Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jauhi Aku
Akhir pekan pun tiba. Dua minggu telah berlalu tanpa sepesan pun balasan dari Yena. Hati Juvan semakin gelisah tak menentu, hingga akhirnya ia tak lagi sanggup berdiam diri. Dengan sepeda yang ia kayuh sekuat tenaga, Juvan membelah jalanan menuju toko kue milik Yena.
Hari itu toko kue tampak tertutup rapat—seperti biasa setiap hari Minggu. Namun Yena tetap datang, sekadar membersihkan ruangan dan merapikan barang-barang di dalamnya. Saat ia melangkah keluar menutup pintu toko, sebuah suara tiba-tiba memanggilnya dengan nada yang begitu ia kenal dan begitu rindukan.
"Kakak..."
Yena menoleh perlahan. Jantungnya seketika berhenti berdetak sejenak. Di sana, berdiri Juvan dengan napas terengah-engah, keringat bercucuran membasahi dahi, tatapan matanya penuh kesedihan dan kerinduan yang mendalam.
Seketika itu juga, naluri Yena bergerak. Ia buru-buru membalikkan badan, berniat melangkah pergi menjauh secepat mungkin. Namun belum sempat kakinya melangkah jauh, tangan Yena tiba-tiba ditarik dan digenggam erat oleh tangan hangat milik Juvan.
Juvan memutar perlahan tubuh Yena agar berhadapan dengannya. Matanya menatap lekat mata Yena yang berusaha menghindar, suaranya terdengar bergetar penuh kepiluan.
"Kak... aku ada buat salah ya ke Kakak? Katakan padaku... apa kesalahanku? Mengapa Kakak tiba-tiba menghindar dariku? Mengapa Kakak tak lagi membalas pesanku? Apa yang telah kulakukan hingga Kakak bersikap sedingin ini padaku?"
Yena menatap wajah Juvan yang tampak begitu terluka dan bingung. Hatinya terasa diremas perih, seakan tercabik-cabik melihat pemuda yang ia sayangi itu menderita karenanya. Namun di benaknya kembali membayangkan ancaman Arga yang begitu mengerikan. Dengan sekuat tenaga, Yena menahan air matanya agar tak jatuh, lalu menarik paksa tangannya dari genggaman Juvan.
"Kau tidak salah apa-apa, Juvan..." ucap Yena dengan suara yang berusaha terdengar tegas dan dingin, meski hatinya hancur berkeping-keping.
"Tapi mulai sekarang... jauhi aku. Jangan pernah mendekatiku lagi."
Mendengar kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Yena, Juvan terpaku mematung seketika. Wajahnya yang tadi penuh harapan perlahan berubah pucat pasi, seolah seluruh darah di tubuhnya seketika tersedot habis. Matanya yang tadi menatap penuh kerinduan kini terbuka lebar, menatap tak percaya ke arah Yena seakan belum mampu mencerna makna kalimat yang baru saja didengarnya.
"Jauhi... Kakak?" gumamnya lirih, suaranya bergetar hebat seakan retak di setiap suku kata. "Kakak... menyuruhku menjauh?"
Ia menatap lekat mata Yena, berusaha mencari jejak kebohongan atau sekadar tanda bahwa Yena sedang bercanda. Namun yang ia temukan hanyalah tatapan yang berusaha ia tundukkan—tatapan yang tampak dingin, namun di baliknya tersembunyi kilatan air mata yang ditahan.
"Kenapa, Kak?" tanyanya dengan suara yang terdengar memohon dan penuh kepiluan. Matanya mulai berkaca-kaca, menahan agar air mata itu tak jatuh. "Bukankah kemarin... semuanya masih baik-baik saja? Bukankah Kakak yang mengobati lukaku, yang mengantarku pulang, yang begitu perhatian padaku? Apa yang berubah dalam sekejap mata ini? Katakan padaku... jangan biarkan aku bingung dan tak tahu apa-apa seperti ini!"
Juvan menarik napas panjang yang terasa berat, menatap Yena dengan sorot mata yang penuh kesakitan dan keraguan yang mendalam.
"Apakah... memang benar dari awal hanya aku saja yang merasa seperti ini? Apakah perhatian Kakak selama ini hanyalah sekadar rasa kasihan belaka? Dan sekarang... Kakak merasa bosan dan ingin mengusirku pergi?"
Air mata akhirnya tak mampu lagi ia tahan, meluncur jatuh membasahi pipinya yang masih tampak memar samar. Ia menatap Yena dengan tatapan yang seakan hancur berkeping-keping, menunggu penjelasan yang justru terasa semakin menyakiti hatinya sendiri.
