NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: Tuan Muda Protagonis Bikin Kacau

Sore harinya, Taman Mawar di Sayap Timur Istana.

Aura melangkah dengan perasaan seringan kapas. Hutang 5.000 koin perak kepada Tuan Babi si lintah darat telah ia lunasi tunai pagi tadi—dengan bonus menampar wajah si lintah darat menggunakan setumpuk uang kertas seratusan. Kepuasan batinnya luar biasa.

Kini, ia tidak lagi memakai seragam pelayan lusuh. Sesuai perintah Caden, Lucas mendatangkan penjahit butik. Aura kini mengenakan setelan kemeja putih berbahan sutra, rompi hitam pas badan, dan rok sepan selutut yang elegan namun memungkinkan pergerakan cepat. Di kerahnya terdapat pin kecil berbentuk naga emas—tanda divisi Keuangan Pangeran Caden. Rambut cokelatnya yang biasa diikat asal kini digerai rapi dengan jepitan sederhana.

"Wah, udara orang kaya memang beda. Terasa lebih... mint," gumamnya sambil menghirup udara taman.

"Elara? Elara, itukah kau?"

Langkah Aura terhenti. Dari balik semak mawar merah, muncul sosok Anna, teman sekamarnya, dengan wajah syok berat. Di sebelah Anna, Nyonya Marie si kepala pelayan berdiri mematung, rahangnya nyaris jatuh ke tanah melihat penampilan Aura.

"Anna! Kebetulan banget," sapa Aura ceria.

"E-Elara? Pakaian apa ini? Pin itu... itu lambang Departemen Keuangan Pribadi Yang Mulia Pangeran Caden!" Nyonya Marie tergagap, wajahnya sepucat mayat.

"Oh, ini?" Aura menyentuh pinnya. "Benar sekali, Nyonya Marie. Mulai hari ini saya adalah Asisten Analis Keuangan pribadi Yang Mulia. Tolong sampaikan pada bagian HRD istana kalau saya resign dari posisi tukang pel."

"M-mustahil! Bagaimana bisa pelayan bodoh sepertimu... kau pasti merayunya!" tuduh Marie dengan jari gemetar.

Aura tertawa sinis. Ia merogoh saku roknya dan mengeluarkan setumpuk koin emas yang bergemerincing.

"Merayu? Saya pakai otak, Nyonya, bukan pakai tubuh. Oh ya, omong-omong soal uang sabun cuci..." Aura melemparkan sekeping koin emas tepat ke dahi Nyonya Marie. "Itu uang pesangon untuk Anda tutup mulut. Jangan ganggu Anna lagi, atau anggaran Sayap Barat akan saya potong 80% bulan depan. Saya punya kuasa untuk itu sekarang."

Nyonya Marie mundur ketakutan, memungut koin emas itu, lalu lari pontang-panting tanpa menoleh ke belakang.

Aura mendekati Anna yang masih melongo. "Anna, ganti baju. Nanti malam kita makan steak wagyu di restoran ibukota. Gue yang traktir."

"Elara... kau... kau bukan manusia, kau peri uang!" Anna memeluk Aura sambil menangis terharu.

Belum sempat Aura menjawab, sebuah suara lembut dan mendayu-dayu terdengar dari arah gazebo di tengah taman.

"Tolong, Yang Mulia Pangeran Arthur. Hamba tidak pantas menerima kebaikan Anda. Hamba hanyalah pelayan rendahan yang kebetulan lewat."

Aura menoleh. Di gazebo itu, berdiri seorang pria tampan berambut pirang keemasan, mengenakan pakaian bangsawan berwarna putih cerah. Dia sedang memegang sebuah mahkota bunga sederhana dan menatap seorang gadis pelayan berambut merah muda dengan pandangan penuh cinta.

Oh, scene klise bab 15, batin Aura. Pertemuan romantis Pangeran Arthur dan Mia sang tokoh utama wanita.

"Mia, jangan merendahkan dirimu," ucap Pangeran Arthur dengan suara bariton yang lembut bak pangeran dongeng Disney. "Kau mungkin miskin, tetapi hatimu lebih murni dari seluruh emas di istana ini. Biarkan aku membawamu keluar dari penderitaan ini. Aku akan melunasi utang keluargamu, dan menjadikanku pelayan pribadiku."

"T-tapi Yang Mulia, utang keluarga hamba sangat besar... Lima ratus koin emas..." Mia menunduk, air mata menetes di pipinya.

Buset, lima ratus doang nangis. Gue aja 5.000 perak santai, cibir Aura dalam hati.

