akan membuat Zahra bahagia..." ucap Reyhan.
" Paman, bibik. Anak gadismu sudah mulai dewasa sekarang. Seharusnya kalian yang mesti menjaganya sampai dia mendapatkan orang yang tepat untuk mendampinginya. Tapi, Tuhan lebih sayang pada kalian. Maka dari itu, izinkan saya untuk menggantikan tugas kalian untuk menjaga putri kalian sampai dia bertemu dengan pendamping hidupnya. Saya berjanji akan selalu ada untuknya..".
Zahra menatap ketulusan di mata Reyhan. Zahra sangat bahagia karena masih ada orang yang tulus menyayanginya. Reyhan dan Ferdi adalah sandaran hidupnya saat ini.
" Mas Rey, makasih ya Mas selalu ada buat Zahra. Mas Rey ada dalam rasa derita Zahra, dimana Zahra berada di tempat paling terpuruk. Mulai sekarang Zahra berjanji tidak akan merasa jadi sebatangkara lagi, karena ada Mas Reyhan dan Mas Ferdi di sisi Zahra..." ucap Zahra bersemangat.
" Ayah Ibu, Zahra dan Mas Reyhan pulang dulu ya. Zahra akan datang lagi nanti membawa Mas Ferdi juga. Ayah dan Ibu lihat, Zahra sekarang punya dua kakak laki - laki yang sangat sayang sama Zahra...". ucap Zahra dengan berurai airmata.
Setelah selesai ziarah, Zahra dan Reyhan bersiap - siap pulang ke Jakarta supaya tidak terlalu larut sampai rumah.
.
.
TBC
💧💧💧
Mohon dukungan untuk Author ya...
Jangan lupa like, coment, favorit, vote and rate 5...
Thank's....
💧💧💧
.
semangat
sukses,mksh