NovelToon NovelToon
J King (This Is Side Of You)

J King (This Is Side Of You)

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial / Cinta beda status
Popularitas:79.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyaeva

Secara perlahan, setelah kepahitan bahkan kehancuran yang dialaminya karena J King. Juliet mulai mengerti dan memahami sisi lain kehidupan J yang membuatnya merasakan sesuatu untuk pria itu.

Diamnya seorang J King menunjukkan sisi lain J yang sebenarnya. Pria dengan masa lalu kelam yang tidak pernah terbayangkan oleh Juliet.

...


Romeo dan Juliet tidak pernah menemukan akhir yang bahagia. Kematian adalah akhir cerita cinta mereka.

Aku, J King tidak akan membiarkan Juliet kembali pada Romeo karena dia hanya milikku.

Bahkan jika nyawaku juga terancam, aku tidak peduli.

Aku tidak peduli jika Juliet menderita, selama bayangannya masih tertangkap dalam pandanganku, itu sudah cukup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Trust

Jalan yang salah menuju cinta tanpa akhir. Tidak ada kendali, apakah kau tetap di sisiku? Semua harapanmu akan terkabul, begitulah mereka mengatakannya.

Tidak ada tempat untuk berlari, bahkan tidak ada tempat untuk dituju, kuserahkan hati, tubuh, dan jiwaku. Bagaiamana aku bisa merasakan cinta jika kau tidak pernah menunjukannya?

...

Juliet mengusap dada bidang J yang sudah berkeringat. Betapa kokoh dan kekar tubuh pria itu. Dia terlena pada sentuhan si pria dingin yang sudah bertelanjang dada.

Nafas Juliet seperti tersendat saat kecupan J mendarat di ceruk lehernya. Wanita itu terbakar gairah yang membuatnya juga merasa kepanasan.

Cumbuan seduktif J merambah pada semua bagian tubuh Juliet yang sangat sensitif saat ini, entah siapa yang memulai? Yang jelas keduanya sama-sama tidak sadar akan tubuh yang busananya sudah terlepas dan terlempar ke sembarang tempat.

Bibir yang melekat satu sama lain seperti sulit untuk terpisahkan, kecuali di saat pasokan udara semakin menipis yang membuat keduanya berhenti bercumbu dengan perasaan tidak rela.

J memperlakukan Juliet dengan begitu lembut. Dia merasa gila karena wanita itu menyambut bahkan membalas semua perlakuannya.

"Ah, J!!" Suara Juliet yang gelisah membangkitkan gairah J yang menggebu.

Dada Juliet yang sudah terbebas dari pakaian dalam pun tidak luput dari pandangan J yang seperti kelaparan ingin segera menerkam tidak ubahnya singa yang berburu mangsa.

J gemas sendiri melihat dada Juliet yang naik turun karena nafasnya tidak teratur. Tangan J terangkat dan gemetar saat ingin menyentuh puncak dada Juliet yang sudah mengeras. Dua benda indah yang terasa pas dalam genggaman J sedikit terhalang oleh rambut panjang Juliet.

J menyingkirkan helaian yang menghalangi dada Juliet, dan itu semakin membuat dirinya terbakar dalam gairah.

Naluri lelakinya menjadi liar dan J hanya mengikuti keinginan di dalam dirinya. Sementara Juliet hanya bergerak gelisah tidak karuan dengan tangan yang mencengkram sprei merasakan dadanya semakin mengembang.

Juliet mengerti bahwa saat ini J sedang melakukan sentuhan awal kegiatan panas mereka. Itu bagus karena hal tersebut bisa memudahkan dirinya untuk menyiapkan diri saat memiliki bayi nanti.

Lidah hangat J bermain di puncak dada Juliet. Wanita itu sangat menyukai hal itu. Dia merasakan dirinya melayang tinggi.

Naluri J menuntun dirinya untuk bersikap alami saat memanjakan dan mengikuti keinginan Juliet. Jangan lupakan tatapan keduanya yang saling mendamba.

Pijatan-pijatan lembut tetapi sangat menggoda dan erotis membuat keduanya semakin tenggelam dalam lautan hasrat luar biasa.

