Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Hai" Sapa Kris kepada Aurora dan juga Luna. Pria itu sudah duduk ruang tengah rumahnya, entah kapan ia masuk. Bahkan seorang pelayan kini sudah menaruh secangkir teh hangat untuknya.
"Lebih jailangkung dari pada jailangkung itu sendiri, datang tak di undang, pulang tak di antar."
"Buruk sekali pagiku hari ini, baru turun ke lantai bawah, sudah ada buaya yang menyapa. Senyumin ajalah." Batin Aurora, wanita itu tersenyum dan membalas lambaian tangan pacarnya.
Namun tidak dengan Luna, anak kecil itu malah menatap Kris dengan tatapan yang tajam. Tatapan tak suka seolah dia sangat benci pria itu.
Aurora kini menghampiri Kris, "Sayang, kau sudah sampai sepagi ini? Kau terlihat sangat bersemangat ya pagi ini." Tanya Aurora dan Kris benar-benar terlihat sangat bersemangat hari ini.
"O jelas, tenagaku benar-benar sangat fit pagi ini. Aku sengaja datang kemari, ingin mengajakmu pergi ke kantor bersama." Luna yang mendengar ucapan Kris, spontan langsung melambaikan tangannya. Berdiri di depan Aurora seperti seorang bodyguard.
"Tidak boleh! Kamu pergi dari sini! Kakak hari ini sudah ada janji sama Luna. Jadi lebih baik kamu pergi sama!" Anak kecil itu dengan beraninya langsung mengusir Kris.
"Lanjutkan Luna, buat dia pergi, dan hempas dari pandangan kita, ayo adik kecilku, lanjutkan bakatmu." Batin Aurora.
Kris kemudian berjongkok, menyelaraskan tubuhnya dengan Luna. "Anak kecil ini, memang sukanya ada-ada saja ya." Kris mencubit pipi Luna kegemasan.
TAK TAK TAK!
Suara langkahan kaki dengan sepatu heals terdengar mendekat, dari arah pintu masuk rumah. Seorang wanita cantik datang, dan menyapa Aurora.
"Rora sayang, Anne kesayanganmu datang..." Ucapnya, sambil berlari ke dalam rumah.
Raut wajah Aurora yang semula tampak tenang, kini langsung berubah canggung.
"Apes sekali aku hari ini, Kris belum selesai, sekarang malah di tambah Anne." Batin Aurora.
Anne langsung memeluk Aurora, dengan terpaksa untuk mengurangi kecurigaan. Aurora kini balik memeluknya.
Kris yang masih bersimpuh di depan Luna, kini mendongak menatap Anne. Anne juga begitu, ia menatap Kris, dan memberikan kiss bye padanya.
Kris tampak tersenyum senang akan hal itu, mereka terang-terangan, di belakang Aurora.
Anne kini melepaskan pelukannya, ia lalu memberikan bingkisan kepada Aurora.
"Rora, ini untukmu, kau tahu. Tadi saat aku hendak membeli sarapan, aku mampir ke toko jadi sekalian saja. Aku belikan pie kesukaanmu. O iya, ada juga cake untuk adik kecil manis kesayangan kakak Anne." Anne memberikan cake yang ia bawa kepada Luna.
Luna menerima cake itu dan kegirangan. Ia lalu memeluk Anne. "Kakak Anne yang terbaik."
Anne lalu berjongkok, wanita itu menyelaraskan tingginya dengan Luna. Lalu memeluknya.
"Ow, Luna, imutnya..." Luna pun membalas pelukan Anne.
"O iya, jadi bagaimana, kita jadi ke kantor bersama kan sayang?" Tanya Kris, tapi Aurora terang-terangan menolaknya.
"Tidak bisa Kris, aku harus menemani Luna. Aku juga tidak bisa ke kantor hari ini, sebenarnya aku sedang ada pengawasan proyek di bali untuk 3 hari, dari siang nanti sampai 3 hari yang akan datang. Apa, kau dan Anne bisa menolongku!" Mendengar ucapan Aurora, membuat Kris dan Anne saling menatap.
"Ka-kami?" Ucap Anne dengan terbata-bata.
