"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 #Keraguan yang pecah
Malam merambat makin larut menyelimuti Kediaman Besar Aditama. Suasana di lantai dua terasa teramat hening. Di dalam kamar tidurnya yang luas dan bernuansa Spider-Man, Kaivandra sudah tertidur pulas dengan napas teratur, memeluk erat guling kecilnya.
Gibran melangkah keluar dari kamar sang putra usai mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang remang. Pria itu menyandarkan punggungnya sejenak pada pintu kayu yang tertutup, mengembuskan napas panjang. Wajah tampannya tampak begitu lelah, diliputi beban pikiran yang sangat berat. Percakapannya dengan Kai di dalam mobil siang tadi masih terus berputar tanpa henti di kepalanya, mengoyak-oyak logika dan emosinya.
Saat Gibran hendak melangkah menuju kamarnya, langkah kakinya terhenti. Di ujung koridor yang megah, Wira Aditama tampak baru saja keluar dari ruang kerjanya. Pria tua itu memegang tongkat ketiaknya dengan anggun, memiringkan kepala menatap putranya yang tampak layu.
Wira berjalan mendekat, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan intrik. Pria tua itu berhenti tepat di hadapan Gibran untuk menegaskan sesuatu yang sejak kemarin mengusik pikirannya.
"Gibran... Papa lihat Kaivandra sudah sangat nyaman tinggal di rumah ini," buka Wira dengan nada suara tenang namun menuntut. "Kamu harus segera mengambil langkah tegas. Urus hak asuh sah atas putra kandungmu itu ke pengadilan secepatnya."
Gibran bergeming, menatap ayahnya dengan pandangan redup tanpa menyahut.
Melihat ketiadaan respons dari putranya, Wira melangkah satu tapak lebih dekat, mencecar lagi. "Segera buat tes DNA resmi untuk menjadikannya bukti kuat di pengadilan nanti. Secara finansial, posisi kita berada jauh di atas Bening, wanita itu tidak punya kekuatan apa pun untuk melawan kita. Lagipula, usia Kaivan sekarang sudah enam tahun, dia sudah cukup besar dan tidak terlalu membutuhkan sosok ibu lagi di sisinya."
Deg.
Kata-kata Wira terngiang bising di telinga Gibran. Dahulu, kalimat itulah yang selalu ingin Gibran dengar. Namun malam ini, entah mengapa, membayangkan Bening menangis histeris karena kehilangan hak asuh atas Kaivandra membuat dada Gibran terasa teremas begitu sesak. Pria itu hanya terdiam kaku. Hatinya dilanda keraguan yang teramat sangat, tak lagi tega mengeksekusi rencana kejam tersebut.
Melihat keraguan yang terpancar jelas di mata Gibran, raut wajah Wira seketika berubah tegang. Matanya menyipit penuh tajam.
"Ingat, Gibran!" desis Wira dengan nada menekan yang sarat ancaman. "Wanita itu bukan wanita baik-baik! Jangan biarkan wanita pengkhianat seperti dia merusak tumbuh kembang dan masa depan keturunan Aditama!"
Kalimat keras sang ayah akhirnya memicu pertahanan dalam diri Gibran. Pria itu menghela napas berat, menatap lurus ke dalam manik mata ayahnya tanpa ada lagi ketakutan.
"Papa..." potong Gibran dengan nada suara rendah namun teramat tegas. "Bening mungkin gagal menjadi seorang istri bagiku... tapi dia sama sekali tidak gagal sebagai seorang ibu."
Wira tersentak hebat, matanya membelalak tak percaya mendengar kalimat pembelaan itu meluncur langsung dari bibir putranya.
"Papa bisa lihat sendiri, bukan?" lanjut Gibran, menyuarakan isi hatinya yang paling dalam. "Kai tumbuh menjadi anak yang sangat sopan, cerdas, dan bijaksana. Bening mendidiknya dengan sangat benar selama enam tahun ini... sendirian."
Dada Wira membusung menahan amarah yang meletup-letup. Pria tua itu benar-benar tidak suka melihat benteng kebencian yang sudah ia bangun dengan susah payah selama enam tahun kini mulai runtuh hanya dalam hitungan hari.
"Jangan sampai kamu terlena lagi pada wanita itu, Gibran!" bentak Wira dengan suara tertahan namun tajam. "Dia itu licik! Dia hanya akan memanfaatkanmu jika kamu begitu mudah luluh padanya!"
Gibran menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang dingin.
"Tidak akan, Pa. Ini murni demi yang terbaik untuk Kaivandra... demi putraku," tegas Gibran tak tergoyahkan. "Kai sudah bersama ibunya selama enam tahun sejak dia lahir ke dunia, dan dia baru dua hari berada di rumah ini. Daripada kita terus memikirkan soal perebutan hak asuh yang memicu konflik, lebih baik sekarang kita fokus dulu membuat Kaivandra merasa nyaman dan aman di sini."