Hangatnya tubuh Juliet membuat J tidak sabar melakukan penyatuan. Dia memberikan isyarat bahwa dia akan memulai kegiatan puncak dan Juliet hanya memberikan persetujuan karena dia juga menginginkan hal itu.

Sepasang manusia bergumul di atas tempat tidur tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh keduanya. Udara malam yang dingin menjadi panas karena kegiatan mereka yang menguras tenaga.

Dua sejoli menyatu dalam gairah yang penuh cinta, tidak satu senti pun J lewatkan untuk menjamah dan menyentuh kulit tubuh Juliet. Beberapa tanda kepemilikan yang membara atas diri Juliet juga tercetak di bagian dadanya dan itu adalah ulah J.

Bibir Juliet yang semula berpoles lipstik tipis sudah menjadi sedikit pucat karena terus beradu dengan bibir J.

Suara lemah kegelisahan tetapi terkesan liar terus mengalun indah dari mulut Juliet yang membuat J lebih bersemangat mendorong dan menyatukan keintiman.

Hangat, itu yang dirasakan J sampai dia tidak bisa menahan gejolak yang ingin segera meledak di bawah sana, tetapi dia masih bertahan karena Juliet belum mendapatkan klimaksnya.

Sekali lagi bahasa dari tatapan wanita itu menunjukkan bahwa dia juga menginginkan akhir yang memuaskan, dan sampai pada akhirnya tubuh Juliet tersentak dan menegang dengan suara pelepasan yang melegakan.

J sudah merasa di ambang batas dan pada akhirnya dia menuju puncak dengan suara erotis juga keluar dari mulutnya, dia memuntahkan segala yang mengganjal di organ intim dengan penuh kepuasan.

J menanamkan kembali rasa kenikmatan sampai titik terdalam di tubuh Juliet, membuat keduanya hanya bisa saling memeluk dan mencium dengan rasa lelah di tubuh keduanya.

"Terima kasih," ucap J sambil mencium kening Juliet tanpa melepaskan penyatuan di tubuh wanitanya.

Bibir Juliet melukiskan rasa puas dan kebahagiaan. Dia hanya bisa membalas pelukan sambil merasakan sisa-sisa kenikmatan dari kegiatan yang sudah ia lakukan dengan J.

Juliet hanya menggigit bibir saat menyadari tubuh J belum sepenuhnya terlepas, dia malu setengah mati tapi tidak berani untuk segera menjauh.

Perutnya terasa berdesir serta debaran di dadanya yang selalu menggila. Salahkan J yang masih menempel dan membuat dirinya kehilangan kata dengan wajah yang merona parah.

"Istirahatlah!" ucap J dengan tangan yang mengusap rambut basah Juliet.

"Mm, J. Kau belum lepas dariku," bisik Juliet dengan sangat malu.

J bergeming, si pria dengan wajah datar tidak berekspresi sama sekali, membuat Juliet merutuk dalam hati bahwa pria itu benar-benar tidak memahami kegugupannya.

"Kita istirahat seperti ini saja."

Glek

Juliet menelan ludah, wajahnya lebih merah dari sebelumnya. Rasa yang campur aduk dalam dada saat merasakan tubuh bagian bawah dimasuki kembali oleh J.

'Oh Tuhan. Dia membuatku gila.'

Juliet merutuki diri sendiri karena merasakan gairahnya kembali bangkit. Apakah J tidak peka atau sedang menggodanya? Karena di bawah sana dia kembali bergerak memberikan sensasi yang membuat kewanitaan Juliet semakin lembab.

Hormon wanita hamil memang sedikit bertambah membuat tubuhnya lebih sensitif terhadap sentuhan seduktif.

Sepertinya J dan Juliet tidak akan berhenti sampai di situ, lagipula malam masih begitu panjang dan sepertinya malam ini akan menjadi malam yang tidak akan pernah terlupakan oleh keduanya.

...

Pagi yang indah dengan cahaya matahari sebagai pembuka tirai kegelapan sisa-sisa malam. Kegelapan mulai tersibak dan sirna secara perlahan oleh cahaya emas dari ufuk timur, memberi suasana dan hal baru yang akan terjadi.