"Hanya lima ratus koin emas? Untukku, itu bukan apa-apa demi senyummu—"

"Permisi! Maaf mengganggu syuting sinetronnya!"

Suara lantang Aura memotong kalimat manis Arthur. Aura melangkah santai memasuki gazebo, mengabaikan tatapan terkejut dari Pangeran Arthur dan Mia.

"Kamu siapa? Beraninya mengganggu—" Pangeran Arthur mengerutkan kening melihat seragam Aura, matanya terpaku pada pin naga emas di dada gadis itu. "Kau... orangnya Caden?"

"Benar sekali, Yang Mulia Pangeran Arthur. Saya asisten keuangan beliau," jawab Aura santai, sama sekali tidak membungkuk hormat. Ia menatap Mia dari atas sampai bawah. "Namamu Mia, kan? Kemampuan matematikamu bagus, kudengar dari kepala pelayan. Lulusan akademi dasar, kan?"

Mia mengangguk pelan, ketakutan. "I-iya, Nona..."

"Bagus. Berhenti jadi pelayan, dan berhenti nangisin utang 500 koin emas. Aku lagi butuh admin junior untuk input data saham harian di departemenku." Aura mengeluarkan buku cek kecil dari saku rompinya, menulis beberapa angka dengan cepat, merobek kertasnya, dan menyodorkannya pada Mia.

"Ini cek 1.000 koin emas. Lima ratus untuk lunasin utang bapakmu, lima ratus lagi untuk beli baju kerja yang layak. Besok jam tujuh pagi on time di ruangan Sayap Utara. Gaji awalmu seratus emas per bulan, belum termasuk bonus kalau closing saham merah. Deal?"

Mia membelalakkan matanya menatap angka di kertas cek itu. Seribu koin emas?! Ia nyaris pingsan.

"S-seribu... T-tapi Nona—"

"Tunggu dulu!" Pangeran Arthur melangkah maju, wajahnya memerah karena marah. "Apa-apaan kau ini?! Aku yang sedang berbicara dengannya! Aku yang akan menyelamatkannya!"

Aura mendesah lelah. Ia menatap Pangeran Arthur dengan tatapan seolah menatap balita yang sedang tantrum.

"Yang Mulia Arthur," kata Aura dengan nada mengajar. "Menyelesaikan masalah keuangan seseorang dengan menjadikannya 'pelayan pribadi' itu namanya grooming berkedok utang budi. Itu toxic. Kalau Anda mau bantu dia, kasih dia pekerjaan profesional, bukan mahkota bunga murahan yang besok juga layu."

Arthur ternganga. Seumur hidupnya, belum ada wanita yang menolak pesonanya, apalagi menceramahinya soal moral di depan wanita yang sedang ia dekati!

"Kau—! Beraninya kau berbicara padaku seperti itu! Aku ini pewaris takhta!"

"Dan saya adalah orang yang memegang kunci brankas kekaisaran. Maaf, Pangeran, tapi uang tunai lebih nyata daripada janji pangeran berkuda putih." Aura berbalik menatap Mia. "Jadi gimana, Mia? Mau ikut gue kerja kantoran, atau mau nangis nungguin Pangeran ngurus birokrasi pencairan dananya yang ribet itu?"

"S-saya ikut Nona!" Mia langsung merampas cek itu, membungkuk berkali-kali. "Terima kasih! Terima kasih, Nona!"

Arthur berdiri mematung, harga dirinya hancur berkeping-keping. Protagonis wanita yang seharusnya jatuh ke pelukannya kini malah berlari kegirangan mengikuti seorang gadis dengan pin naga emas.

Sementara itu, dari balkon lantai dua yang menghadap langsung ke Taman Mawar, Pangeran Caden berdiri memperhatikan seluruh kejadian itu. Lucas berdiri di belakangnya.

"Gadis itu... dia baru saja merampok momen romantis Pangeran Arthur, Yang Mulia," bisik Lucas, masih tidak percaya.

Caden tersenyum lebar. Matanya menatap sosok Aura yang melangkah menjauh dengan pongah. Ada perasaan aneh yang membuncah di dadanya. Perasaan... sangat posesif.

"Biarkan saja," gumam Caden, suaranya sangat pelan. "Arthur terlalu lemah untuk bermain dengan asetku. Mulai besok, pindahkan meja kerja Elara ke dalam ruanganku. Aku tidak ingin ada orang lain yang berani memberinya bunga... atau berani menatapnya seperti Arthur menatap pelayan berambut merah muda itu."

Lucas menelan ludah. Yang Mulia... apakah Anda cemburu? batin Lucas ngeri, namun ia tahu lebih baik tidak mengatakannya keras-keras. Alur cerita di istana ini, benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!