Melihat air mata yang jatuh membasahi pipi Juvan, hati Yena seakan ikut hancur berkeping-keping. Tanpa sadar, tangannya terulur dan mengusap lembut air mata itu dengan ibu jarinya, seakan kebiasaan yang tak bisa ia hilangkan begitu saja. Tatapannya begitu lembut, penuh rasa sayang sekaligus kepedihan yang mendalam.
"Juvan..." ucapnya pelan, suaranya bergetar menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
"Ada sesuatu... sesuatu yang tak bisa aku jelaskan padamu. Percayalah... aku melakukan ini bukan tanpa alasan. Aku hanya... tidak mau kamu terluka. Aku tak sanggup jika sesuatu yang buruk kembali menimpamu karenaku."
Yena menarik napas panjang, berusaha menahan agar suaranya tak pecah.
"Jadi... lebih baik kita menjaga jarak.... jangan lagi mendekatiku. Hidupmu harus terus berjalan tanpa harus terlibat dengan masalah yang aku hadapi."
Mendengar itu, Juvan justru semakin gelisah. Ia kembali menggenggam lembut pergelangan tangan Yena, menatap gadis itu dengan mata yang basah namun penuh keteguhan hati.
"Tidak... aku tidak mau!" mohonnya dengan suara yang memohon namun tegas.
"Aku tidak akan pergi begitu saja tanpa mengetahui alasannya! Jelaskan padaku, Kak! Apa maksud Kakak? Siapa yang akan melukaiku? Apa bahaya yang sedang mengancam? Biar aku tahu! Biar aku ikut menghadapinya bersama Kakak! Jangan biarkan aku bingung dan tak tahu apa-apa seperti ini... tolong jelaskan padaku!"
Juvan menatap lekat mata Yena, berharap gadis itu luluh dan berterus terang. Namun Yena justru memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata yang begitu tulus mencintainya itu. Air matanya pun akhirnya jatuh juga, tak sanggup ia tahan lagi.
Yena hanya diam membisu. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Dengan berat hati, ia perlahan melepaskan tangan Juvan, lalu berbalik memunggungi pemuda itu dan melangkah pergi. Langkahnya terasa berat seakan tertanam paku, namun ia terus melangkah tanpa menoleh kembali sedikit pun—meski di setiap langkahnya, hatinya terasa hancur lebur berkeping-keping.
Juvan yang ditinggalkan begitu saja berusaha melangkah mengejar, namun kakinya seakan tertahan di tempat. Ia terpaku tak mampu bergerak maju, hanya bisa berdiri mematung menatap punggung Yena yang perlahan menjauh dan hilang dari pandangannya.
Di dalam hatinya, Juvan bergumam penuh kepahitan yang menyayat hati.
Kenapa harus jadi begini...? batinnya bergetar pilu. Di saat hatiku mulai merasa nyaman... di saat aku mulai berani menyadari perasaanku... mengapa tiba-tiba semuanya justru dibuat begitu sakit? Seperti mimpi indah yang direnggut paksa sebelum sempat dinikmati sepenuhnya...
Juvan menunduk dalam, menatap tanah di bawah kakinya yang kini terasa sepi dan kelabu. Air matanya kembali jatuh tanpa sanggup ia tahan. Rasa bingung, rindu, dan perih bercampur menjadi satu, menyisakan luka mendalam yang tak sempat ia mengerti penyebabnya.
Melihat sosok Yena yang telah hilang dari pandangan, Juvan pun perlahan berbalik menuju sepedanya. Ia mengayuh pelan meninggalkan toko kue itu, namun pikirannya tak kunjung tenang. Sepanjang perjalanan pulang, pertanyaan yang sama terus berputar di kepalanya tanpa henti.
"Apa sebenarnya maksud dari perkataan Kakak tadi? Mengapa dia tak menjelaskan apa pun? Siapa yang ingin melukaiku? Apa bahaya yang mengancam?"
Namun semakin ia memikirkannya, semakin ia merasa sesak dan tak menentu. Hingga akhirnya Juvan menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri agar berhenti memikirkan hal itu.
Mungkin... memang sudah saatnya begitu, batinnya bergumam penuh kepasrahan yang menyakitkan. Mungkin memang benar, aku harus menjaga jarak dari Kak Yena. Mungkin memang aku yang terlalu berharap pada hal yang tak seharusnya aku harapkan...