Seperti itu pula suasana hati J saat ini, untuk pertama kali dalam hidup dia merasa dirinya begitu berharga juga berarti bagi seseorang.

Perasaan itu sangat berarti, berterima kasihlah pada Juliet yang sudah mengajari dan memberikan dirinya semua jenis perasaan yang ada di dunia. J tidak ingin apa yang ia rasakan sekarang lenyap begitu saja, dan ia berjanji untuk menjaga hal itu.

J menatap Juliet yang masih terlelap, sekarang bibirnya sudah terbiasa untuk mengukir senyum, rasanya begitu mudah ia lakukan jika suasana hatinya sangat baik.

Tangan J mengusap pipi putih sang istri, mata wanita itu masih tertutup rapat karena tertidur dengan lelap. J masih tidak percaya pada apa yang ia alami sekarang, semua masih mimpi baginya.

J sangat tahu pada awalnya Juliet tidak pernah menyukainya. Sejak awal cintanya bertepuk sebelah tangan. J pernah putus asa dan berpikir dia tidak akan pernah bisa membuat Juliet membalas perasaannya.

Hatinya kembali mencelos mengingat kejadian tadi malam dimana Juliet yang lebih dulu merangkulnya setelah dia mengungkap isi hati.

"Hmmm ... dingin sekali!"

J kembali tersenyum saat mendengar suara parau Juliet. Tidak hanya itu, tangan halus wanita hamil itu juga menelusup ke pinggangnya. Hingga Tubuh mereka yang hanya tertutupi selimut kembali bersentuhan.

"Aku masih mengantuk, ayo tidur lagi!" J kembali tersenyum karena Juliet sangat manja dan semakin memeluk dirinya dengan mata yang terpejam.

"Apapun yang kau inginkan," jawab J sambil memejamkan mata dan memeluk wanita cantik tersebut.

...

Juliet menuju dapur untuk mempersiapkan sarapan, sebelumnya dia mendapat panggilan dari Emma yang menanyakan keadaannya karena kemarin dia pulang dengan terburu-buru.

Wajah Juliet terlihat begitu bahagia, bibirnya terus tersenyum karena suasana hati yang sangat baik. Juliet yang sudah membersihkan diri hanya mengenakan pakaian hamil sederhana tetapi tidak mengurangi kecantikannya.

Cup ...

Juliet terkejut saat sebuah kecupan mendarat di pipinya. Setelah itu dia hanya tersenyum dengan wajah yang merona.

"Kau membuatku terkejut," rajuk Juliet pada seseorang yang tidak lain adalah suaminya sendiri.

"Kau meninggalkanku sendirian di kamar," jawab J sambil merangkul pinggang Juliet dan memeluknya dari belakang.

Juliet menyandarkan punggung di dada J, entah kenapa dia merasa suka sekali saat berada dalam pelukan pria itu, mungkin sekarang dia sudah mengakui bahwa dirinya sudah tergila-gila pada pria yatim piatu tersebut.

Juliet melepas pelukan kemudian berbalik hanya untuk menatap mata yang penuh dengan pesona kegelapan di dalamnya. "Aku sangat lapar," ucapnya pelan tanpa mengalihkan tatapan dari sepasang mata tajam yang justru terlihat redup dan menenangkan.

Menatap wajah J seperti candu baru untuk Juliet. Dia tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata bahwa hatinya meronta dan ingin berteriak bahwa J adalah segalanya bagi wanita itu.

Tangan J mengurung tubuh Juliet yang sekarang terpojok di pinggiran meja dapur. Pria itu bertumpu pada dua tangannya, tidak lupa menyamakan tinggi badan dengan wanita yang ada di hadapannya.

"Katakan jika ini mimpi, kau harus memukul kepalaku!" bisik J sambil menyentuhkan kening mereka berdua.

Cup ...

Satu kecupan mendarat di bibir J, dadanya kembali berdesir karena  ciuman itu terasa lembut dan hangat. Sebuah ciuman yang penuh dengan ketulusan.