Aurora pun mengangguk, "Aku mohon, aku hanya bisa percaya pada kalian berdua. Tolong ya, tenang saja. Semua biaya di tanggung oleh perusahaan, mulai dari makan, tempat. Kalian tenang saja. Jadi, aku mohon." Aurora malah menunjukkan puppy eyesnya.
Wajah Anne tampak canggung, walau dalam hatinya ia pasti senang sekali dapat bersama dengan Kris.
"Ya, jika memang itu sudah keputusannya, mau tak mau aku akan pergi." Ucap Kris.
Aurora seketika langsung memeluk pacarnya, "Terima kasih sayang"
Kris juga langsung membalas pelukan itu, namun Anne yang melihat itu, tampak kesal. Wanita itu tersenyum, namun tangannya mengepal seolah ingin memukul sesuatu.
"Peluklah Aurora, karena pacarmu sudah menjadi milikku, setelah dia berhasil mengambil semua yang kau punya. Kau akan di campakan, dan akulah yang akan menjadi satu-satunya nyonya di rumah ini." Batin Anne.
Luna menatap kepalan tangan Anne, anak kecil itu tampak kebingungan.
"Kakak kenapa? Kayak mau tinju orang?" Ucap Luna spontan, dan Aurora dengan spontan juga langsung melepaskan pelukan Kris.
"Marah ya Anne, jelas sekali wajahmu itu." Ucap Aurora dalam hati.
"Jangan bicara seperti itu Luna, o iya. Kris, jika kau tidak keberatan, apakah bisa kau mengantar Anne. Kalian kan searah." Mendengar ucapan Aurora, Anne pun menunjukkan wajahnya yang tampak canggung kepada Kris.
"Maaf Aurora, bukan aku tidak mau, aku naik ojol saja."
Aurora pun menggelengkan kepalanya, "Tidak, jangan merasa sungkan begitu. Kau ini temanku, kau juga temannya Kris. Lagian kalian sejalan. O iya Kris, kau bilang butuh perbaikan untuk mobilmu. Uangnya sudah aku kirimkan ya." Mendengar hal itu Kris langsung senang, dengan buru-buru ia langsung mengecek saldo di ponselnya, dan benar saja. Uang itu sudah masuk ke rekening miliknya.
"Aurora memang yang paling pengertian." Kris berkata seperti itu, tanpa menatap Aurora, ia malah mengirimkan setengah saldo itu kepada Anne.
TING!
Bunyi notifikasi pesan masuk ke ponsel milik Anne, dengan cepat wanita itu pun langsung membuka ponsel dan seketika raut wajahnya begitu sumringah.
Aurora sadar akan notifikasi pesan yang masuk, "O, jadi seperti ini cara kalian mempermainkan Aurora yang lugu. Untung itu dulu, karena sekarang kalian tak akan lagi bisa membodohinya. Tenang saja Aurora, aku selangkah lebih maju darimu." Batin Aurora sambil mengejek jiwa yang asli.
***
Di sebuah restoran mewah, Grace tengah mengaduk kopi latte di atas gelas dengan sendok kecil. Grace tengah menunggu seseorang di sana. Ia meninggalkan suaminya di rumah sakit, bersama dengan sekretarisnya dan juga Jonas yang ikut menemani.
Seorang Pria kini datang menghampiri Grace, ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Grace. Pelayan membawakan buku menu. Pria itu pun memesan beberapa makanan.
"Pesanlah yang banyak." Ucap Grace dan hal itu membuatnya sangat senang sekali.
"Terima kasih nyonya, Anda memang baik sekali."
Grace kini terus terang, ia menurunkan gelas dan menaruhnya di meja. Raut wajahnya kini tampak serius.
"Jadi, apa yang kau dapatkan kemarin?" Ucap Grace.
Pria itu kini mengambil tas ranselnya, ia mencari sebuah barang. Barang itu berupa flashdisk kecil, ia kemudian menaruh barang itu di atas meja dan mendorongnya agar Grace dapat mengambilnya dengan jauh lebih mudah.
Grace menatap flashdisk itu sesaat, "Yang baru? atau yang sudah kau kirimkan?" Tanya Grace yang masih terus menatap flashdisk itu.
BERSAMBUNG