Juvan mengeratkan genggamannya pada setang sepeda, menatap jalanan di depannya dengan pandangan yang mulai kabur terbawa air mata. Meski hatinya terasa perih dan berat, ia mencoba meyakinkan diri—jika menjauh adalah keinginan Yena, maka ia akan mencoba melakukannya. Meski harus dengan hati yang hancur dan rindu yang tak tersampaikan.
Sepanjang perjalanan pulang, Juvan terus saja membiarkan bayangan wajah Yena memenuhi seluruh pikirannya. Tak ada yang lain selain wajah gadis itu—senyumnya yang lembut, tatapan matanya yang hangat, hingga suara lembut panggilannya yang selalu menyapa namanya. Semua itu berputar berulang-ulang di kepalanya, seakan tak ingin pergi.
Ia pun mulai terbayang kembali setiap momen indah yang pernah mereka lalui bersama. Saat Yena mengobati lukanya dengan penuh kehati-hatian, saat Yena mengantarkannya pulang dengan perhatian yang tulus, saat mereka berdiri berdekatan di tepi danau... dan di saat-saat seperti itu, tiba-tiba satu momen yang paling berkesan melintas begitu jelas di benaknya.
Bayangan itu kembali hadir—saat Yena menciumnya.
Jantung Juvan seketika berdebar kencang. Ia seakan bisa merasakan kembali kelembutan sentuhan bibir Yena yang menyentuh bibirnya, kehangatan yang begitu singkat namun membekas mendalam di sanubarinya. Rasa itu begitu manis, begitu hangat, dan begitu nyata hingga membuat seluruh tubuhnya terasa panas membayangkannya kembali. Itu adalah kenangan terindah sekaligus yang paling menyakitkan baginya saat ini—karena ia tak tahu, apakah ia akan pernah bisa merasakannya lagi.
Dengan hati yang bergetar, Juvan terus mengayuh sepedanya, membiarkan air matanya jatuh perlahan membasahi pipi. Di tengah perjalanan yang sepi itu, ia hanya bisa memeluk kenangan itu erat-erat dalam hatinya, seakan itulah satu-satunya hal yang tersisa bagi dirinya.
Malam pun tiba, dinginnya malam menyelimuti dua hati yang sama-sama merasakan kesepian yang mendalam, terpisah oleh jarak namun terikat oleh rindu yang tak kunjung usai.
Di kamarnya yang remang-remang, Yena terbaring menatap langit-langit kamar dengan mata yang tak kunjung terpejam. Di tangannya, ponsel digenggam erat, berulang kali membuka layar berharap ada pesan masuk dari nama yang selalu ia rindukan. Namun layar itu tetap sepi. Setiap kali bayangan wajah Juvan muncul di benaknya, hati Yena terasa ikut retak kembali. Ia teringat tatapan mata pemuda itu yang penuh kesedihan dan kebingungan saat ditinggalkannya tadi. Rasa bersalah mencekiknya kuat-kuat. Andai saja ia bisa bicara... andai saja ia boleh jujur... namun ancaman Arga seakan berdiri di hadapannya, menatap tajam, mengingatkannya bahwa kebersamaan mereka hanya akan membawa bahaya bagi Juvan.
"Maafkan aku, Juvan..." bisik Yena lirih di tengah kesunyian malam, air matanya kembali menetes membasahi bantal. "Aku melakukan ini... semata-mata agar kau tetap selamat. Meski harus menyakitimu, dan menyakiti diriku sendiri..."
Di tempat yang tak jauh dari sana, Juvan pun sama tak mampu memejamkan mata. Ia duduk di tepi jendela kamarnya yang terbuka, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Pikirannya kembali melayang pada setiap momen bersama Yena—terutama saat bibir Yena menyentuhnya, lembut dan hangat. Kenangan itu terasa begitu nyata, namun kini terasa begitu jauh dan mustahil untuk terulang.
"Apakah... ciuman itu juga hanya sekadar rasa kasihan?" gumam Juvan pelan pada dirinya sendiri, suaranya terdengar rapuh.
"Apakah kehangatan yang Kakak berikan dulu... kini telah lenyap begitu saja?"
Juvan memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menahan rasa sakit yang menyergap dadanya. Di dalam hatinya, ia masih menyimpan harapan kecil—bahwa Yena menjauh bukan karena tak lagi peduli, melainkan karena ada alasan yang tak bisa ia ungkapkan. Namun keraguan itu perlahan merayap masuk, membuatnya semakin bingung dan terluka.
Malam itu, dua jiwa yang saling mencintai terbaring terjaga, merindukan satu sama lain dalam kesunyian. Terpisah bukan karena tak saling mencintai, melainkan demi melindungi keselamatan satu sama lain.