"Jika ini mimpi, maka aku akan terus tertidur karena tidak ingin ini cepat berakhir," jawab Juliet yang semakin membuat detak jantung J terasa lebih cepat.

"Kau membuatku gila, Julie!" gumam J yang tentu saja didengar wanita tersebut.

Mereka berpelukan erat. J begitu percaya pada ketulusan Juliet. Sejak awal wanita itu mampu membuat dirinya merasakan segala macam perasaan.

Nama Juliet seperti tinta permanen dalam hatinya. Tidak perlu menjadi hebat untuk mencairkan hati J yang beku karena luka.

Tanpa mereka sadari beberapa pelayan mendengar dari balik pintu dapur. Tadinya mereka akan masuk ke dapur, tetapi maksud mereka terhenti karena takut mengganggu dua majikan yang sedang bermesraan.

Corina yang juga menyaksikan itu semua hanya bisa tersenyum dengan mata yang berkaca. Dia tidak menyesal menceritakan kehidupan J pada Juliet, karena semua berbuah manis.

Corina memang sengaja melakukannya karena melihat tatapan benci Juliet pada J. Saat itu Corina berpikir semua karena Juliet tidak mengenal siapa J yang sebenarnya.

Corina yang tidak tega pada J untuk menanggung lebih banyak kebencian, hanya punya satu jalan yaitu memberitahukan Juliet tentang hal yang sebenarnya.

Pelayan tua itu tahu bahwa J mencintai Juliet sejak awal dia membawa wanita muda itu datang ke rumah.

"Terima kasih, Tuhan!" Corina hanya mampu memanjatkan doa untuk semua keajaiban yang terjadi di rumah tersebut.

"Hey, kalian semua sedang apa di situ?" Suara Daisy tiba-tiba mengejutkan empat pelayan wanita termasuk Corina.

"No-Nona Daisy!" Salah satu pelayan menjawab dengan gugup dan takut.

"Nona, kami sedang menyiapkan sarapan, silahkan ke ruang makan!" ucap Corina dengan sopan.

"Aku ingin mengambil minuman, minggir kalian semua!" gertak Daisy.

"Tunggu, Nona! Saya akan ambilkan, silakan tunggu di ruang makan!" sergah Corina, dia tidak mau jika Daisy sampai mengganggu J dan Juliet yang sedang membuat sarapan bersama. Corina tidak akan membiarkan kebahagian J terus terusik oleh orang-orang seperti Daisy.

Daisy menghentakkan kaki, gadis muda itu terlihat kesal. "Jika kau melihat J, katakan aku mencarinya!" perintahnya yang hanya dijawab anggukan oleh para pelayan.

...

"Ini enak sekali!" ujar J saat mencicipi makanan yang dibuat oleh Juliet.

"Benarkah? Masakan Nyonya Corina lebih enak dari masakanku," kilah Juliet, dia berkata jujur karena Corina begitu ahli dalam mengolah masakan.

"Aku tahu, tapi beliau sudah terlalu tua untuk memasak setiap hari," ucap J sambil mencicipi kembali makanannya.

Juliet tahu, Corina sudah lebih dari sekedar pelayan di rumah J, wanita itu sudah seperti keluarga. Dan belakangan dia tahu bahwa Corina bekerja secara suka rela padahal J sudah melarangnya melakukan pekerjaan rumah tangga.

Juliet pernah bertanya apakah J terlalu menekan para pelayannya. Ternyata jawabannya tidak, semua pelayan sangat menyayangi J karena perlakuan pria itu yang baik kepada para pegawainya.

Mungkin itu adalah salah satu yang membuat hati Juliet mulai melunak, yang awalnya dia berpikir J adalah pria kejam yang tidak punya perasaan.

"Apa kau ingin pindah ke ruang makan?" tanya J yang dijawab gelengan kepala oleh Juliet.

Tentu Juliet tidak mau berada dalam satu ruangan dengan Daisy, Antonio, ataupun Diaval. Mereka orang asing bagi Juliet, terlebih mereka juga begitu jahat pada J.

Namun, ada satu hal yang membuat Juliet sangat cemas. Semua tidak lain karena Daisy, ternyata dia bukan kerabat J ataupun keluarga King.