Wira sangat kecewa mendengar keputusan Gibran, namun dia menahannya untuk berdebat lebih panjang takut Gibran akan menaruh curiga pada sikapnya jika terlalu menekan.
Usai perdebatan sengit dengan ayahnya di lorong, Gibran melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya. Ia memutar kunci pintu, lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu tebal itu dalam kegelapan. Suasana kamar yang sepi dan dingin seolah menghimpit dadanya yang sudah terasa sesak sejak siang tadi.
Dengan langkah pelan, Gibran berjalan mendekati lemari pakaian besar berukiran mewah di sudut kamar. Ia membuka pintu lemari bagian terdalam, menarik sebuah laci rahasia yang terkunci rapat.
Di dalam laci itu, tersimpan rapi sebuah kotak beludru merah pudar. Dengan jemari gemetar, Gibran membuka kotaknya. Di sana, tertata rapi dua hal yang tak pernah ia buang meski amarah menguasai jiwanya selama bertahun-tahun, sebuah foto pernikahan sederhana dengan bingkai yang sedikit berdebu, serta sebuah cincin pernikahan pria berkilau yang belum pernah ia sentuh lagi sejak hari perceraian pahit itu.
Gibran mengusap wajah anggun Bening dalam foto tersebut senyuman tulus dari wanita yang tampak begitu polos dan penuh cinta.
Flashback ON — 7 Tahun Lalu...
Sinar matahari sore menembus kaca toko perhiasan langganan keluarga Aditama. Bening menatap sebuah cincin berukir indah di jemarinya dengan mata berbinar-binar, namun raut wajahnya tampak ragu saat melihat label harganya.
"Mas Gibran... cincin ini indah sekali," bisik Bening polos sambil mendongak menatap calon suaminya. "Tapi harganya pasti mahal sekali, ya? Uang sebanyak ini... mungkin bisa dipakai untuk membeli satu truk krimer kue!"
Gibran terkekeh geli, menepuk-nepuk puncak kepala Bening dengan tatapan mata yang dipenuhi kehangatan dan kebahagiaan sempurna.
"Sayang... jangan memikirkan harganya," tutur Gibran lembut, mengusap pipi Bening. "Ini cincin untukmu, wanita paling berarti dan paling berharga di dalam hidupku. Segala yang terbaik tentu hanya untukmu."
Bening tersenyum sangat manis, memeluk lengan Gibran erat. "Terima kasih banyak, Mas... Aku sudah tidak sabar untuk memakainya setelah kita resmi menikah nanti."
Flashback OFF...
Gibran memejamkan matanya rapat-rapat. Bayangan kenangan manis itu memudar, berganti menjadi reka ulang memori kelam masa perpisahan mereka, tiga bulan setelah pernikahan bahagia itu berjalan.
Gibran terduduk di tepi ranjangnya, memegangi kepalanya yang terasa menghantam dinding pertanyaan. Logikanya yang selama tujuh tahun ini mati mendadak bekerja melampaui batas.
Ada yang aneh... sungguh ada yang janggal, batin Gibran berkecamuk hebat.
Gibran mengingat kembali pengakuan pria yang dituduh sebagai selingkuhan Bening dulu. Pria itu mengklaim di depan Gibran dan Wira bahwa mereka telah berhubungan lama di belakang Gibran.
Namun... kapan? Kapan hubungan itu terjadi?
Gibran mengenal Bening bukan hanya satu atau dua hari. Selama berpacaran hingga menikah, Bening selalu terbuka padanya tentang segala hal, sekecil apa pun itu. Bening tidak pernah lepas dari pandangannya, selalu bersikap manis, jujur, dan tidak pernah menyembunyikan apa pun. Mana mungkin wanita sesederhana dan setulus itu sanggup menyusun skenario perselingkuhan yang begitu lihai?
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, Gibran mulai meragukan keputusannya sendiri. Keputusan impulsif dan penuh emosi yang diambilnya tujuh tahun lalu usai terprovokasi oleh bukti-bukti instan yang disodorkan padanya.
'Apakah... apakah ada rahasia besar dan kebohongan yang tersembunyi di balik semua ini?' bisik hati kecil Gibran dengan dada yang meremang hebat.
Pria itu menatap cincin pernikahan di telapak tangannya dengan mata yang memerah menahan gumpalan penyesalan yang mulai merebak.
"Kenapa... kenapa sampai detik ini aku tidak bisa benar-benar membencimu, Bening?" bisik Gibran lirik pada keheningan malam, menyadari bahwa di dalam relung hatinya yang paling dalam, cinta untuk mantan istrinya itu tidak pernah benar-benar mati.
ga bakal ketauan ortu sendiri