Juliet mengetahui hal itu dari Corina, tentu saja wanita itu tahu segalanya karena dia satu-satunya orang yang memperhatikan J.

Daisy hanyalah teman J saat berada di rumah sakit jiwa Los-Angeles. Mereka sama-sama mengalami gangguan mental saat itu.

Daisy akrab dengan J sebagai sesama pasien di tempat tersebut. Dan mungkin saja mereka menjadi sahabat kemudian merasa seperti keluarga.

"J, kenapa Daisy belum kembali ke rumahnya?" tanya Juliet ragu, dia takut jika hal itu akan menyinggung perasaan J dan berpikir dirinya sudah  lancang.

"Dia sahabatku, dia bisa datang dan pergi sesuka hati," jawab J tanpa menyadari raut kekecewaan di wajah Juliet.

"Maafkan aku, tapi kau sudah menikah dan- ...."

Juliet tidak jadi melanjutkan ucapan karena ragu untuk mengatakan maksud hatinya. Tentu J sudah bukan pria lajang lagi dan tidak bisa bebas menampung wanita lain di rumahnya.

Katakan saja Juliet tidak mau cemburu, karena sejujurnya dia sudah cemburu mengingat Daisy yang menemani J di saat-saat sulit kehidupan pria itu.

"Aku mengerti, aku akan bicara padanya nanti," jawab J seperti tanpa berpikir panjang.

"Kau tidak perlu khawatir karena dia sudah kuanggap seperti temanku," tambah J.

Seharusnya jawaban J bisa memuaskan perasaan Juliet, tetapi entah kenapa dia justru merasa tidak tenang.

Juliet hanya merasakan sikap Daisy yang tidak bersahabat hanya pada dirinya. Entah apa yang dipikirkan Daisy selama ini, bahkan dia tidak pernah menganggap Juliet ada, dan itu membuatnya kesal setengah mati.

Juliet mengangguk kemudian menunduk setelah mendengar jawaban dari J, tetapi dia merasakan sentuhan di dagunya.

J menyentuh dagu sang istri setelah menggeser kursi untuk lebih dekat dengan Juliet. "Tidak akan ada yang bisa mengubah perasaanku," ucap J, kemudian dia mengambil tangan Juliet dan mengecupnya beberapa kali.

"Ingatlah kau segalanya bagiku, aku sangat mempercayaimu," lanjut J tanpa melepas genggaman tangannya. Juliet percaya seribu persen pada ucapan J, masalahnya bukan pada diri pria itu, tapi orang-orang yang berada di sekitarnya.

Juliet tidak ingin merusak suasana hati J yang sedang bahagia. Dia tidak tega untuk terus merajuk tentang Daisy, lagipula tidak terlihat ada sesuatu yang buruk akan terjadi, semoga saja.

"Kau masih ingin ke kampus atau aku panggil dosen ke rumah saja?" tanya J kemudian yang masih peduli pada pendidikan Juliet.

"Aku tidak ingin pergi ke kampus," jawab Juliet dengan malas.

"Baiklah, tapi bagaimana jika satu hari ini saja?! Karena aku ingin terus bersamamu," ucap J yang mengundang senyum lebar di bibir Juliet.

"Baiklah, hanya hari ini, karena aku  ingin belajar di rumah saja," jawab Juliet dengan antusias karena dia juga masih ingin bersama dengan J.

Tanpa mereka sadari Daisy sudah menyaksikan kemesraan antara J dan Juliet. Entah apa yang dipikirkannya karena matanya terlihat memerah dan berkaca-kaca.

...

Cherry menatap dengan penuh kebencian pada pasangan suami istri yang sedang berpegangan tangan, mereka berjalan di lorong kampus untuk menuju kelas.

Kedatangan J dan Juliet disambut Roman dan Fablo yang sudah lama tidak bertemu, alasannya dua pria lajang tersebut pergi mengelilingi antar benua untuk balapan liar.

"Kau kalah cepat, Toddy!" ucap Cherry pada sahabat lamanya tersebut, "bukankah kau mengatakan akan bicara dengan Juliet?!"

"Apa pemandangan tadi tidak cukup bagimu, Cherry?" tanya Toddy, tentu dia tidak buta untuk melihat kebahagiaan J dan Juliet.

"Setidaknya pastikan kalau wanita itu sudah tidak mencintaimu lagi," ucap Cherry kembali.

"Aku tidak pernah tahu tentang perasaannya, apalagi yang harus kupastikan?" protes Toddy.

"Ya, ... ya, terserah kau saja! Jangan sampai kau menyesal karena tidak pernah mengungkapkan perasaanmu itu!" Cherry terus berbicara sekedar memancing reaksi Toddy. Apapun akan dia lakukan untuk membuat Toddy gelisah.

"Seingatku kau tidak pernah peduli pada perasaanku karena kau hanya peduli tentang J," kata Toddy yang mengingatkan kembali betapa egoisnya Cherry selama ini.

"Ayolah, jangan begitu! Ingatlah, aku ini sahabatmu sejak kecil, tentu aku peduli," kilah Cherry.

Toddy segera meninggalkan Cherry di pelataran parkir, sejujurnya tidak sedikitpun dia menghiraukan ucapan Cherry. Dia juga penasaran tentang bagaimana sebenarnya hubungan J dan Juliet, terlebih setelah mendengar ucapan J kemarin.

'Lalu, apa kau berpikir ingin mengambilnya dariku? Hanya karena dia mencintaimu itu bukan berarti dia akan datang padamu!'

Apa benar Juliet mencintainya selama ini? Toddy terus memikirkan hal itu, dan dia semakin yakin karena J yang mengatakannya sendiri.

Toddy menghampiri J dan Juliet yang sedang bercengkrama dengan Roman dan Fablo, serta ada Molly Gibson sahabat Juliet.

J dan Toddy saling melempar tatapan dingin untuk mengingatkan satu sama lain. Mereka sama-sama punya pendirian untuk tetap pada keinginan masing-masing.

"J, aku akan kelas bersama Molly," ucap Juliet sambil meraih wajah J yang masih menatap Toddy, wanita itu tidak menyadari adanya perang dingin antara dua pria muda tersebut.

"Kita bertemu saat makan siang nanti!" balas J, dia meraih tangan Juliet yang berada di wajah kemudian mengecupnya.

Toddy yang melihat itu hanya memalingkan wajah, dia bertanya dalam hati, jika Juliet tidak menyukai J kenapa dia tidak keberatan dengan perlakuan J kepadanya?

Roman dan Fablo hanya bersorak kepada J setelah Juliet dan Molly pergi, mereka menggoda sang sahabat yang akhirnya menunjukkan sesuatu yang berbeda pada mimik wajahnya.

Pemandangan itu tidak luput pandangan Toddy, senyuman yang tidak pernah terukir di wajah J selama bertahun-tahun, kini begitu jelas terlihat bahkan membuat Roman, Fablo, dan Toddy sendiri kehilangan kata.

Sudut bibir J tertarik membentuk sebuah senyuman saat Roman dan Fablo menggodanya dengan hal tentang Juliet.

Toddy sangat memahami kehadiran Juliet sangat berpengaruh untuk J. Dia tidak menyangka wanita itu mampu membawa sesuatu yang baru dan tidak bisa dilakukan orang lain.

Apakah dia sudah tidak punya kesempatan lagi sekarang?

"J, izinkan aku bicara dengannya!" pinta Toddy setelah Roman dan Fablo pergi untuk menyapa gadis-gadis cantik yang mengidolakan mereka.

"Kurasa semua sudah jelas bagimu, Toddy! Dia milikku!" tegas J, dia memang begitu percaya diri dan yakin sekarang bahwa Juliet akan selalu bersamanya.

"Aku tahu, aku ingin memastikan lagi, jika kau begitu yakin seharusnya kau tidak perlu takut!" J terdiam, Toddy benar dia tidak perlu takut, dia harus percaya pada Juliet yang akan selalu menjaga perasaannya.

"Baiklah, aku percaya pada kalian. Kau tetap sahabat baikku apapun yang terjadi," ucap J sambil berlalu meninggalkan sang sahabat.

"Terima kasih, J!" ucap Toddy setengah berteriak karena jarak J sudah sedikit jauh darinya.

J memang memutuskan untuk percaya pada Toddy dan Juliet karena keduanya sama-sama berarti. Selama ini dia tidak memiliki banyak orang yang menyayanginya.

Memiliki sahabat seperti Toddy, Roman, dan Fablo adalah sebuah keberuntungan yang ia dapatkan, sedangkan Juliet sendiri adalah cahaya bagi hidupnya.

Kehidupan J yang berat sedikit ringan karena mereka, sudah seharusnya dia percaya karena mereka juga bagian dalam hidupnya.

Lagipula malaikat baru akan hadir dalam kehidupannya. Tidak hanya satu, J dan Juliet akan memiliki dua malaikat kecil yang akan melengkapi kebahagiaan mereka berdua.

Semoga saja tidak ada rintangan lain yang akan menghancurkan kebahagiaan J, karena pria itu sudah terlalu lelah dengan semua luka-luka yang ia pikul dalam hidupnya.

Apakah Tuhan akan mengujinya lagi? J berharap Tuhan berbaik hati dan lebih menyayanginya sekarang. Mungkin dirinya bukan manusia yang baik dan juga memiliki banyak kesalahan, tetapi J akan memperbaikinya mulai hari ini.

TBC

Telat up, ya kan?

Maaf ya ...

See u next chap & i lovee u all 💕💕

1
Anugrah Sanjaya
saya rasa, kasus yg menimpa Juliet itu sama dgn yg menimpa ibu J. bedanya, Juliet tetap menginginkan anaknya lahir sedang ibu J, tidak...
Anugrah Sanjaya
nyimak...
Nur Yanti
hihihihi...sukaaaa banget😍
Nur Yanti
ga bisa komen 😭😭😭😭😭
Nur Yanti
duh nasibmu sungguh miris Julliet.. 😔
Nur Yanti
siapa yg tidak ketakutan di perlakukan seperti itu. di perk***a terus di tinggalkan. ampun J kejam banget sih..
Ira Endang
keren bnget kak
Wan Er
baru chapter 1 aja udah keren✨
Oliefiya Snowly
aku hadir untukmu my partner 😊😊😊
Eve: 😘😘😘 makasih banyak Beb
total 1 replies
Aba Bidol
Neh bener2 karya yang keren bangets thor..., debesssssttttt 👍👍👍👍👍
Aba Bidol
Karya yang sangat keren thor. Nyesel baru nemu ceritanya di sini. Tetap semangat berkarya.....👍👍👍💪💪💪🎉🎉🎉
Aba Bidol
Karya yang sangat keren thor..., tetap semangat yah berkarya...💪💪🎉🎉🎉
Aba Bidol
Karya ke 2 othor yg tamat. Keren. Memang beda dari karya2 yang lain. Tetap semangat berkarya yah thor....👍👍🎉🎉🎉
gulaJawa🐏
rekomendasi novel pendek uuu ntuk di baca di waktu senggang
gulaJawa🐏
halo penulis
terimakasih atas karya yg luar biasa ini, saya merasa terhibur, ending yg cukup membuat saya tercengang, tapi saya memahami itu, di dunia ini yg namanya masalah tidak akan pernah berhenti datang kecuali tokoh itu mati, dan sifat manusia sulit di rubah, dan dendam tidak akan bisa dilupakan begitu saja, cerita ini hidup, biarkan berkembang bebas dengan sendirinya,
terimakasih karyamu disukai banyak orang
gulaJawa🐏: edit: semoga karyamu di sukai banyak orang
total 1 replies
Mardysains Mardysains
mantap skali.. ta terlalu bertele2 dan banyak bab.... keren kok....ayo mana lagi karyamu...
Saifa
semangat berkarya thor, ceritanya keren
Mahdaleni Leni
novel kereeeen knapa sedikit yg like y...salut Thor anda jenius sy suka sangat aluuuuurnya. bagus bila dipanjangin,,
Saifa
semangat author, ceritanya bagus bgt
Ra I
ceritanya bagus thor... 👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!